Dari Dataran Tinggi Gayo ke Pusat Ilmu Dunia: Kisah Fitra Hudaya

Fitra Hudaya di depan Fakultas Syari'ah Wal Qanun selesai menjalani sidang Megister S2 (Sumber: Dokumen Fitra Hudaya)

Kmamesir.org Pagi di dataran tinggi Gayo menghadirkan ketenangan yang membentuk karakter tekun dan sederhana. Dari lingkungan inilah tumbuh tekad menuntut ilmu sebagai jalan pengabdian. Bagi Fitra Hudaya, ilmu bukan sekadar tujuan akademik, tetapi amanah untuk memberi manfaat bagi umat.

Perjalanan pendidikan dimulai dari SD Kercing di Kecamatan Bebesen. Lingkungan religius sejak kecil menumbuhkan kecintaan pada ilmu agama dan membentuk arah hidupnya sejak dini.

Semangat menuntut ilmu membawanya merantau ke Banda Aceh dan Aceh Besar untuk melanjutkan pendidikan di Pesantren Modern Al Manar pada jenjang MTs dan MA. Di pesantren, disiplin belajar dan tradisi keilmuan klasik menjadi fondasi awal perjalanan intelektualnya.

Langkah itu berlanjut ke Jakarta untuk menempuh pendidikan di Ma’had Aly. Di fase ini, orientasi keilmuannya semakin mengerucut pada studi syariah dan kajian turats. Ketekunan dan konsistensi belajar menjadi bekal utama untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Menapaki Tradisi Keilmuan Dunia

Kesempatan menempuh pendidikan tinggi di pusat tradisi keilmuan Islam membuka cakrawala baru. Lingkungan akademik yang sarat diskusi ilmiah dan kedalaman literatur memperluas perspektifnya terhadap khazanah keilmuan klasik dan modern.

Melanjutkan studi magister di Fakultas Syariah Dirasat Ulya menjadi fase pendewasaan intelektual. Baginya, menuntut ilmu bukan sekadar memahami teori, tetapi membangun ketelitian berpikir dan kedalaman analisis.

Baca juga: Board of Peace: Akhir Penderitaan atau Awal Pengkhianatan?

Disiplin belajar menjadi rutinitas harian: membaca berjam-jam, mengikuti kajian para masyayikh, menulis, dan berdiskusi ilmiah. Ilmu harus diberi ruang utama dalam kehidupan, bukan sekadar aktivitas tambahan.

Suasana sidang tesis Fitra Hudaya (sumber dok. Fitra Hudaya)

Penelitian tesisnya menelaah secara filologis manuskrip kitab tentang najis-najis yang dimaafkan dalam Mazhab Syafi’i. Kajian ini berangkat dari realitas praktik ibadah umat yang sering berada di antara dua sikap ekstrem: meremehkan atau berlebihan.

Selama kurang lebih tiga tahun, ia mengumpulkan manuskrip dari berbagai negara, menelaah perbedaan redaksi, membandingkan referensi klasik dan modern, serta menyusunnya dalam analisis ilmiah yang sistematis.

Penelitian tersebut menghadirkan pemahaman yang seimbang dalam praktik ibadah sehari-hari sebuah pendekatan yang menekankan kemudahan tanpa meninggalkan ketelitian syariat.

Sidang yang Sarat Makna

Momen sidang tesis menjadi titik emosional dari perjalanan panjang itu. Di hadapan para penguji dan hadirin, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga, dan para guru.

Presentasi proses sidang S2 Tgk. Fitra Hudaya ( dok. Pribadi Tgk. Fitra Hudaya)



Judul tesisnya: 

شرح منظومة المعفوات لابن العماد. تأليف: الإمام أحمد بن عبد الكريم الترمانيني المتوفى سنة ١٢٩٣ ﻫـ. دراسة وتحقيق.

