Kilas Balik Ramadan di Bumi Para Nabi: Suasana Ibadah dan Ilmu yang Penuh Makna
Oleh: Juwaini Saputra*
![]() |
| (Sumber: Dok. Pribadi) |
Sebagai penuntut ilmu, sejatinya waktu mereka dimanfaatkan sebaik mungkin untuk ilmu. Ramadan di Mesir tidak menghentikan bagi penuntut ilmu untuk terus belajar. Majelis-majelis selalu terbuka lebar bagi yang ingin belajar baik di siang hari maupun malamnya. Aceh memiliki sebuah rumah ilmu yang dinamai dengan Sahah Aceh yang jaraknya kurang lebih satu kilometer dari masjid Al-Azhar. Di sana tempat belajarnya mahasiswa asing, baik dari Aceh sendiri maupun luar Aceh bahkan dari beberapa negara Afrika lainnya seperti Sudan, Nigeria dan lain-lain. Sahah Aceh mengajarkan beberapa ilmu, baik ilmu wasail (ilmu alat) maupun maqasid (fikih, tauhid dan tasawuf). Di Sahah yang dikhidmahi oleh mahasiswa Serambi Mekah ini, oleh Maulana Syaikh Ayub al-Azhary al-Jazairi al-Azhary al-Maliky dari hitungan tahun yang silam hingga sampai saat ini masih setia menemani dan mengajari para thalib yang datang dari berbagai penjuru negara. Bermula dari tahun 2011, Maulana Syaikh mulai membersamai Sahah Aceh. Beliau berasal dari negara Aljazair dan sudah lama berkhidmah di negeri kinanah ini.
Jika di luar Ramadan Maulana, guru kami, Syeikh Ayub mengajarkan ilmu alat dan lainnya, berbeda dengan momen di Ramadan sendiri, Syaikh mengajarkan ilmu ruhaniyah. Semenjak saya tiba tahun itu, Syaikh mengajarkan kitab as-Syamail al-Muhammadiyah yang ditulis oleh Imam Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dhahhak As-Sullami At-Turmudzi atau lebih populer dengan sebutan Imam At-Tirmidzi (wafat 279 H). Selaku baru tiba, ingin rasanya menikmati terlebih dahulu malam-malam dengan berkeliling ke masjid-masjid untuk salat tarawih ke sana kemari, sehingga belum sempat mengikuti kajian bersama Maulana. Ramadan tahun itu pun berlalu, kini Allah telah memberikan yang kedua kalinya Ramadan kepada saya selama di Mesir. Tapi tahun ini saya ingin me-manage waktu saya setelah mendapatkan pengalaman di tahun sebelumnya untuk bisa menikmati ibadah di masjid dan juga bisa menghadiri kajian bersama Maulana di Sahah Aceh. Jika tahun lalu Syaikh mengajar as-Syamail al-Muhammadiyah, tapi tahun ini Syeikh menyajikan kitab yang berbeda. Karena banyaknya murid yang meminta untuk diajarkan kepada mereka kitab yang berbeda, akhirnya Syeikh memenuhi permintaan mereka. Adapun nama kitab itu adalah as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa yang ditulis oleh Al-’Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhl ‘Iyadh ibn Musa al-Yahsubi (wafat 544 H).
![]() |
| (Suasana kajian kitab As-Syifa bersama Syaikh Ayyub di Sahah Aceh) |
Setelah selesai kajian saya kembali ke masjid Al-Azhar untuk beriktikaf. Begitu seterusnya sampai akhir Ramadan tahun ini yang telah saya jalani. Pada akhirnya, rangkaian tugas harian selama Ramadan ini berhasil saya jalani dengan mudah. Berjalan menuju kedua tempat yang mulia, pertama ke masjid untuk bersujud kepada-Nya, kedua ke majelis Sahah Aceh untuk mempelajari ilmu-Nya.
Masih sama seperti tahun lalu, saya juga berhasil menghidupkan malam dengan beriktkaf di sepuluh akhir Ramadan. Jika tahun lalu saya hanya bisa datang satu malam saja beriktikaf dan mendirikan salat tahajud berjamaah ke masjid Al-Azhar, tahun ini Allah kembali memberikan kemudahan dan kesempatan kepada saya sehingga bisa menghadiri dari malam ke-21 sampai ke malam terakhir Ramadhan. Alhamdulillah.
Baca Juga: Anjuran Iktikaf di Sepuluh Penghujung Ramadan, Yuk Intip Iktikafnya Nabi Muhammad
Pada sore harinya di masjid Al-Azhar juga disediakan makanan dan minuman untuk berbuka, seperti tempat yang lain pada umumnya. Bahkan, di sepuluh malam terakhir, Al-Azhar menyediakan sahur bagi yang beriktikaf dan mengikuti salat tahajud berjamaah. Qiyamul lail dimulai pukul 00:00 waktu Kairo, dipimpin oleh empat imam yang bergantian setiap sekali salam. Dengan suara yang indah dan bacaan yang sangat menyentuh hati, ditambah lagi irama yang membuat kenyamanan semakin mendalam dan ingin bertahan lama. Tidak terasa begitu ruku, ternyata sudah 15-20 menit berdiri di setiap satu rakaat. Salat yang dilakukan secara berjamaah hanya delapan rakaat, setelah itu jamaah pun selesai. Seluruh jamaah yang berada di saf mendapat shawarma (sejenis kebab) sebagai sahur yang dibagikan oleh petugas di masjid. Jam menunjukkan pukul 01:45 waktu Kairo, salat pun selesai. Sebagian jamaah pulang ke tempat masing-masing, ada pula yang masih melanjutkan iktikafnya yang diisi dengan salat, baca Al-Quran dan lain sebagainya.
![]() |
| (Suasana Qiyamul Lail berjamaah di masjid Al-Azhar) |
ليس العيد لمن لبس الجديد وإنما العيد لمن طاعته تزيد
Artinya: “Hari raya itu bukan bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, tetapi hari itu adalah bagi mereka yang ketaatannya bertambah”. Bertambah taat jauh dari maksiat karena sudah dilatih selama Ramadan.
*Penulis merupakan mahasiswa Tk. 2 Jurusan Syariah Islamiyyah, Universitas Al-Azhar, Kairo.
Editor: Siti Humaira
.jpeg)


Posting Komentar