Kamis, 24 Februari 2022

Perang Narasi Media Sosial: Menyatukan Perbedaan dengan Islam Wasathiya (Bagian Satu)

 *Oleh: Haris Akbar Zahari

(Sumber Ilustrasi: kabar.bisnis24.com)

Indonesia yang harusnya berbangga dengan kemajemukan, malah seringkali dikhianati dengan keberagaman itu sendiri. Setiap saat, masyarakat merasakan keindahan berbagai bahasa, agama, ras, suku, bangsa dan segala jenis perbedaan. Contoh saja para penikmat kuliner, ke mana saja mereka pergi, makanan khas daerah itu akan tersaji. Belum lagi dengan kemeriahan pernikahan, anak Aceh misalnya menikah dengan bunga desa yang ada di Bali, perpaduan adat dan kolaborasi antar daerah menjadi perbincangan yang enak di bibir dan mengena di hati.

Masyarakat tetap tidak bisa menutup mata bahwa kekerasan, ketimpangan, kerusuhan dan kericuhan sering  terjadi di beberapa daerah dengan alasan keberagaman. Contoh paling besarnya adalah teroris atas nama agama. Seolah-olah ada agama yang menyuruh perang, membantai minoritas yang tidak seakidah. Bahkan ada orang yang ngakunya paling paham Islam, paling ingin masuk surga, tapi malah menyebarkan Islam yang salah demi uang dan ketenaran.

20 tahun yang lalu, tepatnya 11 September 2001, Amerika yang hebat diserang di jantungnya. Dua menara kembar yang menjadi pusat bisnis di Manhattan roboh, menyisakan lubang hitam menganga. 3.000 orang meninggal dunia, ada lebih 6.000 lainnya luka-luka. Jiwa kemanusiaan menjerit-jerit melihat berita ini, pembantaian yang agaknya mustahil dilakukan oleh manusia yang masih punya akal dan hati.

Beberapa hari setelah itu, diketahui bahwa pesawat yang ditabrakkan itu sudah dibajak oleh beberapa militan dari kelompok ekstremis Islam al Qaeda. Peduli apa orang-orang yang melihat pembunuhan massal dan kemudian mendengar Islam sebagai dalangnya. Dalam sekejap saja, kebencian terhadap Islam muncul, dan kaum muslimlah yang hatinya paling sakit. Bertahun-tahun mereka diajarkan Islam yang damai, menghargai, merangkul dan menebar kebaikan sesama manusia, hari itu tertampar oleh beberapa orang yang mengaku paling cinta Islam, seolah-olah itu jihad. Tampaknya ada gambaran kalau surga sudah menanti orang-orang yang melakukan pembantaian besar itu.

Di Indonesia sendiri, kasus-kasus seperti ini masih terjadi. Menolak lupa pada tanggal 14 Mei 2018, senuah keluarga menerobos dengan motornya ke Mapolrestabes Surabaya dan melakukan teror bom, seorang anak dari pelaku bom bunuh diri selamat setelah terpental saat ledakan terjadi. Masih di Surabaya pada tanggal 13-14 Mei 2018, tiga tempat ibadah meledak-ledak, yaitu Gereja Santa Maria Tak Bercela, GKI Diponegoro dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya Jemaat Sawahan. 28 Orang tewas di tempat.

(Petugas sedang mengangkut jasad salah satu korban terror bom Surabaya. Sumber foto: CNN)

Yang masih hangat terjadi di Minggu, 28 Maret 2021, bom kembali meneror tempat ibadah Gereja Katedral Makassar. Masih banyak sekali kasus yang terjadi di negeri yang harusnya saling memeluk perbedaan. Bukan saja masalah agama yang terjadi, ambil saja contohnya sepak bola. Kefanatikan membutakan mata dan hati manusia, lihatlah pada tanggal 23 September 2018, Haringga Sirila, Suporter Persija Jakarta, yang datang jauh-jauh untuk menonton timnya bermain, malah tewas dikeroyok suporter Persib Bandung di area parkir Stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Konflik berbeda suku juga terjadi. Contohnya konflik di Sampit pada tahun 2001. Saat itu, suku Madura datang ke Kalimantan, menikmati kehidupan layaknya penduduk asli dan mendominasi Kalimantan Tengah di berbagai sektor seperti ekonomi. Orang Dayak tidak bisa menerima mereka dan melakukan pembantaian, setidaknya ada 100 kepala orang Madura yang dipenggal. Kasus ini hanya rentetan kejadian, sudah lama perselisihan antar kedua suku itu terjadi. Disebutkan bahwa seorang warga Dayak pernah disiksa dan dibunuh oleh sekelompok orang Madura setelah sengketa judi di Desa Kerengpangi pada 17 Desember 2000.

Konflik Sambit ini baru berakhir setelah kepolisian membebaskan seorang pejabat lokal Dayak yang diduga pemicu konflik setelah warga Dayak berbondong-bondong mengepung kantor polisi dan menuntut pembebasan. Permintaan itu dikabulkan pada 28 Februari 2001 dan kepolisian berhasil membubarkan Massa Dayak dari Jalanan.