Studi Filologis Manuskrip Kitab Fikih: _"Syarh Manzhūmat al-Ma’fuwwāt li Ibn al-‘Imād"_ Karya Imam Ahmad bin Abdul Karim at-Tirmanini (w. 1293 H)


Adapun dewan penguji tesis Fitra ialah

1. Pembimbing Utama: Prof. Dr. Ali Manshur Usman Habib 

2. Pembimbing Pendamping: Dr. Mustafa Ali Abduh

3. Penguji Internal: Prof. Dr. Eid Ahmad Hadi

4. Penguji Eksternal: Prof. Dr. Mahmud Harbi Abdul Fattah

Penghormatan yang disampaikan kepada ibunya serta apresiasi dari pembimbing dan penguji menjadi kenangan mendalam. Predikat Mumtaz yang diraih bukan sekadar pengakuan akademik, tetapi buah dari kesabaran, doa, dan ketekunan.

Ketika penguji dari diri pribadi dan mewakili kuliah menyampaikan salam hormat untuk ibu kami yg telah berjasa melahirkan bāhits seperti kami. 

Rasa puas yg ditunjukkan oleh pembimbing dan penguji terhadap apa yang telah kami tulis. Pembimbing berkali-kali memuji Fitra dan tulisan bahkan beliau berkata bahwa kita tidak merasa bahwa Fitra ini orang non Arab, karena bahasa dan tulisannya sudah seperti orang Arab. 

Sesi foto setelah sidang (dok. Fitra Hudaya)

Penguji Eksternal memuji bahwa tesis Fitra sudah nyaris sempurna sehingga memaksa para penguji untuk mengoreksi perkara teknis yang sebetulnya tidak perlu dikoreksi, tapi karena tuntutan munaqasyah sehingga mengharuskan para penguji untuk mengoreksi hal-hal yang sifatnya sampingan. 

Adapun penguji internal sampai bertanya memastikan "apakah kamu orang Arab?", kemudian beliau memberikan banyak pujian atas tesis kami dan berkata bahwa hampir tidak ada kesalahan tata bahasa kecuali sedikit.

Penguji eksternal juga menyebutkan "bahits dan tulisannya ini melebihi banyak teman-teman kita orang Mesir”.

Dukungan yang Menguatkan Langkah

Perjalanan ilmu tidak pernah ditempuh sendiri. Dukungan orang tua, istri, mertua, dan keluarga besar menjadi sumber kekuatan yang menjaga semangatnya tetap menyala.

Dukungan keluarga Aceh yang ada di Mesir (Sumber: dok. Fitra Hudaya)

Baginya, setiap capaian akademik adalah hasil dari doa dan pengorbanan banyak pihak. Ilmu yang diperoleh harus kembali memberi manfaat bagi mereka yang telah mendukung perjalanan tersebut.

Bagi Fitra Hudaya, capaian akademik bukanlah akhir perjalanan. Prestasi adalah amanah yang menuntut tanggung jawab lebih besar untuk memberi kontribusi dalam bidang keagamaan dan pendidikan umat.

Ia berharap ilmu yang diperoleh dapat menjadi penerang, menghadirkan pemahaman yang moderat, serta menginspirasi generasi muda dari daerah untuk berani bermimpi dan menuntut ilmu setinggi mungkin.

Melanjutkan Jejak Keilmuan

Perjalanan menuntut ilmu masih berlanjut. Rencana melanjutkan studi ke jenjang doktoral menjadi langkah berikutnya dalam memperdalam riset dan memperluas kontribusi keilmuan.

Baginya, menuntut ilmu adalah proses seumur hidup jalan panjang yang dilalui dengan kesabaran, disiplin, dan keikhlasan.

Dalam pandangannya, keberhasilan akademik bukan semata gelar atau nilai tinggi. Keberhasilan sejati adalah ketika ilmu mendekatkan seseorang kepada Allah dan memberi manfaat bagi sesama.

Dari tanah Gayo hingga pusat tradisi keilmuan dunia, perjalanan ini menghadirkan satu pelajaran penting: ilmu adalah cahaya dan mereka yang meniti jalannya dengan kesungguhan akan menemukan makna pengabdian yang lebih luas dari sekadar prestasi.

Reporter: Azmi Putra Gayo 

Editor: Hafidzul

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top