Apakah Sastra Harus Bermoral? Sebuah Penolakan

Oleh: Agil Al-Faris*
(Sumber: X)

Beberapa hari yang lalu, ketika sedang menggulir beranda X, Aku mendapati sebuah cuitan marah-marah dari sebuah akun feminis terhadap sebuah novel yang diduga misoginis, seksis, dan mengobjektifikasi perempuan. Teringat, dulu pernah membaca beberapa opini pengulas novel Bandung Menjelang Pagi di Bookreads yang mempermasalahkan sebuah diksi yang dianggap tidak sopan dan merendahkan perempuan.

Beberapa kejadian ini membuatku merenung, ‘apakah sebuah karya sastra itu harus tunduk kepada nilai-nilai moral?’ sehingga muncullah anggapan terhadap beberapa tulisan yang tidak sesuai norma atau diduga misoginis dan seksis dan menyinggung nilai-nilai norma karena menggunakan diksi atau menggambarkan realitas yang menurut sebagian orang tidak terpuji. ‘Apakah karya sastra harus tunduk kepada standar moral eksternal? atau biarkan sastra bersifat bebas bagaimanapun seorang penulis menghendaki tulisannya, tidak peduli menggunakan diksi sekotor atau menggambarkan skenario sekejam apapun.

Setelah perenungan panjang. Menurut keyakinan saya, sepertinya sastra tidak punya kewajiban untuk tunduk pada nilai-nilai eksternal, tetapi sebuah karya sastra selalu beroperasi di dalam horizon tertentu. Artinya, sastra itu tidak tunduk pada penilaian ekternal seperti norma sosial, adat, bahkan agama. Sehingga jika ada sebuah karya sastra yang ditulis seorang psikopat terjahat sekalipun tentang seberapa nikmatnya membunuh orang lain dengan narasi yang vulgar, gelap bahkan ofensif itu tetap sah sebagai sebuah karya sastra. Taruhlah Adolf Hitler, yang digadang-gadang sebagai manusia paling psikopat di dunia menulis sebuah novel tentang seberapa menyenangkannya bersikap rasis dan membantai ribuan manusia di masa perang dunia ke-2 dengan kepenulisan dan penggambaran yang bagus. Tentu secara objektif kita tetap menilainya sebagai tulisan yang bagus. Namun, di sisi lain, sebuah karya sastra itu ketika ditulis selalu membawa horizon tertentu yang dibawa oleh penulis seperti, sudut pandang yang dipilih, siapa yang diposisikan sebagai subjek atau objek, apa yang dianggap baik dan buruk dalam realitas karya tersebut.Terbukti bahwa sebuah karya sastra tidak pernah dinilai berdasarkan baik dan buruk atau benar dan salah, tetapi selalu dinilai dari bagus atau tidaknya.

Aku merasa bahwa kebanyakan orang sering sekali meletakkan sastra sebagai cermin moral. Which is tidak salah, tetapi terkadang berekspektasi kesopanan terhadap sebuah novel justru membatasi kebebasan dan kerumitan pikiran manusia—manusia itu bagiku adalah makhluk yang penuh dengan kontradiksi dan kerumitan pikiran. Prof. Sugiharto dalam sebuah kuliahnya pernah mengatakan:

“Novel itu, rekaman jatuh bangunnya manusia, rekaman kerumitan emosi dan imajinasi. Pentingnya novel karena dia adalah tulisan individual, tulisan personal dan itu menjadi penting, karena hidup itu tidak sesederhana ilmu pengetahuan, tidak sesederhana sains. Hidup itu rumit, setiap orang mempersepsinya melalui pengalaman pribadi. Semakin kita membaca novel, sebenarnya kita semakin masuk ke dalam aneka bentuk kehidupan yang sebetulnya pelik”.


Prof Karlina Supelli juga pernah mengatakan di sebuah monolog, bahwa sastra itu mengajak orang untuk bertemu dengan kisah tentang manusia, penderitaannya, hidup dan matinya, pilihan-pilihan yang tidak selalu tegas.

Oleh sebab itu, untuk menjaga gambaran realitas imajinasi manusia yang penuh dengan kerumitan itu, tentu tidak elok mereduksinya dengan standar-standar moral subjektif pembaca. ‘Mengapa sebuah teks harus tunduk pada batas yang lahir dari luar dirinya?’

Bagaimanapun juga, Aku tetap paham jika ada yang merasa tidak nyaman membaca sebuah karya sastra yang merendahkan dan mengobjektifikasi perempuan atau karya sastra yang tidak sesuai dengan norma sosial dan menyinggung keyakinan beragama orang-orang. Namun bagiku, biarlah itu selesai dalam sebuah kritik dan penilaian subjektif. Ketersinggungan kita adalah bagian dari hak kebebasan manusia, tetapi jangan sampai kita mereduksi realitas kerumitan imajinasi manusia tersebut menjadi terkekang dengan nilai-nilai subjektif. Biarlah sebuah karya sastra itu menyingkap rekam jejak manusia. Sastra tidak lahir untuk menenangkan, ia mengungkap imajinasi liar manusia, walaupun dalam proses pengungkapan tersebut tak jarang mengungkap sisi manusia yang tidak nyaman; kekerasan, hasrat, kebejatan, penyimpangan bahkan kebengisan. Membaca sastra itu seperti memasuki dunia yang segala kemungkinan kebejatan manusia dapat terjadi dan terekam dengan sangat jelas.

Ketika sebuah novel menceritakan dari sudut pandang pelaku kejahatan bukan berarti karya tersebut menyetujui kejahatan, ia hanya menyingkap satu lapisan realitas—manusia dengan segala persoalannya; manusia yang bisa berpikir, merasa dan membenarkan hal-hal yang secara moral kita tolak. Dan terkadang memaksa kita untuk melihat dan setuju. Itulah kekuatan dan keindahan sastra.

Harus diakui, memang banyak tokoh-tokoh sastra yang problematik, dari seorang pemabuk, pemerkosa, penjahat, dan pelaku kejahatan-kajahatan lainnya. Namun, sekali lagi kutekankan, rekam jejak manusia itu unik, terkadang terlalu iblis untuk dikatakan malaikat, tapi terlalu malaikat untuk dikatakan sepenuhnya iblis. Keindahan manusia sebagai sebuah seni terletak pada area abu-abunya. Terkadang kerumitan itu bisa kita lihat di dunia nyata atau justru terekam dalam sebuah karya tulis.

Sebagai penutup—semoga tulisan ini bisa memantik debat pikiranmu—sastra tidak pernah benar-benar bisa terlepas dari moral, tetapi juga tidak terlalu tunduk pada satu nilai absolut, ia mungkin berdiri di tengah-tengah, bersentuhan langsung dengan horizon nilai yang bisa berubah, bisa dipertentangkan, dan bisa dipertanyakan.

Bagaimana menurutmu? Ayo diskusi!


*penulis adalah mahasiswa Fakultas Ushuluddin Tingkat II Universitas al-Azhar Kairo

Editor: Thariq Faiz

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top