Wednesday, May 29, 2019

Jomblo, Siapa Takut?

Oleh: Nada Rahmi*
(Image: titkdua.net)

“Nad, besok aku dan abang mau pergi ke hadiqah. Aku mau cerita dan keliling hadiqah sama dia. Eh, kamu kapan nih punya abang?” tersentak aku mendengar ucapannya dan menjawab, “Kamu mau pergi sama abang? Maksudku, abang kandung atau abang-abangan yang kamu ceritakan padaku?” 

Dia menjawab dengan terbata-bata dan wajah bersemi semerah tomat, ”Abang yang kuceritakan kepadamu. Idih, kamu kapan sih punya abang? Ntar kamu bisa jalan bareng dia dan selalu temenin kamu di saat kesepian. Nad, kamu enggak takut jomblo terus-terusan?” 

Spontan aku menjawab, ”Astaghfirullah, Din. kalian itu belum halal enggak boleh dulu jalan berduaan, berkhalwatan di hadiqah lagi. Heh, aku enggak akan pernah takut jomblo ya, karena Allah telah menyiapkan abang yang istimewa untukku!” 

Kita tentu sudah sangat familiar dengan kata “jomblo” bukan? Ya, jika kita definisikan berdasarkan pengertian anak muda zaman now, jomblo adalah sebutan seseorang yang tidak memiliki pasangan atau kekasih. 

Nah, pada dasarnya aku, kamu dan kita harus bersyukur menjadi seorang jomblo yang produktif. Akan tetapi, sepertinya kebanyakan para Masisir ada yang beranggapan bahwa jomblo itu musibah. Ada yang takut menjadi jomblo dan merelakan kejombloannya dengan menerima ikhwan bermoduskan kepastian yang akan menikahinya. Ini adalah salah satu dari sekian banyak tragedi yang sering terjadi di kalangan Masisir. 

Menjadi jomblo adalah pilihan. Ada yang memilih dan ada juga yang terpilih. Yang memilih adalah mereka yang hidup dengan alasan, prinsip dan idealisme. Karena tampaknya sebagian ikhwan mulai sadar bahwa cinta tak bisa membeli dua frame cutterme secara cash

Ada juga yang terpilih. Yaitu mereka yang hidup sebagai pecahan hati yang tak utuh, hilang separuh. Jangankan untuk merajut kasih, berjalan dari mahattah ke Masjid Azhar saja tertatih. Karena kaki mereka telah terjebak ranjau asmara. Wow, hati-hati jika terjebak dengan jenis ranjau ini, ia sungguh sangat mempengaruhi fikiran kita yang sedang menuntut ilmu di Negeri Kinanah. 

Tentunya kalian kenal dong dengan salah satu Imam Mujtahid berikut. Beliau ahli Tafsir, ahli Hadis, seorang Sejarawan, Faqih, Ushuli dan ahli Tata Bahasa. Ya, beliau adalah Ibnu Jarir al-Thabari. Seorang ilmuwan dan juga penulis yang sangat produktif.

Karyanya yang sangat terkenal di bidang Tafsir al-Qur’an antara lain berjudul: “Jami’ al-Bayan ‘an Takwil Ayi al-Qur’an“ (30 jilid) dan “Tarikh al-Rusul, wa al-Anbiya wa al-Muluk wa al-Umam”. Ibnu Jarir tidak menikah sampai akhir hayatnya. Orang Arab menyebutnya sebagai “Azib”. Sebuah istilah untuk menyatakan kejombloan seseorang. Bentuk pluralnya adalah ‘Uzzab

Ini adalah pilihan hidupnya. Sebagai seorang Ulama besar beliau bukan tidak mengerti tentang hadis Nabi soal menikah. Hari-harinya dilalui dengan semangat menuntut ilmu di berbagai tempat kepada para Ulama besar, Masya Allah! 


Masih takut menjadi seorang jomblo? Coba deh, fokus dengan tujuan kita ke Negeri Kinanah ini. Yaitu menuntut ilmu sebanyak-banyaknya kepada para Masyayikh. Dan menjadi jomblo sangat banyak keuntungan dan manfaatnya loh

Pertama, banyaknya waktu luang yang bisa kita isi dengan ragam kegiatan seperti: aktif di berbagai organisasi. Meluangkan waktu untuk belajar tajwid, tahsin, menambah hafalan al-Qur’an dan mengikuti talaqqi di Ruwaq al-Azhar. 

