Mesjid Bukan Tempat Formalitas Musiman, Jadikan Ia dari Bagian Kehidupan
Oleh: Juwaini Saputra*
![]() |
| (Sumber: Google.com) |
Memang benar, mendatangi masjid tidak bersifat wajib dalam syariat, melainkan hanya anjuran. Allah Swt. berfirman:
إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر…(التوبة : ١٨)
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat." (QS. At-Taubah: 18)
Ayat ini tidak menggunakan kalimat amar (perintah), hanya saja menggunakan adat hasr (إنما), yang bermakna penegasan. Bahwa tidak akan mampu memakmurkan masjid selain orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Dapat dipahami bahwa hanyalah orang-orang tertentu yang sanggup memakmurkan masjid, bukan karena paksaan dan perintah.
Masjid adalah rumah Allah, tempat yang aman damai dan tentram. Siapa saja yang memasukinya pasti akan mendapatkan ketenangan. Allah Swt. berfirman di penggalan surah Ali Imran ayat 97:
…ومن دخله كان آمنا…الآية
“Siapa saja yang masuk ke dalamnya, niscaya ia akan aman…”.
Memang benar seperti kata orang, “Rindu itu berat, tapi yang paling berat adalah istikamah”. Kata istikamah diambil dari asal kata “qaama” (قام) yang berarti berdiri tegak. Dalam gramatikal bahasa Arab, ada sebuah kaidah mengatakan:
“زيادة المبنى تدل على زيادة المعنى”
Artinya, bertambah bentuk sebuah kalimat bisa merubah sebuah makna yang dimaksudkan.
Di dalam sebuah kata di atas terjadi penambahan tiga huruf di depannya, yaitu (الألف) alif, (السين) sin dan (التاء) yang mengandung makna thalab (tuntutan) artinya dituntut untuk mendirikan suatu perbuatan secara konsisten dan kontinu. Sehingga hampir sebagian banyak orang tidak mampu untuk beristikamah dari segala bidang yang mereka tekuni, kecuali hanya sedikit saja dari mereka yang benar-benar tekun dan sabar dalam menjalankannya. Faktanya jelas kita perhatikan, dari sebuah hal yang paling ringan saja tidak mampu untuk beristikamah apalagi hal yang berat, tentu lebih tidak mampu.
Berjalan ke masjid pada waktu tertentu itu bagus, tapi lebih bagusnya lagi apabila menjadikan masjid itu tempat yang utama setelah rumah. Bukan berarti rumah itu lebih mulia, akan tetapi tempat yang sangat diperlukan. Jika rumah untuk ketenangan fisik, maka masjid sebagai tempat menenangkan ruh.
Berapa banyak kita perhatikan setelah Ramadan pergi, masjid kembali kosong. Apa hendak dikata memang begitu realitanya. Jika ditinjau secara lebih mendalam, maka akan ditemui berbagai titik temu terhadap nilai cinta kepada masjid dari seluruh kalangan manusia khususnya kaum muslimin. Ada yang sangat cinta kepada masjid dari segala sisi, ada yang cinta sekedar beberapa sisi, ada juga yang hanya senang karena keindahannya semata dan lain sebagainya. Allah menyebutkan dengan kata “ya’muru”, yaitu memakmurkan. Dapat ditarik kepada sebuah kesimpulan bahwa Allah menyebutkan orang-orang yang berhubungan dengan rumahnya itu.
Makna memakmurkan masjid di sini, tidak termasuk dari mereka yang hanya sekedar datang bermain dan berfoto, apalagi hanya sebatas numpang ke toilet untuk buang air wal'iyadzubillah. Tapi, yang memakmurkan masjid sesungguhnya adalah mereka yang datang dengan niat beribadah, baik itu dengan salat, berzikir, membaca Al-Quran, mempelajari ilmu, maupun hanya sekedar duduk beriktikaf. Jika sekelompok jamaah memasuki masjid, lalu mereka membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya, maka merekalah golongan yang dikatakan oleh Baginda Nabi Saw. "Orang-orang yang dikelilingi oleh para malaikat". Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abi Hurairah r.a.:
“قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله، ويتدارسونه بينهم، إلا نزلت عليهم السكينة، وغشيتهم الرحمة، وحفتهم الملائكة، وذكرهم الله فيمن عنده.
