Berguru dari Sejarah Shalahuddin Al-Ayyubi dalam Penerapan ‘Islam Rahmatan lil Alamin’

 Oleh: Muhammad Dany*

IlustrsiShalahuddin al-Ayyubi dalam Film Kingdom of Heaven


Secara garis besar pemikiran barat teracuni dengan Islamopobia yang disebabkan oleh faktor minimnya informasi yang diterima oleh masyarakat Barat (nonmuslim) terhadap Islam, ini dikarenakan kemalasan umat Islam dalam menyebarkan informasi dan menguasai media-media yang ada. Ditambah lagi media besar dunia yang kontra akan Islam rahmatan lil alamin, tidak fair ketika menyebarkan beritanya. Bahkan, berita buruk mengenai Islam sering terjadi, dan dianggap sebaga ajaran teroris.

Islamopobia berasal dari kata ‘Islam’ dan ‘Fobia’ (takut). Menurut KBBI ‘Fobia’ berarti perasaan ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu yang dapat menghambat kehidupan penderita.

Para penganut Islamopobia sudah terlanjur taklid buta dari generasi sebelum-sebelumnya, tanpa ingin mencari kebenaran dari ini semua. Sehingga ketika mendengar kata ‘Islam’ dia langsung menjauh darinya. Beberapa bulan yang lalu terjadi kasus Islamopobia di negeri tetangga Singapura. Ketika rombongan ustaz kondang Indonesia Abdul Somad ingin berlibur di sana malah dideportasi, karena diduga beliau ingin menyebarkan pemahaman yang radikal.

Contohnya, seorang Youtuber asal Jerman bernama Viola yang menikah dengan pria muslim asal Indonesia, dia sempat bercerita bahwa pada umumnya orang Barat berpikir bahwa Islam itu radikal, teroris. Setelah mengenal Islam lebih dalam, dia baru sadar bahwa yang selama Ini pola pikirnya keliru. Serta ia memutuskan untuk mualaf.

Tulisan ini ingin menyadarkan kembali kekeliruan para penganut Islamopobia, sekaligus tugas kita sebagai seorang muslim dalam menyebarkan ‘Islam Rahmatan lil Alamin’, dengan meniru apa yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, para sahabatnya dan tentunya Shalahhuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin Al-Ayyubi bukti ‘Islam Rahmatan lil Alamin’

“Aku akan memberikan semua orang berjalan ke tanah orang Kristen. Orang tua, anak-anak, wanita, dan para prajurit serta ratumu, dan melepaskan rajamu. Juga terserah tuhan mentakdirkan apa baginya. Tak ada yang tersakiti, aku bersumpah demi Allah.” ~Shalahuddin Al-Ayyubi.

Shalahuddin melepaskan warga yang ada di Yerusalem saat itu untuk pulang ke tempat asalnya dengan aman,  Hal ini membuat Balian, kesatria tertinggi Yerusalem saat itu terkejut kagum seraya berkata,

“Orang Kristen membantai semua muslim dalam tembok saat merebut kota ini.”

Shalahuddin langsung tegas menjawab,

“Aku bukan orang semacam itu. Aku Shalahuddin, Shalahuddin al-Ayyubi”.

Islam agama rahmatan lil alamin (menjadi rahmat bagi sekalian alam), “Dan Kami tidak mengutus Engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (Q.S Al-Anbiya 21:107) Islam tidak disebarkan dengan pedang. Bahasa yang digunakan pun bukan ‘penaklukan’ tetapi ‘pembukaan’ (pembebasan).

Islam tersebar ke seluruh dunia dengan berbagai cara, Islam sangat menghindari peperangan kecuali jika sangat terpaksa, ketika hendak melakukan pembebasan, raja diwajibkan untuk berunding terlebih dahulu dengan sang pimpinan musuh untuk memberikan kerajaannya dengan damai. Jika mereka melawan maka alternatif terakhir terpaksa dilakukan.

Setelah pembebasan, agama Islam sama sekali tidak memaksa warga setempat untuk menjadi mualaf, sesuai yang terdapat sumber hukum pertama umat Islam sendiri, “Tidak ada paksaan untuk (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat.” (Q.S Al-Baqarah 2:256). Saya kira dari kisah Shalahuddin di atas sudah cukup menggambarkan pengamalan isi ayat ini.

Keteladanan Shalahuddin Al-Ayyubi dalam menyebarkan Islam banyak yang bisa ditiru, seperti memaafkan raja Guy yang memeranginya di tegah-tengah perjalanan menuju Yerusalem, yang dikenal dengan pertempuran Hittin. Usai kemenangan Shalahuddin, dia menyisakan dua tawanan penting yaitu raja Guy dan Reynald. Raja Reynald terpaksa dibunuh, karena kekejiannya. Ia sudah diampuni berkali-kali, tapi masih tetap berulah, seperti membantai jamaah haji dan berkeinginan untuk menyerang Mekkah. Sedangkan raja Guy, Shalahuddin memafkannya dan membiarkannya hidup dengan alasan raja tersebut tidak membunuh raja lain, serta melepaskannya di saat Yerusalem telah dibebaskan.

Lagi-lagi sepak terjang Shalahuddin membuktikan keindahan Islam, saat di mana raja Ricard -Si hati singa- sakit, Shalahuddin menjenguk di kediamannya, dan menawarkannya perawatan oleh dokter muslim yang ahli dalam bidang kedokteran saat itu.

