Rabu, 05 Oktober 2022

Spiritualisme yang Dirindukan

Oleh: Muhammad Mutawalli Taqiyuddin*
Sumber Gambar: Lonerwolf
Belakangan ini, era modern terus saja mendapat vonis sebagai masa-masa kemunduran spiritualisme. Berkembang pesatnya teknologi, media informasi dan komunikasi dianggap sebagai penyebab utama dari dekadensi moral, kemunduran spiritualisme serta menjauhnya manusia dari The Great Socius (bermakna 'Tuhan' yang digunakan oleh William James dalam karya terkenalnya, The Varieties of Religious Experience). Dari vonis ini, otomatis menutup fakta bahwa ternyata di balik masyarakat yang materialistis, banyak juga masyarakat yang menganggap bahwa kehidupan modern yang semakin serba cepat dan mudah ini sebagai kehidupan yang hampa dan memuakkan.

Sehingga di zaman yang seperti ini dipenuhi oleh derasnya arus informasi dan dahsyatnya perkembangan teknologi informasi, zaman ini ternyata juga diwarnai arus baru di tengah masyarakat global, yaitu kerinduan pada kesejukan batin dan kedamaian jiwa. Mencari inspirasi dan kebijakan dari filsafat timur dan informasi tentang persoalan inner-self seperti yang dibahas dalam filsafat Stoa menjadi suatu tren belakangan ini.

Budaya Spiritualistik dan Budaya Materialistik


Akhir abad ke-20, telah terbit sebuah buku menarik berjudul "Celestine Prophercy". Di Indonesia buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Gramedia (1997). Isinya berkenaan dengan ditemukannya satu manuskrip abad ke-6 SM di Peru. Manuskrip tersebut bercerita mengenai prediksi terjadinya fenomena pembalikan budaya umat manusia secara besar-besaran pada abad ke-20 dari suatu budaya yang materialistik menjadi budaya yang sangat spiritualistik. Prediksi ini terbukti benar dibuktikan oleh beberapa fakta, di antaranya di Amerika Serikat dan Eropa, karya-karya Jalaluddin Rumi, sufi persia abad ke-13, yang dicetak maupun digital menjadi best-seller. Puisi-puisi Rumi juga ditampilkan di beberapa festival. Satu asumsi menyebutkan bahwa hasrat yang begitu besar terhadap Rumi merupakan wujud keinginan masyarakat Amerika untuk menemukan jati diri serta lifestyle alternatif dari dunia modern yang begitu menjenuhkan.

Bukti lain, menurut Steven Waldman, mantan editor di U.S News & World Report, "God" merupakan salah satu keyword (kata kunci) paling populer pada kebanyakan search engines. Karena alasan itu, seperti yang diberitakan oleh CNN pada 20 Januari 2000, Waldman bersama Robert Nylen, chief executive pada New England Monthly, mendirikan beliefnet.com sebagai sebuah situs yang menyediakan berita, grup diskusi dan features tentang agama-agama dunia.

Ini cukup menjadi bukti bahwa kembalinya masyarakat kepada budaya spiritualistik disebabkan adanya rasa sepi di tengah keberlimpahan materi yang terdapat dalam masyarakat yang telah begitu modern dan maju. Timbul masalah baru, yakni kehampaan yang dirasakan oleh psikis manusia modern. Banyaknya konflik yang terjadi antar keluarga, sahabat dan saudara se-agama se-tanah air juga didominasi karena ambisi kejar-kejaran untuk merebut materi duniawi. Ketika sudah dapat, hal-hal berharga yang selama ini sudah ada di samping kita justru hilang. Hal seperti ini sungguh memuakkan, sehingga banyak orang yang terbuka mata dengan gelapnya budaya materialistik serta cerahnya budaya spiritualistik, penuh dengan kedamaian dan ketenangan.

Maka dari itu, budaya spiritualistik memang budaya yang tepat untuk meraih kebahagiaan serta terjauhkan dari rasa hampa. Istilah iman, ibadah dan akhlak tentu saja bukan istilah yang asing dalam dimensi keagamaan, khususnya Islam.


Ibadah Memang Suatu Kebutuhan


Ibadah bermakna kepatuhan, ketundukan dan perendahan diri. Dalam konteks ini, yang dimaksud adalah perendahan diri dan cinta yang mewujudkan pemahaman; penyembahan hanya pada Allah Swt. Kepatuhan dan cinta, keduanya merupakan dua unsur utama yang menyempurnakan esensi dari ibadah. Jika salah satu unsur ini dihilangkan maka hilanglah esensi hakiki dari ibadah yang dimaksudkan oleh istilah agama. Pasalnya ketundukan terkadang bisa terjadi tanpa ada unsur cinta, bahkan sering ketundukan seseorang itu malah diiringi dengan kemarahan, kebencian dan rasa keterpaksaan. Hubungan ketundukan yang seperti ini jelas tidak bisa dinamakan ibadah. Sebagaimana terkadang cinta dapat terwujud tanpa diiringi ketundukan layaknya cinta kepada teman atau anak. Salah satu unsur ini saja tidak cukup untuk membentuk penghambaan yang semestinya terjalin antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ibnu Taimiyah dalam karyanya "al-'Ubudiyyah fil Islam" mendefinisikan ibadah sebagai "puncak perendahan diri di hadapan Allah Swt. diiringi puncak kecintaan yang maksimal kepada-Nya".

