Wednesday, April 17, 2019

Alumni SDN 01 Cikeren

Oleh : Setia Farah Dhiba* 
(Image ; Google)


Kegaduhan murid-murid yang bermain sambil mengisi perut mulai terdengar saat istirahat tiba. Nada-nada sobekan dari bungkusan roti, membuka botol minuman, juga suara mengunyah makanan nan lahap terdengar dari mulut Rani yang duduk bersebelahan dengan meja Rara. Tampak dari raut wajah Rani bahwa pelajaran matematika dengan materi persamaan garis lurus tadi cukup menguras energi sarapannya, seakan harus diisi kembali di waktu istirahat. Riuh canda tawa murid hari ini layaknya hari sekolah biasa, baik di SDN 01 maupun di sekolah dasar lainnya, mungkin ini sebagai bentuk akhir dari masak kanak-kanak mereka sebelum masuk ke sekolah menengah pertama. 

Waktu istirahat belum selesai, sisa 10 menit terakhir, namun ada keributan di sudut kelas yang menarik perhatian Rara. Dodit, seorang siswa kelas 6  SDN 01 Cikeren yang mendapat juara umum di setiap akhir semester. Ia memang terkenal sangat rajin, pintar, baik hati, dan super kalem, saking kalemnya di menit-menit terakhir waktu istirahat ia malah gaduh. Pelakunya adalah Zizo, sudah jelas, dari meja depan Rara melihat langsung aksi Zizo saat membully Dodit di sudut belakang kelas. Ia memaksa Dodit untuk memberikan jajanannya, terlihat Dodit hanya memegang erat bungkusan rotinya yang ditarik oleh Zizo sambil gemetaran tanpa keluar satu suara pun. Miris. 

Ini merupakan tahun kedua Rara dapat satu kelas bersama Zizo, siswa sok punya kekuasaan seantero kelas ini memang suka cari ribut, padahal cekingnya sama saja dengan Dodit, namun suara cemprengnya mampu mengalihkan perhatian murid lain dari makanan mereka kepadanya. 

“Lepasin gak tanganmu! Aku sudah nunggu dari tadi tapi kamu gak datang ke belakang kelas, cepat culun! 'Sungguh kasar perlakuannya' “yahhh dia nangis, makanya cepat berikan rotimu!” Paksa Zizo pada Dodit. 

Rara menutup kotak bekalnya dengan kesal, ia bangkit dari kursi, menuju sudut kelas. 

“Mau kemana kamu Ra? Jangan Ra!” Rani semakin takut karena sahabat perempuannya yang sungguh berani sekarang berjalan menuju arah Dodit dan Zizo. 

Semua murid menatap langkah Rara yang berani, sementara Zizo masih menarik roti Dodit tanpa menyadari kehadiran rara. 

“Eh, dasar ceking, beraninya maksa, kenapa gak minta bagi baik-baik sih?” Teriak Rara di belakang Zizo yang otomatis membuat Zizo berbalik badan. 

“Cie... cie... ada yang belain nih," ejek Zizo. "Ini tu udah jatahnya Zizo untuk bagi jajanannya, salah dia dari tadi gak datang ke belakang sekolah.” Balas Zizo dengan ekspresi sombong. 

“Gak bisa gitu dong, enak aja main ambil seenak hati, kalo mau ya beli sendiri makanya.” 

“Makanya apa Rara?” Tegur bu Ratna dari depan pintu sontak mengejutkan seisi kelas, mereka lupa menyisakan orang untuk memantau pintu saking sengitnya perdebatan. 

“Makanya saling berbagi itu baik, si Zizo mau membagi rotinya untuk Dodit bu, katanya gak berani karena Dodit lagi serius baca buku,” sambil tersenyum paksa pada Zizo. “Ini Dodit, diterima ya roti dari Zizo, semangat belajar ya!” Jawab rara di depan mereka dengan tangan keduanya yang masih sama-sama memegang roti. 

Zizo pun melepaskan roti itu dengan senyum kesal atas Dodit. Dalam hati rara merasa lega karena Zizo tidak jadi merebut paksa roti itu, semua murid pun kembali menduduki bangku dan bersiap untuk pelajaran selanjutnya. 

