Problematika yang Diatasi Tahajud

Oleh: Cut Intan Amalia Fittry*
 
Sumber: Pixabay.com
 
 
Problematika Sosial dan Solusi Medis

Semakin berkembang teknologi, semakin besar pula dampak atau pengaruhnya dalam kehidupan manusia. Tentulah berkembang juga perspektif kita terhadap kemajuan itu sendiri, jika kita mengamati setiap peristiwa dengan seksama. Dunia modern ini telah maju dalam segala hal kecuali kesehatan mental. Mengapa demikan? Ada apa dengan kesehatan mental? Bukankah sebagian besar orang yang sekilas terlihat baik-baik saja.

Problematika atau masalah orang dewasa bukanlah hanya sebatas keinginan yang tidak terwujud tapi sudah mecapai kebutuhan yang wajib dipenuhi sendiri dan masih banyak lagi. Tentu stigma masyarakat semacam ‘kita harus terlihat baik-baik saja’ memang kerap diamini dalam kehidupan sosial. Di mana orang dewasa dituntun untuk menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki masalah apapun bahkan harus membiasakan diri untuk tenang dalam berbagai keadaan.

Jika seseorang mulai tumbuh dewasa dan mengharuskannya untuk santai dan tenang dalam menghadapi masalah, maka timbul pertanyaan, apakah tenang itu kondisi yang bisa timbul dari kebiasaan? Ataukah tenang merupakan pembawaan diri? Bagaimana dengan perkembangan kesehatan mental yang sering disembunyikan dibalik pelarian dari masalah yang kerap dialami dimasa sekarang? Maka dari itu kita akan membahas sejumlah problematika dan solusi yang ditawarkan dari berbagai aspek.

Dalam sebuah studi di Amerika Serikat yang meneliti tentang kesehatan mental, Dr. Josh Packard menyatakan bahwa Ia telah melakukan survei pada 3.000 siswa tentang kesehatan mental mereka. Hasilnya, 55% siswa pernah mengalami trauma. Sementara 49 persen mengatakan mereka telah berbicara dengan profesional kesehatan mental seperti terapis, konselor atau psikolog dalam tiga bulan terakhir1. Angka yang relatif tinggi untuk suatu kondisi gangguan kesehatan mental secara umum. Menjadi sesuatu yang lumrah, jika banyak siswa yang stress akibat tugas akademik. Namun, tak jarang juga siswa yang tertekan akibat masalah keluarga dan pergaulan dengan teman-temannya. 
 
Baca Juga: Meningkatkan Kepekaan Masisir dalam Mengatur Pola Hidup Sehat

Gangguan kesehatan fisik sekalipun erat kaitannya dengan kesehatan mental. Tentu saja ini tak banyak disadari oleh mayoritas orang. Dilansir dari WebMD, kebanyakan orang menyangka penyebab sakit mag terjadi hanyalah akibat penderitanya jarang makan atau makan tidak teratur saja, padahal di antara penyebabnya adalah terjadi stres yang serius dan kurang bergerak. Masih banyak lagi penyakit berat lainnya yang berasal dari keadaan mental yang tertekan.

Belum lagi perkara media sosial yang juga menjadi salah satu pemicu terjadinya stres dan tekanan mental. Banyak dari public figure sampai masyarakat biasa, kerap menuai komentar negatif dari kalangan yang masih kurang edukasi, baik dari segi ilmu ataupun etika. Tatanan dalam bersosial memang telah diatur dalam sejumlah peraturan undang-undang bahkan agama. Namun, tak dapat dipungkiri di dalam media sosial peraturan itu kerap diabaikan.

Berbeda dengan zaman dulu yang kehidupan seseorang tidak bisa diakses oleh orang lain, zaman sekarang justru kehidupan pribadi bisa diakses oleh siapapun yang memiliki akun media sosial. Seseorang bisa saja melihat fase kehidupan orang lain yang memperlihatkan kebahagiaannya tanpa menunjukkan protet masalah dan kesedihan yang dialami.

Akhirnya muncul berbagai macam tren yang diikuti oleh setiap kalangan yang juga ingin cepat merasakan fase bahagia. Tanpa disadari, mereka melupakan peninjauan terhadap diri mereka sendiri apakah sudah layak berada di fase tersebut atau belum. Misalkan seseorang yang memaksakan diri untuk mengajar dan memilih satu profesi pekerjaan yang ia belum mumpuni di bidang tersebut, justru akan menimbulkan kekacauan. Kejadian lainnya, seperti seseorang yang ingin cepat menikah padahal belum memiliki pemikiran yang matang dan persiapan dari segi ilmu, mental dan finansial. Dampak yang akan terjadi bukan hanya kekacauan bagi kesehatan mental dirinya saja, bahkan juga kekacauan tersebut akan terjadi pada pasangan dan anaknya.

