Alina Melarikan Pikiran Puhiri ke Bogor
Oleh: Darwin*
“Aku tak menyukai wajahmu seperti itu,” kataku.
“Tapi hanya kau yang mau menerima wajahku seperti ini.”
“Kau sangat keras kepala.”
Puhiri mengusung kemurungan ke hadapanku, Alina, dan sesungguhnya kemurungan itu telah menyembunyikan suatu kengerian, karena kemudian lelaki itu mengakhiri hidupnya. Aku merasa harus menyampaikan ini kepadamu.
Pada suatu hari yang biasa, ia menulis sebuah alamat di sobekan kertas dan memberikannya kepadaku. Kutanyakan padanya untuk apa? “Simpan saja. Kau akan membutuhkannya,” katanya. Aku menyimpannya tanpa mengetahui bahwa itu alamatmu sampai nanti ia sendiri yang memberitahuku. Dan kini, aku menulis ulang alamat itu di surat kematiannya, yang tertuju kepadamu.
Puhiri mengakhiri hidupnya dengan cara mengerat lehernya sendiri. Aku tak sangsi akan hal itu; ia tak keluar seharian dan tak menyahut setiap kali aku mengetuk kamarnya. Kudobrak pintu kamarnya dan kudapati ia terbujur seperti bangkai. Aku orang terakhir yang melihatnya hidup sekaligus orang pertama yang melihatnya mati. Kubayangkan rasa sakit yang diberikan mata pisau sampai-sampai ia seperti harus menahan sendiri perasaan itu dengan kedua tangannya yang seperti mencekik. Dan entah kenapa aku bisa menduga bahwa ia segera menyesal setelah mengerat lehernya sendiri, dan meneriakkan namamu.
Ia lelaki yang malang. Barangkali kau juga berpikir demikian. Tetapi ia serius mencintaimu. Tak ada orang di tempat tinggalku yang serius seperti Puhiri, itu kalimat yang menjelaskan apa yang kupikirkan tentang Puhiri pada tahun-tahun pertama pernikahan kalian.Tetapi pada tahun ketiga pernikahan ia mulai sering datang kepadaku dan menyodorkan kemurungan. Ia membicarakan persoalan yang biasa dialami pasangan suami istri lain.
Pada masa-masa itu sering pula kulihat dirimu, Alina, duduk di teras bertongkat lutut dan tidak lagi seperti biasa menyuapinya nasi sembari ia mengetok di bengkel. Dulu kau melakukannya dan kukira itu adalah pemandangan yang baik. Aku tidak sedang menghakimimu, karena aku sendiri tak mengerti apa yang dimaksudkan Puhiri dengan kemurungannya itu, yang biasa kuartikan sebagai kewajaran dalam sebuah rumah tangga.
Sampai kemudian kau meninggalkannya, ia tetap Puhiri yang kukenal. Ia bekerja keras demi, katanya, membiayai hidup anak yang kalian buat, dan juga membiayai hidupmu. Ia menutup bengkel dan menjual seisinya hanya beberapa minggu setelah kau pergi dan uang itu ia kirimkan untukmu. Kemudian ia mulai bekerja di toko kelontong milik seorang kawan baru yang dikenalkan kawan lama kepadaku. Ia pergi pagi pulang malam, yang kadang-kadang ke rumahku. Dan dua bulan kemudian ia memutuskan tinggal bersamaku di sana, tempat yang kemudian hari ia gunakan untuk mengakhiri hidupnya.
Ia memang kerap bernasib malang. Ia pernah terlibat peristiwa adu mulut dengan si kawan baru—seorang perempuan—yang bertindak sebagai bos, sebab perempuan itu telah menunda pengupahan selama lima hari. Dan peristiwa itu berakhir tidak adil. Orang-orang yang melihat mereka kemudian ikut campur dan memilih kasihan kepada si kawan baru dan mengatakan si bawahan tak punya itikad baik. Puhiri mengutuk mulut orang yang mengatainya tak punya itikad baik yang lalu membuat orang-orang yang ada di sana menggemuruhinya umpatan. Ia kemudian pulang dengan kemurungan dan aku melihat kemurungan itu seperti bangunan kusam yang kokoh.
“Kupikir kali ini kau bisa menolongku,” katanya setelah menceritakan apa yang dilakukan si kawan baru kepadanya.
“Aku telah menolongmu setiap kali mukamu kusut. Katakan apa yang bisa kulakukan.”
“Aku butuh uangmu. Akan kuganti jika sudah dapat pekerjaan baru.”
“Buat apa?”
“Aku akan pergi ke Bogor.”
“Bogor?”
“Aku ingin mencari pekerjaan. Minggu depan aku kembali.”
“Kau bisa bekerja denganku.”
“Sejak awal kupikir itu bukan ide bagus.”
