Kilas Balik Ramadan di Bumi Para Nabi: Suasana Ibadah dan Ilmu yang Penuh Makna

Oleh: Juwaini Saputra*

(Sumber: Dok. Pribadi)
Ramadan tahun lalu (2025 M/1446 H) merupakan Ramadan pertama kali saya di Mesir. Ingin tahu bagaimana suasana di bulan yang penuh berkah di bumi seribu menara ini? Di tahun itu saya belum tahu apa dan bagaimana aktivitas yang harus saya jalani di sini. Berjalannya waktu tinggal hanya menikmati saja. Saya merasakan suatu hal yang belum saya rasakan sebelumnya ketika saya tiba di negeri para nabi ini khususnya di bulan Ramadan. Masyarakat Mesir menyediakan sesaji makanan dan juga minuman untuk orang yang berpuasa di setiap harinya. Hampir di setiap tempat, baik itu dibagikan di lintas jalan maupun disediakan di tempat untuk berbuka puasa secara langsung. Mendengar di negara ini memiliki banyak masjid besar dan megah perasaan saya semakin kagum. Tidak cukup dengan itu saja, masjid-masjid di sini juga memiliki sejarah yang beragam. Semangat saya semakin berkobar ingin salat tarawih di masjid-masjid indah tersebut. Di antaranya adalah masjid Sahabat Amr bin ‘Ash, masjid Sultan Hasan, Masjid Hakim Amrillah, masjid Sayyidina Hussein dan beberapa masjid lain di sekitar kota Kairo. Tentunya karena tempat saya tinggal hanya beberapa langkah dari masjid Al-Azhar, tinggal menikmati saja malam-malam saya di sini jika tidak kunjung keluar ke masjid yang lain.

Sebagai penuntut ilmu, sejatinya waktu mereka dimanfaatkan sebaik mungkin untuk ilmu. Ramadan di Mesir tidak menghentikan bagi penuntut ilmu untuk terus belajar. Majelis-majelis selalu terbuka lebar bagi yang ingin belajar baik di siang hari maupun malamnya. Aceh memiliki sebuah rumah ilmu yang dinamai dengan Sahah Aceh yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari masjid Al-Azhar. Di sana tempat belajarnya mahasiswa asing, baik dari Aceh sendiri maupun luar Aceh bahkan dari beberapa negara Afrika lainnya seperti Sudan, Nigeria dan lain-lain. Sahah Aceh mengajarkan beberapa ilmu, baik ilmu wasail (ilmu alat) maupun maqasid (fikih, tauhid dan tasawuf). Di Sahah yang dikhidmahi oleh mahasiswa Serambi Mekah ini, oleh Maulana Syaikh Ayub al-Azhary al-Jazairi al-Azhary al-Maliky dari hitungan tahun yang silam hingga sampai saat ini masih setia menemani dan mengajari para thalib yang datang dari berbagai penjuru negara. Bermula dari tahun 2011, Maulana Syaikh mulai membersamai Sahah Aceh. Beliau berasal dari negara Aljazair dan sudah lama berkhidmah di negeri kinanah ini.

 

Jika di luar Ramadan Maulana, guru kami, Syeikh Ayub mengajarkan ilmu alat dan lainnya, berbeda dengan momen di Ramadan sendiri, Syaikh mengajarkan ilmu ruhaniyah. Semenjak saya tiba tahun itu, Syaikh mengajarkan kitab as-Syamail al-Muhammadiyah yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dhahhak As-Sullami At-Turmudzi atau lebih populer dengan sebutan Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H). Selaku baru tiba, ingin rasanya menikmati terlebih dahulu malam-malam dengan berkeliling ke masjid-masjid untuk salat tarawih ke sana kemari, sehingga belum sempat mengikuti kajian bersama Maulana. Ramadan tahun itu pun berlalu, kini Allah telah memberikan yang kedua kalinya Ramadan kepada saya selama di Mesir. Tapi tahun ini saya ingin me-manage waktu saya setelah mendapatkan pengalaman di tahun sebelumnya untuk bisa menikmati ibadah di masjid dan juga bisa menghadiri kajian bersama Maulana di Sahah Aceh. Jika tahun lalu Syaikh mengajar as-Syamail al-Muhammadiyah, tapi tahun ini Syeikh menyajikan kitab yang berbeda. Karena banyaknya murid yang meminta untuk diajarkan kepada mereka kitab yang berbeda, akhirnya Syeikh memenuhi permintaan mereka. Adapun nama kitab itu adalah as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa yang ditulis oleh Al-’Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhl ‘Iyadh ibn Musa al-Yahsubi (wafat 544 H).

