Sabtu, 12 Februari 2022

Kamar 51 (Bagian Satu)

By: Tim Phan

“Sudah kau amankan perimeter setempat, Josh?”

“Sudah, bu. Semuanya sudah aman. Pers yang datang juga sudah ditempatkan jauh dari TKP. Beberapa tetangga juga sudah ditanyakan oleh anggota kepolisian. Tinggal menunggu keterangan lanjut dari forensik.” Josh menjawab sigap.

“Bagus. Antarkan aku ke penghuni yang kemungkinan melihat atau mendengar apa yang sudah terjadi.” Mereka berdua berjalan di lorong apartemen menuju lantai utama.

Ruangan utama tepat setelah pintu masuk telah berkumpul beberapa polisi dan penghuni aparteman. Beberapa ada yang duduk di sofa dengan santai. Yang lainnya sibuk bermain telepon pintar. Apa yang baru saja terjadi di apartemen itu sudah tersebar luas di media sosial. Menjadi topik utama di setiap platform.

“Josh, bagaimana dengan rekaman CCTV? Apa ada yang mencurigakan?”

“Kami sudah memutar rekaman 24 jam lalu. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya potongan video korban yang masuk ke dalam kamar beberapa jam setelahnya sebelum akhirnya terbunuh.” Josh kembali menjelaskan.

“Bukan terbunuh, josh. Itu belum pasti. Boleh jadi ini hanya kasus bunuh diri.”

“Tapi, luka tembakan laser itu tidak mungkin hasil bunuh diri.” Josh menyergah.

“Tembakan laser?” seseorang menimpal dari kerumunan. “Apakah diameter tembakan itu sepuluh centi?” tambahnya.

“Maaf, Pak. Anda siapa?” Josh menghentikan pria yang mendekati kawanan polisi.

“Darimana kau tahu kalau diameternya sepuluh centi?”

“Aku tidak tahu. Aku bertanya.”

“Maaf, Pak. Sebaiknya anda kembali ke tempat.” Josh mengangkat tangannya, memaksa pria itu untuk menjauh.

“Biarkan orang ini menjelaskan, Josh” perintah bosnya.

“Tapi….” Josh urung membalas kalimat itu setelah melihat tatapan tajam dari bosnya.

Pria itu dengan santai menghampiri.

“Namaku Dren. Senang bertemu dengan anda ibu detektif.” Dren menjulurkan tangan.

“Neila, panggil saja Neila,” sembari balas bersalaman. “Jadi, Dren, bisa kau jelaskan apa yang sedang terjadi sekarang? Bagaimana kau bisa tahu tembakan laser tersebut?”

“Wow, oke. Aku kira akan ada basa-basi dulu. Ternyata kalian para polisi lebih memilih langsung ke topik percakapan.” Dren menoleh kiri kanan, para polisi sudah menatapnya tajam.

“Sebelummenjawab, aku ingin memberikan pernyataan. Aku bukan pembunuhnya. Memang fakta kalau kamarku tepat di samping TKP. Tapi itu tidak membuktikan apapun bahwa aku adalah pelaku. Juga aku tidak pernah bertemu dengan korban, lebih tepatnya tidak berbicara dengan korban. Aku menemuinya di lobi tengah ini tadi pagi ketika dia check-in ke kamar.” Dren berseru.

“Hei, cerewet, kau belum menjawab pertanyaan dari bu Neila.” Josh membentak.

“Kau benar polisi berotot, apakah kau pake steroid?” Dren malah bercoloteh tak jelas, Josh sudah siap menimpuk Dren hingga terhenti oleh kalimat Neila.

“Bapak Dren, tolong jawab pertanyaanku.” Neila memotong perdebatan.

“Aku tahu karena aku adalah peneliti senjata laser, ibu Neila. Lebih tepatnya, aku adalah peneliti alien.” Dren berseru bangga.

Ruangan tiba-tiba senyap, menyisakan suara gaduh yang terdengar samar-samar dari luar gedung. Palingan itu beberapa wartawan yang berusaha menerobos masuk.

