Board of Peace: Akhir Penderitaan atau Awal Pengkhianatan?
Oleh: Teuku Maliki Ishak*
| Sumber: (Dok. Pribadi) |
Dalam sambutannya, Tgk. Aufa menyampaikan bahwa forum ini bukanlah pertemuan pertama bersama Ustaz Husein. Tepat 366 hari yang lalu, beliau juga hadir di tempat yang sama untuk membahas isu Palestina. "Hari ini beliau kembali hadir untuk membakar semangat kita, menyampaikan informasi terkini, serta mengedukasi kita seputar Palestina," ungkapnya.
Seminar kemudian dipandu oleh moderator dengan memaparkan profil singkat narasumber. Ustaz Muhammad Husein Gaza telah menetap di Jalur Gaza selama 12 tahun. Ia merupakan orang Indonesia terakhir yang ikut dalam misi Global Sumud Flotilla dan berada paling dekat dengan perairan Gaza. Pendidikan beliau ditempuh di Universitas Islam Gaza pada jenjang S1 Syariah, serta melanjutkan Diploma dengan konsentrasi Israel Affairs (Urusan Israel) di Nafha Center Gaza. Ia juga dikenal sebagai pendiri INH (Internasional Networking for Humanitarian) yang aktif dalam misi kemanusiaan internasional.
Membahas Ide, Bukan Sekadar Peristiwa
Memulai materi, Ustaz Husein mengutip perkataan Eleanor Roosevelt yang mengutip Aristoteles:
"Small minds talk about people, average minds talk about events, big minds talk about ideas."
Beliau menegaskan bahwa persoalan "Board of Peace" harus dibahas pada level ide dan tujuan besarnya. Menurutnya, tujuan utama Israel tidak lain adalah melucuti senjata warga Gaza. Namun, senjata yang dimaksud bukan semata-mata senjata fisik.
"Senjata utama warga Gaza bukan hanya besi yang dirakit menjadi AK-47, bukan roket buatan lokal, bukan drone Ababil. Senjata utama mereka adalah manusianya," jelas beliau.
la mengutip pernyataan Abu Ubaidah, juru bicara perlawanan Gaza, bahwa pencapaian tertinggi mereka bukanlah teknologi persenjataan, melainkan mentalitas manusianya.
Baca Juga: "Masjidil Aqsa Adalah Jantung Semesta!" Talkshow Tentang Palestina Nyalakan Semangat Perjuangan
Memahami Konteks Board of Peace
Dalam membedah isu Board of Peace, Ustaz Husein mengajak peserta memahami konteks. Ia mengibaratkan seperti permainan catur: lebih berharga mana, pion atau menteri? Jawabannya tergantung konteks permainan.
Menurutnya, ada dua konteks yang harus dipisahkan:
1. Konteks sebagai warga negara Indonesia
2. Konteks sebagai seorang Muslim
Sebagai warga negara, Indonesia secara konstitusi hanya dapat memastikan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, sebagaimana amanat UUD 1945. Solusi dua negara (two-state solution) bisa saja menjadi pilihan politik negara.
Namun sebagai Muslim, persoalan Palestina tidak semata isu politik, melainkan juga persoalan akidah. "Ini bukan hanya konflik geopolitik. Ini pertempuran antara haq dan batil," tegasnya.
Ia mengingatkan agar umat tidak menaruh ekspektasi berlebihan kepada pemerintah dalam konteks sebagai seorang muslim. Keduanya tidak bisa dicampurkan. Di sinilah pentingnya memahami konteks sebelum menilai Board of Peace sebagai solusi atau pengkhianatan.
Dalam sesi diskusi, dua penanya mengangkat isu krusial. Pertama, terkait sikap Iran-apakah dukungan mereka kepada Palestina hanya sekadar drama atau sungguh-sungguh.
Menjawab hal ini, Ustaz Husein menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak bisa disederhanakan menjadi isu Syiah dan Sunni. Ia mencontohkan bagaimana Shalahuddin Al-Ayyubi membebaskan Al-Aqsa melalui Mesir, sementara Mesir saat itu berada di bawah Dinasti Syiah Fathimiyah. "Sudah hal biasa, Sunni dan Syiah itu bersatu melawan orang-orang musyrik, bukan hal baru!" jelasnya.
Pertanyaan kedua menyinggung sikap pemerintah Palestina terhadap Board of Peace. Beliau menjawab bahwa baik otoritas di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza tidak dilibatkan dalam perumusan Board of Peace tersebut. Mereka tidak diberi ruang dalam pengambilan keputusan itu.
Berhenti Bereaksi, Mulai Beraksi
Menutup seminar, moderator mempersilakan Ustaz Husein menyampaikan closing statement. Dalam penegasannya, beliau menyampaikan sebuah tagline yang menjadi penekanan utama forum tersebut:
"Berhenti bereaksi, mulai beraksi."
Beliau mengajak peserta untuk tidak lagi terjebak dalam reaksi emosional, tetapi mulai membangun langkah strategis dan terukur. Menurutnya, perjuangan hari ini tidak cukup dengan simpati dan kemarahan, melainkan membutuhkan kesiapan ilmu, strategi, dan konsistensi.
| Sumber: (Dok. Pribadi) |
Di Meuligoe KMA hari ini, diskusi bukan hanya tentang perdamaian, tetapi tentang cara memandangnya apakah benar sebagai akhir penderitaan, atau justru awal dari pengkhianatan yang lebih besar.
*Penulis merupakan pelajar Ma'had Al-Azhar
Editor: Siti Humaira
Posting Komentar