Senin, 16 Mei 2022

Muhammad Syukran, Nahkoda KMA Mesir 2021-2022: Antara Amanah, Cinta dan Pengabdian


\
(Sumber foto: Alif Kusnadi)
"Selamat membaca!"

Hari itu, suasana di Meligoe KMA sedikit sesak. Ramai orang menghadiri acara Muhasabah Dewan pengurus dan Muhasabah Dewan Syura untuk periode 2021-2022. Syukur, hari itu tidak panas. Cuacanya sedikit berangin dan sejuk. Mereka yang sibuk menyiapkan hidangan untuk acara juga tidak terlalu lelah karena cuacanya yang mendukung. Begitu pula para anggota KMA yang menghadari acara tidak harus menyalakan kipas angin.

“Terima kasih untuk semuanya, yang telah membantu KMA dari segala sisi. Saya hanya berpesan untuk ketua KMA yang akan menahkodai masa bakti selanjutnya, berusahalah sekuat tenaga dalam mewujudkan KMA yang lebih baik, jangan mencari ketenaran diri, dan berbuatlah semuanya karena Allah niscaya Ia akan memudahkan urusan kita. Satu lagi pesan saya, jangan hanya mengembangkan bakat dan skill pribadi apalagi bersikap ‘one man show’ tapi berusahalah untuk mengkaderisasi anggota KMA”. Pungkas Tgk. Syukran dalam podium terakhirnya sebagai ketua KMA masa bakti 2021-2022.

Dalam podiumnya ia banyak berterima kasih untuk segala pihak dan meminta maaf atas setiap kekurangan dalam masa baktinya. Pun berpesan untuk ketua KMA selanjutnya agar terus membenahi KMA menjadi lebih baik, karena KMA merupakan barometer kita selaku orang Aceh, baik dan layaknya kita sekarang merupakan cermin untuk masa yang akan datang saat terjun ke dalam masyarakat.

***

Ini tulisan tentang seseorang dibalik suksesnya kiprah KMA ( Keluarga Mahasiswa Aceh) Mesir tahun ini. "Man of KMA" bisa kita sebut. Banyak cerita yang penulis alami bersamanya tapi tidak cukup diceritakan dalam satu tulisan saja, jika anda ingin menyimak lebih mari kita duduk bersama dengan secangkir kopi. Tidak. Dua cangkir kopi saja, saya dan kamu. Hehe.

Poster badannya yang ideal dengan kumis tipis dan brewok yang rapi, melihatnya sekilas mirip dengan pria Mesir. Rupanya tidak, beliau asli berdarah Aceh tepatnya Bireun. Ia adalah Muhammad Syukran bin Mulyadi. Sedikit pendiam, jika belum mengenalnya orang mengira dia tipe yang sombong dan cuek. Padahal semua itu berbanding terbalik jika kita sudah mengenalnya.

(Sumber foto: Alif Kusnadi)

Contoh saja, pernah penulis datang ke Meligoe KMA (kantor kesekretariatan) sendiri, kemudian ia menyapa saya dan menanyakan kesehatan teman-teman saya yang sedang berada di flat yang mana mereka juga berasal dari Aceh. Sering sapaan itu tidak berhenti di situ saja, sesekali ia mengajak saya untuk makan bersama di luar sambil bertukar pikiran dan deep talk. Tapi apa boleh buat, karena jadwal saya yang begitu padat rencana itu tidak jadi, hahaha. Canda padat.

Rasa kesan ini juga tidak terjadi sekali saja, ataupun terjadi pada diri saya sendiri. Hampir seluruh masyarakat KMA pernah merasakan kesan  dari "Man of KMA" ini. Kesan yang kalau sudah merasakannya akan tertinggal bekas. Perhatian dan pengertian. Dalam tulisan ini penulis tidak melebihkan dalam kata, semua ditulis berdasarkan pengalaman dan fakta, maaf jika terasa seperti membaca diary.

Pria hebat ini merupakan anak dari bapak Mulyadi dan ibu Yusniar. Syukran lahir di Bireun pada tanggal 14 juli 1996. Ia anak pertama dari dua bersaudara.. Syukran kecil banyak menghabiskan waktunya di Bireun. Sebelum berkiprah di tanah Mesir, ia menempuh pendidikan SMP di pesantren Az Zahrah, Bireun. Masa-masa itu ia sudah menunjukkan prestasinya mulai dari lomba puisi hingga lomba lari. Karena tak ingin lari dan keluar dari sekolah yang sudah mendidiknya ia melanjutkan masa SMA di sekolah yang sama.

Jenjang ini sering menjadi waktu seseorang dalam mencari jati diri untuk kelangsungan hidup atau menentukan nasib diri di masa akan datang. Alhamdulillah, Syukran besar sudah mendapatkan jawabannya. Aktif di organisasi sekolah dan menjadi ketua di bagian bahasa menjadi nilai tambahan untuknya agar bisa berkiprah di tanah Auliya ini.

