Kamis, 30 April 2015

WAHDATUL WUJUD DALAM SYAIR MELAYU;

Peserta dan pemateri  Zawiyah berfoto bersama
Studi Pengaruh Pemikiran Ibnu Arabi Terhadap Hamzah Fansuri

Pendahuluan

Di Aceh, ajaran yang menyatakan Tuhan dan makhluk pada hakikatnya adalah satu berkembang lewat buku-buku dan syair-syair yang dituliskan Hamzah Fansuri. Perkembangannya lewat syair terlihat lebih efektif dalam membius pemikiran masyarakat Aceh saat itu. Salah satunya disebabkan tradisi dan kemampuan baca-tulis masyarakat yang masih rendah, sehingga proses transfer ilmu lewat hikayat-hikayat menjadi pilihan.

Apa yang dilakukan Hamzah Fansuri dalam menyebarkan pemikirannya lewat syair-syair secara tidak langsung ia telah mengikuti pendahulunya, Ibnu Arabi. Konsep Tuhan yang terdapat dalam ayat-ayat dan hadis Nabi diterjemahkannya ke dalam bait-bait syair.

Dalam forum diskusi ilmiah Zawiyah Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir yang berlangsung pada hari Selasa, 14/4/2015, lalu pemikiran kedua tokoh tersebut dibedah. Kedua tokoh ini merupakan ulama sufi yang dikenal dengan pemikiran kontraversialnya, Wahdatul wujud. Namun keduanya hidup pada zaman, negeri, dan bahasa masyarakat yang berbeda.

Ibnu Arabi, nama aslinya Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad Ath-Tha'iy Al-Hatimy Al-Mursy. Masyhur dengan Ibnu Arabi, Mahyuddin, Abu Bakar, Ibn Aflathûn (Plato), Syekh Akbar, dan juga Sulthân Al-‘Ârifîn. Lahir pada hari Senin, tanggal 17 Ramadhan 560 H./28 Juli 1165 M., di kota Mursiyah, Andalus, Spanyol. Beliau wafat pada malam Jum’at, tanggal 28 Rabiul Akhir 638 H./1240 M. di Damaskus.

Sementara Hamzah Fansuri merupakan pelopor dan perintis syair dalam bahasa Melayu. Namanya Hamzah bin Ismail. Ia dikenal dengan nama Hamzah Fansuri. Fansuri diambil dari nama kampung tempat ia dibesarkan. Tidak banyak informasi yang didapat tentang asal usulnya kecuali apa yang dikatakan oleh Abdurrahman Al-Ahmady, “bahwa ayah Syekh Hamzah Fansuri bernama Syekh Ismail Aceh.” Dalam beberapa catatan disebutkan bahwa Muhammad Ali Al-Fansuri adalah saudaranya, dan Abdurrauf bin Muhammad Ali Fansuri As-Singkili (Syiah Kuala) adalah keponakanya. 

Begitu juga dengan tanggal lahir dan wafatnya, tidak terdapat satu pun rujukan yang menyatakan dengan jelas. Namun para peneliti sepakat bahwa Hamzah Fansuri masih hidup sampai akhir masa kesulthanan Iskandar Muda (1607-1636 M.). 

Yang sudah pasti, menurut Ali Hasymi, ia hidup dalam masa pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1101 H./1589-1604 M.), sampai ke permulaan pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H./1607-1636 M).

Jadi dapat diyakini bahwa beliau hidup pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 Masehi. Setelah wafatnya, beliau dimakamkan di Desa Oboh yang letaknya di pinggir sungai, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam. Di sana, saat ini terdapat kuburan seorang ulama dan penyair yang bernama Hamza Fansuri. Tertulis di kuburannya, “Ini kubur Hamzah Fansuri, mursyid Syekh Abdur Rauf.” 

Wahdatul Wujud

Istilah wahdatul wujud belum dikenal pada masa dan sebelum Ibnu Arabi. Menurut William Chittick, istilah ini kemungkinan besar pertama kali diperkenalkan oleh Shadruddin al-Qunawi (w. 637 H./1273 M.), murid setia sekaligus anak tiri Ibnu Arabi, dan dipopulerkan oleh penulis-penulis sesudahnya semisal Ibn Sab‘in (w. 646 H./1248 M.), dan Afifuddin At-Tilmisan (w. 690 H./1291 M.). 

Konsep wahdatul wujud adalah menyatakan hakikat wujud itu hanyalah satu, Allah Swt. Allah itu bukan alam dan alam bukanlah Allah. Dalam pandangan Ibn Arabi alam adalah penampakan diri (tajali) Al-Haqq, segala sesuatu dan segala peristiwa yang ada di alam ini adalah entifikasi (ta’ayyun) Al-Haqq.

