Alur Konflik Antara Amerika–Israel VS Iran

Oleh: Fatihurrizqi Al-Amri*

Unsplash.com
Konflik yang berlangsung di Timur Tengah semakin memanas. Ribuan rudal balistik sudah dilontarkan oleh berbagai pihak, kematian Supreme Leader Iran memicu pemblokiran Selat Hormuz, dan sampai memaksa Amerika Serikat mencari berbagai cara untuk meminimalisir kerugian. Tapi, bagaimana sebenarnya asal mula konflik ini pecah sehingga merugikan begitu banyak pihak, bahkan menghilangkan ribuan jiwa?

Situasi hubungan antara AS dan Iran

Hubungan antara AS dan Iran awalnya merupakan hubungan yang cukup baik, pada saat Dinasti Pahlavi yang dipimpin oleh Shah Mohammad Reza Pahlavi, Iran menjadi sekutu utama AS di Timur Tengah. Pahlavi juga dikenal sebagai salah satu pemimpin Iran yang condong ke barat, bahkan AS membantu mereka melalui CIA dalam mengudeta Perdana Menteri Mohammad Mossadegh untuk mengembalikan kekuatan Pahlevi sebagai pemimpin Iran.

Namun, pada tahun 1979 hubungan tersebut hancur pada saat bangkitnya revolusi islam di Iran. Kudeta dilakukan oleh Revolusi Islam dan menjatuhkan Perdana Menteri terakhir yang ditunjuk oleh Pahlavi langsung, sehingga menandakan jatuhnya Dinasti Pahlavi dan sistem monarki yang berlangsung di Iran. Kudeta ini dipimpin oleh Ayatullah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi revolusi islam dan juga yang kelak menjadi Supreme Leader Iran selama bertahun tahun.

Republik Islam Iran dipimpin oleh Khamenei, dikenal dengan anti barat dan meruntuhkan hubungan baik yang dijalin oleh Pahlavi. Apalagi setelah peristiwa penyanderaan di kedutaan besar AS di Teheran yang berlangsung selama 444 hari, menjadikan adanya dinding rivalitas dan dendam bagi kedua belah pihak.

Setelah revolusi, Iran mulai menjalin hubungan dengan sekutu baru mereka, yaitu China dan Rusia. Melihat hal ini membuat AS tidak senang dengan pergerakan baru dari sekutu lama mereka dan mulai mengklaim bahwasannya pengembangan nuklir yang dimiliki oleh Iran sebagai sebuah ancaman terhadap keamanan AS.

Ketegangan-ketegangan selanjutnya dipicu oleh sumber energi yang juga bisa menjadi senjata pemusnah massal yaitu nuklir. Iran mengembangkan teknologi nuklir mereka sebagai sumber daya energi untuk menghindari adanya krisis energi yang ada di Iran. Sedangkan AS menganggap nuklir yang dimiliki Iran sebagai ancaman terhadap Negara mereka.

Klaim tidak berdasar yang dilontarkan AS inilah yang akan menyebabkan aksi penyerangan oleh kedua belah pihak dalam beberapa periode/waktu kedepan.

Ketika perang Irak-Iran pada tahun 1980–1988 Amerika mengirimkan banyak bantuan kepada Irak. Hal ini merupakan bentuk penyerangan, meskipun tidak adanya konfrontasi langsung antara kedua pihak. Lalu AS, Uni Eropa, Negara-negara sekutu dan didukung oleh dewan keamanan PBB melakukan embargo kepada Iran dan memberikan sanksi ekonomi dikarenakan kepemilikan pengembangan energi nuklir sampai pada tahun 2015. Ketegangan sempat mereda ketika tercapainya kesepakatan JCPOA atau kesepakatan nuklir Iran. Pada tahun 2018, AS yang dipimpin oleh Donald Trump keluar dari kesepakatan ini secara sepihak, walaupun perjanjian ini tetap berlangsung selama 10 tahun sesuai yang disepakati dan berjalan dengan alot.

Lalu pada tahun 2020, AS membunuh salah satu jenderal tertinggi Iran, Qassem Soleimani yang membuat hubungan antara kedua pihak semakin mengeruh. Iran membalas dengan mengirimkan rudal balistik ke pangkalan udara AS al-Assad yang berada di Irak. Iran juga mengumumkan bahwa mereka tidak lagi mematuhi kesepakatan JCPOA untuk tidak mengembangkan kapasitas nuklir yang mereka miliki.