Rencana yang sudah ia rancang sejak awal untuk melanjutkan studi ke Mesir sempat tunda karena persiapan yang belum matang, dan terlambat mendaftar lantaran ketinggalan info terkait seleksi kuliah ke Timur Tengah. Apalagi ia sempat berpikir untuk berkeinginan kuliah di lembaga kedinasan agar persoalan finansial lebih menjanjikan. Bukan kehidupan jika semuanya berjalan mulus, pasti ada belokan tajam di persimpangan atau batu-batu besar di tengah jalan. Tapi pria penggemar berat klub Real Madrid ini tetap harus pasang badan, sembari mengeluarkan strategi terbaik ‘serangan balik’ seperti klub idamannya.

(Sumber Foto: Alif Kusnadi)

Singkat cerita ia memberanikan diri untuk ikut seleksi beasiswa di universitas ternama di Malaysia. Syukur, itu berbuah manis. Ia lolos seleksi beasiswa di Universitas Islam Internasional Malaysia (UIIM). Tapi perjalanannya kesana harus terhenti karena belum ada perizinan dari orang tua. Sudah ganteng dan berbakat, ia juga sangat patuh kepada ibu bapaknya. Idaman sekali bukan?

Karena tidak ingin ketinggalan bangku pendidikan ia mengisi kekosongannya untuk kuliah di UIN Ar-raniry Banda Aceh di jurusan pendidikan Bahasa Arab fakultas Tarbiyah. Setahun kemudian ia mengikuti seleksi ke Mesir di UIN Medan pada tahun 2015. Dan lolos. Perjalanan layaknya Fahri ayat-ayat cinta pun dimulai.

Terlahir dari keluarga berlatar belakang guru menjadikan pendidikan dan rasa sukanya kepada membaca sudah tertanam sejak kecil. Hobinya dalam membaca pun menjadi semakin bermanfaat kala ia sering memuatkan banyak tulisannya dalam web KMA. Tak hanya itu, dari tangannya juga sudah mengeluarkan tiga buah karya karya tulis, satu buku nonfiksi dengan judul “Hijrah; Dari Cinta yang Salah Menuju Ridha Allah” dan dua buah novel dengan judul “Perang Belum Berakhir” dan “Aisha.

Mengenai hobi yang menghasilkan karya jangan diragukan lagi. Kini mari kita bahas kontribusinya dalam mengabdi KMA. Sebelum menjadi pemimpin nahkoda dalam bahtera KMA periode 2021-2022 ia pernah menjadi anggota BPH ( Badan Pengurus Harian) detailnya ia pernah diangkat selaku bendahara 2 pada tahun 2018, wakil ketua 1 pada tahun 2020 dan pada tahun 2021 ia diamanahkan menjadi ketua KMA. Selain itu juga ia aktif mengabdikan dirinya pada beberapa media KMA. Tepatnya ia pernah menjadi pimpinan redaksi  web KMA tahun 2017, dan menjadi pimpinan usaha buletin el asyi tahun 2019.

Syukran tiba di Mesir pada tahun 2015. Melihat kurun waktu ia menetap kurang lebih selama 6 tahun di Mesir disertai dengan pengalamannya dalam mengabdi KMA, patut namanya dijadikan kandidat dalam pemilihan ketua KMA pada acara yang diadakan setahun silam, pada tanggal 2 bulan oktober 2021. Pemilihan ketua KMA diadakan secara online seperti tahun 2020. Acara hanya dihadiri oleh BPH (Badan Pengurus Harian), koordinator dewan pengurus, serta panitia penyelenggara saja. Adapun warga KMA lainnya mengikuti acara ini melalui siaran langsung di facebook. Alhamdulillah ia mendapat suara terbanyak dari pada dua kandidat lainnya, dengan jumlah 219 suara. Dengan begitu ia terpilih sebagai ketua KMA periode 2021-2022 menggantikan Tgk. Fikri Aslami yang memimpin KMA periode 2020-2021.

“Amanah ini tidak bisa saya pikul seorang diri, saya butuh bantuan rakan-rakan sekalian.” Sepenggal kata dari kata-kata sambutan perdana Tgk. Syukran saat dilantik untuk menjadi ketua KMA, tanggal 2 oktober 2021.

Begitulah singkat cerita hidup Tgk. Muhammad Syukran,Lc. dan perjalananya sebelum mengabdi di KMA. Malam itu juga di Meligoe KMA ratusan orang bertepuk tangan selepas ia turun dari podium, terharu. Selesai acara, satu persatu warga KMA menghampirinya untuk berterima kasih atas pengabdiannya yang sudah dipertanggung jawabkan. Terima kasih untuk semuanya semoga sukses selalu.


Penulis: Asyraf Abdullah

Editor: Annas Muttaqin S

Badan Takaful Aceh


Tidak ada komentar:

Item Reviewed: Muhammad Syukran, Nahkoda KMA Mesir 2021-2022: Antara Amanah, Cinta dan Pengabdian Rating: 5 Reviewed By: kmamesir