Sabtu, 12 Februari 2022

Kamar 51 (Bagian Dua)

 By: Tim Phan


Ruangan autopsi mayat.

“Bagaimana, Ran? Kau menemukan sesuatu yang baru?” tanya Neila.

“Tidak ada, bu. Hanya saja aku masih heran. Darah Rian terlalu kental untuk disebut darah. Lebih seperti jeli. Dan juga tidak ada bau amis yang keluar dari darah dan tubuhnya.” Ran, kepala autopsy menjelaskan.

“Oi, oi, oi.” Dren langsung melangkah maju setelah mendengar kalimat Ran. “Apakah darahnya berwarna hijau? Kental? Dan tidak berbau?”

“Eee…iya, tapi tidak berwarna hijau.” Ran menjawab ragu.

Seenaknya saja, Dren langsung menyentuh mayat Rian, ia melihat lebih dekat tubuh tersebut. Benar, tidak ada bau amis di sana. Dan benar juga kalau darahnya terlalu kental, seperti jeli.

“Rian juga seorang alien, bu Neila.” Dren tersenyum puas, akhirnya teorinya selama ini tentang alien mulai terbuktikan sedikit demi sedikit.

“Teori apa lagi kali ini, kutu buku?” Josh menggerutu kesal.

“Lihatlah, darahnya kental. Karena ia sudah sangat lama tinggal di bumi dan makan makanan manusia, darahnya menjadi warna merah. Juga mayatnya tidak bau sama sekali. Salah satu yang membuat alien itu spesial, mayatnya tidak bau dan tidak bisa membusuk. Itulah kenapa mereka melempar mayatnya ke luar angkasa agar tidak mencemari planet,” tukas Dren.

Neila menggosok keningnya. Satu sisi ingin percaya apa yang dikatakan Dren, tapi sisi satunya berusaha untuk logis.

“Apakah kau bisa mengidentifikasi sidik jarinya, Ran?” tanya Neila.

“Itu bukan keahlianku, bu Neila. Patrick ahlinya. Sayangnya dia libur hari ini.”

“Aku bisa melakukannnya.” Dren mengusulkan diri.

“Baiklah, tolong, Dren.”

Dren tersenyum puas. Ia dan Ran melangkah menuju ke ruangan sebelah.

“Aku akan menjaganya, bu Neila. Siapa tahu ia akan membobol berkas rahasia di markas ini.” Josh juga menawarkan diri.

Sejenak, Dren keluar dari ruangan.

“Neila, lihat ini.” Dren menunjukkan secarik kertas bergambarkan sidik jari.

“Apa ini?” tanyanya heran.

“Lihatlah, tidak terdata dimanapun. Umurnya sudah melebihi batas untuk kartu penduduk dan scan sidik jari. Yang artinya dia memalsukan sidik jarinya agar tidak ketahuan kalau sidik jarinya tidak bisa dibaca oleh mesin buatan manusia. Salah satu kekuatan mereka adalah mengendalikan pikiran atau telepati. Dia pasti mengendalika pikiran petugas kantor untuk membuatkannya kartu penduduk. Caranya adalah seperti memupuk ide di dalam kepala petugas kalau orang di depannya adalah manusia. Biasanya dengan menggosok dahi, energi telepati itu akan muncul.Itulah caranya dia mendapatkan kartu penduduk ini.” Dren berseru senang.

DUKK… DUKK…

Suara ketukan pintu.

“Bu Neila, kami menemukan sesuatu.” Salah seorang polisi membuka pintu.

Mereka bertiga bergegas keluar dari ruangan autopsi setelah mendengar kalimat polisi tersebut. Melewati lorong hingga sampai di sebuah ruangan.

“Bu Neila. Kami menemukan tali ini di tong sampah di dekat apartemen.” Di atas meja sudah ada tali tambang berwarna coklat dengan bercak-bercak darah.

“Sepertinya sudah bisa kita simpulkan, bu Neila,” ungkap Josh.

“Maksudmu sudah bisa disimpulkan?” tanya Dren heran.

“Iya, Rian E. Sallie bunuh diri dengan tali ini,” jawab Josh.

“Oi, bukankah dia ditembak dengan laser. apakah kau tidak lihat mayatnya tadi?” Dren semakin heran.

Polisi di ruangan itu menatap Dren heran. Atmosfir ruangan langsung berubah. Tadinya mereka semua mulai percaya kalau alien memang nyata. Tapi sekarang seakan-akan ide yang baru saja ditanam di pikiran itu hilang tanpa jejak. Tadinya semua orang punya satu tujuan, mencari alien di penjuru kota, sekarang tanpa alasan apapun, mereka percaya bahwa korban itu hasil bunuh diri.

