Tuesday, July 16, 2019

Keimanan Zuhair bin Abi Sulma kepada Allah dan Madah Syairnya terhadap Haram bin Sinan (Bagian 2)

Oleh: Nada Thursina*
(Ilustrasi: nojomy.com)
Pada masa Arab Jahiliy, peperangan merupakan sebuah hobi. Perang sudah menjadi sebuah kesibukan, bahkan profesi sehari-hari. Siangnya berperang, lalu malamnya mereka mabuk-mabukkan. Sementara di sisi lain, batin Zuhair memberontak. Itulah yang membuat dirinya istimewa, sehingga isi mu’allaqat Zuhair abadi dan merupakan salah satu penyair Arab Jahiliy yang syair-syairnya digantung di dalam Kakbah. 
Zuhair bin Abi Sulma merupakan penyair masa pra-Islam atau era Jahily yang cukup terkenal pada masanya. Beberapa riwayat menceritakan bahwa Zuhair adalah orang yang beriman kepada Allah. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bahwa sebelum Nabi Muhammad Saw dilahirkan, memang ada sekelompok orang yang masih mengikuti ajaran Nabi Ibrahim, sehingga mereka tidak menyembah berhala sama sekali, di antara mereka merupakan garis keturunan atau nasab Nabi Muhammad Saw. ke atas. 




Makanya Nabi sendiri pernah berkata dalam sebuah hadisnya, bahwa Allah memang telah menjaga keturunan Ibrahim, Ismail dan seterusnya hingga mencapai dirinya. Sehingga hikmah yang dapat kita ambil dari hadis nabi tersebut bahwa, nasab Nabi Muhammad itu sangat bersih dan terjaga dari pada penyembahan berhala. Karena jauh sebelum nabi dilahirkan, nur-nya Nabi sudah ada di sulbi mereka terlebih dahulu. Maha suci Allah yang telah menjaga nasab nabi Muhammad Saw. 

Paman Umar bin Khattab yang bernama Amru ibn Nufail contohnya. Ia adalah satu-satunya orang jahiliyah yang saat itu berani mengatakan di hadapan berhala yang terdapat di sisi depan ka’bah. 

“Aku percaya hanya dengan Allah, dan ini bukan tuhan sama sekali! (sambil menunjuk kepada berhala). Dan aku beriman bahwa di akhir zaman nanti, akan datang seorang Nabi. Dan ketika ia datang, aku akan menjadi orang paling pertama yang akan percaya dengannya,” ucap Amru lantang. 

Sayangnya, ketika Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi, Amru wafat. Maka ketika Umar dan Khalid menanyakan kepada Nabi Muhammad bagaimana nasibnya orang Jahiliyyah di akhirat kelak? Rasul menjawab bahwa, mereka sesuai dengan kadar keimanan mereka. Lalu ditanya lagi oleh Umar dengan mengkhususkan  nama Amru bin Nufail. Dengan spontan nabi menjawab, “Huwa fil jannah”. 

Maka atas dasar jalur kehidupannya Zuhair yang telah kita ceritakan di atas tadi, ya walaupun kita sebagai manusia sama sekali tidak bisa menghakimi siapa yang akan masuk surga maupun neraka. Namun dalam hal ini, Zuhair termasuk ke dalam golongan orang yang beriman kepada Allah sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad. 

Menurut kisah yang diceritakan, pendapat yang paling sahih menyebutkan bahwa ia wafat ketika Nabi sudah lahir, tapi belum diangkat menjadi Rasul. Yang benar-benar dapat merasakan nikmat Islam itu adalah kedua anaknya: Bujair dan Ka’ab.

(Ilustrasi Zuhair bin Abi Sulma: ahram.org.eg)
Madah atau Syair Pujian kepada Haram bin Sinan 

بَلِ اِذكُرَن خَيرَ قَيسٍ كُلِّها حَسَباً وَخَيرَها نائِلاً وَخَيرَها خُلُقا 

Ingatkah Kalian semua akan orang terbaik dari suku Qais # terbaik dari segi nasab, hal yang dicapai, dan akhlak 

القائِدَ الخَيلَ مَنكوباً دَوابِرُها قَد أُحكِمَت حَكَماتِ القِدِّ وَالأَبَقا 

Seorang pemimpin pasukan berkuda, yang dibelakang kuda tersebut sudah lengkap semua perlengkapan perang # dan sudah sangat kuat pelananya 

