Aku dan Kamu Ada Batasnya

Oleh: Aja Chairul Husnah*
Sumber foto: @imaadaqil1

Semakin majunya peradaban dan canggihnya teknologi semakin banyak pula kerusakan moral yang terjadi. Hal ini dapat kita saksikan dari beberapa fenomena yang terjadi di kalangan muda-mudi sekarang.

Oleh karena itu keputrian Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir mengadakan beut (pengajian) dwi mingguan kali ini dalam bentuk sharing dengan tajuk "Aku dan Kamu Ada Batasnya" pada November lalu di Meuligoe KMA.

Penyampaian materi beut oleh Ustazah Sirrina Yusda kali ini memang berbeda dari beut biasanya yang diisi dengan materi fikih dan sirah shahabiyyat. Ustazah Sirrina menjelaskan tentang bagaimana batas-batas yang seharusnya kita jaga dalam bermuamalah (interaksi) dengan lawan jenis. Bukan berarti antara laki-laki dan perempuan tidak boleh berteman ya, karena dalam kehidupan bersosial tentu tidak terlepas dari yang namanya interaksi antara laki-laki dan perempuan. Bahkan tak jarang saling membutuhkan kerja sama baik itu dalam sebuah organisasi, instansi pekerjaan dan sebagainya. Namun ada rambu-rambu yang harus dipatuhi dan batas-batas yang tidak boleh dilewati tentunya.

Allah Swt. berfiman:
ولا تَقْرَبُوا الزِّنَاۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآء سَبيلا 

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (Al-Isra' : 32).

Dalam Al-Quran memang tidak ada larangan untuk berzina. Allah melarang zina tidak langsung menggunakan lafaz لا تزنوا, namun dengan lafaz لا تقربوا الزنا. Mendekatinya saja hukumnya sudah haram, apalagi melakukan perbuatan keji tersebut. Na'udzubillahi min dzalik. Jadi, dengan menjauhi zina berarti menghilangkan akses terjadinya hal-hal yang dapat menjerumuskan ke dalam perbuatan zina.

Nah, Apa saja sih etika-etika yang harus kita jaga ketika berinteraksi antara lawan jenis? Simak yuk!

1. Menjaga Pandangan (Gadhdhul Bashar)

Kenapa menjaga pandangan? Karena dari mata turun ke hati, begitulah ungkapan yang sering kita dengar dari muda-mudi zaman sekarang. Dari pandangan inilah dikhawatirkan bisa menjerumuskan seseorang ke dalam jurang yang tidak diinginkan.

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya..." (An-Nur : 31).

"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya..." (An-Nur : 32).

Dari kedua makna ayat di atas sudah sangat jelas perintah Allah untuk menjaga pandangan baik itu bagi laki-laki maupun perempuan. Karena mata adalah penuntun hati. Mata akan mentransfer setiap hal yang dilihat kedalam hati. So, dengan menjaga mata berarti menjaga hati.

Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam pernah menasihati Sayyidina Ali:

"Jangan kamu ikuti pandangan pertamamu dengan pandangan kedua dan selanjutnya. Milik kamu adalah pandangan yang pertama, tapi yang kedua bukan."

Menjaga pandangan tidak hanya ketika berhadapan secara langsung saja, bahkan di media sosial pun kita harus menjaga pandangan lho. Seperti yang kita tahu di zaman sekarang menjaga pandangan memang perkara yang sangat sulit, karena keseharian kita tentu tidak terlepas dari yang namanya muamalah antara laki-laki dan perempuan. 

2. Menjaga Aurat

Sudah kewajiban setiap muslim tentunya untuk menutup aurat dengan baik dan sesuai syariat. Namun realitanya banyak kita jumpai dari muda-mudi sekarang berpakaian namun pada hakikatnya mereka tidak sedang menutup aurat. Berpakaian tapi ketat, berpakaian tapi transparan. Gimana tu? Yang penting kan menutup. Oh tidak semudah itu akhi dan ukhti

Mengikuti trend boleh saja asal tetap syar'i. Islam sendiri sangat menganjurkan kita untuk memperbaiki penampilan selama kita masih mengikuti norma-norma yang berlaku. Itu juga sebagai rasa syukur kita dengan menampakkan nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita. Tapi bukan untuk pamer ya, ingat! Niatkan berpakaian untuk menutup aurat.

Allah Swt. berfirman:

"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu..." (Al-Ahzab : 59).

Islam sangat menjunjung tinggi derajat perempuan. Sudah seyogyanya sebagai muslimah kita menghargai sekaligus menjalankan apa yang diperintahkan dalam syariat, terlebih dalam hal berbusana. Seorang muslimah diwajibkan memakai jilbab. Lalu, seperti apa jilbab yang sesuai syariat? Jilbab yang sesuai syariat hendaknya menutup dada secara sempurna, tidak membentuk juga tidak transparan. Tak hanya jilbab saja ya ukhti-ukhti fillah, busana yang dipakai pun harus lebar, tidak membentuk juga tidak transparan.
Sumber foto: @everydaycairo

3. Tidak Berdua-duaan (khalwat)

Dalam kontroversi khalwat ini ada ulama yang mengharamkannya secara mutlak dan ada pula yang memperbolehkannya selama tidak melanggar syariat. Tidak bisa dipungkiri bahwa khalwat bukan lagi hal yang asing bagi kita. Banyak yang menyepelekan hal ini dengan dalih hanya berteman, toh juga gak ngapa-ngapain bukan? 