“Kau tak pernah memberi alasanmu untuk itu.”
“Aku hanya berpikir bahwa itu bukan sesuatu yang tepat.”
Maka aku memberinya sejumlah uang. Ia pergi keesokannya, dan kembali dua hari kemudian dengan kulit lebam di beberapa bagian.
“Apa di Bogor kau dihajar anak buah Bos Toko Kelontong?” Aku mulai tak sudi menyebut perempuan itu seorang kawan.
“Aku hanya terjatuh,” Kata Puhiri.
“Kau tidak berkata jujur.”
Puhiri menatapku, seolah menekanku untuk percaya apa yang ia katakan.
“Ini untukmu.” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Apa ini?”
“Upah yang harus dibayar Bos Toko Kelontong untukmu.”
Ia menatapku lagi dengan wajahnya yang kusut. “Simpanlah, itu sudah cukup membayar setengah uangmu yang kupinjam.”
“Aku tidak meminta kau menggantinya.”
“Aku telah berjanji menggantinya.”
Puhiri masuk ke kamar dan meninggalkan aku di teras. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan sesobek kertas bertuliskan sebuah alamat.
“Kau akan membutuhkannya. Simpan saja.”
“Ini alamat siapa?” tanyaku sambil ia berlalu meninggalkan teras.
![]() |
| (Sumber: Pinterest.com) |
Alina, pada bagian ini ia tidak mengatakan kepadaku apa sebenarnya yang ia lakukan di sana: ia pergi ke Bogor untuk menemuimu dan anak kalian dengan membawa sejumlah uang yang telah ia janjikan—kepada dirinya sendiri—akan ia kirim sebanyak yang ia mampu. Tetapi kau wanita yang cantik, entah siapa lelaki di rumah ibumu yang kemudian menjadi lawan Puhiri bergumul. Dia mengeluarkan tanduk sepanjang Puhiri menyambangimu. Dan kau melihat sendiri dengan mata telanjang apa yang terjadi di tempatmu dan aku hanya bisa mengulang apa yang sampai kepadaku:
Lelaki itu muncul dengan gurat wajah perempuan tua dalam gerak paling cepat yang mungkin bisa ia lakukan, lantas merampas kerah baju Puhiri dan menghantam wajahnya dengan kepalan tangan seperti hendak melempar bongkahan batu. Ia melakukannya berkali-kali hingga membuat Puhiri terjatuh dan memberinya tanda kekalahan di beberapa bagian tubuhnya. Si lelaki, barangkali menyukai pemandangan itu, ia terlihat perkasa di matamu dengan memukuli suamimu. Maka ia menjatuhkan sebelah lututnya ke dada Puhiri dan menghantam lagi wajahnya dengan tangan yang ia kepal. Puhiri merasa seperti tenggelam dan tak bisa bernapas dengan baik. Ia kemudian membalikkan badannya. Merubuhkan lelaki itu ke samping. Pergumulan itu berakhir saat keduanya berdiri dan mengambil jarak.
“Lebih baik kau keluar! Tak ada yang menginginkanmu di sini,” ucap lelaki itu.
Dalam pada itu, anakmu tahu siapa yang datang. Tetapi kau membekap mulutnya, dan ia hanya menyaksikan ayahnya ditaklukkan seperti seorang pecundang. Perlakuan itu dapat kuterima secara lelaki itu bisa melimpahimu harta dan hasrat—barangkali ia juga mempunyai kegemaran menyimpan barang-barang berharga di persimpangan setiap desa. Namun, Puhiri masihlah suamimu yang sah sebab kau belum dijatuhi talak. Kau hanya minggat karena muak dengan keadaan dapur yang rumit.
Baca juga: Maryam Supraba
Aku sangat menyesal mengetahuinya di waktu yang sama sekali tidak tepat. Seharusnya aku telah menghentikan Puhiri sejak awal. Kautahu, ia meminta sejumlah uang dan kembali lagi ke Bogor dua hari kemudian dengan wajahnya yang masih bengkak, lalu kau menekannya agar tak kembali lagi mengejarmu ke sana.
“Buruk bagimu mati di tangannya,” katamu.
“Tapi aku sudah di sini, aku tak peduli jika itu takdirku. Aku membawakan banyak uang untuk anak kita, Alina. Lihatlah!”
“Kau kedengaran gila.”
Ia terdiam dan bola matanya goyah.
“Siapa lelaki yang telah memukuliku itu, Alina? Dia amat bersungguh-sungguh melindungimu,” tanyanya.
“Dia juga menanyakan kepadaku tentangmu. Kukira menjawabnya sama tak pentingnya dengan menjawab pertanyaanmu.”
“Dia mengatakan aku lelaki yang buruk. Dia terdengar seperti orang kaya.”