غَزَت سِماناً فَآبَت ضُمَّراً خُدُجاً مِن بَعدِ ما جَنَبوها بُدَّناً عُقُقا 

Dimana ketika pergi bereperang kuda tersebut sangat gemuk namun ketika pulang menjadi sangat kurus # setelah sebelumnya digunakan dalam keadaan gemuk dan perutnya penuh 

حَتّى يَأُوبَ بِها عوجاً مُعَطَّلَةً تَشكو الدَوابِرَ وَالأَنساءَ وَالصُفُقا 

Ketika pulang di malam hari kuda itu sudah benar-benar mogok # kaki dan otot-ototnya sudah lemah di kulitnya pun sudah banyak ditemukan luka 

يَطلُبُ شَأوَ اِمرِأَينِ قَدَّما حَسَناً نالا المُلوكَ وَبَذّا هَذِهِ السُوَقا 

Layaknya dua orang terpuji di masa sebelumya (ayah dan kakeknya Haram) # mereka berdua mendapat posisi raja karena akhlak mereka yang baik dan dengan sifat inilah mereka dapat mengayomi sesama 

هُوَ الجَوادُ فَإِن يَلحَق بِشَأوِهِما عَلى تَكاليفِهِ فَمِثلُهُ لَحِقا 

Dia (Haram) adalah orang yang sangat dermawan, maka jika seandainya orang bertemu keduanya (haram dan Harits) guna mencari # kebaikan (biaya hidup), maka mereka berdua benar-benar orang yang tepat untuk ditemui 

أَو يَسبِقاهُ عَلى ما كانَ مِن مَهَلٍ فَمِثلُ ما قَدَّما مِن صالِحٍ سَبَقا 

Ataupun jika ada orang yang berusaha melampaui mereka berdua, orang-orang tersebut sungguh tidak akan ada yang mampu # karena apa yang telah diperbuat mereka berdua merupakan hal yang paling baik (yang tak sanggup diperbuat oleh orang lain) 

أشم ّ أَبيَضُ فَيّاضٌ يُفَكِّكُ عَن أَيدي العُناةِ وَعَن أَعناقِها الرِبَقا 

Dia diperumpamakan sebagai orang yang tanpa aib sama sekali karena kemuliaannya yang melimpah # tangannya suka menolong dan melepaskan leher tawanan dari belenggu 

وَذاكَ أَحزَمُهُم رَأياً إِذا نَبَأٌ مِنَ الحَوادِثِ غادى الناسَ أَو طَرَقا 

Dia adalah orang yang paling didengar pendapatnya # ketika ia berbicara orang akan mengangguk mendegarkan karena pendapatnya sangatlah lurus 

فَضلَ الجِيادِ عَلى الخَيلِ البِطاءِ فَلا يُعطي بِذَلِكَ مَمنوناً وَلا نَزِقا 

Dia merupakan orang yang paling dermawan sampai-sampai ia memberikan kuda terbaiknya # dan ia sama sekali tidak minta dihargai dan tidak menerima balasan atas apa yang telah diberikannya 

قَد جَعَلَ المُبتَغونَ الخَيرَ في هَرِمٍ وَالسائِلونَ إِلى أَبوابِهِ طُرُقا 

Itu telah membuat orang-orang yang ingin mencari kebaikan (harta, nasehat, pendapat) langsung menemui Haram # dan saking banyaknya para pencari kebaikan yang datang kepadanya, hingga terbentuklah jalan setapak dari segala penjuru arah yang menuju ke rumahnya 

إِن تَلقَ يَوماً عَلى عِلّاتِهِ هَرِماً تَلقَ السَماحَةَ مِنهُ وَالنَدى خُلُقا 

Seandainya ada satu orang yang bermasalah dengannya (Haram) # maka balasan yang didapatkan orang tersebut adalah pemberian maaf dan itu benar-benar merupakan sebuah akhlak yang baik 

وَلَيسَ مانِعَ ذي قُربى وَذي نَسَبٍ يَوماً وَلا مُعدِماً مِن خابِطٍ وَرَقا 

Dan dia tidak pernah walau sekalipun membedakan antara sahabat karib, kerabat, # Atau bahkan orang miskin sekalipun selalu saja ia terima di kediamannya 