Bukti lapangan kembali mengulik peristiwa ditahun 2022, seorang ibu tega menganiaya tiga anak kandungnya. Bahkan membunuh salah seorang anak yang berumur tujuh tahun dengan menggorok lehernya. Ibu ini divonis memiliki gangguan mental yang diderita selama enam bulan. Kepribadiannya yang cenderung tertutup ditambah lagi sudah setengah tahun menghindari diri dari sosial masyarsakat. Sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan tersebut tanpa disadari masyarakat setempat.

Perasaan frustrasi dan keputusasaan ini memang akan mencapai puncaknya, jika seseorang tidak tahu cara yang tepat untuk menanganinya. Seseorang memang diberi kemampuan untuk bisa menghadapi masalahnhya sendiri, tapi untuk masalah yang sudah melibatkan kesehatan mental, tidak ada salahnya meminta bantuan atau solusi dari ahli kesehatan. 
 
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Ahli Hadis dari Mesir; Syekh Muhaddist Prof. Dr. Ahmad Ma’bid Abdul Karim Al-Azhariy

Di saat seseorang tertekan, salah satu solusi di masa sekarang ini adalah pergi ke psikiater untuk berkonsultasi. Namun, kita tidak bisa menutup mata dari fakta lingkungan bahwa sebagian besar dari masyarakat Indonesia merasa malu untuk datang dan berobat ke psikiater. Stigma sosial ini, masih sangat melekat karena mereka menganggap gangguan mental dan kejiwaan adalah sesuatu yang memalukan. Tidak sedikit juga orang yang menyepelekan gangguan mental karena tidak bisa dilihat seperti penyakit fisik.

Menanggapi kasus tersebut, seorang psikolog dari aplikasi konseling online Riliv, Della Nova Nusantara, M. Psi. mengatakan, “Gangguan kesehatan mental itu bukanlah hal yang tabu, bukan pula aib. Sama seperti saat fisik kita sedang terluka dan lelah. Kadang butuh istirahat atau olahraga. Begitu juga dengan kesehatan mental, diperlukan treatment yang tepat untuk menjaga kesehatannya.” Meski stigma tersebut sudah berkurang di kalangan milenial dan Gen Z. Namun, stigma sosial masih dapat ditemukan karena melepaskan pemikiran kolektif yang tertenam sejak lama bukanlah hal yang mudah.

Sejumlah solusi pengobatan mandiri pun ditawarkan, seperti berohlaraga rutin agar dapat memicu timbulnya hormon endorfin, melakukan meditasi, hipnoterapi dan dibersamai dengan lingkungan atau kerabat yang suportif serta teman yang bisa menjadi pendengar yang baik. 

Tahajud sebagai solusi utama

Setelah membahas berbagai problematika yang ditawarkan dunia medis dan kesehatan. Tiba saatnya membahas solusi yang tidak kalah ampuh untuk mengatasi persoalan kesehatan mental yaitu melaksanakan salat tahajud. Tahajud berasal dari kata tahajjada yang berpadanan kata istaiqazha, yang berarti terjaga, sengaja bangun, atau sengaja tidak tidur.

Solusi yang diberikan dalam agama islam memiliki banyak keistimewaan dalam berbagai sisi. Dari segi penentuan waktu pelaksanaannya saja sudah opsional dan tepat untuk pemulihan kondisi jiwa, yaitu disepertiga malam dalam keadaan seseorang baru terbangun dari tidur.

Kondisi seseorang yang baru bangun dari tidur pun secara riset ampuh menghasilkan perasaan santai dan tidak menghasilkan banyak informasi, karena otak beralih dari gelombang theta (tidur nyenyak) menuju gelombang alfa (saat terjaga) dalam keadaan yang peuh relaksasi.

Waktu di sepertiga malam yang paling utama adalah antara pukul satu sampai memasuki subuh. Waktu ini memiliki kelebihan tersendiri yaitu dapat meningkatkan kesehatan jantung dan bagus bagi otak, karena otak manusia akan melepaskan serotonin, beta endorsin dan melatonin. Lepasnya ketiga hormon tersebut membuat seseorang lebih tenang sampai homeostasis terbangun. Jika homeostasis terganggu orang tersebut akan mengalami pusing dan hipertensi.

Selain itu, untuk pencegahan gangguan mental dan stres, menggunakan waktu sepertiga malam ini untuk melaksankan tahajud juga akan menurunkan kortisol sehingga seseorang bisa menjadi lebih tenang dan tidak tertekan dengan segala masalah yang dapat mengganggu kesehatan mental. Penjelasan tentang Hormon kortisol ini saya bahas secara detail di dalam buku saya ‘Jiwa Milenial’. Di sini akan saya terakan penjelasan singkatnya.