Berbicara mengenai kebutuhan, manusia secara alamiah punya sifat butuh bersandar dan tempat pertolongan, dalam artian tempat bersandar dan harapan pertolongan tersebut lebih superior dari jenis manusia, tak lain adalah yang menciptakan manusia dan segala eksistensi yang ada, yaitu Tuhan. Pencarian sungguh-sungguh manusia tentang "Tuhan" tersebut merupakan kebutuhan yang berkelanjutan dalam rangka pembangunan manusia secara individu, sosial serta peradaban. Manusia tentu saja tidak bisa bergantung sepenuhnya pada realitas materialis yang sifatnya terbatas, karena sejak awal memang bukan tempat bergantung. Ini yang membuat hati manusia lahir rasa rindu yang amat mendalam, rindu pada pencipta-Nya, yaitu Allah Swt.

Kerinduan manusia kepada pencipta-Nya tidak dapat terpuaskan hanya dengan ragam filsafat materialis ataupun aliran paganisme (penyembahan berhala), semua itu adalah tali ikatan dan penghalang yang justru menambah keraguannya, memberatkan jarak pandangnya, fitrahnya dan mengakhiri garis kehidupannya.

"Janganlah kamu adakan tuhan yang lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak meninggalkan (Allah)." (QS. Al-Isra' [17]: 22)

Maka obat dari kerinduan ini yang paling dasar adalah "iman kepada Allah" sebagai kebenaran tunggal yang mustahil salah. Iman merupakan sumber dasar serta tunggal yang dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan pada manusia sehingga keimanan pada Allah menjadi kebutuhan primer bagi manusia yang memang sejak awal itu merupakan fitrah manusia, yakni percaya dan butuh pada Tuhan.

Peran ibadah di sini sebagai bentuk ekspresi praktis dari naluri keimanan. Ia adalah bekal abadi yang akan terus menjaga vitalitas dan efektivitas iman, ia juga merupakan bentuk preventif bagi seorang yang beriman supaya tidak menjauh dari Allah dan terperosok dalam dimensi materialistis, serta kekal dalam kekangan kecemasan yang begitu menghantui. Tak sampai di situ saja bagian terpentingnya, bentuk-bentuk ibadah tersebut juga dapat membersihkan beragam kotoran jiwa, mengobati penyakit hati serta penyimpangan-penyimpangan dari jalan Tuhan. Di samping itu, ia merupakan bagian dari keseimbangan yang dapat meluruskan seseorang dalam kehidupannya antara batas akhir dan ketiadaan batas akhir, antara yang terbatas dan yang mutlak, antara tuntunan hidup terbatas yang mudah lenyap kapan saja dan tuntunan kehidupan yang kekal abadi.

Taat dan Bermoral sebagai Kesatuan Spiritualistik


Seorang muslim tak bisa disebut sebagai hamba taat jika tak bermoral, juga tak bisa disebut sebagai hamba yang saleh dan berakhlakul karimah jika tidak taat pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Taat dan bermoral merupakan satu kesatuan untuk menjadi orang yang spiritualis, bukan materialistis yang hanya percaya pada sesuatu yang kasat mata.

Maka dalam beragama, hakikatnya bentuk-bentuk ritual saja tidak cukup untuk mewujudkan individu yang beragama dengan baik, pendidikan punya peran yang sangat besar dan terpenting agar seorang muslim ideal mengetahui bagaimana semestinya berkeyakinan, berperilaku serta bermoral sesuai dengan ajaran nilai-nilai agama yang benar. Mampu melindungi diri dari tuduhan-tuduhan dan doktrin sesat dengan modal ilmu agama yang dipelajari dari sumber otentik dan dengan metode yang benar.[]

Referensi Utama:
- Bagir P,hD., Haidar, 2005, Buku Saku Tasawuf, Bandung: Penerbit Arasy PT Mizan Pustaka.
- Al-Thayyib, Prof. Dr. Ahmad Muhammad, 2017, Pilar-Pilar Islam (Judul Asli: Muqawwimat Al-Islam), Cairo: Al-Azhar Center for Translation (ACT).

*Penulis merupakan alumni S1 Fakultas Ushuluddin, Jurusan Akidah dan Filsafat, Universitas Al-Azhar - Kairo.
Editor: Syafri Al Hafidzullah
Badan Takaful Aceh


Tidak ada komentar:

Item Reviewed: Spiritualisme yang Dirindukan Rating: 5 Reviewed By: kmamesir