Zawiyah is Back; Zionisme Jadi Tema Perdana Diskusi

                                                                           
(Sumber foto: Dok. KMA)





Kmamesir.org (14/08/2022) - Kamis siang menuju sore pada (11/08), warga KMA sangat antusias mengikuti forum diskusi (Zawiyah) yang telah terbentuk lama sejak tahun 90-an. Namun, beberapa tahun terakhir agenda ini kurang aktif sehingga panitia berinisiatif kembali mengadakannya dengan slogan “Dialektika terbangun, manusia tertuntun”, juga mendatangkan pemateri yang sangat kompeten dibidangnya yaitu Tgk. Muhammad Nafis Akhtiar, Lc., Dipl. Dengan judul makalah “Organisasi Zionis Internasional (1897/1948); Sebuah Kajian Deskriptif Historis”, tentu setiap warga KMA yang mengikuti forum ini datang dengan sebuah pertanyaan besar dalam dirinya; apa itu “zionis”?

Kegiatan ini dimulai dengan seremoni Grand Opening untuk menambah wawasan serta pengenalan Zawiyah, terutama bagi anggota baru KMA. Permulaan acara dibuka oleh moderator Muhammad Yusran, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Rentetan acara berjalan dengan khidmat, diisi kata-kata sambutan oleh ketua panitia, ketua KMA serta perkenalan Zawiyah oleh Tgk. Aditya Wirawan, Lc., Dipl. DUM! DUM! DUM! bunyi gendang menandakan secara simbolis new born Zawiyah dengan semangat baru dan harapan, menjadi wadah diskusi demi meningkatkan intelektual serta kepekaan terhadap masalah populer yang terjadi di masyarakat.

Setelah melaksanakan shalat ashar, dilanjutkan dengan pemutaran video sambutan dari para alumni Zawiyah yang telah berkiprah baik di kancah nasional maupun daerah dengan durasi sekitar 20 menit. Kemudian forum diskusi pun dibuka dengan kronologi pemateri atas pemilihan tema, lalu analoginya terhadap tema terkait. Penyajian materi dimulai dengan pengenalan etimologis Zion; yakni berasal dari nama sebuah benteng bangsa Ka’an yang berada di Yerussalem pada masa nabi Daud AS. yang kemudian di atasnya dibangun mount temple oleh nabi Sulaiman AS. Kata Zion tersebut bukanlah berasal dari bahasa Ibrani sehingga kita tidak dapat mengetahui makna sebenarnya dari kata tersebut, tetapi sangatlah masyhur dikalangan masyarakat mereka sendiri. Seiring perkembangan zaman kata tersebut diartikan sebagai tanah suci yang dijanjikan Tuhan, yaitu Yerusalem.

“Terdapat empat faktor yang melatar belakangi gerakan zionisme” jelas pemateri. Pertama adalah zionis Kristen, Pemahaman kata “perjanjian” terhadap Yerusalem dalam keyakinan Kristen dan Yahudi. Kaum Kristen memaknai kata tersebut secara mutlak kepada gereja, sehingga pada abad ke-16 muncul gerakan protestan sebagai gerakan mengembalikan paham Injil yang sebenarnya, kemudian kota suci yang dijanjikan Tuhan tersebut ditafsirkan sebagai kota Yerusalem. Kedua, gerakan haskalah dan gagalnya asimilasi yahudi; gerakan peleburan diri dengan masyarakat sekitar. Namun, pada akhirnya gagal karena penilaian buruk terhadap mereka melalui dongeng-dongeng yang telah tersebar sejak awal. Keadaan ini menguatkan tekad yahudi untuk mendirikan negara sendiri. Ketiga adalah faktor politik dan strategi militer Eropa membuat invasi terhadap Palestina menjadi sangat besar, terutama diabad modern, Napolion Bonaparte yang menyebutkan bahwa yahudi adalah ahli waris sah bagi tanah Palestina. Faktor terakhir adalah munculnya zionisme pemula pertama pada abad ke-17 oleh Shabbetai Tzvi yang menyerukan untuk kembali ke Palestina, namun di penjara oleh pemerintah Ustmani. Lalu muncul lagi pada abad ke-19 menyokong konsep zionis, yaitu Yehuda Alkalai, zevi. H dan Moses Hess.