“Kenapa kau tidak membalasnya bahwa dia lelaki yang buruk pula?”
“Dia tidak buruk, Alina, tapi kekayaanlah sesuatu yang buruk.”
“Kenapa kau tidak mengatakan itu kepadanya?”
“Aku ingin mengatakannya kepadamu karena kau tidak memiliki kekayaan itu.”
“Aku telah memilikinya.”
“Tidak, Alina, kau masih persis seperti waktu tinggal bersamaku. Rambutmu tak pernah terikat dan aku mengenali bau tubuhmu.”
“Kau seperti anjing mengenali bau-bau.”
“Iya, Alina, aku seperti anjing mengenali bau-bau.”
“Mengapa kau tak berhenti mengejarku, kau tahu aku tak akan kembali padamu.”
“Aku tak berpikir kau tak mau,”
“Sekarang kau tahu aku tak akan mau.”
Ia terdiam lagi mendengar ucapanmu itu, dan bola matanya goyah.
“Kemalangan selalu menyertaimu, Puhiri,” katamu kemudian.
Lalu ia menatapmu lagi, seperti selalu ia menatapmu.
“Kau yang menganggap kehidupan kita dipenuhi kemalangan. Orang-orang melihat kita bahagia, selain dirimu, Alina.”
“Betapa kau sangat bodoh, Puhiri. Kau menghidupi aku sebagai istrimu, bukan orang-orang yang menurutmu melihatmu bahagia. Aku tak bahagia denganmu.”
“Tapi kau menginginkan anak. Dan kau bahagia kita memiliki anak.”
“Kaulah yang menginginkan anak. Kau mengatakan kita bisa coba memiliki anak, aku sangat bersemangat dengan ucapanmu. Kukira itu bisa membuatmu bangga denganku, tetapi pada akhirnya tidak, Puhiri. Kau menelantar aku di rumahmu. Tidak kulihat darimu kesungguhan agar anak itu beranjak besar, hingga aku merasa kau menyepelekan keberadaanku. Kau lelaki yang bodoh. Kau miskin karena pikiranmu yang tenang melihat anak itu selalu menggantung di payudaraku. Anak itu hidup dan butuh makan, Puhiri.”
“Mengapa kau tidak pernah berkata seperti ini kepadaku? Kau diam sepanjang meninggalkan rumah.”
“Karena kau lelaki yang bodoh. Kau tak bisa mencerna ucapanku sebagai rintihan. Dan sekarang kau ingin merendahkan diriku karena tampilanku. Apa maksudmu dengan bau tubuhku? Berhentilah mengejarku. Kau bukan lagi suamiku, bukan kebahagianku, bukan ayah dari anakku...yang kubesarkan seorang diri.”
PADA SAAT ia takluk oleh si lelaki, ia sama sekali tak menatap lelaki itu tapi menatapmu. Itu yang disampaikannya kepadaku setelah ia mati. Tetapi kau tak pernah mengulurkan tanganmu kepadanya, tak pernah tidak mematahkan harapannya. Ia telah datang ke tempatmu dua kali dan selalu pulang dengan wajah kusut.
Ia pulang lewat tengah hari setelah kali kedua itu dan berpapasan denganku di jalan. Kami kemudian mengurungkan niat pulang ke rumah. Kami duduk di sebuah warung dengan perkarangan terbuka. Ia tak minum, aku memesan teh.
“Kau sangat keras kepala,” kataku.
“Aku tidak akan ke Bogor lagi.”
“Iya, kau tidak harus ketiga kali pergi ke sana.”
“Apa menurutmu aku orang yang berguna?” tanyanya.
Aku tak mengerti maksud dari pertanyaannya itu. Ia terdengar seperti kepala negara yang ragu dengan kata-katanya sendiri. Dan sampai saat itu, kemurungannya kupahami sebagai sebuah kemalangan karena ia tak mujur soal pekerjaan. Tetapi ternyata Puhiri adalah orang yang sulit kupahami; ia menceritakan kepadaku isi pikirannya melalui surat-surat yang ia letakkan di pintu kamar, yang mungkin tak pernah terpikirkan olehmu, Alina, bahwa alamatmu yang ia berikan padaku tempo hari, selain untuk alamat surat kematiannya ini, ia memintaku dalam surat-surat itu untuk melenyapkanmu dan lelaki itu, Alina. Dan ia mencoba memahamkan kepadaku bahwa ini demi seorang sahabat. Ia begitu sulit untuk dipahami.
Ia mati dengan cara mengerat lehernya sendiri. Tak tahu kabar baik atau buruk,aku merasa harus menyampaikan ini kepadamu.
*Penulis merupakan sarjana Universitas al-Azhar Kairo
Editor: Thariq Faiz


Posting Komentar