Friday, March 6, 2015

The Cocoon and The Butterfly Student

Google Image
Oleh: Muhammad Daud Farma 

Mahasiswa kepompong dan kupu-kupu 
Membaca judulnya saja kita sudah penasaran dan tertarik. Memang ditarik, apa yang di tarik? Hati, jiwa, semangat dan hasrat kita untuk ingin membacanya. Antum penasaran?

Sabar dulu! Kalau kita langsung ke intinya, pastinya tidak seru. Seperti Antum menonton sebuah film kalau Antum langsung memotong ke tengah, pasti filmnya tidak seru. Atau Antum membaca sebuah nonvel, kalau antum tidak sabar membaca dan mengikuti ceritanya dari awal, pasti juga tidak seru dan Antum akan memilih membaca novel yang lainya.

Atau game Angry Bird, kalau lah Antum langsung ke level yang tinggi, atau high level (kata orang Inggris), Antum bisa jadi akan bermain asal-asalan dengan melemparkan burungnya ke arah yang salah dan meledak bukan di sasaran. Nah, begitu juga dengan yang satu ini, kalau Antum tidak mengikutinya dari pertama, yah nggak nyambung nantinya.

Sepertinya antum sudah kepingin banget deh untuk cepet-cepet tau tentang apa yang akan ana tulis? Makanya jangan lewatkan adegan di bawah ini. 

Mahasiswa kepompong dan kupu-kupu. Mendengar kata kupu-kupu, Antum pasti membayangkan seekor hewan yang cantik, indah dan menggemaskan, benar kan? Kupu-kupu yang Anda bayangkan umumnya banyak orang yang menyukainya, banyak orang yang suka melihat dan ingin menangkapnya. 

Begitu juga mendengar kepompong, tentunya Antum juga membayangkan seekor ulat yang dibalut persis sebuah permen head tahun 70-an yang berwarna hitam. Antum membayangkan seperti pocong yang dibalut dengan kain kafan yang berbentuk lonjong dan diikat di atas kepala dan di kakinya, dan juga mirip seperti mumi Fir’aun yang ada di dalam Piramida.

Hihi, seram bukan?
Tapi jangan dibayangkan ya, nanti Antum ketakutan melihat kepompong, padahal kan itu hanya seekor ulat.

Jadi jangan senang dan takut dulu mendengar kedua-duanya. Senang karena mendengar kupu-kupu dan takut mendengar kempong. Karena kalau Antum takut duluan, nanti Antum gak jadi melanjutkan membaca. 

Masih penasaran kan? Kita lanjut ya.

Antum malu nggak kalau disebut sebagai mahasiswa kepompong dan kupu-kupu? Atau Antum malah senang? Senang mendengar nama kupu-kupu yang cantik, indah dan menggemaskan? Atau juga senang kedua-duanya? 

Mahasiswa kupu-kupu adalah mahasiswa yang 'kuliah pulang-kuliah pulang'. Masih senang kah dengan sebutan ini? Yang ini masih bisa kita kategorikan dalam hal yang bagus. Walaupun dalam level yang rendah (lower level). Karena masih lebih baik mau kuliah, walaupun cuma kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang).

Tapi, apakah hanya itu yang kita mampu, yang kita sanggup, yang kita bisa? Apakah hanya rutinitas itu saja yang mampu kita jalani? Sedangkan betapa banyaknya waktu yang luang kita sia-siakan! 

Dan yang amat kita sedihkan lagi ialah jika kita termasuk mahasiswa kepompong. Kita sudah mengetahui bagaimana umumnya kupu-kupu, hewan yang cantik dan indah. Sedangkan mahasiswa kepompong mahasiswa yang kerjanya hanya membalut diri dengan selimut tebal, dan mengurung diri di dalam rumah. 

Dari malam, pagi, siang dan malam kembali, dia masih di dalam sarangnya, dia masih betah di dalam selimutnya yang tebal untuk menghabiskan waktu-waktunya, menghabiskan sebagian umurnya, menunggu ujian kuliah tiba, menunggu berjalan dan berakhirnya waktunya untuk acara wisudanya, menunggu ijazah yang sangat ia banggakan dan pulang dengan membawa gelar akademisi yang ia jadikan sebagai perantaran untuk mendapatkan kerjaan. 

Selain mahasiswa kepompong, ada jenis lainnya. Mahasiswa seperti ini disebut sebagai mahasiswa yang hanya mencari ijazah dan akademik yang tinggi, bukan mencari ilmu yang banyak dan bermanfaat! 