(Suasana kajian kitab As-Syifa bersama Syaikh Ayyub di Sahah Aceh)
Dengan segala janji dan rencana yang sudah saya langitkan, saya harus mengikuti kajian bersama Maulana setiap malamnya dengan tidak meninggalkan salat tarawih. Tahun ini saya tidak kemana-mana kecuali hanya salat tarawih di masjid Al-Azhar saja. Pengajian dimulai pukul 20:30 waktu Kairo, sementara suara lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan para imam tarawih masih terdengar jelas dari menara-menara masjid dengan suara dan irama yang berbeda-beda dan menenangkan jiwa. Mau tidak mau, saya harus menyudahi di delapan sampai sepuluh rakaat saja agar tidak terlambat mengikuti kajian di Sahah. Dari malam pertama Ramadan, pengajian berjalan dengan lancar hingga sampai di sepertiga akhir Ramadan. Pembahasan yang sangat menarik seputar sifat dan fisik Rasulullah Saw. ditambah lagi keindahan kitab yang dipenuhi dengan ayat Al-Quran sebagai dalil terkait topik seputar kemulian Rasulullah Saw. dan para nabi yang lain.

Setelah selesai kajian saya kembali ke masjid Al-Azhar  untuk beriktikaf. Begitu seterusnya sampai akhir Ramadan tahun ini yang telah saya jalani. Pada akhirnya, rangkaian tugas harian selama Ramadan ini berhasil saya jalani dengan mudah. Berjalan menuju kedua tempat yang mulia, pertama ke masjid untuk bersujud kepada-Nya, kedua ke majelis Sahah Aceh untuk mempelajari ilmu-Nya.

 

Masih sama seperti tahun lalu, saya juga berhasil menghidupkan malam dengan beriktkaf di sepuluh akhir Ramadan. Jika tahun lalu saya hanya bisa datang satu malam saja beriktikaf dan mendirikan salat tahajud berjamaah ke masjid Al-Azhar, tahun ini Allah kembali memberikan kemudahan dan kesempatan kepada saya sehingga bisa menghadiri dari malam ke-21 sampai ke malam terakhir Ramadhan. Alhamdulillah.

Baca Juga: Anjuran Iktikaf di Sepuluh Penghujung Ramadan, Yuk Intip Iktikafnya Nabi Muhammad


Pada sore harinya di masjid Al-Azhar juga disediakan  makanan dan minuman untuk berbuka, seperti tempat yang lain pada umumnya. Bahkan, di sepuluh malam terakhir, Al-Azhar menyediakan sahur bagi yang beriktikaf dan mengikuti salat tahajud berjamaah. Qiyamul lail dimulai pukul 00:00 waktu Kairo, dipimpin oleh empat imam yang bergantian setiap sekali salam. Dengan suara yang indah dan bacaan yang sangat menyentuh hati, ditambah lagi irama yang membuat kenyamanan semakin mendalam dan ingin bertahan lama. Tidak terasa begitu ruku, ternyata sudah 15-20 menit berdiri di setiap satu rakaat. Salat yang dilakukan secara berjamaah hanya delapan rakaat, setelah itu jamaah pun selesai. Seluruh jamaah yang berada di saf mendapat shawarma (sejenis kebab) sebagai sahur yang dibagikan oleh petugas di masjid.  Jam menunjukkan pukul 01:45 waktu Kairo, salat pun selesai. Sebagian jamaah pulang ke tempat masing-masing, ada pula yang masih melanjutkan iktikafnya yang diisi dengan salat, baca Al-Quran dan lain sebagainya.

(Suasana Qiyamul Lail berjamaah di masjid Al-Azhar)
Saya tidak langsung pulang ke rumah, tapi melanjutkan iktikaf sampai fajar tiba sambil membaca Al-Quran yang sudah saya targetkan setiap malamnya satu juz, dan mendengarkan rekaman pelajaran kitab lainnya selama malam itu berlalu, sesuai rencana dan target yang harus saya jalankan. Menikmati makan sahur di masjid dengan suasana dingin dan dipenuhi oleh mu’takifin (orang-orang yang beriktikaf) begitu terasa bahwa masjid adalah tempat di mana Allah mempertemukan hamba-Nya satu sama lain, sehingga tidak merasa kesepian atau menyendiri. Demikian perjalanan dalam memaksimalkan waktu pada momen Ramadan di tahun ini, hingga akhirnya ia selesai dan berpamitan. Semoga amal ibadah yang kita jalankan diterima di sisi Allah Swt. dan keluar dari Ramadan kembali suci tanpa dosa seperti bayi baru lahir dari rahim ibunya yang disebut dengan hari yang fitrah  (hari bersih dari dosa). Karena hari raya itu seperti yang dikatakan oleh ulama:

ليس العيد لمن لبس الجديد وإنما العيد لمن طاعته تزيد

Artinya: “Hari raya itu bukan bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, tetapi hari itu adalah bagi mereka yang ketaatannya bertambah”. Bertambah taat jauh dari maksiat karena sudah dilatih selama Ramadan.


*Penulis merupakan mahasiswa Tk. 2 Jurusan Syariah Islamiyyah, Universitas Al-Azhar, Kairo.

Editor: Siti Humaira


Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top