Pernah dengar Konflik sektarian Kepulauan Maluku? Kasus Ambon ini berlangsung mulai tahun 1999 hingga tanggal 13 Februari 2002 saat penandatanganan Piagam Malino II. Penyebab utama konflik ini adalah ketidakstabilan ekonomi dan politik di Indonesia setelah Soeharto tumbang dan rupiah mengalami devaluasi selama krisis ekonomi di Asia Tenggara. Rencana pemekaran Provinsi Maluku menjadi Maluku dan Maluku Utara semakin merumitkan masalah, akhirnya karena menyangkut masalah agama, perseteruan antara umat Kristen dan Islam menjadi gelombang merah, mengubah perseteruan ini menjadi pertempuran yang merenggut nyawa sekitar 10.000 orang.

Mengamati permasalahan keberagaman yang ada di luar Indonesia, ada Sri Langka dengan sejarah konflik panjang antara etnis Sinhala dan Tamil. Berpenduduk lebih dari 22 juta jiwa, negara kepulauan tropis dan subur di Asia Selatan ini malah membuat kemajemukannya menjadi bara dalam sekam. Sebut saja sejarah perang saudara yang melibatkan tentara pemerintah dan kelompok Macan Tamil yang berlangsung sejak tahun 1983 dan baru berakhir 2009 silam.

(Serangan bunuh diri Macan Tamil. Sumber gambar: dw.com)


Selama perang saudara, orang Tamil kerap kali meledakkan diri di tempat-tempat publik yang ramai seperti bandara, bus, stasiun dan kafe. Begitulah ide mereka melawan dominasi Sinhala. Saat perang saudara usai, suasana tenang seperti istilah Calm Before The Storm, hingga bom meledak di hari paskah, menewaskan 235 orang dan 500 lainnya mendapat luka. Teror mematikan ini adalah sejarah Sri Langka dengan keberagaman sebagai kambing hitamnya.

Siapa yang sebenarnya dalang di balik semua pembantaian selama ini? Apakah keberagaman memang tidak pernah bisa menjadi perpaduan? Apakah sudah menjadi tabiat manusia untuk memperjuangkan hak istimewanya dan membumihanguskan orang yang tidak sepemahaman?

Bukan ‘siapa’ yang menjadi pertanyaan setelah konflik-konflik atas nama suku, tim bola, bangsa, agama dan keberagaman terjadi. Tapi apa yang menyulut api kebencian itu?

Bukan 4 pesawat maut yang membunuh 3.000 orang di gedung kembar World Trade Center (WTC), bukan bom yang membunuh jemaat dan meruntuhkan tempat-tempat ibadah, bukan kaki yang menginjak-injak tubuh Haringga Sirila hingga tewas, atau bukan karena mereka orang Dayak maka mereka harus perang dengan orang Madura.

Dalang yang sebenarnya atas peristiwa kelam itu semua adalah pikiran, ide-ide yang ditanamkan di kepala para pelaku. Pemeluk agama yang mengerti persoalan ini tidak akan merakit bom demi membalas pemboman gereja dan masjid, Jakmania tidak perlu membawa senjata tajam untuk membalaskan Bobotoh, Amerika tidak perlu meluncurkan rudal untuk membalas al-Qaeda, orang Madura tidak harus membawa parang saat bertamu ke rumah orang Dayak. Yang sebenarnya kita butuhkan untuk melawan itu semua adalah narasi.

Sudah saatnya kita berperang menggunakan narasi, ide, pemikiran-pemikiran yang benar. Dan beruntungnya kita punya dasar dan ajaran yang sudah ditinggalkan Rasulullah. Islam itu cocok untuk setiap situasi dan zaman. Sudah saatnya kita mengambil dan memperjuangkan konsep Islam Wasathiyah, yang tidak hanya menjadikan seorang muslim lebih bertakwa, tetapi juga membuatnya lebih menghargai saudara tidak seiman dan menyatukan perbedaan.

Perang narasi yang akan kita perjuangkan ini tidak membutuhkan uang sewa lapangan untuk dakwah, atau menyewa gedung ber-AC untuk acara seminar. Yang kita butuhkan hanya media sosial. Jangan anggap enteng dakwah di instagram, facebook, twitter, youtube sbg. Karena jika kemarin Anda pernah melihat jihad yang disalahpahami, para pelaku itu mengambil idenya dari media sosial.

Ibarat Chef Arnold yang diidolakan banyak orang karena pandai bermain pisau untuk mengolah makanan. Tapi jika pisau itu diletakkan di tangan yang salah, silakan lari terbirit-birit karena Anda akan ditusuk.

 Perang Narasi: Menyatukan Perbedaan dengan Islam Wasathiyah (Bagian Dua)


*Penulis merupakan mahasiswa Al-Azhar Jurusan Hadis tingkat 3

Editor: Annas Muttaqin


Badan Takaful Aceh


Tidak ada komentar:

Item Reviewed: Perang Narasi Media Sosial: Menyatukan Perbedaan dengan Islam Wasathiya (Bagian Satu) Rating: 5 Reviewed By: kmamesir