Orang yang seperti inikah yang diharapkan bangsa kita. Inikah yang di harapkan masyarakat nantinya?  Inikah yang diharapkan kedua orang tua? Mahasiswa kepompong telah mengurangi nilai-nilai sebagai mahasiswa, yaitu menuntut ilmu.

Sebagai mahasiswa, tidak seharusnya mengenal perkuliahan untuk mencari pekerjaan, baik mahasiswa dalam dan luar negeri, seperti Mesir, misalnya. Mahasiswa Al-Azhar dikenal dengan sebutan Azhari, sudah sepatutnya mencontoh para ulama terdahulu sebagai panutan untuk menuntut ilmu, yang menghabiskan waktu-waktu luang dengan belajar bersama para syeikh yang sudah terpercaya keilmuannya.

Bertalaqqi, mengikuti tahsin qiraah, tahfizh Al-Quran, membaca diktat kuliah yang amat tebal dan harus menghafalnya mulai dari kulit depan, isi, dan sampai kulit belakang. Mengikuti kursus kaligrafi, mengikuti kursus bahasa, aktif organisasi dan masih banyak sekali hal yang bermanfaat lainya yang bisa kita kerjakan. Apa saja selagi itu baik. 

Bukankah itu adalah suatu perihal yang sangat baik dan banyak manfaatnya? Bukan malah tidur dengan membalut diri dengan selimut yang tebal. 

Ingat, orang tua kita sangatlah berharap anaknya balik dengan membawa ilmu dan bisa segalanya, paling tidak, bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi orang lain. Orang lain saja bisa! Kenapa diri kita tidak bisa? Orang arab bilang sal dhamiirok (tanyakan hati kecil anda). Datang ke-Egypt mau apa dan mau jadi apa? Jadi Fir’aun atau Musa? Mau mencari ilmu atau ijazah? Kalau ingin jadi orang yang di tunggu dan di harapkan masyarakat, ya ahlan dan kalau tidak juga ahlan. 

Kata senior “Di bandara kedatangan Cairo International Airpot tertulis sebuah kalimat yang sangat besar, singkat dan padat yaitu ’’mislukum katsir’’(dulu, sekarang tidak ada lagi). Nah pertama kita sampai di Egypt sajapun sudah di kejutkan dengan kalimat seperti itu, kalimat yang singkat, padat dan mempunyai arti yang hebat, yang luas dan insyaAllah akan bermanfaat bagi orang yang mau memahaminaya.

Kembali ke pertanyaan, kita kemari niatnya apa dan mau jadi apa? Jadi penjahat? Sudah banyak! Jadi teroris? Sudah banyak! Jadi raja online? Waw banyak bingizt! Jadi raja tidur? banyak tau! Mau jadi ulama itu yang gak banyak. 

Mau jadi penulis? Bagus”. Dan jujur penulis katakan, sebenarnya penulis merasa gak percaya dirisaat menuliskan ini, karena para penulislah yang seharusnya menuliskan ini. Penulis yang sudah unggul. Dengan karya-karyanya sudah mendunia.

Kembali ke Mahasiswa kepompong dan kupu-kupu. Antum tau apa penyebab timbulnya dua kalimat tersebut? 

Orang Indonesia bilang malas, kata orang Egypt kaslan. Sifat malas menggoreskan kata-kata untuk The Cocoon and the Butterfly University Student itu terjadi. Sifat malas pulalah yang menjadikan lingkungan kita sebagai lingkungan kepompong. 

Kita sebenarnya juga sudah tau, tetapi untuk mengingatkan kembali bahwa malas adalah virus yang harus kita perangi. Ganti dengan semangat yang tangguh dan kuat, tidak kenal musim dingin, tidak kenal musim panas dengan kedua prahara musim yang kita rasakan.

Ingat dan jadikanlah nasehat orang tua kita sebagai motivasi belajar. Doa mereka begitu tulus untuk kita. Ingat, kita menjadi mahasiswa adalah untuk menuntut ilmu lillahi ta’ala, bukan untuk bermalas-malasan juga bukan hanya mencari ijazah. Insya Allah, virus yang bermerek atau bercap malas akan musnah, minimal dibasmi.

InsyaAllah kita bisa melawan sifat malas yang sudah membumi di dalam diri kita, dengan tajdi niyah dan bismilla. Dengan izin Allah kita akan meraih cita-cita serta harapan kedua orang tua kita. 

Cairo, 23 Desember 2014

No comments:

Item Reviewed: The Cocoon and The Butterfly Student Rating: 5 Reviewed By: KMA Mesir