Ahli Tasawuf Dari Al-Azhar Telah Tiada


Di atas mimbar Masjid Istiqomah PT Arun, lelaki bersorban terkulai lemah. Ia tak mampu lagi berdiri. Padahal, ia belum menyelesaikan ceramah salat subuh.

Pada suatu subuh di awal Oktober 2010 itu, lelaki itu, Abuya Muhibuddin Waly terpaksa dilarikan ke rumah sakit PT Arun, Lhokseumawe. Penyakit gula darah atau diabetes melitus yang menggerogoti tubuh membuatnya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

"Abuya telah lama menderita penyakit diabetes. Salah satu jari kakinya bahkan sudah dipotong," kata Teungku Bulqaini.

Meski dalam keadaan digerogoti diabetes, Abuya Muhibuddin menyempatkan diri menghadiri sejumlah acara sosial kemasyarakatan hingga akhir hayatnya.

Pada 6 Februari lalu, misalnya, dengan kondisi dipapah, Abuya melantik pengurus Majelis Taklim Assuniah Ahlussnah Waljamah Aceh di Masjid Jamik Kutablang, Aceh Utara. Sepekan kemudian, saat deklarasi kandidat calon kepala daerah dari Partai Aceh pada 12 Februari lalu, Abuya menyempatkan diri  hadir dan mempesijuek mereka di atas panggung.

Lahir di Aceh Selatan 75 tahun lalu, Abuya MUhibuddin Waly adalah ulama besar ahli tawasuf dan hukum Islam asal Aceh Selatan.

Abuya Muhibbuddin adalah putra Syekh Muhammad Waly, guru Tarekat Naqsyabandiyah Waliyah keturunan Minangkabau.

Dari ayahandanya, yang di Ranah Minang lebih dikenal dengan julukan Syekh Mudo Waly, mengalir darah ulama besar. Paman Syekh Mudo Waly, misalnya, adalah Datuk Pelumat, seorang waliullah yang termasyhur di Minangkabau.

Belakangan Abuya Muhibbuddin juga mendapat ijazah irsyad (sebagai guru mursyid) Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dari ulama karismatik K.H. Shohibul Wafa’ Tajul ‘Arifin, alias Abah Anom, pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya; dan Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari Syekh Muhammad Nadzim Al-Haqqany.

Muhibbuddin Waly mengambil gelar doktor di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Kairo, dengan disertasi tentang Pengantar Ilmu Hukum Islam. Lulus 1971, waktu kuliahnya terbilang singkat.

Di Al-Azhar, teman satu angkatannya antara lain mantan Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Wah, Gus Dur itu sehari-hari kerjaannya cuma membaca bermacam-macam koran,” kenangnya suatu ketika.

Abuya juga mahir menulis syair. Belum lama ini ia mengijazahkan Syair Tawasul Tarekat yang digubahnya dalam dua bahasa, Arab dan Melayu, kepada murid-murid tarekatnya. Syair yang cukup panjang ini menceritakan proses perjalanan suluknya, diselingi doa tawasul kepada para pendiri beberapa tarekat besar dan guru-gurunya.

Ketika muncul ajaran sesat di Aceh beberapa waktu lalu, Teungku Muhibuddin Waly cemas. Dalam beberapa kesempatan, Abuya meminta masyarakat Aceh memperkuat keimanan.

“Aliran sesat cepat berkembang di Aceh karena kita kurang peduli terhadap masyarakat dalam memahami ajaran Islam, membiarkan anak-anak tak mendalami ilmu agama, dan tak memberi fasilitas bagi santri dayah. Selain itu, kurangnya penyebaran ilmu tauhid dan tasawuf membuat pagar keimanan longgar,” katanya suatu ketika.

Kini, penjaga pagar keimanan itu telah pergi. Pada Rabu malam, 7 Maret 2012, ia dijemput malaikat maut di Rumah Sakit Fakinah, Banda Aceh. Aceh pun kehilangan ulama besarnya.| YUSWARDI A SUUD | BERBAGAI SUMBER

Sumber: Harian Online Atjeh Post, Kamis 8 Maret 2012

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top