FORKAPAN 2025 Resmi Ditutup: Soroti Kepemimpinan Perempuan dan Semangat Kolaborasi

Oleh: Zarvia Li'aunillah*

(Dok.Pribadi)

Pada siang hari yang hangat, tepat pada tanggal 20 Juli 2025, suasana di Idarah Wafidin dipenuhi semangat dan antusiasme oleh beberapa peserta dari perwakilan lembaga kajian Masisir, perwakilan rumah binaan, serta beberapa perwakilan dari ASEAN yang menghadiri acara dalam rangka Grand Closing FORKAPAN 2025. Acara yang dilaksanakan dalam dua kali pertemuan ini pun resmi ditutup dalam sebuah seremoni yang tak hanya meriah, tetapi juga sarat makna.

Penutupan acara diresmikan langsung oleh perwakilan KBRI Kairo, Presiden PPMI, serta Ketua Wihdah. Dalam sambutannya, perwakilan DWP menyampaikan harapan besar agar FORKAPAN terus berkembang dan mengalami peningkatan kualitas di masa mendatang.

“Kami berharap FORKAPAN tidak hanya menjadi ruang diskusi bagi perempuan Indonesia, tetapi juga mampu menjangkau perempuan-perempuan dari berbagai belahan dunia. Isu-isu yang dibahas di sini sangat relevan dan penting untuk diperluas cakupannya,” ujar perwakilan DWP KBRI Kairo dengan penuh semangat.

Acara penutupan ini menjadi momen reflektif sekaligus inspiratif. Para peserta, yang datang dari berbagai latar belakang, tampak saling bertukar cerita dan pengalaman, memperkuat jejaring, dan membawa pulang semangat baru untuk terus berkontribusi dalam komunitas mereka masing-masing.

Fitri Salsabila selaku ketua acara membawa jargon FORKAPAN 2025 yang berbunyi “Akal Perempuan, Cahaya Perubahan.” Dalam sambutannya, ia mengatakan:

“Mungkin FORKAPAN akan ditutup, tetapi tidak dengan api semangatnya. Satu perempuan yang terdidik, maka akan ada satu generasi yang terdidik.”

Setelah sambutan yang disampaikan oleh beberapa tokoh acara, agenda pun dilanjutkan dengan pembacaan CV moderator. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian kesimpulan hasil diskusi yang diselenggarakan pada tanggal 15 Juli silam, yang bertajuk رئاسة المرأة (Kepemimpinan Perempuan).

Dalam presentasinya, Hilda Humaira selaku moderator mengawali pembukaannya dengan dua ayat Al-Qur’an, yaitu Surah An-Nisa ayat 1 dan Surah Al-Hujurat ayat 13. Dua ayat ini menjadi landasan bahwa secara ontologis, perempuan dan laki-laki setara sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.

Namun, ketika membahas posisi perempuan dalam kepemimpinan publik seperti presiden, menteri, atau pemimpin negara, para ulama terbagi dalam dua pandangan:

  1. Tidak adanya nash yang bersifat qath’i (pasti/tegas) yang secara eksplisit melarang perempuan menjadi pemimpin.

  2. Perbedaan para ulama dalam menafsirkan dan menakwilkan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi.

Dari perbincangan ini, dilanjutkan dengan nadwah dan respons hasil hiwar oleh Dukturah Ilham Syahin selaku Sekjen Majma' Buhuts Al-Islamiyyah.

Dalam kesempatannya, Dukturah Ilham Syahin menjelaskan bahwa jika perempuan memegang kepemimpinan, maka harus diperhatikan dahulu ruang lingkupnya dan siapa yang bekerja di bawah kepemimpinannya. Oleh karena itu, pemimpin perempuan harus benar-benar menjadi pemimpin sejati, bukan hanya sebagai simbol atau hiasan. Ia harus punya kapasitas, integritas, kecerdasan, dan visi membangun.

Tak berhenti di situ, beliau juga menceritakan tentang sosok Fatimah Al-Fihri, pendiri Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, yang telah melahirkan banyak ulama dari sana. Dukturah Ilham tidak hanya menyebut Fatimah sebagai pendiri lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai simbol keteguhan, kecerdasan, dan keberanian perempuan Muslim dalam membangun peradaban.

“Kita bukan hanya mengisahkan tentangnya, tapi kita perlu untuk meneladaninya,” ujarnya.

Di tengah pemaparannya yang membolehkan perempuan untuk menjadi pemimpin, salah satu peserta menyanggah argumentasinya. Ia berkata:

“Jika ada yang mengklaim bahwa perempuan bisa memimpin, berarti mereka sejalan dengan feminisme, yang mana feminisme ini sendiri menyetarakan antara laki-laki dan perempuan.”

Dengan kebijaksanaannya, beliau merespons sanggahan ini:

“Kita sebagai Muslimah yang memahami dasar hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis serta pendapat ulama, maka tidak perlu lagi me-replay metodologi Barat, yang mana merekalah pencetus pemahaman feminisme.”

Setelah acara nadwah, beberapa peserta maju untuk menyampaikan kesimpulan yang mereka pahami dari muhadharah ini. Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan plakat dan sertifikat, serta pembagian voucher kepada peserta yang berani menjawab pertanyaan acak dari panitia.

FORKAPAN 2025 pun ditutup dengan pembacaan doa, bukan sebagai akhir, melainkan awal dari gerakan panjang perempuan Muslim dalam merajut peradaban dengan ilmu dan pena..[]

*Penulis merupakan mahasiswi tingkat II jurusan Ushuluddin, Universitas Al-azhar, Kairo.

Editor: Hafizul Aziz

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top