Monday, February 10, 2020

Perlukah Berdalil Terhadap Keberadaan Allah?

Oleh: Ali Akbar Al-Fata*


Permasalahan keberadaan Tuhan merupakan topik yang tidak dimakan usia dari zaman dahulu hingga dewasa ini, Banyak sekali yang masih meragukan keberadaan-Nya. Alasan keraguan itu timbul dari sebab yang beragam, ada yang meragukan keberadaan-Nya karena zat-Nya memang tidak dicapai oleh panca indera, sehingga berujung pada konklusi ketiadaan Tuhan. Adapula yang meragukan keberadaan Tuhan karena tekanan hidup, kesejahteraan diri yang tak karuan, kedamaian hati yang tak kunjung dicapai, sehingga, menganggap bahwa Tuhan itu tidak ada karena faktor tersebut. 



Dalam dunia pemikiran Islam, hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan dan permasalahan yang baru, diantaranya adalah “eksistensi Tuhan dan seberapa perlu ia untuk dibuktikan”. Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Kelompok pertama berpendapat bahwasanya eksistensi Allah Swt. tidak perlu dalil dan pembuktian, karena kepercayaan akan adanya Allah ini sudah terpatri dalam fitrah manusia itu sendiri, bagaimana kita meminta dalil terhadap suatu zat yang keberadaannya sudah menjadi dalil akan segalanya. Adapun kelompok kedua berpendapat bahwasanya eksistensi Allah itu perlu ada dalil, alasan kelompok ini adalah karena orang-orang yang hanya menggunakan akal dan tidak percaya adanya risalah tidak akan puas akalnya dengan jawaban yang dilontarkan kelompok pertama, sehingga perlu ada dalil keberadaan Allah Swt. Mari kita lihat perbedaan pendapat ini dan akankah kita menemui titik temu atau tidak.

Baca juga: Apa yang Keliru dari Ajakan “Kembali ke Alquran dan Sunah”?



Kelompok pertama berpendapat bahwa keberadaan tuhan itu sudah ada di dalam fitrah manusia, maksudnya, makhluk yang bernama manusia itu akan mencapai kepada kesimpulan “Allah itu ada” sehingga tidak perlu dalil. Sebab yang lain, bahwasanya istidlal (pembuktian) akan keberadaan Tuhan itu tidak termasuk maqashid yang ada dalam Al-quran, ya, yang Al-quran bawa itu adalah aqidah tauhid (keesaan Tuhan) bukan akidah wujud (eksistensi Tuhan), maksudnya, yang ditekankan dalam alquran itu adalah “Tuhan itu satu” bukan “Tuhan itu ada”. oleh sebab itu, kelompok ini sangat heran melihat orang-orang yang meminta bukti keberadaan Tuhan, padahal, keberadaannya itu sendiri telah menjadi dalil akan segalanya, menurut mereka Tuhan merupakan etinitas terjelas yang sama sekali tak perlu penjelasan dan pembuktian. 

Pendapat ini diyakini oleh Ibnu Qayyim Al-Jauzi, dalam kitabnya Al-Fawaid, beliau menjelaskan bahwa keberadaan Tuhan itu sendiri sudah menjadi dalil akan segalanya, ketika sudah seperti itu tidak ada lagi yang perlu diragukan tentang keberadaan Allah. Di kitab beliau yang lain yaitu Madarij As-Salikin, beliau mengungkapkan tentang dalil keberadaan Tuhan. Beliau menjelaskan bahwa keberadaan Tuhan menjadi dalil terhadap adanya makhluk, dalam ilmu tauhid sendiri, ada yang namanya dalilul khalq, pada dalil tersebut, keberadaan makhluk menjadi bukti akan keberadaan Tuhan, berbalik dengan apa yang Ibnu qayyim katakan, dan ia menganggap dalil yang pertama tadi (keberadaan Tuhan dalil akan keberadaan makhluk) itu lebih jelas ketimbang yang kedua (keberadaan makhluk dalil akan keberadaan Tuhan). Yang ingin Ibnu Qayyim sampaikan adalah betapa tidak butuhnya keberadaan Allah itu pada dalil atau bukti.


Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam mahakaryanya Al-hikam mengatakan : 

متى غبت حتى تحتاج الى دليل يدل عليك, و متى بعدت حتى تكون الآثر هي التى توصل لك... منك أطلب الوصول اليك و بك أستدل إليك.. 

“Kapan engkau pergi sehingga dibutuhkan tuntunan agar sampai pada-Mu? Kapan engkau menjauh sehingga harus ada jejak untuk sampai pada-Mu? Pada-Mu lah aku memohon agar diriku sampai kepada-Mu, dengan zat-Mu lah aku berdalil atas keberadaan-Mu.” 

Ungkapan imam Ibnu Athaillah As-Sakandari ini menggambarkan ketidakbutuhan makhluk fana, yang berpijak diatas muka bumi ini dan bergantung sepenuhnya kepada Allah, kepada dalil akan keberadaan Allah. 

Pertanyaan lain pun muncul, jadi, bagaimana dengan ayat-ayat yang menunjukkan tentang keberadaan Allah? Apa maksud dari ayat tersebut kalau bukan sebagai dalil adanya Allah?. Imam Akbar Syekh Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya Al-Islam wa Al-'aql menjelaskan bahwa keberadaan Tuhan itu sangatlah jelas dan tidak perlu ada dalil, bagi yang meminta dalil maka ada secercah keraguan di dalam imannya. Adapun ayat yang berbicara tentang keberadaan Allah itu sejatinya menunjukkan kuasa Allah dan keagungan-Nya. 

Adapun ayat yang menjelaskan bahwa keberadaan Allah itu tidak ada keraguan di dalamnya banyak, salah satu yang paling jelas adalah surat ibrahim ayat 10 : 

أفي الله شك فاطر السموات و الأرض 

"Apakah ada keraguan terhadap Allah? Pencipta langit dan bumi." 

Setelah pendapat kelompok pertama sudah jelas, mari kita berpindah ke kelompok kedua. Kelompok ini berpendapat bahwasanya keberadaan Tuhan itu perlu kepada dalil. Diantara ulama terdepan yang berpendapat demikian ialah Imam Fakhruddin Ar-Razi, dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib, beliau menjelaskan maksud dari surat nisa ayat 82 : 

أفلا يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا كثيرا 

"Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-quran? Sekiranya (Al-quran) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya" 

Menurutnya, ayat ini menunjukkan kepada kewajiban kita untuk berpikir dan mencari dalil serta tidak boleh ber-taqlid, karena Allah Swt. memerintahkan orang-orang munafik untuk mencari dalil kebenaran akan kenabian nabi Muhammad Saw, apabila kenabian nabi saja butuh kepada dalil, maka untuk mengetahui Allah dan sifat-Nya tentu lebih lagi membutuhkan dalil.


Tapi, bagaimana dengan pendapat kelompok pertama? bagaimana kelompok kedua menyikapi nya? para ulama setidaknya telah menyikapi pendapat kelompok pertama dengan beberapa hal. 

Pertama, mereka mengakui bahwasanya manusia itu lahir dengan fitrah yang Allah berikan, fitrah manusia adalah Islam yang mampu mencapai konklusi akan keberadaan Tuhan. namun, di sisi lain, tidak bisa ditapik bahwa fitrah tersebut bisa saja menyimpang sesuai dengan lingkungan manusia tersebut tumbuh, ketika fitrah manusia itu sudah menyimpang maka diperlukan dalil agar ia kembali ke fitrahnya. tentu saja, contoh sangatlah banyak, kita bisa melihat hingga hari ini masih ada saja keraguan akan keberadaan Tuhan oleh orang-orang yang fitrahnya sebenarnya mampu sampai kepada konklusi tersebut. 

Kedua, Al-quran sendiri menceritakan tentang kaum nabi Nuh, 'Aad, Tsamud, dan lain sebagainya yang mereka itu ragu akan Keberadaan Allah oleh karena itu jawaban dari rasa ragu mereka adalah ayat 

أفي الله شك 

"Adakah keraguan terhadap Allah?" 

