Kamis, 24 Februari 2022

Perang Narasi Media Sosial: Menyatukan Perbedaan dengan Islam Wasathiya (Bagian Dua)

 Oleh: Haris Akbar Zahari*

(Pertemuan Imam Besar Al Azhar Syekh Ahmad At Thayyeb dan Paus Fransiskus untuk menandatangani deklarasi persaudaraan antar umat beragama. Sumber foto: Strategi.id)

Meluruskan makna Islam Wasathiyah

Islam Moderat ini sudah lama populer di Indonesia, namun praktiknya belum cukup bagus untuk menutupi seluruh kekurangan dan ketimpangan. Jika saja konsep Islam jalan tengah ini tidak segera diedukasikan dan dipraktikkan, maka jangan heran peristiwa-peristiwa kelam akan terjadi lagi.

Hari ini saja, ada orang-orang yang membicarakan kalau Indonesia harus jadi Negara Islam. Tujuan tersebut sangat bertentangan dengan ideologi negera dan sejarah kemerdekaan. Mungkin hari ini orang itu menjadikan Indonesia sebagai negera Islam, besoknya dia akan mengusir dan membantai masyarakat yang akidahnya berbeda. Membawa-bawa nama Islam atau agama tidak menjadikan ide seseorang itu pantas dan baik. Dewasa ini, banyak orang yang mempopulerkan diri menggunakan istilah-istilah penting supaya dapat perhatian dari masyarakat banyak.

Islam Wasathiyah yang sudah menjadi topik perbincangan di Indonesia ini mungkin sedikit disalahpahami. Maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah meluruskan definisi sebenarnya yang bisa memagari mana Islam Moderat yang sesungguhnya, dan mana orang yang merasa sudah di jalan tengah, tapi sikapnya masih belum dewasa.

Islam Wasathiyah atau Islam Jalan Tengah adalah ajaran Islam yang mengarahkan umatnya untuk mengedepankan moderasi, bersikap adil, seimbang, tidak melampaui batas dan bermaslahat.

Imam At-Thabary menyebutkan ada 13 riwayat yang mengatakan kalau wasathiyah itu bermakna adil. Wahbah Az-Zuhaili mendefinisikan wasath sebagai sesuatu yang berada di tengah-tengah. Prof. Quraish Shihab menambahkan kalau wasathiyah adalah keseimbangan yang disertai dengan prinsip “tidak kekurangan dan tidak berlebihan”, tapi pada saat yang bersamaan juga, wasathiyah tidak berarti lari dari tanggung jawab.

Definisi ini tidak cukup rasanya untuk diedukasikan. Pasti ada orang yang tidak menerima Islam jalan tengah ini yang coba menggiring definisi para ulama menjadi prinsip yang salah untuk kemudian menarik minat kelompok atau anak muda. Anggap saja seseorang mengutip istilah Islam Wasathiyah adalah Islam jalan tengah, lalu mengajarkan seorang anak untuk memilih pertengahan dari semua perintah agama.

Sebut saja shalat Ashar itu empat rakaat, maka menjadi Islam Washatiyyah adalah mengerjakan shalat Ashar dua rakaat. Kalau makan setengah saja, setengah lagi dibuang. Dari hal itu kemudian ada ide mengerikan yang memberitahu kalau Islam jalan tengah adalah menjadi pemimpin di tengah-tengah masyarakat dan menyerukan mereka untuk menganut pehamaham kalau puasa setengah hari saja, bayar zakat setengah saja, belajar agama setengah saja. Dan setelah pencucian otak itu, mulailah oknum jahat itu menyerukan untuk melakukan ‘jihad’ yang disalahpahami.

Jika kelompok ekstrem tadi mengaku Islam moderat, datang orang lain yang mengaku moderat juga, lalu Anda mengakui juga. Semua orang mengaku menganut pemahaman Islam Wasathiyah tapi praktiknya berbeda. Lalu siapa yang Islam Moderat sesungguhnya?

Mengutip perkataan Gus Mus saat ditanyai Najwa Shihab, beliau menggambarkan bahwa jika kamu ingin mengukur kedalaman sebuah kali, jangan mengukurnya dengan tubuhmu. Saat seseorang yang bertubuh tinggi mengukur kali dengan tubuhnya, dia akan mengatakan “Kali ini dangkal saja.” Datanglah si cebol mengukur kali juga, dia bilang, “Kali ini dalam sekali.”