Rasulullah Saw bersabda: “Dan tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di sebuah rumah (masjid) dari seluruh masjid, yang mana mereka membaca Al-Quran, dan mempelajarinya sesama, kecuali diturunkan kepada mereka ketenangan, dan didatangkan rahmat, dan dikelilingi para malaikat, dan mereka disebut-sebut pada makhluk di sisi Allah."
Tidak cukup dengan hadis di atas, bahkan Rasulullah Saw. memberikan kabar gembira lagi bagi mereka yang datang ke masjid di pagi hari atau petangnya, maka bagi mereka disediakan tempat-tempat di surga. Disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang direkomendasikan oleh sahabat Abu Hurairah r.a., ia berkata:
“قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، من غدا أو راح إلى المسجد أعد الله له في الجنة نزلا كلما غدا أو راح
Artinya: Rasulullah Saw bersabda, “Siapa saja yang pergi ke masjid pagi-pagi atau petang-petang, maka Allah menyediakan untuknya tempat-tempat dalam surga untuk setiap datangnya itu”.
Mungkin di akhir zaman ini jarang ditemui sosok yang melekatkan diri dengan masjid. Kebanyakan yang terlihat justru melekat pada urusan duniawi semata, pada tempat usaha, pada jabatan, pada rumah mewah yang dibangun dengan harga yang membuat orang berdecak kagum bila mendengarnya dan lain sebagainya. Lupakah kita tempat yang paling mulia di sisi Allah adalah rumahnya. Celakalah seseorang yang berani mengatakan rumahnya lebih baik daripada masjid wal'iyadzubillah. Rasulullah Saw. bersabda dalam hadis Imam Bukhari, jalur sahabat Abi Hurairah r.a., berkata :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، أحب البلاد إلى الله أسواقها، وأبغض البلاد إلى الله أسواقها.
Rasulullah Saw bersabda, “Tempat yang paling dikasihi Allah adalah masjid, dan tempat yang paling dimurkai Allah adalah pasar”.
Sangat jelas, bahwa tempat yang paling mulia di muka bumi ini adalah masjid. Bukan istana yang megah, bukan rumah mewah, bukan tempat-tempat yang indah, melainkan hanyalah masjid yang paling baik dan mulia. Karena di masjid orang biasanya mengabdikan diri kepada Allah, merendahkah diri dengan bersujud kepada-Nya. Sedangkan di istana, realita sebaliknya. Yang memiliki istana menyombongkan diri dengan istananya, yang lain segan dan malu jika memasukinya, bahkan sampai merendah-rendahkan diri mereka hanya karena kekayaan pemilik istana, wal'iyadzubillah. Kita berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.
Tidak akan rugi seseorang yang datang ke masjid tanpa membawa pulang apa-apa. Karena pada hakikatnya ia telah membawa pahala besar tanpa disadari. Ketika Rasulullah Saw. pertama kali hijrah ke Madinah, tempat yang pertama kali dibangun adalah masjid. Dari sini dapat kita pahami bahwa tempat yang paling dibutuhkan oleh sekalian umat Islam adalah masjid.
Apabila datang pertanyaan apakah mau menjadikan masjid dari bagian kehidupan atau tidak? Jawabannya tergantung pada diri-sendiri.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah hadis yang menerangkan diantara orang-orang yang mendapatkan naungan di hari kiamat di mana tidak ada naungan lain di saat itu kecuali hanya naungan dari Allah Swt. Tersebut dalam kitab hadis Bukhari dan Muslim, ada tujuh golongan yang mendapatkan naungan di hari kiamat, di antaranya adalah :
…ورجل قلبه معلق بالمساجد…
“Dan orang yang hatinya bergantung ke masjid.”
Inilah kemuliaan masjid yang pernah dipesan oleh Baginda Nabi Saw sejak 14 abad yang lalu. Semoga kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang mencintai masjid dengan sepenuhnya yang menjadikan masjid bagian yang paling dibutuhkan dalam kehidupan.
*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Syariah Islamiyyah, Universitas Al-Azhar, Kairo.
Editor: Siti Humaira

Posting Komentar