لَيثٌ بِعَثَّرَ يَصطادُ الرِجالَ إِذا ما كَذَّبَ اللَيثُ عَن أَقرانِهِ صَدَقا 

Ia diibaratkan seperti seekor singa yang sedang berburu manusia # mau berbohong (berbuat salah) seperti apa pun juga tetap dianggap orang yang benar 

يَطعَنُهُم ما اِرتَمَوا حَتّى إِذا اِطَّعَنوا ضارَبَ حَتّى إِذا ما ضارَبوا اِعتَنَقا 

Dalam peperangan Tuan Haram sama sekali tidak takut untuk menjatuhkan lawannya # Ia akan tetap terus melawan jika ia masih punya kekuatan untuk melawan 

هَذا وَلَيسَ كَمَن يَعيا بِخُطَّتِهِ وَسطَ النَدِيِّ إِذا ما ناطِقٌ نَطَقا 

Beginilah bahwa ia merupakan orang yang benar-benar sadar akan taktiknya # Sehingga ia dapat diibaratkan sebagai orang yang sangat ahli dalam strategi di medan perang dan pendapatnya benar-benar berpengaruh dan didengarkan 

لَو نالَ حَيٌّ مِنَ الدُنيا بِمَنزِلَةٍ أُفقَ السَماءِ لَنالَت كَفُّهُ الأُفُقا 

Jika seandainya di dunia ini ada sebuah kabilah yang akan mencapai tempat # tertinggi di atas langit, maka si Haram tanpa terlahir dari kabilah terhormat sekalipun, ia akan tetap mencapai kedudukan di atas langit tersebut 

Tahlil/Analisis Kasidah 

Pada madah atau pujian Zuhair kepada rajanya Haram bin Sinan ini, Zuhair menggambarkan Haram bin sinan sebagai sosok orang terbaik dari suku Quraisy. Ketika banyak orang dari suku Quraiys pada saat itu yang membangga-banggakan nasab dan garis keturunan dari Bapak dan kakeknya sendiri, Zuhair malah lebih memilih untuk memadah Haram yang menurutnya sangat lebih pantas untuk dipuji. 

Di dalam bait syairnya, Zuhair menjelaskan bahwa Haram bin sinan merupakan sosok pejuang yang sangat berani dan sangat mahir dalam berkuda. Hingga di sana juga ia jelaskan keadaan kudanya, yang ketika pergi badannya sangat gemuk. Namun, karena saking jauhnya perjalanan untuk berperang, kuda tersebut sampai kurus; rontok rambutnya, mengeras punggungnya karena yang tersisa hanya tinggal tulang. Pelananya sudah mulai merosot, karena tulang punggungnya tidak tegak lagi seperti sediakala. Kuda tersebut akhirnya tidak stabil, dan mogok ketika pulang. Bahkan, bekas luka akan tebasan pedang pun banyak ditemukan di seluruh tubuhnya. 

Dalam hal ini, Zuhair bukan semata-mata ingin menggambarkan keadaan si kuda. Lebih dari itu, sebenarnya ada hal yang Zuhair ingin kita pahami dari hanya sekedar cerita miris dari hal ihwal kuda tersebut. Ia ingin membangun imajinasi dan kepekaan kita para pendengar, akan syairnya.

Jika kita benar-benar berpikir kritis dan membayangkan apa yang digambarkan Zuhair tentang si kuda, tentu kemudian akan langsung terbenak di dalam pikiran kita, “Bila keadaan kudanya saja sudah seperti itu lemahnya, tentu orang yang menunggangnya (Haram) pasti akan berkondisi lebih parah dari itu.” 

Kemudian di bait selanjutnya, Zuhair membahas akan kemuliaan sosok Haram bin Sinan. Di bait tersebut ia menjelaskan bahwa kemuliaan yang dimilki Haram memang sudah turun temurun adanya. Kakek-kakeknya terdahulu juga sangat mulia, dan tentunya Haram menempuh jalan yang sama seperti yang sudah ditempuh oleh bapak dan kakeknya terdahulu. Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya, dan atas kemulian inilah ia kemudian ditinggikan derajatnya oleh manusia. 

Dalam madahnya tersebut, Zuhair tidak langsung menyebutkan nama Haram bin sinan secara langsung. Melainkan ia menyebutkan kemulian tersebut atas bapak dan kakeknya. Di sana ia menggambarkan bahwa garis keturunannya dari atas memang termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sangat mulia jiwanya, tinggi derajatnya. Bahkan, ia meumpamakan sendiri kedudukan mereka melampaui awan, dan bersebelahan dengan bintang-bintang saking tingginya.