Setiap orang mempunyai pendapat sendiri dengan kedalaman sebuah kali atau danau jika mengukurnya dengan tubuh atau ego masing-masing. Merasa pendapatnya paling benar. Sekarang cobalah untuk mengukur kali itu dengan ukuran satuan yang benar sesuai ilmu pengetahuan manusia. Maka siapapun yang mengukur, baik itu orang tinggi atau cebol, ukurannya akan tetap sama.

Jadi jika ingin mengetahui siapa sebenarnya yang Islam Moderat, maka ukurlah dengan ukuran agama, yaitu Al-Quran dan Hadis. Lihat saja di dalam Al-Quran, Allah Swt. selalu melarang hal yang berlebihan seperti boros dan melampaui batas. Nabi juga menyerukan umatnya untuk jangan berlebihan saat makan dan minum.

Ustaz Abdul Somad pernah mengibaratkan deskripsi Islam Moderat yang benar, konsep pertengahan yang sesungguhnya. Beliau mengatakan bahwa orang ekstrem kanan seperti orang Kristen akan bilang kalau Nabi Isa adalah anak Tuhan, sementara kelompok ekstrem kiri atau Yahudi bilang kalau Nabi Isa itu anak zina, karena Maria berzina dengan Joseph si tukang kayu. Maka datanglah Islam jalan tengah mengatakan bahwa Isa a.s adalah Rasul atau utusan Allah Swt.

Itulah Islam Moderat, Islam jalan tengah yang melerai semua kesalahpahaman, bukan ekstrem kiri atau ekstrem kanan.

Ada yang mengatakan kalau Kristen itu Kafir maka halal darahnya. Orang lain datang mengatakan Kristen itu sama dengan Islam. Maka datanglah Islam jalan tengah mengatakan kalau Non-Muslim itu berbeda dengan Islam, namun kita tidak boleh menganggu mereka. Kita hidup satu negara, kita satu kemanusiaan dan harus saling menghargai.

Sebagaimana dalam Al-Quran surat Al-Kafirun, untuk mereka agama mereka, untuk kita agama kita. Silakan Non-Muslim hidup dengan keyakinannya, merayakan hari besar menurut akidahnya, jangan diganggu. Maka begitu juga kebebasan kita sebagai Muslim, kita tetap dengan keyakinan sendiri, berpuasa, merayakan hari raya dengan kebabasan dan tidak diganggu.

Dinukil dari kitab Asbabun Nuzul milik Imam Suyuthi bahwa surat Al-Kafirun ini turun setelah kaum kafir saat itu mengajukan tawaran kepada Nabi Muhammad Saw. untuk menyembah berhala satu tahun, maka tahun berikutnya mereka akan menyembah Allah yang disembah Rasulullah. Maka turunlah surat ini yang mengandung penolakan tegas, bahwa Islam harus kokoh pada pendiriannya. Silakan hidup saling bertetangga, berbagi keramah tamahan, tetapi jangan ikut campur soal akidah.

Islam Wasathiyah ini sudah ada sejak lama, diajarkan oleh lisan Nabi Muhammad setelah mendapat wahyu dari Allah Swt. Islam itu tidak memaksa, tidak keras terhadap pemeluknya, tapi malah lembut dan penuh keringanan.

Apakah orang islam yang taat itu mereka yang puasa sepanjang tahun? Atau mereka yang shalat malam sampai tidak tidur, atau malah yang tidak menikah saking beribadah terus-menurus?

Belajar Islam Wasathiyah dari Rasul

Kasus ini pernah terjadi di masa Nabi Muhammad Saw. masih hidup. Hadis ini merupakan hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Ahmad, An-Nasa’i, Al-Baihaqi, Ibnu Hibban dan Al-Baghawiy. Adalah Anas r.a menceritakan bahwa ketika itu, 3 orang pemuda datang ke rumah istri-istri nabi dan menanyakan bagaimana ibadah nabi di rumah. Mereka mungkin tahu bagaimana ibadah dan amalan Nabi Muhammad di luar rumah, seperti di masjid dan pasar, tetapi tentu ada ibadah yang hanya diketahui oleh para istri saat beliau  di rumah. Maka para istri nabi menjawab kalau nabi kadang berpuasa, kadang tidak. Shalat malam dan juga tidur. Beliau juga menikah dan bersikap adil kepada istri-istrinya.