Rasulullah Saw. mengingatkan kita dengan sabdanya:

أَلا لا يخْلُوَنََّ رَجُلٌ باِمْرَأَةٍ إِلا كان ثالثَهُمَا الشَّيْطَان

"Ingatlah bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan wanita kecuali yang ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim).

Tidak hanya berdua-duan secara fisik nyata saja, berdua-duaan di media sosial juga bisa dikatakan khalwat lho. Jika memang sudah melampaui batas wajar seperti telponan di luar kepentingan atau bahkan chatting-an melebihi dari sekedar kata-kata.

Khalwat tidak dibolehkan dalam Islam, karena ia bisa menjadi jalan terjadinya fitnah antara laki-laki dan perempuan. Lebih-lebih lagi jika adanya ketertarikan antar keduanya.

Jika memang ada keperluan yang mendesak dan dibenarkan oleh syariat serta kedua belah pihak juga bisa dimonitori oleh orang banyak, maka khalwat yang semacam ini diperbolehkan. Asal tetap menjaga norma-norma yang berlaku.

4. Bertutur Kata dengan Tegas

Hendaknya seorang perempuan bertutur kata dengan tegas jika berhadapan dengan laki-laki ajnabi (non mahram). Bukan berarti berbicara dengan nada tinggi dan kasar. Tegas yang dimaksud yaitu tidaklah perempuan tersebut melemah-lembutkan suaranya saat berbicara dengan laki-laki. Namun berbicara dengan ucapan yang baik, jelas, sopan, dan tidak bertele-tele tentunya.

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاء إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فلاتَخْضَعْنَ بالقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قوْلا معروفًا

"Wahai istri-istri Nabi! Kamu sekalian tidaklah seperti wanita-wanita yang lain. Maka janganlah kamu tunduk (melemah-lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik." (Al-Isra' : 32).

قولا معروفا dalam ayat ini juga diartikan perkataan yang tegas dan baik. Perkataan yang tidak akan menimbulkan pemikiran-pemikiran buruk bagi orang yang mendengarnya. Secara khusus ayat ini memang ditujukan kepada istri-istri Nabi. Tapi bukankah istri-istri Nabi juga perempuan? Bukankah mereka adalah sosok yang akan selalu para muslimah teladani?

5. Tidak Bersentuhan Kulit

Rasulullah bersabda:

أَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ.

"Lebih baik kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Thabrani di Al-Mu'jam Al-Kabir no.486).

Hadis tersebut sudah sangat jelas menunjukkan kerasnya ancaman dan larangan bersentuhan antara laki-laki dan perempuan. Demikianlah mulianya perempuan di dalam Islam, ibarat ratu yang mana tak sembarang orang bisa berjabat tangan dengannya.

Perihal berjabat tangan memang sudah menjadi tradisi di kalangan kita. Terlebih ketika lebaran, seperti tidak sah jika saling berkunjung tanpa berjabat tangan. Namun jika tradisi ini bertentangan dengan syariat, mengapa harus dipertahankan bukan?

Para ulama memang berselisih pendapat dalam hal ini. Mayoritas ulama berpendapat tidak diperbolehkan berjabat tangan dengan lawan jenis selain muhrim. Sebagian ulama lain menyatakan kebolehannya dengan syarat tidak ada syahwat serta aman dari fitnah. Namun alangkah baiknya perkara ini dihindari.
Sumber foto: @everydaycairo

6. Punya Rasa Malu

Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

إن لكل دينٍ خلقا وخلق الإسلام الحياء

“Setiap agama mempunyai ciri khas akhlak dan ciri khas akhlak Islam itu rasa malu.” (HR. Ibnu Majah).

Rasa malu adalah akhlak Islam. Jadi setiap muslim perlu menghiasi dirinya dengan rasa malu. Tidakkah rasa malu juga bagian dari iman? Jadi, setiap orang yang menghiasi dirinya dengan rasa malu berarti sedang memelihara iman.

Memang rasa malu perlu ditampilkan dalam setiap aktivitas kehidupan. Dengan adanya rasa ini manusia dapat menahan diri dari melakukan perbuatan buruk dan tercela. Namun jangan salah menempatkan rasa malu. Apalagi dalam hal kebaikan, apakah juga harus merasa malu untuk berbuat kebaikan?

Pada zaman sekarang pintu kemaksiatan terbuka dengan lebar. Pola hidup muda-mudi yang sangat memprihatinkan. Pergaulan bebas dimana-mana. Pacaran sudah menjadi life style di sebagian kalangan masyarakat. Bahkan ada yang beranggapan seakan gairah hidup menjadi sirna jika tidak pacaran.

Rasa suka sama suka itu fitrah. Namun saling menjaga lantas memperbaiki diri lebih baik daripada melakukan sesuatu yang jelas-jelas sudah dilarang agama bukan?

Oleh karena itu kita sebagai remaja muslim harus menjaga norma-norma agar tidak terkontaminasi dengan pergaulan-pergaulan yang salah. Apapun yang kita lakukan hendaknya kita selalu merasa dalam muraqabahnya Allah (pengawasan Allah). Wallahu A'lam.


*Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top