Kedua, menjaga diri dari perbuatan maksiat seperti berkhalwat dan jalan berdua ke hadiqah bersama abang atau adik yang belum halal tentunya. 

Ketiga, hubungan sosial dan silaturrahmi yang lebih terjaga dengan orang-orang di sekitar kita. Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Journal Of Marriage and Family pada 2012 melaporkan bahwa mereka yang sudah menikah atau memiliki pasangan cenderung lebih renggang dalam konteks hubungan sosial dengan teman dan keluarganya. 

Keempat, lebih sedikitnya pengeluaran bulanan seperti hemat kouta internet, hemat ongkos bus 80 coret, 24 jim, Uber dan taxi online lainnya, hemat uang makan ke math’am bersama si adik yang tentunya pengeluaran kita masih sangat bergantung kepada orangtua. Dan sungguh disayangkan diberikan hanya untuk kebahagiaan semu semata, miris bukan? Hm..

Kelima, peluang konflik yang kecil. Setiap hubungan tentu memiliki pertengkaran seperti masalah kecil yang dibesar-besarkan, jealous (cemburu), merajuk dan masih banyak lagi konflik dan pertengkaran yang sering terjadi. Dengan menjadi jomblo, peluang kemungkinan terjadinya konflik tersebut mengecil bahkan surut. 

Keenam, untuk poin terakhir. Tidur lebih awal dan beristirahat dengan nyenyak. Tentu karena biasanya orang yang memiliki hubungan lawan jenis yang belum halal cenderung gelisah dan menghabiskan waktunya telfonan hingga tengah malam. Bangun paginya kesiangan gara-gara menelepon adik sayang. Ya Salam.. 

Hal ini sebagaimana juga pernah dialami oleh beberapa sahabat Nabi, yang pada saat itu masih muda dan berstatus jomblo serta tidak memiliki harta untuk menikah. Lalu Nabi Saw. menasehati mereka sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang artinya: 

“Ketika itu kami (sahabat) sedang bersama Nabi Saw. kami masih muda dan berstatus bujang serta tidak memiliki apa-apa berupa harta. Lalu Rasulullah Saw. berkata kepada kami, “Wahai para pemuda. Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena sesungguhnya menikah lebih bisa menundukan pandangan dan lebih mudah menjaga kemaluannya. Namun, barangsiapa yang belum mampu menikah, maka hendaklah dia berpuasa, sebab sesungguhnya puasa itu adalah perisai bagi syahwatnya.” 

Dari hadis di atas dapat dipahami, terdapat dua nasehat penting dari Rasulullah Saw. untuk pemuda yang masih berstatus jomblo. Pertama, bagi siapa saja yang memiliki kemampuan berupa kecukupan harta maka hendaklah baginya untuk segera menikah. Kedua, barangsiapa yang belum memiliki kecukupan harta untuk menikah maka hendaklah baginya untuk berpuasa. 

Nah, perintah untuk segera menikah bertujuan supaya dapat menjaga diri dari perkara zina dan maksiat lainnya. Sebagaimana diketahui bersama, ujian terberat bagi lelaki dalam hidupnya adalah ketika dia harus berhadapan dengan perempuan dan begitupun sebaliknya. Maka salah satu cara untuk menghindari zina tersebut adalah menundukkan pandangan mata yaitu dengan bersegera menikah. Tentunya bagi yang sudah mampu lahir dan batin. 

Namun bagi siapa saja yang belum memiliki kemampuan harta untuk menikah atau oleh alasan syar'i lainnya, maka hendaklah baginya berpuasa. Karena hal tersebut diyakini dapat membuat syahwat seseorang terbentengi sehingga terhidar dari perbuatan zina yang sangat dibenci oleh agama. 

Artinya dua perkara di atas yang berupa nikah dan puasa pada dasarnya merupakan cara Islam dalam mengayomi umatnya agar terhindar dari perkara maksiat. Inilah inti utama nasehat dari Nabi untuk para jomblo. 

Tentu kita sebagai mahasiswa al-Azhar di Mesir harus menjaga keazharian kita dan terus kembali memperbarui niat sembari mengingat tujuan awal kita ke Mesir. Jadi bersyukurlah menjadi seorang jomblo yang produktif demi masa depan yang akan kita tata bersama kekasih impian. Wallahu A'lam bi Shawab.. 

*Penulis merupakan Mahasiswi Fakultas Syari'ah Islamiyyah, Universitas al-Azhar, Mesir.

No comments:

Item Reviewed: Jomblo, Siapa Takut? Rating: 5 Reviewed By: kmamesir