Dari sini dipahami yang wujud (ada) hanyalah Allah, dan zat atau esensi yang mungkin berubah-ubah pada dasarnya tidak ada (‘adam). Menurut Ibnu Arabi dalam kitabnya Fuhus Al-Hikam, “Sesuatu yang wujud dengan dirinya sendiri maka wujud kita tidak bisa diserupakan dengan wujud-Nya. Karena tidak ada satu apapun yang serupa dengan-Nya. Wujud itu adalah Allah, Dia wajib wujud karena diri-Nya. Sementara manusia wujud (ada) karena Rabb-nya. Inilah yang membedakan kita dengan diri-Nya. Antara Rabb dan marbûb (hamba) tidak bisa menyatu, Allah adalah Khâliq dan hamba itu makhluk.”

Wujud yang hakiki, yaitu Allah tidak menerima perubahan, sementara wujud selain Allah yang selalu bisa berubah dengan berbagai kemungkinan adalah wujud khayaly (ilusi). Oleh karenanya wujud Allah itu tidak berbentuk, tetapi ber-tajali dalam berbagai bentuk yang terlihat dalam gambar-gambar bayangan-Nya. Allah akan dihukumkan (dipahami) sesuai dengan wajah atau bentuk yang tampil pada alam. Sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh akal, dirasa oleh indera, yang itu bersifat baharu dan banyak kemungkinan: mungkin ada dan mungkin tiada. Karena yang dilihat itu bukanlah wujud mutlak. Wujud mutlak hanyalah Allah.

Pada bentuk atau benda-benda yang ada dalam alam itu terdapat sifat ketuhanan (sifat ilahiyah). Yang ada dalam alam itu kelihatan banyak, tetapi sebenarnya itu satu. Tak ubahnya hal ini sebagaimana orang melihat dalam beberapa cermin yang diletakkan di sekelilingnya. Di dalam tiap cermin ia lihat dirinya. Dalam cermin itu dirinya kelihatan banyak, tetapi dirinya sebenarnya satu. Wajah sebenarnya satu, tetapi jika engkau perbanyak cermin ia menjadi banyak. Artinya, yang ada itu satu, yang banyak itu tak ada, yang kelihatan banyak dengan panca indera adalah ilusi.

Yang satu itulah wujud yang asli, dan asal dari wujud-wajud yang banyak di dalam cermin. Alam itu merupakan gambar dalam cermin dari wujud yang tetap, yaitu wujud Al-Haqq. Benda-benda yang ada pada alam adalah gambar di dalam cermin, pantulan dari zat aslinya satu yang disebut dengan al-‘akyan as-tsabitah (entitas yang tetap).

Seirama dengan Ibnu Arabi, proses penciptaan alam dari Zat Yang Satu ini oleh Hamzah Fansuri menjelaskan dalam beberapa tingkat atau tahapan. Peringkat pertama disebut ta’ayun awwal diibaratkan seperti laut. Apabila laut itu berombak dan air laut itu menguap (berasap) ke udara membentuk awan, maka uap air itu berada pada tingkatan kedua. Kemudian uap air yang membentuk awan itu mengalami proses kondensasi sehingga menurunkan air hujan yang turun diberbagai tempat di bumi. Air hujan ini merupakan tahapan ketiga. 

Jika air hujan turun dihilir bumi disebut sungai. Air hujan yang membentuk sungai adalah tahapan keempat dan kelima yang disebut alam mitsal, yang di dalamnya terdapat penciptaan alam semesta, makhluk-makhluk, termasuk manusia. Penciptaan ini tiada berkesudahan dan tiada berhingga. Pada akhirnya sungai bermuara dan mengalir kembali ke laut yang diibaratkan semua ciptaan-Nya akan kembali lagi kepada Tuhan.

Dalam semua tahapan tersebut terjadi 5 perubahan bentuk, namun zat air yang dasarnya dari laut masih terkandung pada uap, awan, hujan, dan sungai. Sungai wujud dari proses tajalli terakhir merupakan proses penciptaan alam semesta yang sudah bisa dirasakan oleh indra manusia. Alam ini adalah hasil tajalli Allah pada tahapan kelima.

Wahdatul Wujud Dalam Syair Melayu

Karena Hamzah Fansuri orang pertama yang mengasaskan syair Melayu, bahkan syair sufi yang berisikan doktrin wahdatul wujud maka pada tulisan ini menampilkan beberapa syair miliknya untuk kajian konsep yang penuh kotroversial tersebut.