Ketiga orang yang datang itu merasa bahwa ibadah nabi sedikit sekali jika dibandingkan mereka. Nabi Muhammad telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, bagaimana dengan mereka? Orang pertama bilang kalau dia melakukan shalat malam selalu, tidak pernah berhenti bahkan sampai tidak tidur. Orang kedua bilang kalau dia berpuasa terus menerus sepanjang tahun. Sedangkan orang ketiga menjauhi wanita dan tidak akan menikah.

Mendengar hal tersebut, Nabi Muhammad Saw. menemui mereka dan bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah Swt. di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan kadang tidak, aku shalat malam dan juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, dia tidak termasuk golonganku.”

Inilah Islam yang sebenarnya. Tidak memberatkan, tidak juga terlalu meringankan, namun berada di tengah-tengah. Mengapa Nabi Muhammad mengatakan kalau orang yang hidupnya dihabiskan untuk puasa sepanjang tahun itu bukan bagian dari sunnahnya? Bukankah taat sekali seorang hamba jika selama malamnya hanya untuk beribadah? Inilah penjelasannya.

Orang pertama yang shalat malam tanpa tidur. Jelas sekali tekadnya itu bertentangan dengan syariat karena menyusahkan jiwa dan melelahkan tubuh. Besok-besok dia akan lelah dan bosan, maka saat seseorang sudah bosan, ia akan mulai membenci, kemudian tidak lagi melakukan shalat malam. Selain itu, shalat malam tanpa tidur adalah sebuah kezaliman untuk dirinya sendiri, melampaui batas dan bertentangan dengan ajaran syariat yang mudah dan mementingkan hak-hak manusia.

Pernah suatu ketika Istri Usman bin Mazhun mengadu kepada Rasulullah tentang suaminya yang tidak memperhatikan dia karena shalat sepanjang malam dan berpuasa sepanjang siang. Maka Rasulullah menegur Usman bin Mazhun bahwa sesungguhnya istri itu memiliki hak atasnya yang wajib dipenuhi, dan badan seseorang itu punya hak untuk istirahat.

Orang kedua yang berpuasa sepanjang tahun. Dalam syariat Islam, puasa yang wajib hanya puasa di bulan Ramadhan. Yang lain hanya puasa sunnah kecuali puasa-puasa nazar. Sementara puasa sunnah itu banyak seperti puasa senin kamis, enam hari di bulan syawal, 9 dan 10 Muharram dan sebagainya. Adapun jika sanggup, seseorang boleh melakukan puasa Nabi Daud a.s yaitu sehari puasa dan sehari tidak.

Namun jika seseorang melakukan puasa sepanjang tahun dan tidak pernah libur, maka itu sudah menyalahi syariat karena melampaui batas dan menyiksa tubuh. Bahkan Rasulullah bersabda bahwa tidak ada ganjaran atau pahala puasa untuk orang yang puasa terus menerus sepanjang tahun.

Sementara orang ketiga yang tidak menikah itu sama saja dengan menyiksa diri sendiri dengan membujang. Di samping itu, Rasulullah juga menyuruh umatnya untuk menikah dan melarang dengan keras tetap membujang. Sungguh Nabi Muhammad akan berbangga di hadapan Allah jika ada banyak jumlah kaum muslim yang lahir dari keturunan-keturunan dari pernikahan itu sendiri.

Islam Wasathiyah itu juga tidak fanatik kepada suatu pendapat, tetapi membuka wawasan dan mau menerima kritik atau masukan yang boleh jadi lebih dekat dengan kebenaran. Imam Syafi’i juga pernah memberi contoh kepada manusia untuk bersikap toleran dalam berpendapat. Pernah suatu kali beliau mengatakan, “Pendapat saya itu benar, namun ada kemungkinan salah juga. Pendapat orang lain itu salah, namun ada kemungkinan untuk benar pula.”

(Sumber Foto: binaqurani.sch.id)

Hal ini menunjukkan bahwa seberapa pun yakin seseorang dengan pendapatmya, haruslah tetap terbuka untuk menerima pendapat orang jika benar. Bukan malah keras kepala dan enggan mengakui. Meminjam kalimat Abi Quraish Shihab, “Jangan berdiskusi dengan seseorang yang dapat Anda kalahkan argumentasinya, namun tidak bisa mengalahkan kepala batunya.”