“Kalau aku jadi dodit, sudah habis tadi si ceking, huh...!” Gumam Rara. 

Selepas kelas usai, semua murid bubar, terlihat Zizo meninggalkan kelas begitu saja tanpa memperdulikan Dodit maupun Rara, ia berlalu saja setelah menyalami dan mencium tangan bu Ratna; guru pelajaran ilmu pengetahuan alam ini banyak disenangi siswa siswi SDN 01 Cikeren. Beliau juga aktif membimbing murid mengikuti dan mendalami kegiatan ekstrakulikuler di sekolah sepekan tiga kali; ada sanggar tari, musikalisasi puisi, dan piano. Sosok guru yang ramah juga sangat perhatian pada muridnya, bukan sekedar materi sekolah yang disampaikan, pesan-pesan kehidupan tak luput ia ajarkan pada murid-murid kesayangannya, karena sejatinya arti Guru itu berasal dari Bahasa Jawa, yakni digugu daan ditiru. 

Di parkiran sekolah Rara mengambil sepedanya untuk pulang, rumahnya yang berjarak 10 menit dari sekolah dirasa melelahkan jika berjalan kaki di bawah terik matahari setiap hari, maka dari itu ia meminta dibelikan sepeda, bukan hanya untuk sekedar bermain-main. Kemudian ia melihat Dodit berjalan ke arah gerbang untuk menunggu, biasanya ia dijemput dengan mobil mewah. Lalu Rara mencoba menegurnya yang masih diam, raut wajahnya masih terlihat takut, ntah apa yang ia fikirkan. 

“Dit, nunggu jemputan ya? emangnya rumah kamu jauh dari sekolah? Kenapa gak bawa sepeda aja, bisa santai gowes-gowes, trus kalo ada orang gila, tinggal balap yang kencang. Hahahaha.” Tegur Rara berusaha untuk tidak membahas kejadian di kelas tadi. 

“Aku... aku... aku ndak bisa gowes sepeda Ra,” balas Dodit dengan nada pelan yang mungkin tak bisa Rara tiru. “Maafkan aku ya ra, terimakasih sudah mengembalikan rotiku yang mau diambil Zizo.” Sambil tertunduk akhirnya Dodit kembali membahas perkara tadi. 

“hufftt... Santai-santai, lah kamu sih, masa anak ceking sombong itu aja gak berani dilawan, kejahatan itu harus diberantas dan diungkap dit, bukan hanya diam dan dibiarkan begitu saja, pokok nya kamu besok-besok itu harus keluarin suara, jangan nangis, gimana sih, anak cowok kok takut.” Balas Rara layaknya seorang kakak yang menasihati adik kecilnya. 

“Ashiap ra, nanti aku bakal coba berani sama Zizo, kalau dia minta lagi kueku, akan aku bagi setengah aja.” Jawab Dodit polos. 

“Ashiap, ashiap, kebanyakan nonton youtube Andra Gemetaran sih, eh, sepertinya itu ayahmu sudah datang, itu mobilnya di seberang jalan.” Jemarinya menunjuk ke sebuah mobil Kijang Innova. 

Hari yang panjang disekolah akhirnya usai, Rara dan Dodit pulang kerumah masing-masing, dengan sepeda, Rara menggowes agak cepat sepeda kesayangannya itu. 10 menit berlalu, Rara pun tiba di rumah, ia langsung menyalami dan mencium tangan bunda dan bapaknya. 

“Assalamualaikum bunda, eh, ada bapak juga, kirain masih di kantor, kan biasanya jam setengah dua siang baru pulang rumah,” sapa Rara dengan senyum manis seraya menyalami keduanya, “emmmm wangi sekali ayam balado bunda, mau makan ahh…” aroma lezat di bawah tudung makanan langsung menyambar hidung saat Rara saat ia membukanya. 

“Bersih-bersih dulu, shalat dzuhur, baru makan ya Ra.” jawab bapak sambil duduk di kursi dengan segelas kopi di tangan. 

Rara memberi jempol isyarat mengiyakan kemudian masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian ia kembali ke meja makan, duduk bersama bapak dan bunda untuk menyantap makan siang bersama. 