Dalam syairnya, Hamzah Fansuri menyatakan:


Kenal dirimu hai anak ratu

Ombak dan air asalnya satu

Seperti manikam muhith dan batu

Inilah tamsil engkau dan ratu


Dalam syair di atas, Hamzah Fansuri mengibaratkan Allah dan segala ciptaannya laksana laut dan ombak, laut disebutkan sebagai ratu (mâlik), dalam hal ini ratu untuk seluruh jagad raya ini, yaitu Allah, wujud yang Haqq. Adapun perumpamaan ombak, yaitu manusia dan seluruh makhluk yang lain adalah ciptaan-Nya dalam bentuk yang berbeda dengan-Nya, dan itu disebut ‘akyan al-mumkinât (zat yang banyak kemungkinan berubah). 

Lebih lanjut, Hamzah Fansuri dalam kitabnya, “Syarab al-‘Asyiqin,” menjelaskan, “Hai thalib, alam ini seperti ombak, keadaan Allah seperti laut, sungguhpun ombak lain daripada laut, kepada hakikat tiada lain daripada laut. ‘Qala Allahu Ta’ala: Innallaaha Ta’ala khalaqa Âdama ‘ala shûratih.’ Selain itu Rasullah juga pernah bersbada, ‘Allah menjadikan Adam atas rupa-Rahman. Karena Rahman disebutkan sebagai Laut, maka Adam disebutkan sebagai buih.” 

Tentang Allah adalah wujud mutlak dan al-maujud al-haq, sementara alam adalah tajali dari wujud Allah, Hamzah Fansuri mempertegas dalam sebuah syairnya dengan mengatakan bahwa manusia itu rahasia Allah dan Allah itu rahasia manusia, manusia adalah ‘alam mukhtasharah (alam mikrokosmos), dan alam adalah wujûd al-mumkinât. Antara wujûd al-mumkinât dan wajûd al-Haqq satu yaitu satu wujud. Artinya pada hakikatnya wujud itu satu.

Hamzah menyebutkan dalam syairnya:


Kata guru kita yang budiman

Al-insanu sirri dengarkan firman

Wa-ana sirruhu terlalu ‘iyan

Pada sekalian kita bernama insan


Terkait dengan hubungan Allah dengan manusia, atau antara hamba dengan Rabb, Hamzah Fansuri menjelaskan:


Sabda rasul Allah Nabi kamu

Li ma’a Allahi sekali waktu

Hamba dan Tuhan menjadi satu

Inilah ‘arif bernama tahu


Apa yang disampaikan Hamzah dalam syairnya tersebut banyak dipengaruhi oleh pemikiran dan syair-syiar Ibnu Arabi. Salah satu syairnya yang hampir sama maknanya dengan syair Hamzah Fansuri di atas adalah:

الـــــرب حــــق والعـبـــد حـــــق يا ليت شـعري من المكلَّفْ 

إن قلتَ عبد فذاك رب أو قـــلت رب أنـــَّى يكــلّــَـف

Tuhan adalah benar-nyata, hamba juga benar-nyata

Aduhai siapa yang dibebani kewajiban

Jika engkau katakan "hamba,"dialah “Tuhan”

Dan jika engkau katakan “Tuhan” mengapa dibebani kewajiban


Doktrin wahdatul wujud mengingkari akan wujud alam lahir, karena wujud yang hakiki hanyalah Allah. Semua ciptaan merupakan bayangan dari wujud yang sebenarnya (al-Haqq). Ibnu Arabi mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada dalam alam ini baik itu langit, bumi, jin, manusia, malaikat, binatang, tumbuhan pada hakikatnya tidak ada, yang ada hanyalah Allah. Semua itu ada karena entitas (‘ain) wujud-Nya. 

Karena wahdatul wujud merupakan pemikiran sufi yang diasaskan oleh Ibnu Arabi, maka sudah jelas bahwa ajaran wahdatul wujud yang dibawa dan diajarkan Hamzah Fansuri merupakan pengaruh dari Ibnu Arabi. Karena memang Hamzah sangat gemar banyak membaca buku-buku karya Ibnu Arabi. Bahkan ajaran tasawuf wahdatul wujud berkembang di seluruh asia tenggara cikal bakalnya adalah dari Hamzah Fansuri yang lahir dan hidup di Aceh. Aceh adalah pintu masuknya Islam pertama kali di kawasan Asia Tenggara.


Pemateri: As’adi Muhammad Ali

Moderator: Fazlur Ridha
Badan Takaful Aceh


Tidak ada komentar:

Item Reviewed: WAHDATUL WUJUD DALAM SYAIR MELAYU; Rating: 5 Reviewed By: kmamesir