“Kau menghayal, kutu buku. Tidak ada senjata laser di dunia ini. Kau sendiri yang menjelaskan di dalam ruangan kalau Rian mati karena tercekik dengan tali. Kau juga yang menjelaskan banyak hal tentang pesan-pesan orang bunuh diri melalui layer proyektor.” Josh menepuk bahu Dren. Meninggalkannyasendiri di ruangan.

Apa yang baru saja dikatakan Josh? Rian tercekik dengan tali? Seingatnya di dalam ruangan tadi Dren dengan jelas menjelaskan kalau semua ini perbuatan alien. Juga Dren menjelaskan dengan singkat bahasa alien, Josh malah mengira itu adalah surat bunuh diri korban. Sesuatu yang tidak beres baru saja terjadi, dan tidak ada yang menyadarinya. Dren, hanya Dren yang termangu diam di ruangan tersebut. Melihat polisi lainnya yang sudah lega bahwa kasus ini akan ditutup dengan mereka menjelaskan kepada wartawan beberapa jam lagi.

Sejenak,Dren langsung berlari ke ruangan autopsi. Disana ada Ran yang ingin membungkus mayat Rian, Dren mencegahnya. Terkejut sekali dia melihat mayat tersebut. Tidak ada lubang di dadanya, padahal sebelumnya dia yakin sekali kalau itu ada di sana. Sekarang hanya ada tali di leher Rian. Apa yang baru saja terjadi? Apakah selama ini Dren hanya bermimpi?

“Hei, Dren, kau baik-baik saja?” tanya Ran yang melihat tatapan kosong Dren.

“Ya,” jawabnya singkat.

Sejenak, ruangan itu senyap. Pikiran Dren entah sudah kemana berlabuh.

“Hei, apakah alien itu memang berbicara terbalik?” Ran memecah lamunan Dren.

“Tidak bisa disimpulkan seperti itu, Ran. Hurufnya kadang acak-acakan. Jadi harus memilih kata yang tepat. Terkadang terbalik, terkadang….” Dren baru sadar dengan pertanyaan Ran. Dari mana dia tahu kalau Dren menjelaskan bahwa alien itu berbicara terbalik.

“Darimana kau tahu itu?” Dren memegang bahu Ran.

“Aku melihatmu lewat layar televisi ketika kau menjelaskan tadi.” Ran menunjuk televisi yang ada di atas pintu.

Dren menyeringai, dia sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Dia menyambar secarik kertas yang ada di meja. Menuliskan nama Rian di atas kertas tersebut.

“Alien itu suka sekali membalik huruf manusia. Makanya nama mereka tidak jauh dari nama kita. Dan kebetulan sekali nama teman kita satu ini menunjukkan banyak hal,” oceh Dren.

“Kau ingat di ruangan tadi aku menjelaskan kalau aku punya satu teman di media sosial yang selalu setuju dengan pendapatku?”

“Iya, kayaknya,” jawab Ran ragu.

“Nama temanku itu adalah Voldemort. Dan asal nama Voldemort adalah Tom Marvolo Riddle. Itu dijelaskan semua di film kedua Chamber of Secret. Jadi nama teman kita tidak jauh dari sana. Ini dia.” Dren menunjukkan kertas yang telah ditulis olehnya.

‘Rian E. Sallie’ dibawahnya, ‘Alien is Real.’

“Maksud tulisan ini apa?” Ran heran melihat tulisan tersebut.

“Ini adalah nama kanal youtube ku, Ran. Semua jawaban berasal dari sana. Ini bukan hanya nama, tapi petunjuk besar.” Dren melompat senang, meinggalkan Ran yang tidak tahu menahu apa yang baru saja dijelaskannya.

***

Di luar kantor polisi, tepat di depan pintu. Dren berdiri di balik tembok, menunggu seseorang keluar. Di tangannya sudah ada gawai dan earphone di telinganya.

Hisreb hibel nagned nakajrek ilak nial. Aynsurugnem uka.” Kalimat itu langsung diterjemahkan oleh gawai milik Dren.

“Aku sudah mengurusnya. Lain kali kerjakan dengan lebih bersih,” ucap suara pertama.

“Bagaimana dengan nerd yang satu itu?” balas suara dua.

“Sudah diurus. Dia terlalu percaya keberadaan kita. Tidak bisa kukendalikan pikirannya. Tapi selesai sudah. Esok lusa dia tidak akan mencari kita lagi. Tinggal mengurus dokumen petinggal yang ditinggalkan Rian entah dimana.” Suara pertama terkekeh. Suara Neila yang mengira sudah mengurus segalanya.

 

Editor: Deffa Cahyana Harits

Badan Takaful Aceh


Tidak ada komentar:

Item Reviewed: Kamar 51 (Bagian Dua) Rating: 5 Reviewed By: kmamesir