Tuesday, September 1, 2020

Islam Tidak Pernah Sunyi dari Kejayaan

Oleh: Muhammad Zulfa*
(Sumber: www.konfrontasi.com)

Dalam beberapa dekade ini, dunia Islam digemparkan dengan berita-berita duka yang tersebar melalui surat kabar, media sosial dan media online lainnya. Banyak ulama kita, bahkan guru besar kembali kehadhirat Tuhan Yang Maha Kuasa. Tidak hanya di Nusantara, Mesir, Yaman, Suriah, bahkan Lebanon.

Tentunya ini adalah musibah besar bagi umat Islam. Bagaimana tidak? Ulama yang merupakan penjaga dan perawat umat ini satu persatu mulai hilang. Sehingga nilai-nilai negatif merembak di mana-mana dan nilai positif semakin merosot. Inilah yang disebut musibah besar. 

Tapi sebenarnya, di balik musibah besar ini, Tuhan pasti sedang menyiapkan hadiah besar bagi umat ini. Tokoh-tokoh besar pasti akan dikirim kembali. Merekalah yang akan menghidupkan kembali ajaran murni Nabi Saw., memadamkan api kesesatan dan membasmi segala fitnah. Sungguh, sejarah telah membuktikan hal ini.

Jika kita menilik kembali sejarah. Saat Nabi Isa as. dinaikkan ke langit, banyak dari sahabat-sahabatnya dan orang yang memahami agama dibantai tanpa pandang bulu. Saat itulah kepercayaan umat terhadap Tuhan Yang Maha Esa mulai pudar, kejahilan muncul kembali, hal munkar dianggap sebagai ma'ruf dan hal ma'ruf dijadikan kemunkaran. Hati umat manusia kosong dari petunjuk, tidak ada di tengah mereka sosok besar yang berani menetang kejahilan. Masa inilah yang disebut dengan masa fatrah, yaitu suatu masa di mana kejahilan merembak dan tidak adanya utusan Tuhan, baik seorang nabi atau seorang ahli agama. 

Namun, saat-saat seperti ini tidak akan berlangsung selamanya. Ketika umat manusia benar-benar sedang kenyang dengan kesesatan setelah sekian lama ditinggal Nabi Isa as. dan para pengikutnya, Tuhanpun mengirim kembali sosok besar yang akan mengubah sejarah dan menentang segala kebathilan. Ya, dia lah Nabi Muhammad Saw.


(Sumber: Ruwaq Azhar)

Tidak hanya itu, seorang sufi besar, Imam Sya'rani ra., murid kesayangan Syekh Zakariya Al-Anshary juga menceritakan dalam kitab auto biografi sufinya "Lathaiful Minan wal Akhlaq" tentang keadaan di masanya. 

Beliau bercerita, bahwa di masa kecilnya sangat banyak guru besar dari agama ini meninggal. Kebatilanpun kembali menguasai umat ini. Kejahilan kembali menampakkan batang hidungnya. Sehingga, dengan karunia Allah Swt. ketika dewasa, Imam Sya'rani menjadi salah seorang yang menghidupkan kembali ajaran Nabi yang murni dan membasmi segala kesesatan. Juga turut berjuang bersamanya Syekh Khatib Syarbini, Syeh Sirajuddin Al-Hanuki dan Syeh Badruddin Asy-Syanawi.

Hal seperti ini memang telah menjadi sunnatullah. Saat satu pucuk tumbuhan patah, keindahan tumbuhan menjadi berkurang. Tapi di lain waktu, pucuk muda lainya akan tumbuh dan membuat tumbuhan menjadi indah kembali. 

Abad pertama dan kedua hijriah merupakan saat banyaknya para imam mujtahid dan guru besar umat Islam meninggal dunia. Sehingga muncullah kelompok-kelompok penyebar bid'ah, ajaran Islam mulai melenceng dari dasarnya. Ketika kiblat umat sebelumnya adalah akhirat, maka tujuan hidup umat di masa itu adalah dunia.

Namun, tak lama setelah masa ini berlangsung. Muncullah tokoh-tokoh besar umat ini yang kemudian nama mereka diabadikan dalam Risalah Qusyairiyah. Di antaranya adalah Imam Junaid Al-Bahgdady, Abu Sulaiman Ad-Darani dan Shari As-Shakati. 

Kemudian setelah tokoh-tokoh ini kembali ke hadhirat Ilahi. Zaman fatrahpun datang lagi, bid'ah pun kembali merebak di mana-mana, akar-akar kebatilan kembali merayap ke dalam hati umat Islam. Kemudian muncul kembali tokoh-tokoh pembaharu lainnya. Seperti Abdul Qadir Al-Jaelani, Syekh Ahmad Rufa'i, Syekh Muhibbudin Ibnu An-Najjar, Syekh Abi Abdullah Al-Quraysyi dan Abu Ya'zha. 

Di masa selanjutnya juga seperti itu; ketika tokoh-tokoh hebat sebelumnya meninggal, kejahilan dan bid'ah kembali merebak. Namun, tak lama setelah itu, muncul lagi tokoh pembaharu lainnya. Seperti Abu Hasan Asy-Syadzily dan Abu Fattah Al-Wasithy. Hingga setelah periode mereka berakhir, muncullah dua periode lainnya sampai masa sekarang.

Oleh sebab itu, seyogyanya umat Islam merenungi, sekalipun saat ini banyak ulama dan guru besar telah tiada, moral umat manusia benar-benar telah rusak dan api kesesatan berkobar dengan dahsyat, umat Islam tidak boleh putus asa dan menghinakan diri.

Karena di balik ini semua akan datang kembali rahmat Allah Swt., di mana sosok-sosok pembaharu akan kembali muncul untuk memperbaiki moral dan batin manusia yang telah gelap dan kotor. Bahkan, di tengah-tengah kita sekarang tokoh-tokoh tersebut telah ada, kita hanya tinggal menunggu saja kapan batin umat Islam akan sembuh kembali.



*Penulis merupakan pelajar di Universitas Al-Azhar Kairo.
Editor: Syafri Al Hafidzullah
Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Islam Tidak Pernah Sunyi dari Kejayaan Rating: 5 Reviewed By: kmamesir