Maha Benar Ibu Atas Segala Firasatnya

Oleh: Thariq Faiz*
(Sumber: Dokumen Pribadi)
Hal yang selanjutnya ia pahami setelah maut itu sakit adalah meski di dalam kubur, dirinya masih mampu bersyukur. Untuk yang pertama—maut itu sakit, ia tak henti-henti memukul kepalanya dan mengeluarkan segala perbendaharaan sumpah serapah yang didapatnya semasa hidup, menyesali setiap “Aku tak takut mati” yang mengalir bebas dari mulut seperti sungai, tak peduli tahi saling sikut di atasnya. Untuk satu hal yang pertama itu pula, ia ingin sekali menjadi utusan Tuhan kepada hamba-hamba bebal yang menjadikan kematian lelucon di tongkrongan tengah malam mereka.

Meski masih dilanda linglung akibat kematian yang datang tiba-tiba, pengetahuannya seputar hari dan malam tidak ikut tercerabut. Ia masih ingat kapan diringkus, dipukul, dan tergeletak mati seperti maling motor yang babak belur diamuk massa. Tak berhenti di situ, Tuhan masih bermurah hati menyelipkan sederet wajah-wajah yang ia lihat menjelang terjerembap ke liang lahad.

Ibu….

Sempurna. Demi dua pengetahuan yang masih dititipkan, hatinya bersyukur, “Masih ada kesempatan.”

Keterkejutannya menjadi biasa saja ketika menyadari bahwa sekarang malam Jumat. Ia hanya perlu berusaha sedikit saja, toh guru mengajinya yang gemar menganyunkan rotan itu dulu mengatakan bahwa memang pada malam inilah orang yang sudah meninggal diizinkan kembali ke rumah mereka masing-masing, mencuri dengar bacaan Yasin yang dilantunkan oleh sanak famili. Hanya saja gurunya tidak pernah memberitahu, mereka yang sudah tiada akan kembali dengan wujud apa.

Tutup liang lahadnya terpelanting menembus permukaan tanah. Ia keluar dengan terengah-engah. Tanah liat membalur sekujur tubuhnya. Ia membalikkan badan, menatap lubang yang akan ditinggalkan untuk sementara waktu.

“Ternyata mereka menguburku dengan layak, meski agak seperti kuburan anjing gila,” ucapnya.

Tidak tembus. Tangannya menyentuh hidung mancung yang kerap ditarik oleh sang ibu. Ia seperti bangkit dari kubur. Utuh, bukan arwah. Pada malam ini, laki-laki bernama Pompei mengambil kembali nyawanya seumpama mengambil cawat yang sudah seminggu tergantung di jemuran lalu ia pakaikan ke tubuhnya. Tanpa beban. Ketika melakukannya, ia teringat bagaimana dirinya menerima kematian. Teringat bagaimana nyawanya tersenyum puas seperti menang dari berbagai ancaman yang menghantui.

“Ternyata mereka menguburku sesuai pada tempatnya,” ucapnya lagi ketika badannya kini mantap menghadap kaca jendela kamarnya. Kaca yang dulu membantunya melihat dan memikirkan masa depan. Ia mengira tubuhnya akan dikubur di negeri antah-berantah dan berteman dengan sesama penghuni tanah yang tak dimengerti cara berbicaranya.

Pompei berjalan pelan. Bekas pukulan stik kasti masih jelas tergambar di betis kiri. Terasa lebih ringan dan tidak ada lagi rasa sakit, pikirnya. Ia memegang kepala, masih ada bercak darah lengket di tangannya. Sama saja, tidak ada lagi rintihan sakit yang keluar dari mulut. Sunyi. Semua seperti menghendaki kepulangannya. Mempersilakan dirinya meminta maaf kepada sang ibu yang telah dibuatnya kelelahan mengangkat tangan, berdoa siang malam, meminta petunjuk kepada Tuhan di mana keberadaan putranya dan menyesali lisannya yang lancang mengucap.

“Kenapa kamu menatap ibu seperti itu, Poi,” tanya ibu suatu siang. Pompei yang terkejut gelagapan mencari alasan.

“Tidak ada. Ibu terlihat anggun ketika membaca.”

Ibu menyelipkan pembatas buku sebelum menutupnya. Ia melepas kacamata dan berjalan ke arah Pompei yang kini salah tingkah.

“Ibu takut,” ucapnya lirih. Demi mendengar itu Pompei menggeser sedikit duduknya agar sofa abu-abu tua itu bisa diduduki ibu. Buku catatan ditutup dan dilemparnya sembarang. Raut wajah laki-laki itu menghadirkan tanya. Ketakutan seperti apa yang dimaksud ibu, pikirnya.

“Aku belum pernah melihat pandangan itu muncul darimu sebelumnya. Pandangan yang sama saat ayahmu berpamitan lalu tak pernah kembali.”

