Membaca Tanpa Guru: Boleh atau Tidak?

Oleh: Hanif Maulana*
(Sumber: Pinterest.com)
Dulu, saya termasuk orang yang termakan asumsi "Jangan baca buku sendiri, harus ada guru, kalau nggak maka akan sesat".

Kalimat di atas tidak sepenuhnya benar. Kenapa? Ada dua alasan untuk menjawab pertanyaan tersebut:

Pertama, kalimat itu diucapkan ketika masa di mana tulisan bahasa Arab belum memiliki titik apalagi baris. Oleh karena itu, membaca sendiri tanpa adanya guru justru akan mengakibatkan salah paham dalam memahami maksud tulisan.

Kedua, buku atau kitab di suatu disiplin keilmuan pada masa itu tidak banyak, hanya satu dua dan bahasa yang digunakan cenderung sulit. Hal itu dikarenakan sedang di tahap perumusan masalah dari berbagai disiplin keilmuan.

Berbeda dengan sekarang. Penulisan bahasa Arab sudah mempunyai titik bahkan baris. Dalam satu bidang keilmuan telah ada ratusan kitab yang dikarang. Ada bacaan induk atau rujukan utama, ada pula ringkasan yang diperuntukkan kepada mubtadi, mutawassit, dan muntahi. Para ulama mengerti bagaimana menyampaikan isi kitab sesuai dengan target pasarnya masing-masing. Ada yang dikarang untuk dibaca sendiri, ada pula yang tidak.

Bayangkan, sekarang ada ratusan bahkan ribuan kitab yang harus dibaca. Jika aktivitas literasi tersebut terbatas pada menunggu penjelasan dari seorang guru, maka butuh waktu yang lama untuk menuntaskan satu buku atau satu kitab berjilid. Realitanya, tidak ada guru yang mau menyuapimu ilmu selama 24 jam, membacakan semua kitab dan mendiktekannya.

Murid harus punya usaha sendiri untuk membaca. Jangan manja, apalagi membenarkan kemalasannya dengan dalih tidak boleh baca tanpa guru. Saya tidak menafikan peran guru. Guru itu penting. Murid sangat butuh kepada guru di masa awal belajarnya ketimbang buku. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka justru akan lebih banyak butuh berinteraksi dengan buku karena akalnya sudah terbentuk. Di situlah fungsi utama guru, mengajarkan murid bagaimana cara membaca dan memahami kalam ulama.

قال محمد بن رشد: وكان العلم في الصدر الأول وفي الثاني في صدور الرجال، ثم انتقل بعد ذلك إلى جلود الضان وصارت مفاتيحه في صدور الرجال.

Muhammad bin Rusyd mengatakan bahwa dahulunya ilmu itu hanya ada di dada para ulama, namun ketika sudah dikumpulkan dan berpindah ke dalam buku, maka kunci pemahamannya berada para guru.

Dr. Abu Musa di dalam cuplikan video pernah bercerita, "Ilmu itu didapati bukan hanya berkat kecerdasan, namun konsistensi dalam membaca, meneliti dan menelaah. Sepanjang pengalaman mengajar, saya banyak menemukan murid yang luar biasa kecerdasannya. Tapi dia tidak membaca. Begitu tamat, dia tidur dan tidak menjadi siapa-siapa. Namun ada orang yang biasa-biasa saja, tapi dia selalu membaca dan belajar, ketika tamat dan seiring berjalannya waktu ia pun menjadi ulama terkemuka."


Guru saya, Syekh Abdul Qadir sering berpesan:

"Membaca itu penting! Dengan membaca, kita bisa memperluas wawasan, cara berpikir, membuat kapasitas otak membesar. Saya membaca kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (10 jilid) dalam waktu satu bulan!"

Saya tersentak kaget seperti tidak bercaya, "Itu bagaimana cara membacanya, Syekh? Berapa lama antum membaca dalam sehari?"

"Delapan jam! Karena pada masa itu saya tidak ada kesibukan dan tanggungjawab apapun. Jadi saya bebas membaca berapa lama. Sekarang saat sudah menikah dan punya anak, jam membaca saya jadi berkurang."

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan kecintaan terhadap membaca?

Syekh Ahmad Ma'bad pernah memberikan tips, "Sisihkan waktu 10 menit sebelum tidur untuk membaca buku di bidang kalian masing-masing. Namun, dengan syarat konsisten, apapun kejadiannya, wajib baca 10 menit sebelum tidur. Saya, dengan berkat waktu 10 menit ini berhasil mengkhatamkan kitab Fathul Bari!"

Berkat taufik dari Allah, saya sudah merasakan manfaatnya. Saya bukan tipe orang yang suka membaca pada awalnya. Baru pegang buku sebentar, langsung datang rasa kantuk. Namun, setelah mempraktikkan apa yang disampaikan oleh Syekh Ahmad Ma'bad, saya mulai tertarik untuk membaca.

Sepuluh menit sebelum tidur. Seiring berjalannya waktu, saya berhasil mengkhatamkan kitab Qimat az-Zaman. Disusul kemudian dengan Shafahat min Shabri al-Ulama, al-Ulama al-Uzzab, Ma'alim Irsyadiah dan lainnya. Bahkan kitab terakhir yang saya sebut sudah selesai dua kali dibaca. Alhamdulillah.

Tak harus paham semua maknanya, karena kita masih pemula. Jangan dipaksakan untuk paham langsung semua, harus buka kamus untuk mencari setiap kosakatanya. Itu justru membuat kita lelah sebelum membaca. Masa, baru pertama kali membaca sudah menuntut untuk paham semua? Yang dicari pertama kali adalah rasa lezat dalam membaca, dengan cara mengkhatamkan satu kitab tertentu. Karena di balik khatam tersebut, pasti ada kesenangan dan kepuasan tersendiri. Ingin membaca kitab yang lain.

"Cara membaca buku yang berbahasa Arab itu tidak harus paham semua, mengerti poin yang ingin disampaikan di paragraf atau halaman tersebut itu sudah cukup," pesan Ustaz Munawir, guru saya.

Sekian. Mari membaca dan jadilah ulama!

*Penulis merupakan mahasiswa tingkat IV Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist, Universitas Al-Azhar, Kairo

Editor: Thariq Faiz

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top