“Bunda, gimana sih caranya melawan kejahatan? Apa harus dilawan atau dijauhi?” Fikiran ku masih terngiang kejadian di sekolah meski perut sudah demo ingin makan. 

“Tidak semua hal harus dengan kekerasan, juga tidak hanya didiamkan,” bapak menjawab dahulu sebelum bunda, “keburukan bila dibalas keburukan hanya menghasilkan keburukan itu sendiri, mungkin dengan satu kebaikan kecil akan mengurangi satu keburukan pula, bahkan bisa lebih, jika kejahatan kita balas dengan hal yang sama lantas apa bedanya kita dengan mereka Ra? Ngerti ya? Memang ada yang jahatin kamu di sekolah ya, kok nanya gitu?.” Jawab bapak seperti tau kejadian yang aku alami tadi. 

“Iya ra, jangan diam aja kalau ada yang ganggu kamu ya, psikis seseorang bisa terganggu karena selalu mendam masalah sendiri, apalagi anak-anak, ada yang sampe harus ke psikolog, eh rupanya dia stress akibat bully teman sekolah loh pak, dengar kan ra.” Bunda menambah penjelasan sambil menambah sayur hijau mengerikan di piring ku, jleb. 

“Iya bun, Rara bisa stress kalau sayurnya ditambah terus.” Tergurnya cekikikan.

*** 

Hari baru datang lagi, Rara si pemberani telah siap dengan sepedanya menuju sekolah. Pukul tujuh pagi ia telah siap untuk menggowes sambil olahraga, ia meminta bunda untuk menyiapkan 2 kotak bekal roti yang sudah dimasukkan dalam tas sebelum berangkat. Rara berangkat setelah pamitan, seperti pagi biasanya, ada cahaya matahari, angin sepoi yang membuat jelbab putihnya melambai-lambai kecil, dan beberapa polisi tidur di jalanan. Harapan agar kelas hari ini aman damai terpancar dari wajah rara, sedamai perjalannya menuju sekolah. 


Nyatanya tidak, sekitar 20 meter sebelum menemui gerbang sekolah ia sudah melihat pemandangan yang tidak menyenangkan, Rara berhenti sejenak, tampak Zizo yang berdiri di samping sepeda tua ayahnya sedang menangis, dari gerak-geriknya ia kesal pada ayahnya, ntah apa isi pembicaraan mereka, ayahnya hanya memegang kepala Zizo sambil mengelus rambutnya. Tapi Zizo malah pergi begitu saja tanpa menyalami apalagi mencium tangan ayahnya. Miris, untuk kedua kalinya. 

Pelajaran pertama hari ini adalah matematika, ada tugas kemarin yang harus dikumpulkan hari ini. Rara memasuki kelas dengan normal, berpura-pura seperti tidak tau Zizo yang tadinya menangis. Sebentar lagi bu Zahra akan datang, beliau terkenal agak kejam memang bagi sebagian anak, sangat ramah bila kita mampu mengerjakan tugas, bila tidak, maka sebentar lagi kalian akan tahu apa yang terjadi. Baiklah, dan detik-detik menegangkan itu tiba, Bu Zahra tiba di kelas. Semua murid berdiri untuk bersiap, memberi salam, dilanjut dengan doa pagi bersama sebelum belajar. 

“Selamat pagi semuanya, ibu harap kalian semua sudah mengerjakan tugas untuk materi persamaan garis lurus yang kemarin, bagaimana? Ada yang tidak bisa menjawab?” pertanyaan satu ini otomatis menggugupkan jantung sesiapa yang tidak bisa menjawab soal, terlebih yang belum mengerjakan tugas. Jleb. 

“Dodit, sudah selesaikan tugas kamu?” 

“Sudah bu.” 

“Kamu yang disudut, paling belakang, Zozi, sudah?” Seraya menunjuk ke belakang. 

“Nama saya Zizo bu, bukan Zozi, belum sempat buat bu, susah sekali soalnya.” Jawab Zizo santai 

“Oh, jadi begitu cara jawabnya, santai, nyantai, sibuk apa kamu, kok yang lain buat kamu tidak, sini maju kedepan, mana catatan kamu tentang materi kemarin, cepat, sini!.” Persidangan dimulai. 