Hanya dengan sosok seorang Shalahuddin saja, kita sudah membuktikan bahwa Islam adalah agama kedamaian dan ketenangan, bukan radikal seperti yang masih dipikiran orang-orang Barat pada umumnya.

Di era modern ini informasi sangat mudah untuk disebar dan diperoleh, hanya dengan modal gadget  kita dapat mengetahui apa yang sedang terjadi di seluruh dunia, tetapi sayangnya momen ini belum dimanfaatkan umat Islam dalam menyebarkan ajaran yang penuh keindahan ini. Islam terlalu lemah di era modern ini. kita hampir tidak mungkin untuk melakukan pembebasan yang dilakukan di masa Shalahuddin di zaman ini. Namun bukan berarti kita meninggalkan jihad. Jihad sendiri memiliki arti luas, ia didefinisikan semua perjuangan di jalan Allah. Maka berdakwah, berakhlak mulia, menuntut ilmu, dan bersedekah itu juga merupakan jihad. Maka kita harus mengaplikasikannya di masa kini.

Sejarah Shalahuddin bisa dijadikan untuk memecahkan masalah ini, kita bisa menjadikannya role model sekarang, karena hal yang persis sama terjadi di dunia Islam 50 tahun sebelum kebangkitannya generasi Shalahuddin. Masa itu Islam sudah hampir di ambang kehancuran, petinggi-petinggi kerajaan mulai sibuk dengan hal-hal konyol, “Mana burungku si bako itu? aku sudah dua hari tidak melihatnya!” Oceh sang raja.  bahkan ia lebih mementingkan burung peliharaannya, sementara saat itu umat Islam sedang dibantai.

Kala di  ambang kehancuran tersebut, di sana ada sekelompok kecil yang mempersiapkan kembali kebangkitan Islam. Al-Ghazali contohnya, merupakan pimpinan madrasah Nizhamiyah di Baghdad, dari sanalah terlahir Nuruddin Zanki yang merupakan pemimpin yang taat agama. Di tengah progresnya dalam pembebasan Yerusalem dia pun wafat. Setelah itu kekuasaannya diambil alih oleh Shalahuddin Al-Ayyubi yang kemudian bisa membebaskan kembali Yerusalem.

Sekarang kita bertanya-tanya apakah kita sudah mengkader sosok untuk mempersiapkan kembali kebangkitan Islam? Tanya pertanyaan itu pada diri kita masing-masing. Mulailah dari diri sendiri, kitalah yang bertanggung jawab atas hal ini. Kekhilafan Islam telah jatuh pada tahun 1924 M yang berakhir di Turki Usmani, itu berarti sudah hampir se-abad kita sirna, tanya kembali apakah kita sudah menyiapkannya?

Sudah saatnya kita mengusai media karena ia merupakan wasilah dakwah, serta menyebarkan informasi dengan ragam bahasa dan platform, Apakah kita tidak mengingat kisah Nabi Muhammad yang memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk mempelajari bahasa Yahudi, “Wahai Zaid, pelajarilah untukku aksara Yahudi. Demi Allah, aku tidak merasa aman terhadap surat dari orang Yahudi.” (H.R At-Tirmizi  No. 2639). Kemudian Zaid bin Tsabit berhasil menguasainya hanya dalam tempo setengah bulan. Jika bukan ahli agama yang menjelaskan keindahan islam, siapa lagi? Kita biarkan mereka yang abal-abal tentang Islam?

Institut agama Islam di Indonesia akan sangat baik jika mulai mengadopsi metode-metode dunia timur tengah dalam berdakwah, seperti di Al-Azhar, yang sudah menjadikan bahasa asing sebagai prioritas, seperti memiliki lajnah penerjemahan buku ke banyak bahasa asing, dan juga menyediakan pengajian-pengajian berbahasa asing yang diunggah di media YouTube.

Pada akhirnya setelah kedamaian dan keindahan dirasakan semesta alam, berimankah mereka atau tidak itu urusannya antara mereka dengan Allah, “Maka jika mereka berpaling, maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan dengan terang.” (Q.S An-Nahl 16:82).

Kesimpulan dan Penutupan

Dari sejarah Shalahuddin yang dalam melepasakan kaum Kristen yang di Yerusalem merupakan bukti yang kuat untuk menyatakan Islam rahmatul lil alamin, serta menolak mereka yang menganut Islamopobia. Maka dari itu dalam segala hal mesti adanya tabayun, tidak asal ikut-ikutan, tanpa mengetahui hakikatnya. Padahal jika sejarah diulang lagi, kita mendapati peristiwa di mana umat Islam dibantai di dalam Masjid Al-Aqsa. Hanya dalam satu salat subuh pada perang salib I telah menewaskan 5000 nyawa ulama dan ahli ibadah, lagi-lagi mereka buta.

Di sisi yang lain umat Islam harus segera mengakhiri keterpurukannya dan perlu berkontribusi dalam penyebaran Islam yang benar, menguasi media-media dan ahli berbahasa asing. Dengan bahasa asing kita bisa menyampaikan kebenaran, jika bukan ahlinya yang menyampaikannya, siapa lagi?

Semoga dengan tulisan ini kita menjadi semangat kembali dalam mempersiapkan kebangkitan Islam kedepannya. Wallahu a’lam.[]

 

 

*Penulis merupakan Mahasiswa tingkat 4 Universitas al-Azhar, jurusan Syariah Islamiyah 

Editor: Muhammad Asyraf Abdullah

 

 


Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top