Menggapai Mimpi dengan Tabungan : Dinamika Idealisme dan Realisme Finansial Mahasiswa Indonesia di Mesir

Oleh : Muhammad Zhilaal*
Dok. Pribadi
Sebagaimana yang kita tahu, bahwasanya mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Mesir, sering kali dihadapkan pada pertarungan antara idealisme yang membara dengan realitas finansial sebagai tuntutannya. Mimpi besar menghiasi pikiran kita, akan tetapi kenyataan keuangan sering kali menjadi penghalang yang tak mudah untuk diatasi.

Idealisme membangkitkan semangat kita, mendorong kita untuk mengejar impian dan tujuan besar, layaknya harapan orang tua kita. Ketika kita memijakkan kaki kita di “Negeri Kinanah” ini, diri kita dipenuhi dengan harapan untuk membawa perubahan, memperjuangkan cita - cita mulia, memperoleh ilmu juga keberkahan para ulama, dan mencapai prestasi yang gemilang, serta bukan pulang hanya dengan LC, namun siap untuk berdakwah di sana-sini, mau itu secara langsung ataupun tidak langsung. Namun, biaya hidup di luar negeri, termasuk di Mesir sendiri, menempatkan tantangan finansial yang nyata di depan kita.

Dinamika antara idealisme dan realisme finansial menjadi jelas ketika kita menyadari bahwa biaya kebutuhan sehari-hari itu menuntut pengeluaran yang signifikan. Terkadang, kita terjebak dalam dilema antara mengejar impian dan menjaga stabilitas keuangan pribadi. Sebagaimana yang kita tahu bersama, bahwasanya Mesir ini telah lama mengalami permasalahan keuangan yang dikenal sebagai “Inflasi”. Inflasi sendiri adalah peningkatan umum dan terus - menerus dalam harga barang dan jasa di suatu Negara selama periode waktu tertentu. Hal ini menyebabkan penurunan daya beli uang, artinya uang akan membeli lebih sedikit barang dan jasa daripada sebelumnya.

Mesir telah menghadapi tantangan inflasi dalam beberapa tahun terakhir. Faktor - faktor yang menyebabkan ancaman inflasi di negara Mesir ini meliputi:

1) Pemotongan subsidi energi; pemerintah Mesir telah mengurangi subsidi energi sebagai bagian dari upaya reformasi ekonomi. Pemotongan ini menyebabkan lonjakan harga bahan bakar dan listrik, yang secara langsung berdampak pada biaya produksi dan biaya hidup masyarakat.

2) Ketergantungan pada impor; Mesir mengimpor banyak barang konsumsi dan bahan baku, termasuk makanan dan minyak. Fluktuasi harga di pasar internasional dapat langsung mempengaruhi tingkat inflasi di Mesir, terutama jika kurs mata uang lokal melemah terhadap mata uang asing.

3) Ketidakstabilan politik dan sosial; gangguan politik dan ketidakstabilan sosial, seperti perubahan pemerintahan dan ketegangan politik, dapat menciptakan ketidakpastian ekonomi yang meningkatkan risiko inflasi. 

4) Kebijakan moneter dan fisikal yang tidak konsisten; ketidakstabilan kebijakan moneter dan fisikal dapat memperburuk inflasi. Misalnya, percetakan uang berlebihan untuk membiayai defisit anggaran atau membiarkan hutang publik yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi.

5) Inefisiensi dalam distribusi dan logistik; masalah dalam distribusi dan logistik dapat menyebabkan kelangkaan barang dan peningkatan harga, khususnya di daerah-daerah yang terpencil atau sulit dijangkau.

Dikutip dari republika.co.id, kasus inflasi di Mesir sendiri semakin memburuk setelah tingkat inflasinya mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, yaitu di angka 40,3% tepatnya pada bulan Mei 2023, yang mana pada bulan April sebelumnya tingkat inflasinya masih berada di angka 38,6%. Sehingga menurut data yang dilansir dari id.tradingeconomics.com, tingkat inflasi di Mesir menyentuh angka 35,70% untuk persentasenya dari tahun 1958-2024 ini. Maka mulai saat ini, kita harus memikirkan cara efektif untuk mengurangi, mencegah, bahkan menghilangkan problem itu. Karena hal tersebut dapat memberi dampak yang sangat besar bagi seluruh masisir yang ada di sini.

