Api yang Menyeberang Zaman

Oleh: Zarvia Li’aunillah*

(Sumber: Ilustrasi dok. google)

Di sebuah rumah sederhana dekat Bukhara, seorang anak tumbuh dengan kecintaan luar biasa pada ilmu. Ayahnya seorang pegawai pemerintahan di bawah Dinasti Samanid yang gemar berdiskusi dengan berbagai ilmu terkhusus tentang filsafat, sehingga rumah itu dipenuhi buku-buku logika, kedokteran, matematika, dan filsafat.

Sejak kecil, ia membaca dengan cara yang berbeda. Satu halaman bisa menahannya semalaman. Ia berhenti di tengah kalimat, merenung lama, lalu kembali membaca dari awal. Seolah ia sedang berdialog dengan suara-suara dari masa lalu, usianya anak-anak tapi jiwanya adalah “Bung”

Kecerdasannya membuat ia cepat dikenal. Pada usia belasan tahun, ia sudah menguasai banyak cabang ilmu. Ketika seorang penguasa sakit, ia berhasil menyembuhkannya. Sebagai balas jasa, ia diberi akses ke perpustakaan istana Samanid, perpustakaan yang menyimpan karya-karya besar dari Timur dan Barat. Di sanalah ia menemukan tulisan-tulisan kuno yang telah menyeberangi bahasa dan zaman.

Tidak sekadar menerima gagasan lama. Ia menyusunnya kembali dengan cara yang lebih sistematis, menghubungkannya dengan kedokteran dan matematika.

Dalam konteks filsafat dan kedokteran, Ia melihat bahwa tubuh manusia bukan sekadar jasad, melainkan wadah bagi jiwa. Dari filsafat ia belajar tentang hakikat jiwa, dari kedokteran ia mempelajari gejala tubuh. Ia lalu menggabungkan keduanya: penyakit tidak hanya fisik, tetapi juga bisa bersumber dari kondisi jiwa. Misalnya, ia menulis bahwa kesedihan mendalam dapat melemahkan tubuh, dan pengobatan harus memperhatikan aspek psikologis pasien.

Dalam konteks matematika dan kedokteran Ia juga menggunakan matematika untuk menjelaskan ritme tubuh. Denyut nadi, menurutnya, bisa dipahami seperti pola bilangan: teratur, berubah, atau kacau. Dengan cara itu, ia menghubungkan ilmu hitung dengan diagnosis medis. Jadi matematika bukan sekadar angka abstrak, tapi bisa dipakai untuk membaca tanda-tanda kesehatan.

Contoh nyata dalam karyanya 

• Dalam Al-Qanun fi al-Tibb (Canon of Medicine), ia menyusun klasifikasi penyakit, obat, dan metode pengobatan dengan struktur logis yang mirip filsafat.

• Ia menjelaskan hubungan antara anatomi tubuh dengan fungsi jiwa, sehingga kedokteran tidak hanya soal organ, tetapi juga soal kesadaran.

• Ia menekankan pentingnya observasi dan eksperimen, tetapi tetap memberi ruang bagi akal untuk memahami keteraturan alam.

Dengan cara itu, ia menjadikan filsafat sebagai kerangka berpikir, matematika sebagai alat analisis, dan kedokteran sebagai praktik nyata.

Baginya, filsafat bukan warisan beku, melainkan api yang harus dijaga agar tetap menyala. Dari tangannya lahir karya-karya besar, termasuk Al-Qanun fi al-Tibb, ensiklopedia kedokteran yang menjadi rujukan di Timur dan Barat selama berabad-abad.

Namun pemuda ini bukan hanya seorang tabib. Ia seorang filsuf besar dalam tradisi Islam. Ia menulis tentang jiwa, akal, dan keberadaan. Baginya, jiwa bukan sekadar tamu dari dunia tinggi, melainkan inti kesadaran manusia yaitu sesuatu yang membuat manusia mampu berpikir, memahami, dan mengenali kebenaran.

Dalam filsafat Islam, ia berperan sebagai jembatan antara akal dan wahyu. Ia banyak dipengaruhi oleh pemikiran filsuf Yunani, terutama seorang pemikir Barat yang namanya dalam lidah orang Timur kadang terdengar sebagai Flatun, kadang Aflatun, hingga akhirnya dikenal sebagai Plato. Dari gagasan Plato tentang jiwa, ia mengembangkan pandangan yang lebih sistematis, menjadikannya bagian dari filsafat Islam.

Namun pandangannya tidak selalu diterima tanpa perdebatan. Kalangan Asy‘ariyah mengkritik pandangannya tentang jiwa dan akal. Asy‘ariyah menekankan kekuasaan mutlak Tuhan atas segala sesuatu, sementara ia menekankan kemampuan akal manusia untuk mengenali kebenaran. Perbedaan ini melahirkan diskusi panjang dalam tradisi Islam, antara filsafat dan teologi.

Meski begitu, pengaruhnya tetap besar. Ia dianggap sebagai salah satu pilar filsafat Islam, sekaligus jembatan antara pemikiran Yunani dan dunia Islam. Dialah Ibnu Sina sosok Bapak Kedokteran Modern. Di Barat, namanya diterjemahkan menjadi Avicenna, dan karya-karyanya menjadi fondasi bagi pemikiran Eropa abad pertengahan.

Dengan demikian, perjalanan hidupnya bukan hanya kisah seorang anak jenius dari Bukhara. Ia adalah kisah tentang bagaimana sebuah gagasan kuno tentang jiwa, akal, dan kebenaran dihidupkan kembali, diperdebatkan, dan akhirnya menyeberang lintas zaman dan budaya.

Penulis merupakan Mahasiswi Tingkat 3, Jurusan Akidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo.

Editor: Azmi Putra

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top