Sejenak, ruangan itu penuh dengan ledakan tawa. Muasalnya dari Josh yang terbahak mendengar kalimat Dren, diikuti oleh seluruh polisi lainnya dan seisi penduduk apartemen. Neila tersenyum tipis.

“Bu Neila, sepertinya pria satu ini sudah gila. Dia bilang korban kita dibunuh oleh alien.” Josh kembali tertawa.

Dren merasa tertekan dengan suasana di sekitarnya. Dia memang biasa mendapat hinaan seperti ini, tapi tidak di kehidupan nyata. Biasanya hinaan ini datang dari penonton di youtube ketika ia membahas teori alien.

“Apakah kau punya bukti lebih lanjut, Dren?” Neila bertanya di tengah riuh tawaan.

“Aku bisa menunjukkannya di ruanganku.” Dren menjawab cepat.

“Josh, ikuti aku ke kamar 52. Sisanya terus teliti CCTV dan kalau kalian sudah selesai bertanya pada penghuni disini. Suruh mereka kembali ke kamar masing-masing. Dan tidak ada yang boleh melewati kamar 51 sebelum semua ini selesai.” Neila berjalan diikuti Josh dan Dren.

“Bagaimana kau tahu kalau aku tinggal di kamar 52?” tanya Dren heran.

“Aku tahu banyak hal, Dren.”

***

Kamar Dren tidak bisa disebut sebagai kamar. dinding dipenuhi dengan banyak poster dan potongan koran. Rak dipenuhi dengan buku-buku usang. Jaring laba-laba di setiap ujung langit-langit ruangan.

“Apakah ini dunia lain? Aku seperti baru saja berpindah dari taman bermain ke rumah hantu.” Josh berseru setelah melihat seisi ruangan.

“Aku tidak punya banyak waktu untuk membersihkan ini, officer Josh,” cetus Dren.

Sejenak, Dren sudah terlelap mencari sesuatu di tumpukan kotak. “Ini dia.” Dren mengangkat barang yang dicarinya.

“Wow.” Josh langsung mencabut pistol yang ada di pinggangnya setelah melihat barang yang diambil Dren.  “Letakkan itu, orang aneh. Atau kutarik pelatuk pistolku.”

“Santai, officer Josh. Ini hanya replika dari senjata alien yang kubicarakan tadi. Tidak perlu panik seperti itu.” Dren berusaha menjelaskan.

Josh akhirnya menurunkan pistolnya setelah melihat kode tangan Neila.

Neila memerhatikan senjata alien tersebut. Bentuknya seperti pistol air. Moncongnya runcing, warnanya silver. Karena ini adalah replika, senjata itu sama ringannya dengan mainan plastik yang dijual di toko mainan.

“Terima kasih, Dren.” Neila mengembalikan senjata tersebut.

“Kau sudah selesai melihatnya? Kau tidak penasaran sedikit pun?” imbuhnya heran.

“Tidak untuk sekarang. Mulai hari ini kau akan menjadi rekan kerjaku untuk menyelesaikan kasus ini. Josh akan membantumu juga.” Neila sudah berjalan keluar ruangan.

“Bu Neila? Apa yang kau pikirkan?” Josh berseru kencang mendengar keputusan aneh dan tiba-tiba itu. Ia berusaha menyamai langkah dengan Neila. Ingin meminta penjelasan.

“Bu Neila, kutu buku itu boleh jadi adalah pelaku pembunuhan ini. Bagaimana mungkin kau dengan tiba-tiba mengajaknya ikut dalam investigasi. Itu tidak ada di dalam peraturan.”

“Dengar Josh.” Neila berhenti. “Pertama, ini bukan pembunuhan. Kita bahkan tidak tahu siapa tersangkanya. Kedua, disini aku yang menjadi bosnya dan aku yang membuat peraturan disini,” bentaknya.

Josh termangu diam setelah mendengar kalimat tersebut.

***

“Selamat malam semuanya.” Ruangan petak itu dipenuhi puluhan polisi. Neila yang berdiri di depan memulai perbincangan.