Setelah paham dengan arti Islam jalan tengah yang benar. Maka barulah kita bisa mengamalkan semua itu dengan baik pula. Namun sayang seribu sayang, ada saja kelompok yang mengaku memegang landasan Al-Quran dan Hadis, tapi malah mengedepankan egonya dengan alasan agama. Mereka ini sulit sekali diubah karena kefanatikannya, seolah-olah dengan mengubah Indonesia menjadi negara Islam akan membuatnya masuk surga dan jadi orang paling benar. Jika memang ingin berdakwah, maka ambil jalan yang baik dengan melakukan kebaikan kepada orang yang berbeda akidah, mengajaknya dengan lemah lembut, bukan malah perang dan saling menjelekkan.

Solusinya kalau sudah begini adalah edukasi Islam jalan tengah harus sampai ke generasi muda. Anak-anak bangsa ini menjadi target para misioner yang ingin mencuci otak mereka, maka sebaiknya bapak-bapak negara, para pemimpin, guru, ustaz, kyai, khatib dan seluruh elemen masyarakat termasuk mahasiswa harus saling membantu untuk meluaskan konsep sesungguhnya dari Islam Wasathiyyah.

Dari mahasiswa misalnya, setiap tahun pasti ada yang mengerjakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Terlepas dari masing-masing jurusan, selipkan sedikit saja waktu untuk membentuk pola pikir yang benar untuk masyarakat dan anak-anak desanya. Membentuk Islam jalan tengah di Indonesia bukan hanya tugas ulama, tapi juga kita sesama manusia, khususnya pemeluk Islam. Tentunya sebelum itu, mahasiswa harus mendapat perspektif yang benar dari dosennya.

Seperti sebuah rantai makanan, edukasi ini harus melalui proses turun menurun. Dari ulama yang mengajarkan perspektif Islam Moderat yang benar kepada para pemimpin, diteruskan kepada kyai, khatib, guru dan ustaz, untuk kemudian diteruskan kepada mahasiswa yang akan memberinya langsung kepada keluarga atau generasi selanjutnya.

Ambillah contoh kita sebagai mahasiswa Al-Azhar, yang di dalam edukasi kuliah di universitas dan Talaqqi di masjid-masjid selalu diajarkan untuk menjadi ummatan wasatan. Kita mengambil ilmu itu dan menyebarkannya kepada masyarakat, baik saat nanti sudah pulang ke tengah-tengah mereka atau melalui media sosial saja.

Pemerintah daerah juga harus membatasi para khatib yang menyampaikan pidato-pidato agama yang ekstrem dan menentang ajaran Islam. Jangan sampai ada penceramah yang menjadikan mimbar dakwah untuk menebarkan kebencian, dimana seharusnya ia memberikan teladan.

Contohnya seperti yang pernah diceritakan oleh Profesor Azyumardi Azra, CBE. Di suatu Jum’at di masjid milik instansi pemerintah di Jakarta Pusat, ada seorang khatib asal Palestina yang berkhutbah dengan bahasa Arab yang meledak-ledak dan cenderung bersifat provokatif. Dia menyebut kalimat jihad, kemudian diiringi dengan nama beberapa kota Islam yang ada di bagian Timur. Okelah banyak yang tidak paham dengan bahasanya, namun saat kata jihad disebut-sebut dengan nada tinggi dan marah, banyak orang yang terpancing ikut emosi dan mengambil kesimpulan ingin membalaskan dendam kaum Muslim.

Mereka yang dengan bebas menyampaikan pesan provokatif ini harus dihentikan. Jangan sampai masjid kita yang jamaahnya penuh malah diberikan bahan edukasi yang salah. Bayangkan jika di Indonesia ada sebuah keluarga yang berasal dari Israel misalnya, padahal dia sudah hidup lama di Indonesia dan tidak terlibat dengan gejolak konflik Israel-Palestina, justru menanggung kemarahan masyarakat kita. Rumahnya bisa dibakar, dan yang paling parah mereka bisa saja dibantai.

Contoh yang masuk akal saja, jika ada orang Papua yang didiskriminasi di kota Jakarta, bukan berarti orang Jakarta yang sedang di Papua harus mendapat balasan. Jika ada orang yang mengaku Islam menghancurkan rumah ibadah, bukan berarti Non-Muslim wajib merobohkan masjid-masjid. Bukan itu Islam yang diajarkan Rasulullah. Bukan itu Islam yang diajarkan para Tabi’ dan Tabi’ Tabi’in. Dan bukan itu juga Islam yang diwariskan kepada kita umat akhir zaman.