Sementara Zizo maju kedepan menghadap bu Zahra, murid lainnya mengumpulkan tugas tersebut. Antara sedih dan heran, Rara hanya dapat memperhatikan Zizo yang diceramahi bu Zahra dan berfikir sendiri tanpa menceritakan pada rani perihal yang dilihatnya tadi pagi, karena ia pun tak tau masalah sebenarnya mengapa Zizo menangis, jadi ia tak mau menerka-nerka ceritanya sendiri. 

“Nah ini buktinya loh, catatan nya saja tidak punya, bagaimana mau buat tugas ya kan, perhatikan tidak sih kamu saat ibu menjelaskan panjang lebar kemarin?, tidur? Atau main S.O.S dibelakang?, kok diam, jawab dong!, gimana ibu mau ngasih nilai kalau begini sikap kamu.” Bu Zahra mulai kesal pada Zizo . 

“Nanti saya catat bu.” Jawab Zizo singkat. 

Belum habis sampai situ saja, dari dua jam pelajaran matematika, satu jam dihabiskan bu Zahra hanya dengan Zizo. Hening cipta terlama. Sisa satu jam kemudian bu Zahra baru menjelaskan materi selanjutnya, mata Zizo tampak berkaca-kaca, meski tak sampai jatuh airmata, tapi Rara tau bahwa Zizo hampir menangis bukan karena bu Zahra melainkan mengingat ayahnya, mungkin saja, ntahlah. 

4 jam pelajaran dengan 2 mata pelajaran selesai mereka ikuti, sekarang waktu istirahat. Rani mengajak Rara untuk menemaninya membeli air mineral ke kantin, ia pun mengiyakan. 

“Rani, aku mau satu ya.” 

“Tumben beli air, biasanya kan bawa.” 

“Aku haus kali ini.” Rara beralasan, hari ini ia berniat memberikan satu bekal makanannya untuk Zizo, khawatir dia akan mengganggu Dodit lagi, karena tidak membawa dua botol air, makanya ia membeli lagi. 

Keluar dari kantin, Rara sudah membawa sejak dari keluar kelas bekal untuk Zizo dan satu botol air mineral. 

“Rani, sekarang kamu yang temanin aku ya.” 

“Kemana Ra?” Tanya Rani penasaran. 

“Tolong aku ya, aku hanya punya satu.” 

“Satu?” Rani makin bingung. 

Dengan keberaniannya Rara mencari Zizo. Ia tau Zizo tidak di dalam kelas, tapi di belakang sekolah. 

Di luar dugaan, hari ini bukan hanya Zizo yang mengganggu Dodit, ada tiga anak laki lainnya disitu, mereka memukuli Dodit. Rani pucat gemetaran. Sementara Rara sudah panas. 

“Rani, tolong pegang kotak dan botol ini, kamu jangan mendekat kesana ya!” Tanpa takut Rara maju. 

“Ra jangan!” Matanya berlinang. 

Sama seperti di kelas kemarin, mereka tak menyadari lagi kedatangan Rara, dasar Zizo. Rara mendorong Zizo dari belakang ke samping, ia langsung terjatuh ke tanah. Beruntungnya, Rara tak memilih ekstrakulikuler sanggar tari, musikalisasai puisi, apalagi piano, tapi ia memilih taekwondo yang langsung diajarkan oleh bu Zahra, dengan jurus-jurus yang diajarkan dengan sigap Rara melawan dua orang lagi, hingga mereka juga jatuh ke tanah. Dodit gemetaran, ia menangis. Sama hal nya seperti rani di ujung sana, dia juga sudah menangis, entah kerena pertarungan Rara yang keren atau apa. 

“Hei kalian berdua, kalian anak kelas 6C kan, buat apa ikut-ikut Zizo untuk membully Dodit hah?!, kalian mau merebut makanan Dodit?, sini lawan aku!, bangun!” bentak Rara sambil terengah-engah. 

Karena fokus dengan dua teman Zizo itu, Rara tak melihat Zizo di belakangannya yang bangkit dengan satu buah pulpen yang tak tertutup. 