“Maaf mengumpulkan kalian semua disini. Ada hal darurat yang harus dibahas.” Polisi mengamati Neila dengan seksama. Pertama karena Neila punya pangkat tinggi. Kedua karena wanita satu ini menjadi bidadari kembang di kantor polisi. Kulitnya putih, parasnya elok, tubuhnya tinggi semampai, rambutnya hitam mengkilap. Kalau esoklusa Neila memutuskan menjadi model, setiap majalah fashion akan berburu agar pakaian mereka dipakai olehnya. Belum terhitung kalau ia aktif di media sosial, jutan pengikut bisa ia kumpulkan.

“Sore tadi, pria Bernama Rian E.Sallie ditemukan tewas di aparteman Opera Square Garden. Tepatnya di kamar 51. Hasil forensik mengatakan bahwa Rian meninggal karena tembakan tepat di jantungnya.”

“Tembakan laser.” Dren memotong presentasi Neila, polisi yang hadir menatap heran. Tiba-tiba saja ada pria dengan pakaian lusuh memotong pembicaraan Neila. Fans fanatiknya sudah siap marah.

“Perkenalkan para polisi sekalian. Ini adalah Dren, dia adalah satu-satunya saksi yang mengetahui apa yang terjadi di dalam kamar 51.” Neila mempersilakan Dren naik ke podium, berdiri di depan puluhan polisi.

“Halo semuanya, namaku Dren. Teman-temanku biasanya memanggilku Dren. Walaupun sejatinya aku hanya punya satu teman yang selalu setuju denganku di media sosial, komennya selalu kunantikan. Kebanyakan dari mereka menghinaku. Mungkin beberapa di antara kalian menghinaku di media sosial. Entah itu instagram, facebook, youtube. Tapi aku menghargai kalian karena kalianlah yang menumbuhkan subcriber-ku. Jangan lupa subcribe kanal youtube Alien Is Real.” Dren malah mengoceh tak jelas.

“Ssst…,” tegur Josh yang berdiri beberapa langkah dari Dren. Wajahnya merah padam, kalau situasinya berbeda, Josh sudah menimpuk Dren dengan pentungan.

“Tuan Dren disini membantu kita dalam menginvestigasi korban.” Neila mengambil alih bicara.

“Teorinya, Rian dibunuh oleh alien.” Neila memukul dahinya sendiri, rasanya berat sekali mengatakan sesuatu yang fiksi untuk ukuran kasus ini.

Suasana ruangan mulai riuh. Neila sang bidadari baru saja mengatakan kalau alien adalah pembunuh.

“Iya, itu benar. Alien tepat menembak senjata lasernya di dada saudara kita yang malang, Rian.” Dren kembali ikut campur dalam topik bicara.

“Hei, Kutu Buku, memangnya senjata semacam itu nyata,” seru salah satu polisi.

“Tentu saja nyata.”

“Apa buktinya?” polisi lain menimpali.

“Kau tidak pernah menonton Independence Day, Independence Day Resurgence, aku tidak menyarankan untuk menonton sekuelnya, film itu sampah. alien 1, alien 2, alien 3, alien vs predator, E.T., District 9, Men in Black 1, 2, 3? Lihat tidak pistol kecil yang digunakan Agen J? Semua itu bertema alien. Begitu juga dengan Star Wars, terlebih lagi yang Empires Strikes Back, terbaik sepanjang masa.”

“Aku lebih suka New Hope.” Salah satu polisi berseru sebelum akhirnya puluhan polisi lain menatapnya aneh. “Apa itu Star Wars, film yang tidak bermutu. Lebih baik menonton The Raid.” Polisi itu meralat kalimatnya.

“Bu Neila, orang ini sudah gila. Ia baru saja menyebutkan rentatan film yang ditonton anakku. Orang dewasa tidak ada yang percaya hal semacam ini.” Polisi berbadan tambun menyergah pembicaraan.

“Oi, oi, oi, Steven Spielberg adalah orang dewasa, pak polisi. Dia sudah membuat banyak film bertema alien. Itu bisa membuktikan banyak hal. Bahkan Tom Cruise aktor terbaik bermain di dua Film Alien terkenal. Edge of tomorrow dan War of The Worlds.” Dren tidak mau kalah.