Setelah keraguan tersebut dijawab oleh para nabi, baru lah mereka membuktikan keberadaan Allah dengan apa yang mampu dilihat oleh kaum tersebut di ayat 

فاطر السموات و الأرض 

"Pencipta langit dan bumi" 

Ketiga, kelompok kedua tidak menerima dikatakan bahwa yang ber-istidlal terhadap keberadaan Allah dengan akal ada keraguan di dalam iman mereka, karena, mereka yang berjuang untuk ber-istidlal dengan akal, mencurahkan segala hal yang mampu dilakukan, untuk membuktikan keberadaan Allah bukan karena keraguan, akan tetapi utuk menjawab atau melawan musuh-musuh islam yang meragukan adanya Allah dengan akal. mereka yang menolak akan keberadaan Tuhan tentu saja mengingkari risalah, tidak mungkin kita berusaha menetapkan keberadaan Allah dan risalah-Nya dengan risalah juga, maka harus melalui dalil akal. 

Keempat, kelompok kedua berpendapat bahwa dalilul khalq (Keberadaan Makhluk dalil akan keberadaan Tuhan) itu lebih jelas ketimbang yang diyakini kelompok pertama (Keberadaan Tuhan dalil akan keberadaan makhluk). bukan tanpa alasan, mereka berpendapat hal yang diyakini kelompok pertama tidak mampu dilakukan oleh semua orang, dalilul khalq jauh lebih mudah dicerna karena memang objeknya adalah hal-hal yang mampu digapai oleh panca indera (baca: makhluk), meskipun, mereka mengakui dalilul khalq bukan satu-satunya cara ber-istidlal terhadap keberadaan Tuhan. Namun, itu adalah cara yang paling mudah. 

Setelah kita melihat pendapat kedua kelompok tersebut, bagaimana caranya kita menemukan titik temu dari dua pendapat ini? 

Al-Quran sendirilah yang menunnjukkan pada kita untuk menengahi pendapat ini, lagi-lagi pada surat Ibrahim ayat 10 Allah berfirman : 

أفي الله شك 

"Adakah keraguan terhadap Allah?" 

Penggalan pertama ayat ini menunjukkan bahwa memang tidak sepantasnya ada keraguan terhadap keberadaan Allah, fitrah manusia pasti akan sampai pada kesimpulan tersebut. Kemudian pada penggalan kedua : 

فاطر السموات و الأرض 

"Pencipta langit dan bumi" 

Ayat ini menunjukkan bahwa istidlal terhadap keberadaan Tuhan juga diperlukan, setidaknya melalui alam ini yang bisa kita lihat sendiri (dalil khalq) dan hal ini lah yang Al-quran praktekkan. istidlal terhadap keberadaan Allah itu diperlukan apabila fitrah manusia menyimpang dan memerlukan sesuatu yang membuatnya kembali. 

Dalam kitab Al-Aqidah Al Islamiyyah fi Dhau' Ilmi Al-Hadis karangan syekh Sa'duddin Sayyid Shalih dikatakan : 

فلا تعارض بين إثبات فطرية وجود الله و بين إثبات الأدلة على وجوده فوجود الله يكون فطري حين تكون النفوس سليمة و الأذهان صافية خالية من مبررات الإنحراف, و حين تنحرف الفطرة نلجأ الى الاستدلال لعل النفوس المريضة الغافلة تتذكر ما أقرت به سابقا. 

"Tidak ada kontradiksi antara tetapnya fitrah manusia terhadap keberadaan Allah (pendapat kelompok pertama) dan keharusan adanya dalil terhadap keberadaan Allah (pendapat kelompok kedua), keberadaan Allah itu ada pada fitrah manusia apabila jiwanya bersih dan akal pikirannya sehat tidak ada penyimpangan. Apabila fitrah manusia tersebut menyimpang maka kita memerlukan dalil yang dengan hal tersebut jiwa-jiwa yang sakit dan lalai akan kembali mengingat fitrah yang ada pada dirinya dahulu" 

Kesimpulannya, kedua kelompok mengatakan hal yang benar adanya, hanya saja, perlu ada penyesuaian untuk mempertemukan kedua pendapat tersebut. Wallahua'lam.[]


*Penulis merupakan mahasiswa fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Cairo

No comments:

Item Reviewed: Perlukah Berdalil Terhadap Keberadaan Allah? Rating: 5 Reviewed By: kmamesir