Kemudian di tahun 2025, AS kembali meminta kepada Iran untuk memperbarui kesepakatan JCPOA. Di tengah perbincangan, Israel menyerang Iran dan menyebabkan batalnya kesepakatan yang sedang diusahakan oleh AS. Ini menjadi alasan yang kuat bagi Iran untuk kembali memperkaya pasokan uranium mereka.

Penyerangan/perang di tahun 2026

Pada hari sabtu, 26 februari 2026. Amerika dan Israel meluncurkan serangan ke titik-titik penting yang ada di Iran dan Israel mengerahkan serangan secara besar-besaran dengan nama sandi Operation Roaring Lion. Bahkan ini disebutkan adalah serangan terbesar yang pernah dilakukan oleh angkatan udara Israel. Disisi lain, Amerika juga mengerahkan serangan dengan nama sandi Operation Epic Fury.

Serangan dimulai dengan serangan udara terhadap kota Isfahan, Teheran, Qom, Karaj dan Kermanshah. Serangan ini ditujukan terhadap para petinggi Iran, jenderal militer serta fasilitas-fasilitas penting yang berada di Iran. Salah satu dampak terbesar yang diakibatkan oleh serangan ini adalah kematiannya Supreme Leader Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Iran membalas serangan ini dengan mengirimkan puluhan rudal balistik dan pesawat nirawak ke pangkalan militer Amerika yang berada di Yordania, Kuwait, Bahrain, Irak, Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab. Serangan ini juga melebar dengan adanya kerusakan yang terjadi di luar lokasi target, seperti bandara internasional yang ada di Kuwait dan UEA.

Tidak hanya dengan mengirimkan rudal, Iran juga menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur paling penting dalam distribusi minyak dunia. Penutupan Selat Hormuz memicu krisis energi global, mengingat 20 – 30% minyak mentah dunia melewati jalur ini. Penutupan ini mengakibatkan naiknya harga minyak dunia dari 80 – 90 USD per barel menjadi sekitar 120 – 130 USD per barel. Kenaikan ini dapat menyebabkan resesi ekonomi global. Negara-negara yang bergantung dengan distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah menjadi yang paling terdampak dari penutupan ini.

Awalnya Amerika terlihat percaya diri dan mereka mampu melewati penutupan ini, akan tetapi Iran memperlihatkan niat mereka dengan menyiapkan rudal-rudal yang siaga untuk menghancurkan kapal-kapal yang memaksa lewat tanpa persetujuan dari Iran. Sampai pada tanggal 14 maret 2026, Presiden Donald Trump mengajak Negara-negara eropa lainnya untuk ikut membantu dalam mengambil alih Selat Hormuz. Ia mengatakan bahwa usaha dalam merebut kembali Selat Hormuz, seharusnya merupakan kerja sama tim untuk mengembalikan keseimbangan dunia.

Tetapi ajakan tersebut tidak dijawab oleh Negara-negara sekutu AS. Iran menjawab ancaman tersebut dengan membolehkan kapal-kapal kembali melewati kembali pada jalur tersebut, kecuali kapal-kapal yang dimiliki oleh musuh mereka, yaitu Amerika dan Israel sejauh ini. Taktik sederhana yang dilakukan oleh Iran membuat sekutu AS tidak ingin mengambil resiko dengan adanya potensi krisis yang diakibatkan oleh penutupan jalur tersebut.

Sampai saat ini, konflik masih terus berlanjut antara kedua belah pihak yang masih mengirimkan penyerangan militer maupun ekonomi. Meskipun Presiden AS mengatakan bahwa mereka sudah melakukan diskusi, tetapi juru bicara Parlemen Iran Mohammed Bagher Ghalibaf mengatakan bahwasannya itu hanyalah berita palsu yang digunakan untuk memanipulasi ekonomi dan pasar minyak, dan tidak ada percakapan yang terjadi dengan AS. Kerusakan juga berdampak ke Negara-negara teluk yang memiliki pangkalan AS dan disebabkan oleh melebarnya serangan dari target, yang mana menimbulkan kerugian yang cukup besar.

Perang yang sudah berlangsung selama 24 hari ini akan terus membawa ancaman terhadap seluruh dunia, dengan adanya potensi perang dunia yang dimulai oleh Negara-negara pemegang kekuatan nuklir. Kekuatan pemusnah massal yang selalu menjadi terror terhadap dunia.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Syariah Islamiyyah, Universitas Al-Azhar, Kairo.

Editor: Zhilalurrahman


Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top