Putroe Aceh Asal Pidie Raih Gelar Magister dengan Predikat Cum Laude di Universitas Al-Azhar, Mesir
Oleh: Zarvia Li'aunillah*
![]() |
| Sumber: (Dok. Pribadi) |
Sidang itu bukan sekadar ujian akademik, melainkan puncak dari perjalanan panjang penuh doa dan pengorbanan. Tesis yang mengangkat judul:
"كِتَابُ «حَيَاةِ الصَّحَابَةِ» للكَانْدَهْلَوِي (ت 1384 هـ)، إِبْتِدَاءً بِزُهْدِ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الجَرَاحِ (بَابُ إِنْفَاقِ الصَّحَابَةِ) وَانْتِهَاءً بِاسْتِنْقَاظِ المُسْلِمِ مِنْ أَيْدِي الكُفَّارِ (بَابُ خُرُوْجِ الصَّحَابَةِ عَنِ الشَّهَوَاتِ) (تخريج ودراسة)"
berupa kajian takhrij hadis dan studi sanad dari karya monumental, yaitu Kitab Hayat al-Sahabah karya Al-Kandahlawi (w.1384 H), menyingkap kisah-kisah zuhud, infaq, hingga pengorbanan sahabat Nabi dalam membebaskan kaum muslimin dari penindasan. Sebuah kajian studi yang menuntut ketekunan, kecermatan, dan kesabaran layaknya menenun benang-benang cahaya dari warisan para sahabat.
Dalam perjalanan ilmiahnya, Tgk. Ernita tidak berjalan sendiri. Ia didampingi oleh para guru besar yang menjadi cahaya penuntun:
•Prof. Dr. Raja’ Musstafa Huzain Abu Zaid (Pembimbing utama)
•Prof. Dr. Nadya Muhammad Shabir Abd al-Lathif (Pembimbing pendamping)
•Prof. Dr. Usamah al-Sayyid Mahmud Muhammad al-Azhari (Penguji eksternal)
•Prof. Dr. Suad Mahmud Abd al-Qadir Husain (Penguji internal)
Nama-nama itu bukan sekadar gelar akademik, melainkan lentera yang menuntun langkahnya, membimbing dengan ilmu, dan menguatkan dengan nasihat. Sidang tersebut menjadi saksi atas keteguhan seorang perempuan yang sejak awal menjejakkan kaki di Mesir telah bertekad menjadikan ilmu sebagai pelita hidup.
![]() |
| (Sumber: Dok. Pribadi) |
Sejak kecil, Ernita sudah menapaki jalan ilmu dengan penuh kesungguhan. Ia menempuh pendidikan dasar di SDN 2 Mila, Pidie. Lalu melanjutkan ke MTs Babun Najah, Banda Aceh. Dan menamatkan pendidikan menengah di MAS Babun Najah, Banda Aceh.
Bagi banyak mahasiswi Aceh, Ernita bukan sekadar senior, ia adalah cahaya yang memberi arah, seorang kakak yang produktif, yang selalu hadir dengan teladan. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di Kairo, ia menapaki jalan panjang penuh tantangan, tapi tetap teguh dengan niat dan semangatnya.
Dalam rasa syukurnya, Ernita menuturkan bahwa keberhasilan ini adalah karunia Allah Swt. Ia menyampaikan terima kasih mendalam kepada keluarga besar Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA). Baginya KMA adalah sebuah keluarga serta rumah tempat ukhuwah dipupuk, karakter ditempa, dan tanggung jawab ditanamkan. Dari keputrian, Majlis Syura, hingga ruang kelas kecil tempat ia mengajar adik-adik KMA, semua amanah itu menjadi batu bata yang menyusun bangunan kedewasaan dan keilmuan.
Ia sadar, pencapaian ini bukanlah hasil usaha pribadi semata. Doa orang tua, dukungan sahabat, serta kebersamaan keluarga besar KMA adalah mata air yang mengalirkan kekuatan. Seperti sungai Nil yang tak pernah kering, dukungan itu terus mengalir hingga mengantarnya pada puncak keberhasilan.
Kepada mahasiswa ataupun mahasiswi di Mesir, baik S1, S2, maupun S3, Ernita berpesan agar terus bersungguh-sungguh menuntut ilmu, menjaga niat, dan aktif berkontribusi dalam organisasi. “Perantauan adalah medan pembentukan diri,” ujarnya. ”Jangan ragu mengambil peran, karena pengalaman organisasi adalah bekal berharga untuk masa depan.”
Ia menutup pesannya dengan doa yang sederhana, tapi cukup mendalam: semoga Allah Swt. senantiasa memberkahi langkah seluruh mahasiswa, menjaga persatuan KMA, dan menjadikan mereka bagian dari generasi yang istiqamah dalam menjaga serta menyebarkan warisan ilmu Islam.
![]() |
| (Prosesi Munaqasyah Tgk. Ernita Hasan bersama para penguji) |
"Alhamdulillah, hari ini menjadi momen berharga bagi para mahasiswa aceh di Mesir atas selesainya studi S2 Tgk. Ernita Hasan di Universitas Al-Azhar," ungkap Tgk. Muzakki Adnan, Lc., selaku Ketua KMA.
"Perjalanan panjang, belasan tahun meninggalkan keluarga dan berjuang di negeri orang, akhirnya terbayarkan dengan keberhasilan sidang hari ini. Ini bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga bukti keteguhan, kesabaran, dan komitmen dalam menuntut ilmu. Tgk. Ernita juga merupakan sosok panutan bagi mahasiswi Aceh di Mesir, seorang kakak yang membimbing, menguatkan, dan menginspirasi baik dalam perjalanan studi maupun kehidupan. Kami ucapkan alfu mubaarak, Semoga ilmu yang diraih menjadi berkah dan membawa manfaat yang luas." Lanjutnya.
![]() |
| (Foto bersama putroe KMA yang menghadiri sidang) |
Dan demikianlah, dari lorong-lorong Madinat Nasr hingga ke tanah kelahirannya di Pidie, kisah Ernita Hasan menjadi cahaya yang menembus batas ruang dan waktu. Sebuah kisah tentang ilmu, perjuangan, dan syukur yang akan terus dikenang sebagai bagian dari mozaik perjalanan anak-anak Aceh di bumi Anbiya.[]
Kmamesir.org mengucapkan selamat untuk kakak kami, Tgk. Ernita Hasan, Lc., MA., yang telah menyelesaikan studi magisternya. Kami berharap semakin banyak aneuk nanggroe, khususnya putroe-putroe Aceh yang berhasil mengarungi lautan pendidikan serta meraih gelar kemuliaan dalam perjalanan menuntut ilmu di tanah para nabi, Kairo, Mesir.
*Penulis merupakan mahasiswa Tk. 3 jurusan Aqidah dan Filsafat, Universitas Al-Azhar, Kairo
Editor: Nisa Kamila.


.jpeg)
.jpeg)
Posting Komentar