Sebagai muslim, jika memang pelakunya adalah orang Islam, kita tidak ingin dihakimi seperti pelaku pengeboman gedung kembar World Trade Center (WTC). Maka begitu juga dengan Non-Muslim, yang mungkin di Palestina sedang melakukan pembantaian, bukan berarti kita harus membunuh Non-Muslim yang lain di Indonseia.

Syaikhul Azhar, Prof. Dr. Ahmad Thayyib pernah berkata bahwa salah satu kespesialan risalah agama Islam ini adalah wasathiyyah, dengan ajarannya agama islam disebut agama yang wasati, dan dengan ajarannya pula, umat Islam dipanggil ummatan wasatan.

Media Sosial Kami Datang!

Di penghujung 2022 ini, tantangan membumikan Islam Wasathiyah semakin sulit saja. Dakwah dan ceramah agama dengan mudah menyebar di media sosial, bagus kalau itu memang ajaran yang diajarkan Rasulullah. Namun jika menyimpang, justru berbahaya sekali dengan generasi media sosial ini. Semua orang bisa menjadi pendakwah hari ini melalui media masing-masing, dan ini perlu ditindak lanjuti. Harus ada pembatasan akses untuk dakwah-dakwah yang menyimpang.

Riset “Neurosensum Indonesia Consumers Trend 2021: Social Media Impact on Kids” yang dilakukan oleh perusahaan riset independen berbasis kecerdasan buatan (AI), Neurosensum mengeluarkan data bahwa sekitar 87% anak-anak di Indonesia sudah dikenalkan media sosial sebelum menginjak usia 13 tahun. Bahkan ada sebanyak 92% anak-anak dari rumah tangga yang penghasilannya rendah sudah mengenal media sosial terlebih dahulu.

Anak-anak yang harusnya jadi harapan bangsa di masa depan malah terancam dengan ideologi-ideologi yang menakutkan. Maka sekali lagi, solusinya adalah dengan membatasi tersebarnya paham-paham sesat. Namun jika ini memang sulit dilakukan, adalah tugas kita para mahasiswa, sebagai konsumen media mosial untuk memerangi akun-akun itu. Jangan menonton, biarkan pasar dan algoritma media sosial menenggelamkan postingan-postingan yang memecah-belah perbedaan.

Memegang konsep Islam Wasathiyah bukan berarti menjadi Muslim yang setengah-setengah. Ini paham yang salah. Justru hal yang paling istimewa dari Islam jalan tengah ini adalah menjadikan muslim sebagai pribadi yang taat dan bertakwa.

Semua kebaikan itu dimulai dari diri sendiri. Mengamalkan Islam Moderat berarti menjalankan sunnah Nabi Muhammad Saw., karena sebenarnya konsep itu sama dengan Ahlu Sunnah wal Jamaah. Wakil Presiden Republik Indonesia, Kyai Ma’ruf Amin pernah mengatakan bahwa cara berpikir Islam Wasathiyah itu sama dengan Ahlu Sunnah, yaitu berpikir moderat. Mengedepankan toleransi di berbagai keberagaman yang sangat cocok diterapkan di Indonesia sebagai negara yang majemuk. Kalau Gus Mus bilang, Islam itulah moderat, Islam tidak dapat dipisahkan dengan moderat.”

Allah Swt. dalam surat Al-Maidah ayat 8 berfirman agar orang beriman hendaklah menjadi penegak keadilan semata-mata karena Allah. Jangan sampai kebencian seseorang terhadap suatu kamu membuatnya berlaku tidak adil. Sungguh keadilan itu dekat sekali dengan ketakwaan.

Hal ini berbanding lurus dengan firman Allah dalam surat Al-Hujarat ayat 13  bahwa satu-satunya perbedaan yang ada di antara umat manusia ada dalam ketakwaannya kepada Allah Swt.

Kemajemukan yang ada di Indonesia tidak membuat satu ras atau suku lebih baik dari suku lain. Orang Dayak tidak lebih baik di hadapan Allah dibandingkan orang Madura. Hanya karena lahir di Aceh, tidak menjadikan orang itu mulia di hadapan Allah. Karena bisa berbahasa Jawa, tidak menjadi lebih mulia. Kita semua satu dalam pandangan Allah, kecuali dari segi ketakwaan.