“Maksud ibu nasibku juga akan sama seperti ayah?” tanya Pompei segera.

“Aku mencoba untuk tidak berpikir seperti itu, tapi perasaanku tak bisa berbohong, Poi.”

“Ibu percaya?” Ia bertanya lagi.

Kini mereka bersitatap. Ada lorong kosong yang tampak dari mata sang ibu. Tak bisa dijelaskan. Perempuan itu tak bereaksi. Wajah sendunya cukup menjawab kegelisahan yang ia rasakan.

“Kalau jadi ibu, mungkin Aku akan percaya….” Pompei mengedarkan pandangan ke pigura yang tergantung kokoh di atas televisi. Tak ada debu barang seinci. Bagaimana tidak, Ibu membersihkannya setiap hari sembari berceloteh, “Kalian seperti adik kakak: mirip sekali,” lalu terkekeh dan bersin sepuluh kali. Selalu begitu, sehingga foto mereka bertiga elok dipandang.

Ibu masih membisu. Tak disangka jawaban itu muncul begitu saja dari mulut anaknya.

“Sepertinya Dia memang suka memberi nama dengan sesuatu yang tak lagi ada,” lanjut laki-laki itu. “Buktinya, kucingku satu bernama Ad dan satunya Tsamud. Bahkan namanya sendiri Toba. Apakah ibu tidak sadar?”

Ia masih bergeming, tak ada tanda sepakat atau penolakan dengan apa yang disampaikan sang anak. Matanya ikut melirik pigura berlapis cat kuning itu. Ilmu sejarah yang dikuasainya seakan tak ada artinya.

“Ibu tidak perlu risau. Wujud nama-nama itu memang tak lagi ada, tapi manfaatnya kurasa sampai kiamat masih ada.” Pompei menyungingkan senyum. Bibirnya maju mencium kening perempuan itu. Ia melambaikan tangan dan masuk ke dalam kamar. Ibunya tergugu, beberapa bulir air mata lolos membentuk garis di kanan kiri.

Esoknya, Pompei tak pernah kembali. Ia hilang seperti kabut saat fajar menyingsing.


***
Pompei sudah berdiri di depan rumah yang tampak sangat terurus. Tak ada cat yang terkelupas. Halaman bersih dari rumput liar yang menjulang setinggi atap, juga kembang telang yang merambat hingga menghalangi cahaya matahari. Masih seperti saat ia pergi tanpa berpamitan lima hari yang lalu.

Sepertinya Ibu baik-baik saja. Sangat baik barangkali.

Ketika ia menyadari bahwa tubuhnya mampu menembus dinding dan sudah berada di dalam rumah, dirinya semakin yakin bahwa ia sudah mati, sudah menjadi arwah. Tak ada alasan baginya untuk mengingkari.

Setelah mendapati ibunya tertidur dengan beralaskan sajadah sembari memeluk kitab suci di kamar tempat biasa dia membaca, Pompei beralih ke kamarnya sendiri. Tak ada kain putih menutupi semua barang-barangnya. Tak ada dinding yang dicat ulang, masih kotor dengan puisi Wiji Thukul. Hanya saja, di atas kasur tersusun rapi puluhan potongan surat kabar dengan tema politik dan nama penulis yang berbeda-beda. Ia menarik sebuah kertas kecil yang terselip di antaranya.

Ibu sangat yakin ini semua adalah tulisanmu, Poi. Kau cerdas, sama seperti ayahmu. Menulis nama-nama aneh agar aku tidak tahu, tidak was-was, dan tidak melarang. Tapi kalian lupa, aku ini istri juga ibu. Pulanglah, aku rindu kalian berdua.

Pompei mengambil sebuah pena dari atas mejanya. Tangannya bergetar, sesekali ia melirik keluar melalui jendela yang berada tepat di atas meja. Sebuah tempat yang digunakannya untuk membuat pemerintah kebakaran jenggot.

“Aku memang sudah melihat masa depan sedari dulu.” Ia menarik gorden dan pemakaman umum tak lagi terlihat.

Aku sudah pulang, Bu. Aku minta maaf untuk semuanya. Nama-nama aneh itu supaya selalu kau bawa dalam doa. Aku tahu, saat nama “Pompei Toba” terpampang jelas, kau pasti akan menarik telingaku dan berteriak dengan keras “Sudah kukatan agar tulis saja tentang keseharianmu. Apa susahnya menurut!” Maaf sudah membuatmu menunggu. Waktuku terbatas, aku harus mencari ayah. Sepertinya dia kewalahan dengan teman dan bahasa baru. Selamat tinggal, Bu Marsinah.

*Penulis merupakan mahasiswa Tk. 3 jurusan Lughah Arabiyyah, Universitas Al-Azhar, Kairo.
Editor: Siti Humaira

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top