Pendiri organisasi zionis dunia adalah Theodor Herzl, lahir pada tahun 1860 dan meninggal tahun 1904 saat usia 44 tahun. “Usia yang singkat namun sangat memberikan pengaruh besar terhadap dunia” ujar pemateri. Pada dasarnya ia berpendapat bahwa orang yahudi harus berasimilasi dengan masyarakat sekitar, namun sikap pesimis akan terwujudnya hal tersebut menjadikan ia cikal bakal pembentukan sebuah organisasi zionis. Dalam menyebarkan paham zionisme tersebut, ia giat menulis karya pementasan guna meningkatkan ketertarikan bangsa lain terhadap yahudi. Tujuan utama Herzl adalah mencari tanah air baru, ada dua kandidat utama, yakni Argentina dan Palestina sebagai calon tanah air mereka. Guna merealisasikan keinginannya, ia melaksanakan kongres pertama untuk menarik perhatian orang yahudi agar mau bergabung dengan zionis. Walaupun tak berbuah manis, ia tak berputus asa dengan terus melaksanakan kampanye secara besar-besaran. Alhasil tahun 1898, jumlah masyarakat yahudi yang hadir pada kongres kedua bertambah 800% dari kongres pertama. Herzl dan komitenya mulai gencar memperkuat gerakan mereka dengan mendatangkan para petinggi negara seperti kaisar Jerman, Sultan Abdul Aziz, Von Plehve dan petinggi kerajaan Inggris.

Mereka berinisiatif untuk membeli tanah di Palestina, Tel Aviv adalah kota pertama yahudi yang dibangun di atas tanah Palestina. Pada abad ke-19, dinasti Ustmaniyyah mulai condong kepada nasionalisme yang menyebabkan negara arab terpecah belah. Didukung dengan munculnya NAZI pada tahun 1930-an, mereka mensubsidi pemindahan yahudi ke Palestina yang dikenal dengan gerakan Haavara atas dasar keinginan Hilter (ketua NAZI) untuk membersihkan kaum yahudi dari Jerman. Setelah peristiwa tersebut, Inggris memberikan resolusi tanah palestina kepada PBB karena mereka kebingungan harus memberikannya kepada Turki atau Palestina. Namun, dengan kepiawaian yahudi, mereka mampu mengadakan campur tangan dalam penentuan resolusi tersebut sehingga pada 14 Mei 1948, David Ben Gurion memproklamasikan kemerdekaan israel, mengakhiri misi zionisme.


Kemudian forum dilanjutkan dengan sesi evaluasi oleh para pembimbing yaitu Tgk. Aridho Hidayat dan Tgk. Husni Nazir. Lalu pada sesi tanya jawab terlihat para pendengar sangat antusias mengangkat tangan untuk bertanya dan memberikan tambahan. “Tak hanya himmah dan ketekunan dari pergerakan zionisme, tetapi juga menjadi pelajaran dan kontemplasi tersendiri bagi kita terhadap bangsa Palestina yang masih mampu bertahan dalam kondisi sedemikian rupa selama bertahun-tahun. Apa yang sudah kita lakukan untuk perjuangan Palestina?” Closing statement dari pemateri yang sangat menggugah dan menuntut kita untuk melihat dari dua sisi berbeda, serta muhasabah diri terhadap apa yang telah kita berikan kepada pejuang Palestina.

Forum diskusi ini berlangsung selama sekitar 3 jam 22 menit di meuligoe KMA, diharapkan menjadi awal yang baik dan menjadi acuan untuk para pemateri selanjutnya. “Alhamdulillah berkat izin Allah Swt. acara grand opening Zawiyah KMA berjalan dengan lancar. Terima kasih kami ucapkan untuk semua elemen yang telah membantu menyukseskan acara ini. Harapan kami selaku panitia dari departemen Litbang KMA dan semua alumni Zawiyah, semoga agenda ini kedepannya tetap eksis menjadi pojok peradaban akademis yang menjunjung tinggi nilai-nilai keazharan” ujar Mufti selaku ketua panitia. []

Reporter: Alvia Hasli Ramadhan
Editor: Setia Farah Dhiba

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top