Namun, di tengah tantangan itu, ada celah bagi kita untuk menggapai mimpi dengan tabungan cerdas dan terstruktur. Meskipun mungkin terdengar sulit, akan tetapi membangun tabungan dan mengelola keuangan dengan baik adalah langkah yang sangat penting untuk mewujudkan impian jangka panjang kita. Karena, pastinya solusi ini membutuhkan yang namanya komitmen, disiplin, dan kesadaran akan pentingnya mengatur keuangan secara bijaksana.


Bagaimana caranya? Yang pertama sekali, pastinya kita perlu membuat anggaran yang realistis dan detail serta mengikuti rencana pengeluaran yang telah terencana dengan cermat. Mengetahui ke mana uang kita pergi adalah langkah paling awal untuk mengontrol aliran pengeluaran keuangan kita. Maka dalam langkah yang pertama ini, kita dituntut untuk tidak malas dalam mendata keuangan kita, baik itu dalam hal pemasukan maupun pengeluaran. Jika kita pikir kembali, rasa malas inilah yang telah menyelimuti jiwa para masisir yang ada di sini. Seperti yang kita tahu, Mesir adalah negeri yang dipenuhi dengan jutaan keberkahan.

Mesir juga memiliki tanah yang mulia. Namun, keberkahan tempat dan kemuliaan tanahnya itu tak dapat mengubah jati diri kita. Maka dari itu ابدأ بنفسي (ibda’ binafsi), mulailah dari diri sendiri, demi menuju impian yang selama ini menjadi harapan orang tua kita. Jika kita berusaha untuk menolak rasa malas yang mengganggu diri kita, maka hendaknya konsisten adalah metode yang paling tepat dalam mewujudkannya. Konsistensi dan keistikamahan adalah kunci utama dalam menghilangkan sifat malas yang melanda para pemuda generasi penerus bangsa. Salah seorang ilmuwan Muslim, Imam Al Ghazali pernah berkata: “Setiap langkah konsisten adalah investasi untuk masa depan yang lebih baik. Teruslah bergerak maju tanpa ada rasa keraguan sedikit pun.” 

Adapun langkah yang kedua, hendaklah kita mencari peluang penghasilan tambahan agar dapat membantu mengurangi beban keuangan kita. Dengan cara apa? Salah satunya yaitu dengan mengajukan permohonan ataupun mendaftarkan diri untuk beasiswa-beasiswa yang diadakan oleh pemerintah Indonesia ataupun pihak Al Azhar sendiri, maupun pihak lain yang secara resmi aman untuk kita sebagai masisir. Tentunya tiap-tiap beasiswa memiliki persyaratan khusus agar dapat menerima beasiswa tersebut. 

Macam-macam beasiswa ini ada yang dibuka ketika kita mendaftar sebagai mahasiswa Al Azhar. Sebagai contoh yaitu beasiswa Kemenag yang dibuka tiap tahunnya. Pihak Kemenag tiap tahunnya menyediakan beasiswa penuh dalam pemberangkatan bagi 20 orang calon mahasiswa Al Azhar yang meraih nilai tertinggi saat seleksi pendaftaran calon mahasiswa Al Azhar. Ada juga beasiswa yang disediakan bagi para masisir yang telah menjalani kuliahnya di Al Azhar dan universitas-universitas lainnya. 

Sebagai contoh yaitu beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang diselenggarakan di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Dengan salah satu syaratnya adalah kita dituntut untuk kembali ke Indonesia untuk mengabdi dan mengajar di tanah air sepulang kita dari Mesir setelah menyelesaikan pendidikan kuliah sarjana maupun pascasarjana. Hal ini sekaligus dapat memberi nilai positif bagi kita yaitu dengan berbagi dan menyebarkan ilmu yang telah kita pelajari dan telah kita kaji di “Negeri Kinanah” ini. 

