Iktikaf Ibadah yang Mulai Kehilangan Ruhnya
Oleh: Ulul Azmi*
![]() |
| (Sumber: Unsplash.com) |
Iktikaf adalah ibadah spesial dan mudah. Bagaimana tidak? Ia bisa dikerjakan di masjid apa saja, kapan saja, dan dengan kegiatan apa pun tanpa terfokus pada satu ritual saja. Sebenarnya, apa sih tujuan i’tikaf?
Nah, sebelum itu, mari kita lihat dulu definisi iktikaf. Para ulama berbeda persepsi mengenai definisi iktikaf, tetapi dari sekian banyaknya pendapat, ada satu titik temu yang menjadi penyatu, yaitu taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala). Mengenai definisi iktikaf, disebutkan di dalam kitab al-Mausu’atu al-Fiqhiyyah bahwa:
اﻻعتكاف هو اﻹقامة في المسجد بنية التقرب إلى الله ليلا كان نهارا
“Iktikaf adalah menetap di dalam masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, di waktu malam atau siang hari.” Pada definisi di atas disebutkan bahwa iktikaf tidak semata-mata menetap di masjid saja, tetapi harus disertakan niat taqarrub ilallah. Niat inilah yang menjadi penentu apakah ritual itu disebut iktikaf atau tidak. Tetapi, apakah cukup dengan niat saja?
Hakikatnya, menetap di dalam masjid dengan niat taqarrub saja sudah cukup menjadikannya sebagai ibadah. Akan tetapi, ketika ibadah ini disertakan dengan perbuatan taat lain, seperti salat sunah, membaca Al-Qur’an, zikir, belajar mengajar, membaca, tentu lebih baik. Namun, jika digabungkan dengan hal-hal bersifat duniawi bermain gawai (membuka obrolan WhatsApp, media sosial, bermain gim), misalnya tentu hal ini terlampau jauh dari tujuan awalnya (taqarrub ilallah). Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa iktikaf dilakukan dengan mengasingkan diri dari manusia serta menyibukkan jiwa dengan perbuatan taat. Maka dari sinilah, berbicara menjadi salah satu hal yang dapat membatalkan iktikaf.
Hakikatnya, menetap di dalam masjid dengan niat taqarrub saja sudah cukup menjadikannya sebagai ibadah. Akan tetapi, ketika ibadah ini disertakan dengan perbuatan taat lain, seperti salat sunah, membaca Al-Qur’an, zikir, belajar mengajar, membaca, tentu lebih baik. Namun, jika digabungkan dengan hal-hal bersifat duniawi bermain gawai (membuka obrolan WhatsApp, media sosial, bermain gim), misalnya tentu hal ini terlampau jauh dari tujuan awalnya (taqarrub ilallah). Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa iktikaf dilakukan dengan mengasingkan diri dari manusia serta menyibukkan jiwa dengan perbuatan taat. Maka dari sinilah, berbicara menjadi salah satu hal yang dapat membatalkan iktikaf.
Baca juga: Kilas Balik Ramadan di Bumi Para Nabi, Suasana Ramadan dan Ilmu Yang Penuh Makna
Coba bayangkan, ketika suatu ritual ibadah dicampuri dengan hal yang melalaikan, lebih-lebih ibadah tersebut dilaksanakan di masjid, apakah etis? Tentu tidak. Namun, realitasnya, hal-hal seperti itu banyak terjadi saat ini, baik di kalangan remaja, pemuda, bahkan orang tua. Dalam kondisi saat ini, kita memang sulit untuk lepas dari gawai karena sudah menjadi kebutuhan. Namun, tidak ada salahnya kita melatih diri, mencoba khusyuk dalam beribadah dengan menjauhkan benda tersebut ketika beribadah.
Beribadah tidak cukup dengan mengetahui rukun, syarat, waktu, dan tempatnya saja, tetapi menyadari tujuan dari suatu ibadah juga harus disertakan. Sebab, tanpa pemahaman tentang itu, beribadah terasa hampa. Oleh karena itu, mari sempurnakan ibadah kita dengan memahami esensi dan tujuannya. Jangan sampai kita beribadah hanya sebatas melepaskan diri dari tanggungan.
Coba bayangkan, ketika suatu ritual ibadah dicampuri dengan hal yang melalaikan, lebih-lebih ibadah tersebut dilaksanakan di masjid, apakah etis? Tentu tidak. Namun, realitasnya, hal-hal seperti itu banyak terjadi saat ini, baik di kalangan remaja, pemuda, bahkan orang tua. Dalam kondisi saat ini, kita memang sulit untuk lepas dari gawai karena sudah menjadi kebutuhan. Namun, tidak ada salahnya kita melatih diri, mencoba khusyuk dalam beribadah dengan menjauhkan benda tersebut ketika beribadah.
Beribadah tidak cukup dengan mengetahui rukun, syarat, waktu, dan tempatnya saja, tetapi menyadari tujuan dari suatu ibadah juga harus disertakan. Sebab, tanpa pemahaman tentang itu, beribadah terasa hampa. Oleh karena itu, mari sempurnakan ibadah kita dengan memahami esensi dan tujuannya. Jangan sampai kita beribadah hanya sebatas melepaskan diri dari tanggungan.
Semoga ibadah kita diterima oleh Allah dan diberi taufik agar selalu taat kepada-Nya. Aamiin. Allahu al-muwaffiq wal musta’an.
*Penulis merupakan mahasiswa universitas Al-Azhar Jurusan Syariah Islamiah Tingkat 2
Reporter: Wahyu Hidayatullah

Posting Komentar