Suasana semakin riuh mendengar kalimat yang keluar dari mulut Dren. Semprotan nama-nama film aneh yang Dren sebutkan tidak mengubah suasana sama sekali.

“Baiklah semuanya, tolong tenang.” Neila berusaha membuat suasana kembali serius. “Tuan Dren disini bukan akan menjelaskan kepada kita rekomendasi film. Tapi ia akan menjelaskan apa yang terjadi di kamar 51 sebelum akhirnya Rian tewas.” Neila menatap Dren.

“Dren, tidak usah berbicara yang tidak penting, cukup jelaskan teorimu. Itu saja.” Neila berbisik pada Dren. Ia balas dengan menyeringai lebar.

“Baiklah.” Dren menarik napas panjang. “Saudara Rian check-in apartemen pagi tepat hari ini. Sayangnya, Rian ditemukan tewas jam lima sore. Menurut laporan forensik ia tewas sekitar jam 3 sampai 4 sore. Setelah diteliti di CCTV, tidak ada orang yang mencurigakan yang lewat melalui kamar 51. Juga tidak ada orang yang mencurigakan yang masuk ke dalam apartemen. Setelah aku membantu detektif Neila menyelidiki ruangan Rian, aku menemukan beberapa hal yang mencurigakan. Pertama, di dalam kopernya Rian, tidak ditemukan sepeser baju pun. Di dalam dompetnya juga tidak ditemukan satu lembar uang. Juga ruangan itu bersih seperti baru, hanya sisa darah yang mewarnai lantai dan dinding marmer.” Seisi ruangan menyimak dengan teliti penjelasan Dren, ia kalau sedang mode serius memang menarik banyak perhatian.

“Di jam tiga sore, aku baru saja memasak mi instan untuk sarapan. Aku tidak sengaja mendengar percakapan kamar sebelah dari dapurku. Bunyinya sangat aneh, aku tahu beberapa bahasa, tapi baru kali ini aku mendengar kalimat yang aneh ini. Kalau ditulis jadi seperti ini.” Layar proyektor di belakang Dren menampilkan tulisan.

Suara pertama:‘ilabmek surah uak, sibah hadus umutkaw.’

Suara Kedua: ‘aynaumes nakrocobmem naka uka. Ilabmek naka kadit uka.’

“Setelah percakapan ini, terdengar suara desingan laser. Dan beberapa jam kemudian ibu aparteman menelpon polisi setelah menemukan Rian tergeletak di lantai.”

Polisi yang duduk mengangguk-angguk mendengar penjelasan Dren. Mereka berusaha menyimpulkan apa yang baru saja terjadi. Suasana kembali riuh.

“Kau tahu apa yang mereka bicarakan?” polisi yang tadi bertanya senjata alien kembali berseru.

“Itu dia pertanyaan yang kutunggu-tunggu, my friend.” Dren menyeringai lebar. “Tentu saja aku tahu. Aku telah meneliti alien sejak kapan tahu. Aku tahu itu bahasa mereka, makanya aku bisa menyimpulkan kalau ini adalah perbuatan mereka. Ini dia jawabannya.”

Layar kembali berganti.

Suara pertama: ‘waktumu sudah habis, kau harus kembali.’

Suara kedua: ‘aku tidak akan kembali. Aku akan membocorkan semuanya.’

“Dari percakapan ini kita bisa mengambil kesimpulan. Bahwa Rian punya sesuatu yang mengancam keberadaan alien. Entah rahasia apa itu, tidak ada yang tahu.” Dren kembali membuat suasan riuh.

“Baiklah, itu adalah teori dari Dren. Yang mana itu bisa menjadi salah satu opsi kita sekarang. Tugas kalian sekarang adalah mencari barang bukti yang ada di sekitar aparteman. Apapun itu, setiap rencana pasti ada lubangnya. Tinggal mau mencarinya atau tidak.” Neila menutup pembicaraan.

***

 

Editor: Deffa Cahyana Harits

Badan Takaful Aceh


Tidak ada komentar:

Item Reviewed: Kamar 51 (Bagian Satu) Rating: 5 Reviewed By: kmamesir