Sebagai orang Indonesia, negara yang hampir semua anak-anaknya memakai media sosial, wajarlah jika kita takut pemahaman Islam yang salah bisa menyebar begitu cepat. Media ini tidak menaikkan tulisan atau video Anda berdasarkan isi otak Anda atau gelar yang dicapai, tapi dengan popularitas dan pengikut.

Jika kita tidak bisa menghilangkan rasa takut itu, sudah saatnya kita membela diri, menggalakkan media sosial sebagai pengantar pemahaman yang benar tentang Islam dan ideologi-ideologi lurus. Karena sebodoh-bodohnya masyarakat Indonesia, mayoritas di tahun 2022 ini mereka tidak lagi menerima sebuah pemikiran dengan  begitu saja. Bisa jadi mereka melakukan riset kecil-kecilan.

Saya berikan contoh begini: Ada seorang mahasiswa semester 1 lagi ngopi di warkop, sebut aja Pablo. Mumpung ada wi-fi gratis, dia membuka youtube dan menemukan sebuah video yang mengatakan kalau makan babi itu halal-halal aja kok bagi muslim, asal disembelih dengan tata cara agama dan nama Allah.

Pablo yang bodoh tidak akan menerima pemahaman ini dengan begitu saja. Dia kembali ke beranda Youtube, klik di pencarian dan menuliskan ‘Hukum makan babi yang disembelih dengan nama Allah bagi kaum Muslim.

Dan tahukan Anda, bahwa vidio berikutnya yang muncul di halaman Youtube si Pablo adalah postingan Anda. Anda yang tidak terlalu tenar, tapi orang hanya perlu tahu kalau Anda itu memang benar belajar agama dan hanya berbicara tentang  apa yang Anda pahami, diikuti dengan dalil-dalil dan riset. Maka Pablo akan lebih percaya dengan ideologi yang Anda tawarkan. Dia klik copy link, nge-share di Instagram, followernya ikut nonton, paham dan rantai makanan ini terus berlanjut.

Begitulah hebatnya media sosial bisa mengajarkan masyarakat, begitu juga media sosial bisa menyesatkan masyarakat. Jika kita ini, khususnya mahasiswa masih lemah saja dan diam terus, maka musuh-musuh yang menyesatkan itu akan merajalela di sosial media. Bangun, Kawan, katakan “Tiktok, Kami Datang!”

Akhir Kata

Tidak mudah menjadi negara yang dengan segala keberagamannya, masyarakat bisa hidup saling menghormati dan menghargai. Namun hal ini tidak mustahil. Nabi Muhammad Saw. pernah menerapkan konsepnya, para pendiri bangsa juga pernah mengikuti, maka sekarang sudah saatnya kita, umat akhir zaman, mahasiswa atau penggemar media sosial, membumikan Islam jalan tengah di semua lini, generasi dan menerapkan pengamalannya untuk hidup saling menghargai satu sama lain.

Perpecahan yang terjadi antara individu dan kelompok, jangan di atasi dengan kekerasan lagi. Bom tidak dibalas bom. Sekarang zamannya orang-orang berperang melawan perpecahan dengan narasi, ide, tulisan, edukasi dan mauizah hasanah.

Membumikan Islam Wasathiyyah juga harus dibarengi dengan pencegahan terhadap paham-paham ekstrem yang menyesatkan generasi muda. Baik di kehidupan nyata maupun di media sosial, konten-konten perusak bangsa harus diabaikan dan ditenggelamkan.

Permasalahan yang megambinghitamkan perbedaan bisa diatasi dengan membumikan Islam Moderat yang selalu diajarkan Nab Muhammad Saw.

Cukuplah hari ini kita berdakwah di Media Sosial, bukan untuk cari ketenaran apalagi cuan, tapi maksud dan tujuan untuk menjadi khadim Rasulullah dalam menyebarkan Agama  yang Allah sempurnakan untuk kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.

*Penulis merupakan mahasiswa Al-Azhar Jurusan Hadis tingkat 3

Editor: Annas Muttaqin

Badan Takaful Aceh


Tidak ada komentar:

Item Reviewed: Perang Narasi Media Sosial: Menyatukan Perbedaan dengan Islam Wasathiya (Bagian Dua) Rating: 5 Reviewed By: kmamesir