Langkah ketiga, adalah langkah opsional, yaitu dengan belajar untuk berinvestasi dengan bijaksana, meskipun dalam skala kecil, dengan tujuan untuk mempersiapkan masa depan finansial kita. Namun tetap, pendidikan dan pembelajaran adalah prioritas kita di sini sebagai masisir. Jangan sampai investasi kecil-kecilan itu dapat mengganggu waktu belajar kita sebagai mahasiswa Al Azhar, mau itu hadir muhadharah di jami’ah ataupun dars serta talaqqi di madhyafah-madhyafah yang bertebaran di “Tanah Para Anbiya” ini. 

Langkah keempat, yang mana langkah ini merupakan langkah utama dan langkah inti menurut saya, sebagai pengurangan bahkan pencegahan problematika inflasi yang ada di Mesir ini. Yaitu menyimpan sebagian dari pendapatan atau uang kita secara teratur, untuk keperluan masa depan, masa yang akan datang, alias menabung. Menurut saya langkah ini adalah langkah yang sangat efektif untuk menjaga saldo uang kita sembari hidup dalam perantauan di negeri orang ini. Meskipun terdengar mudah, namun nyatanya menabung tak semudah itu. Kita harus konsisten untuk menyisihkan uang kita per harinya. 

Yang pertama sekali, kita harus memerhatikan tujuan penetapan finansial kita, apakah itu untuk pendidikan yang lebih tinggi nantinya, atau untuk pekerjaan lain yang butuh pengeluaran yang banyak, ataupun untuk liburan, ataupun untuk berkeluarga. Semua kembali ke diri masing-masing. 

Yang kedua, kita harus konsisten dalam menabung; yaitu dengan cara menentukan jumlah yang sesuai yang dikeluarkan untuk menabung, dan tentunya harus konsisten dan berkesinambungan. 

Yang ketiga, harus ada peningkatan dalam menabung secara bertahap, hal ini dianjurkan agar efek yang didapat juga terasa besar nantinya, ditambah lagi kita juga tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Bisa jadi dengan adanya tabungan itu, bisa kita jadikan dan kita alokasikan sebagai dana darurat untuk hal - hal yang tak bisa kita duga. Maka dari itu menabung itu tak bisa kita anggap suatu hal yang mudah. Bahkan orang-orang ternama dan orang sukses di dunia ini pun berawal dari “menabung”.

Ada salah satu potongan mahfuzhat yang berbunyi :

الحفاظ على الآتي يكون بالاستعداد الحاضر

Menjaga masa depan dilakukan dengan mempersiapkan diri dengan baik di masa sekarang.

Dalam melangkah menuju mimpi dengan tabungan, penting untuk diingat bahwasanya idealisme dan realisme finansial bukanlah konsep yang bertentangan. Sungguh, idealisme memotivasi kita untuk bermimpi lebih tinggi dan mencapai tujuan yang lebih besar. Sementara, realisme finansial memberikan landasan yang kokoh untuk menjaga keseimbangan keuangan dan mewujudkan mimpi-mimpi itu secara bertahap. Salah seorang intelektual dan pemimpin Muslim, BJ Habibi pernah berkata: “Jangan takut untuk bermimpi besar. Mimpi besar adalah langkah pertama menuju pencapaian besar.”

Maka dari itu, sebagai mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir, marilah kita memandang idealisme dan realisme finansial sebagai teman sejati dalam perjalanan menuju masa depan kita masing-masing. Dengan tekad yang kuat, kesadaran finansial yang bijaksana, dan impian yang menginspirasi, kita bisa menggapai mimpi dengan tabungan, meraih prestasi gemilang, dan membawa perubahan yang sesungguhnya ketika kembali dari “Negeri Kinanah” ini.

Referensi

Nur Fariha, Afin. 2023. B.J. Habibie : From Zero to Hero, Inspirasi dan Perjuangan. Yogyakarta. PT. Anak Hebat Indonesia.
Pustaka, Tim Turos. 2018. MAHFUZHAT. Jakarta Selatan. PT. Khazanah Pustaka Islam.
Novikasari, Mifta. 2024. Hidup Sehat Bukan Sekadar Gaya. Jakarta. PT. Gramedia.

*Penulis merupakan Juara 2 Lomba Opini HUT Setengah Abad KMA Mesir.

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top