Anjuran Iktikaf di Sepuluh Penghujung Ramadan, Yuk Intip Iktikafnya Nabi Muhammad
Oleh: Wahyu Hidayatullah*
![]() |
| (Sumber: Unsplash.com) |
Iktikaf merupakan amalan yang cukup spesial karena ia hanya dapat dikerjakan di masjid, menariknya iktikaf ini sebenarnya bukanlah syariat yang baru saja ditetapkan pada zaman nabi Muhammad sahaja, namun jauh sebelum itu telah disyariatkan pada masa nabi-nabi terdahulu, sebagaimana firman Allah dalam surah Al- Baqarah ayat 125:
وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُود
“Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Isma’il, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang i’tikaf, orang yang ruku’ dan orang yang sujud.” (QS. Al-Baqarah: 125)
Mengamati ayat diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa ketika masa kenabian, nabi Ibrahim dan Ismail iktikaf juga telah disyariatkan dalam agama nabi-nabi tersebut.
Pengertian iktikaf menurut literatur fiqih dikutip dari kitab Al-Majmū‘ karya Imam Nawawi disebutkan:
الاعتكاف هو اللبث في المسجد بنية التقرب إلى الله تعالى
"Iktikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah"
Hukum iktikaf sendiri ialah sunah muakadah yang berarti sangat dianjurkan, sehingga nabi Muhammad sangat menyukai ibadah iktikaf khususnya pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Salah satu hadits dijelaskan:
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Rasulullah melaksanakan iktikaf pada sepuluh (malam) terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau wafat, lalu (dilanjutkan) istri-istrinya yang i’tikaf sepeninggalnya” (HR. Bukhari)
Dari hadist di atas kita mengetahui bagaimana Rasulullah menunjukkan kecintaan beliau akan suatu ibadah. Hingga istri-istri dan keturunannya mewarisi sunah yang beliau praktikkan. Ada sebuah kisah yang menarik dari iktikaf nya nabi Muhammad. Jadi suatu saat Sayyidah ‘Aisyah menuturkan bahwa setiap bulan Ramadhan Sayyidina Nabi Muhammad Saw senantiasa melakukan iktikaf. Setelah menunaikan shalat Subuh, beliau masuk ke tempat khusus yang telah disiapkan untuk beribadah dan menyendiri melakukan i’tikaf.
Baca juga: Membaca Tanpa Guru: Boleh atau Tidak?
Suatu ketika di bulan Ramadhan Sayyidah Aisyah meminta izin kepada beliau untuk turut beriktikaf bersama Nabi, dan ia pun mengizinkannya, Maka Sayyidah ‘Aisyah mendirikan sebuah tenda di area masjid sebagai tempat iktikafnya. Kabar itu terdengar oleh Sayyidah Hafshah, lalu ia pun mendirikan tenda yang serupa. Sayyidah Zainab juga mendengarnya dan kemudian mendirikan tenda yang lain. (Dalam riwayat Amr bin Haris : Sayyidah Zainab itu termasuk istri nabi yang pencemburu).
Ketika Nabi Muhammad selesai melaksanakan shalat subuh pada hari berikutnya, beliau melihat empat tenda berdiri berjejer di pelataran masjid. Beliau pun bertanya, “Apa ini?” Lalu disampaikan kepada beliau kisah yang mendasari motivasi di balik tenda-tenda itu. Beliau bersabda, “Apakah yang mendorong kalian melakukan ini? Apakah karena kebaikan?” Kemudian beliau memerintahkan, “Bongkarlah tenda-tenda itu aku tidak ingin melihatnya.” Akhirnya tenda-tenda tersebut dibongkar, pada tahun itu Rasulullah Saw tidak melanjutkan iktikaf di bulan Ramadhan, hingga beliau menggantinya dengan iktikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Syawal.
Iktikaf tidak hanya semata berdiam diri di masjid, namun turut pula dianjurkan membersamai dengan ibadah sunnah lainnya sebagaimana yang dinukilkan oleh Imam Syafii sebagai berikut:
قال الشافعي والأصحاب فالأولى للمعتكف الاشتغال بالطاعات من صلاة وتسبيح وذكر وقراءة واشتغال بعلم تعلماوتعليما ومطالعة وكتابة ونحو ذلك ولا كراهة في شئ من ذلك ولا يقال هو خلاف الأولى هذا مذهبنا وبه قال جماعةمنهم عطاء والأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز
“Imam Syafi’i dan ashab (para pengikutnya) berkata: ‘Hal yang utama bagi orang yang beriktikaf adalah menyibukkan diri dengan ketaatan dengan melaksanakan shalat, bertasbih, berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menyibukkan diri dengan ilmu dengan cara belajar, mengajar, membaca, dan menulis serta hal-hal sesamanya.
Tidak dihukumi makruh dalam melaksanakan satu pun dari hal-hal di atas, dan tidak bisa disebut sebagai menyalahi hal yang utama (khilaf al-aula). Ketentuan ini merupakan pijakan mazhab kita (mazhab Syafi’i), dan pendapat ini diikuti oleh golongan ulama, seperti Imam ‘Atha, al-Auza’i, Sa’id bin Abdul Aziz”. (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 6, hal. 528).
Semoga kaum muslimin disibukkan dengan beribadah kepada allah di dalam memaksimalkan hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Sungguh Ramadhan hanyalah sebentar, dan sebentar ini akan berlalu. Kita langitkan semua doa dan harapan agar malam lailatul qadar dapat menghampiri kaum muslimin yang sedang menyibukkan diri dengan ibadah.
*Penulis merupakan mahasiswa tingkat akhir universitas Al-Azhar jurusan Syariah lslamiah
Editor: Azmi Putra Gayo

Posting Komentar