Hormon kortisol juga disebut sebagai hormon stres. Hormon kortisol sangat penting karena dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah (Guyton, 2007). Kortisol berperan kunci dalam adaptasi terhadap stres. Segala jenis stres merupakan rangsangan utama bagi peningkatan sekresi kortisol (Sherwood, 2011). Kadar hormon kortisol mulai meningkat pada 2-3 jam setelah dimulainya tidur dan terus meningkat hingga subuh dan waktu bangun di pagi hari.

Salat tahajud dapat menurunkan jumlah hormon kortisol yang meningkat pada saat tidur, menjadi seimbang Sehingga dapat mengurangi tingkat stres seseorang dan menstabilkan sistem imun dalam tubuh (Sholeh, 2003). Seseorang memiliki imun yang kuat sehingga tubuhnya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Sebuah penelitian membuktikan bahwa ketenangan jiwa dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung, meningkatkan usia harapan (Mc Leland, 1998: 44). Sedangkan stres menyebabkan rentan terhadap infeksi, dapat mempercepat perkembangan sel kanker, dan meningkatkan metastasis.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hari (2011) dalam karya tulis ilmiahnya. Ia melakukan penelitian terhadap 20 orang mahasiswa. Didapatkan bahwa salat tahajud yang dilakukan secara benar memiliki peranan dalam menghadapi stress berupa ketenangan yang memberikan manfaat lain pada mahasiswa seperti meningkatkan konsentrasi dan lain halnya. Kemudian dari hasil penelitian juga dapat dilihat bahwa 12 orang (60%) dari 20 orang partisipan yang melakukan salat tahajud tidak mengalami stres. Stressor bagi mahasiswa bisa bersumber dari kehidupan akademiknya, terutama tuntutan dari eksternal dan tuntutan dari harapannya sendiri.

Salah satu faktor yang ikut menentukan bagaimana stres bisa dikendalikan dan diatasi secara efektif adalah strategi coping yang digunakan individu (Ashel, & Delany, 2001). Coping adalah cara sadar individu untuk mengelola situasi yang menekan atau intensitas kejadian yang di tanggapi sebagai situasi yang menekan (Lazarus, & Folkman, 1984). Jika individu berhasil secara efektif mengendalikan situasi yang dinilai menekan, maka dampak negatif dari stres bisa di kurangi secara maksimal. Tindakan coping bisa dilakukan dengan salat. Salat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena salat adalah perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan semesta alam.

Salat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat orang yang salat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience). Salat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat 5 unsur di dalamnya. Yaitu, meditasi atau do’a yang teratur, relaksasi melalui gerakkan-gerakkan salat, hetero atau auto sugesti dalam bacaan salat, group therapy dalam salat berjama’ah, atau bahkan dalam salat sendirian pun minimal ada orang yang salat. Dan hydro terapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat (Wibisono, 2002).

Tahajud menjadi pilihan dalam mengendalikan tekanan-tekanan yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peran salat tahajud dalam mengatasi stres. Dilihat dari teori faktor motivasi dan niat yang ikhlas menjadi salah satu faktor kualitas dari shalat tahajud sehingga menimbulkan efek yang baik terhadap kondisi tubuh. Penyelenggaraan salat tahajud secara ikhlas mampu menurunkan respon sekresi kortisol dan meningkatkan perubahan respons ketahanan tubuh imunologi.

Teori ini dapat mendukung hasil dari penelitian yang mendapatkan bahwa niat ikhlas menjadi salah satu faktor utama untuk mencapai kadar ketenangan yang maksimal. Kemudian, rutinitas dan dengan cara yang tepat, jelas memberikan manfaat yang nyata baik untuk kondisi fisik maupun psikologis. Efek dari keteraturan ini menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan hormon di dalam tubuh sehingga tercapai sebuah keseimbangan.

Hasil sebuah penelitian menjelaskan salat tahajud yang dijalankan dengan memenuhi syarat dapat menumbuhkan respon emosional positif. Dari emosional positif tersebutlah terciptanya ketenangan dalam menghadapi seluruh problematika. Jadi berdasarkan penjelasan ilmiah dari solusi agama Islam, sangat jelas sekali bahwa ketenangan itu bisa dibentuk dari kebiasaan melaksanakan tahajud secara rutin dengan niat yang ikhlas karena Allah Swt. Wallahu’alam.[]
 
 
 
*Penulis merupakan mahasiswi universitas Al-Azhar, Fakultas Syariah Islamiah. 
 
Editor: Asyraf Abdullah 

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top