“Aaarrgh.” Teriak Rara. 

“Rara!" Rani dan Dodit histeris bersama melihat Rara. 

Zizo yang sejatinya teman sekelasnya sendiri tega menghujamkan ujung pulpen ke wajah Rara. Untungnya tidak mengenai mata, di pelipis. Sedikit berdarah, disini Rara menitikkan airmata karena kesakitan, jelbab putih bagian kanannya sedikit merah terkena darah yang keluar, tusukannya agak sedikit terbuka tapi tak dalam. Miris, ketiga kalinya. 

“Astaghfirullah, laa haula wa laa quwwata illa billah, Zizo!” Tiba-tiba datang bu ratna dan bu Zahra. Mereka tak menyangka kelakuan anak SD bisa seperti ini, dan Zizo masih berdiri memegang pulpen, semuanya jelas. Dasar Zizo. 

“Rara, yang mana yang sakit nak?” bu Zahra langsung memeriksa luka Rara. 

“Ra, maafin aku, aku gak sengaja.” Zizo meminta maaf seakan baru sadarkan diri. 

“Kamu mengganggu Dodit lagi Zizo? Kamu minta-minta lagi jajanannya? Kan ibu sudah bilang, kamu cerita sama ibu kalau ada masalah. Kenapa melampiaskan pada orang lain?” kata bu ratna sambil mengelus kepala Zizo dengan rasa sedih dan kecewa. 

“Ini ada bekal dan air untuk kamu Zizo, ambil!, Rara sengaja membawa ini agar kamu tidak mengulang perbuatan kemarin.” Dengan marah Rani memberikan itu pada Zizo untuk melanjutkan niat baik Rara tadi. 

Perkara mereka jelas belum usai di situ saja. Zizo dan Dodit dipanggil ke ruang kepala sekolah, menceritakan semua masalah mereka. Zizo, ia hanya seorang anak pekerja serabutan, gaji ayahnya tak cukup untuk memberinya jajan disekolah, makanya ia sering memalak anak lainnnya lalu meminta uang mereka atau makanannya. Ia amat sangat iri dengan Dodit yang merupakan anak orang kaya yang juga sangat pintar, namun sayangnya saking kaya orang tuanya tak ada waktu untuk Dodit. Ia sedih karena tak pernah ada waktu bermain bersamanya, setelah diantar atau dijemput, maka ayah dan ibu Dodit langsung kembali ke kantor. 

Menurut kejujuran Zizo, bukan hanya sekali dua kali ia pernah meminta uang atau makanan pada Dodit, dan tak ingat lagi pun kapan pertama kali. Bukan hanya Dodit saja, anak-anak lain pun mengaku pernah dipalak Zizo. Sebenarnya bantuan atau dana sosial juga pernah diberikan untuk Zizo, namun kabarnya itu semua habis untuk perawatan rumah sakit ibu Zizo. Sementara itu Rara dibawa ke UKS untuk diobati. 

Satu kebaikan dari Rara si pemberani telah membawa banyak kebaikan untuk SDN 01 Cikeren. Mulai saat itu, aksi pembully ditindak tegas oleh pihak sekolah, bukan hanya itu pihak sekolah juga mengadakan kegiatan peduli anak sebulan sekali untuk melakukan obrolan empat mata denga orang tua dari anak-anak yang sekiranya dianggap bermasalah untuk menemukan solusi terbaik. 

“Dari perkara ini jelas sudah solusinya apa, perhatian orang tua dan guru untuk menjaga lingkungan sejak dini sangatlah menjadi peran utama dalam membentuk generasi bangsa kedepan yang berkarakter peduli bukan pembully.” Tutur Zizo Muhammadsyah selaku Ketua Komisi Perlindungan Anak dalam penutupan pidatonya di depan ratusan wali murid dan orang tua SDN 01 Cikeren, 25 tahun setelah menjadi alumi SDN tersebut.[]


*Penulis adalah mahasiswi jurusan Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar. 


No comments:

Item Reviewed: Alumni SDN 01 Cikeren Rating: 5 Reviewed By: kmamesir