Monday, August 25, 2014

Cinta Kasih Ibu (1)


Oleh; Nani Hidayati

Indahnya ketika kita mampu memberi tanpa menuntut balas, give and forget. Menerima mungkin, tapi tidak mengharapnya kembali. Karena semua Ia lakukan hanya untuk mendapat keridhaan Sang Khalik. Sesekali butiran bening itu menyesali semua tingkahnya selama puluhan tahun silam. Ketika Ia berani  pergi meninggalkan keluarga tanpa kabar, walau hanya dengan sepucuk surat. 

Alasannya sederhana, namun sangat menyesakkannya saat itu, ibunya telah membuatnya malu, membuatnya hina dengan apa yang Ia punya. Tapi Kini, tepat di akhir penyesalan itu tiba. Mengeluh dan menangis sedih akan kepergian ibunya. Mengharapkan sesuatu yang mustahil akan terjadi, seperti dahulu lagi.

*****
Ayahnya telah meninggal tujuh tahun lalu ketika tsunami meluluhlantakkan Aceh. Sekarang Ia hanya tinggal dengan ibu. Yach, seorang ibu yang punya keterbatasan, karena matanya tidak bisa melihat sebelah sejak peristiwa itu. Tak jarang terdengar hinaan dan caci-maki dari sebagian anak-anak sekolah AL-TAFIA ketika bu Faridah menjajakan lontong. Tapi, semua itu Ia lalui bak angin bertiup.

Seperti biasanya, bu Faridah mengayuh sepeda bututnya sembari menjajakan lontong.
Tepat di pekarangan sekolah.
“Eh, si buta datang“ kata Retno, anak kelas 3 A.
“Iya,yuk kita kerjain“ tambah Doni.
“Yuk“ sahut Dedi yang nggak kalah jailnya ngerjain orang tua.
“Hahahaha…si buta datang, si buta datang“ mereka sahut menyahut mengatai bu Faridah.

Mereka tidak hanya menghina, tapi mereka juga melukainya. Ditahanlah jalan laju sepeda miliknya dengan rantai, tepat di tengah jalan. Ia jatuh tersungkur ke tanah, betapa malang nasib si ibu.

Dari kejauhan, Faiz melihat ibunya yang diperlakukan tidak hormat. Mata batinnya terluka, tapi ia mengabaikannya. Membiarkan ibu yang telah melahirkannya menjadi bualan teman-teman sekolah yang iseng itu. Berat Faiz meninggalkan ibunya dalam keadaan terluka, namun ia terlanjur malu untuk mengakui wanita cedera itu adalah ibunya.

******
“Assalamualaikum pak“ Faiz mengucapkan salam pada wali kelas, pak Azman.
“Waalaikumsalam, masuk Faiz “ pinta pak Azman.
“Pak, Saya minta surat pernyataan wali murid tentang peluang beasiswa yang bapak bicarakan akhir pekan lalu.”
“Surat itu harus diambil oleh orang tua Kamu“ lanjut pak Azman memberi pengertian.
“Pak, tapi…“suaranya terhenti.
“Iya, bapak mengerti Faiz. Tapi kamu masih punya orang tua. Lain ceritanya jika Kamu hanya tinggal sendiri”. Beliau menghela napas panjang.
“Okay, Saya izinkan Kamu untuk kali ini saja“, kata pak Azman sambil mencari surat yang dimaksudkan untuk Faiz.
“Iya pak,terima kasih“ sahut Faiz sembari menjabat tangan wali kelasnya.

Sepulang sekolah, Faiz membuka lembaran yang berisi kesediaan wali murid, lalu menandatangani semua persetujuan itu.
“Anak ibu sudah makan?“ tanya bu Faridah dari ruang tengah.
“Iya bu, Saya sudah kenyang“ sahutnya mengharap ibu tidak membawakan makanan untuknya saat itu.
“Eum, ya sudah. Nanti kalau mau makan ada mie goreng kesukaan Kamu  lho,dimakan ya“ goda ibu. 
“Iya bu, sebentar lagi Faiz makan “ia menjawab sekenanya, lalu kembali fokus pada lembar beasiswa itu.

Keesokan harinya Faiz mengembalikan surat itu kepada pak Azman
“Pak,ini suratnya“ kata Faiz.
“Iya“, sambil menerima surat dari tangan Faiz.
“Faiz“, panggil pak Azman.
“Iya pak“ sahut Faiz dan menoleh kearahnya.
“Faiz, tolong  perhatikan ibumu, jaga Dia baik-baik. Jangan biarkan Ia terluka, karena ridha Allah ada pada keridhaan orang tua,dan kebencian Allah ada pada kebencian mereka”  begitulah notice pak Azman seakan tahu apa yang Ia perbuat selama ini.
“Baik pak “ jawab Faiz lalu berpamitan.

*********

Tepat di sepertiga malam wanita tua itu bangun dari tidurnya, memohon kehadirat Sang ilahi rabbi. Mengeluh dan mengadu semua keluh dan kesah yang Ia alami. Serta mencurahkan semua syukur atas dirinya dan Faiz.

“Ya Allah puji dan syukurku kepada-Mu, selawat dan salamku untuk Rasulullah yang tak pernah lelah dalam menyampaikan risalah-Mu. Tuhan Yang Maha Esa, ampunilah dosa-dosa yang pernah Aku lakukan dan yang dilakukan anakku, baik yang kami sengaja maupun tidak. Sesungguhnya ampunan-Mu sangat luas.

Ya Allah, syukurku atas nikmat sehat, Islam dan iman yang Engkau berikan. Ya Rabbi, Engkau yang mengetahui semua isi hati kami. Jadikanlah Faiz anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Lindungi langkahnya, bahagiakanlah Ia didunia dan diakhirat, amin ya rabbal alamin…”

Setelah tahajud wanita tua itu menuju kamar Faiz, lama Ia mematung mengamati wajah buah hatinya yang sedang pulas. Hatinya amat bahagia memiliki Faiz. Walaupun ketika ia menjajakan makanan di sekolah, Faiz tidak pernah muncul, apalagi makan bersama. Sungguh ikhlas perempuan ini mengais rezeki demi anaknya. Terkadang rindu membuncah, ingin melihat wajah dan polah aktif Faiz di sekolah.

Dikecupnya kening Faiz, “semoga Allah memberkahi dan melindungi langkahmu wahai anakku “ doa bu Faridah.

Itulah cinta tulus dan suci dari seorang ibu untuk anaknya. Cinta yang tidak pernah mengharap balas budi baiknya. Cinta yang membuat sang ibu merawatnya, mendoakannya hingga akhir hayat.

Bagian Kedua Click Here


No comments:

Item Reviewed: Cinta Kasih Ibu (1) Rating: 5 Reviewed By: Unknown