Oleh: Ikmalul Hadi*
 |
| (Dok.Pribadi) |
Sore itu, Suara selawat menggema lembut dari ruang utama Meuligoe Aceh, Hayy Tasi’, Madinat Nasr. Di tengah hiruk pikuk Kairo, puluhan mahasiswa asal Aceh berkumpul dengan wajah penuh rindu. Bukan rindu pada tanah kelahiran semata, tetapi rindu kepada sosok agung yang menjadi cahaya kehidupan, Rasulullah Muhammad SAW.
Ahad, 5 Oktober 2025, menjadi hari yang istimewa bagi Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir. Di bawah tema “Uroe Lahee Baginda Nabi Ta Peumulia, Ta Meusapat Sabe Bak Meuligoe KMA”, mereka memperingati Maulid Nabi dengan cara yang khas: penuh khidmat, sederhana, namun menggetarkan hati.
Acara dibuka dengan lantunan Dalail Khairat oleh tim khusus KMA yang menghadirkan suasana spiritual penuh ketenangan. Setiap bait yang dilantunkan seolah menembus hati para hadirin, membawa mereka larut dalam zikir dan cinta kepada Rasulullah SAW. Setelah itu, Departemen Pendidikan KMA memimpin prosesi takrim mutafawwiqin dan mutakharrijin; sebagai bentuk penghargaan kepada mahasiswa berprestasi dan wisudawan Universitas Al-Azhar asal Aceh. Sorak kecil dan tepuk tangan hangat terdengar, menjadi bukti bahwa semangat belajar dan berprestasi tetap hidup di tanah perantauan.
Dalam sambutannya, ketua panitia Tgk. Amrul Faizal menyampaikan rasa syukur atas kebersamaan yang terjalin. Ia berharap peringatan Maulid ini bukan hanya menjadi acara tahunan, tetapi juga momentum mempererat ukhuwah dan meneladani akhlak Rasulullah SAW. Sementara itu, ketua KMA Mesir Tgk. Muzakki Adnan, Lc., menyampaikan bahwa sebagaimana tradisi masyarakat Aceh yang sangat antusias dalam merayakan Maulid Nabi, warga Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir juga turut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H dengan penuh semangat. Ia berharap melalui peringatan maulid ini dapat menumbuhkan kecintaan yang lebih mendalam kepada Rasulullah SAW, serta mempererat tali persaudaraan di antara sesama mahasiswa Aceh yang berada di Mesir.
Baca juga: Merayakan Cinta, Merawat Tradisi: Kisah Maulid Nabi dari Masa ke Masa
Pada sesi berikutnya, Tgk. Ali Akbar Al-Fata, Lc., Dipl., menyampaikan ceramah yang sarat makna. Dalam tausiahnya, ia mengajak para mahasiswa meneladani Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang membangun peradaban dengan akhlak dan kasih sayang. “Pemimpin sejati bukan hanya cerdas, tapi juga amanah. Nabi membentuk sahabat-sahabatnya menjadi pemimpin yang melayani, bukan dilayani,” tuturnya. Ia juga menyinggung realitas masa kini bagaimana banyak partai politik gagal mencetak pemimpin berintegritas karena lemahnya kaderisasi. “Kekuasaan bisa merusak, kecuali di tangan orang beriman dan jujur,” tambahnya mengutip pepatah terkenal: “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.”
 |
(Penyampaian ceramah oleh Tgk. Ali Akbar Al-Fata, Lc., Dipl.)
|
Menjelang waktu Salat Magrib, suasana baru menyelimuti ruangan. Ketika nama Syekh Abdul Fattah Al-‘Iwari disebut, seluruh jamaah berdiri serentak melantunkan syair “Ṭalāʿal-Badru ʿAlaynā.” Cahaya senja menembus jendela Meuligoe Aceh, berpadu dengan suara selawat yang melambung indah. Semua mata tertuju pada sosok ulama karismatik tersebut, mantan Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, mufasir, dan orator ternama.
Syekh Al-‘Iwari berbicara lembut, namun penuh wibawa. Dalam tausiahnya, beliau menekankan pentingnya tiga hal bagi para penuntut ilmu: takwa kepada Allah SWT, menghormati guru, dan menjaga waktu. “Ilmu tidak akan didapat tanpa kesungguhan. Dan ilmu sejati adalah yang diamalkan,” pesannya, menembus hati para mahasiswa yang mendengarkan dengan khusyuk.
Usai acara, panitia menyerahkan cendera mata kepada Syekh Al-‘Iwari sebagai tanda hormat dan terima kasih. Setelah sesi foto bersama, suasana menjadi lebih hangat ketika semua berkumpul menikmati hidangan khas Aceh: sie beulangong, nasi kotak, dan aneka menu Nusantara. Aroma rempah dan tawa akrab menjadi penutup sempurna malam itu. Di tanah perantauan, kehangatan seperti ini lebih dari sekadar acara, bahkan juga menjadi pengikat rindu dan penguat semangat.
Bagi warga KMA Mesir, Maulid Nabi bukan hanya peringatan kelahiran Rasul, tetapi juga momen untuk menghidupkan cinta dan nilai-nilai yang diwariskan dari Aceh. Di tengah hiruk pikuk Kairo, mereka tetap menjaga warisan spiritual dan budaya yang tak lekang oleh waktu. Di Meuligoe Aceh malam itu, cinta kepada Rasulullah SAW benar-benar terasa hidup. Di setiap selawat yang terucap, di setiap tawa yang hangat, dan di setiap rindu yang tersimpan, mereka seolah berkata dalam hati: “Kami jauh dari tanah, tapi dekat dengan cinta kepada Nabi.”
*Penulis merupakan mahasiswa tingkat IV Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist, Universitas Al-Azhar, Kairo
Editor: Abkarul Aufa
Posting Komentar