Ia (Haram) sangat bersih dari segala kotoran dan aib. Orangnya sangat pemaaf dan gampang memberi. Diibaratkan kebaikannya Haram seperti laut yang tak pernah habis. Pemberiannya pun tidak pernah sedikit. Jika ada tawanan, ia bebaskan tawanan perang tersebut. Kadang-kadang dibayarkan fidiahnya, kadang–kadang pula dilepaskan begitu saja tanpa syarat. 

Jika ada permasalahan di kaumnya, sangat terlihat kelihaiannya dalam menyelesaikan masalah. Ia adalah orang yang sangat telaten dalam menghadapi setiap permasalahan. Maka oleh karena itulah, kemudian kedudukan Haram sangat ditinggikan di kalangan kaumnya. Sehingga banyaklah timbul pujian kepadanya. 

Kemudian dijelaskan bahwa kedua tangannya sangat dermawan. Semua manusia menjadikan ia sebagai panutan dan semua orang datang kepadanya untuk mengadu akan permasalahan yang dihadapi baik dari segi harta maupun nasehat dari segala penjuru dan pelosok. Semua orang akan mencari jalan dan cara agar dapat berkesempatan duduk di depan pintu rumahnya. 

Saking dermawannya seorang Haram, segala penjuru luar rumahnya kemudian terbentuk jalanan setapak. Itu merupakan sebuah bukti bahwa memang banyak sekali orang yang mengunjungi rumahnya. Keloyalan sudah menjadi karakternya, dan kemuliaan merupakan tabiatnya. Dan yang namanya sudah menjadi karakter, hal-hal tersebut tidak akan pernah bisa lepas darinya. Bahkan dalam keadaan miskin pun, kemuliaan itu tidak akan pernah hilang.

Jika datang kepadanya seorang yang susah, Haram akan memberikan apapun, meski ia pun dalam keadaan susah. Dalam keadaan sulit saja, Haram akan mengorbankan apapun untuk menolong orang. Apalagi kalau seandainya ia dalam keadaan sedang punya. Tidak pernah sekalipun Haram menolak orang yang meminta, baik itu merupakan kerabat maupun tidak. Ia sama sekali tak pandang bulu. 

Jika tadi kita berbicara dari sisi kemuliaan, sekarang berlanjut ke sisi keberanian Haram dalam medan perang dan menghadapi musuh. Sehingga ia diibaratkan seperti seekor singa. Tidak pernah sekali pun ia gentar dalam menghadapi seseorang. Ia tidak pernah melemah dan tidak pernah ada keraguan dalam dirinya. Begitu juga dalam hal memanah, ia jagonya. Dan jika bermain dengan pedang, leher orang bisa saja putus di tangannya. Singkat cerita, di dalam segala bidang semua bidang Haramlah jagonya.

Baca juga: Mengenal Penyair Hebat Imru' Al-Qais, Raja Sesat dari Najd

Inti kasidah yang pertama menceritakan tentang karam (akhlaq) yang dimilki Haram, yang kedua tentang sujja’ah (keberaniannya) dalam berperang, dan yang ke tiga, tentang kefasihannya dalam berbicara. Ketika Haram berdiri di tengah-tengah nadi (perkumpulan) kaumnya, kalamnya Haramlah yang selalu didengarkan dan dijadikan dalil dan hujjah, saking sangat berpengaruh kedudukannya dalam masyarakat. Perlu dicatat pula bahwa ‘ajam (lawan dari fasih) sama sekali tak pernah terdengar dari kalamnya. Artinya kalam Haram benar-benar fasih, dan benar-benar terbebas dari ‘uyub (aib).[] 

*Penulis adalah mahasiswi Al-Azhar Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Artikel di atas disarikan dari kitab “Nusus Adab Jahiliy Fil Asri Jahiliy” yang merupakan diktat kuliah Jurusab Bahasa dan Sastra Arab, Universitas Al-Azhar Kairo.

No comments:

Item Reviewed: Keimanan Zuhair bin Abi Sulma kepada Allah dan Madah Syairnya terhadap Haram bin Sinan (Bagian 2) Rating: 5 Reviewed By: kmamesir