Menapaki Lumpur, Menjemput Mimpi di Negeri Impian
Oleh: Muhammad Habibillah*
| (Sumber: Unsplash.com) |
Kuturunkan kaki perlahan, menginjak genangan air yang hampir mencapai selutut, berpadu dengan tanah liat yang lembut. Perlahan berjalan membuka pintu belakang, mengambil air wudu dari genangan air sambil membungkuk, lalu menunaikan salat subuh di atas ranjang.
Setelah berdoa, aku mendengar suara ketukan pintu dari luar. Mamak keluar dari kamar dengan mukenanya untuk membuka pintu. Ternyata ayah yang baru pulang sambil membawa sekantong kresek.
"Alhamdulillah untuk hari ini," ucap ayah sambil menyerahkan kantong kresek itu kepada mamak.
Mamak membuka kresek yang di dalamnya ada dua telur, empat Indomie rasa soto dan satu liter beras.
"Alhamdulillah Ayah, semoga cukup untuk kita hari ini," balas mamak sambil membawanya ke dapur.
Sepetak dapur tinggi yang dibuat Ayah tiga hari yang lalu dari balok kayu yang dibawa air. Aku memasukkan beberapa helai baju dan celana ke dalam ransel, juga ke dalam koper sambil menunggu sarapan matang, lalu kami menyantap hidangan mamak di atas ranjang itu bersama-sama.
"Ayah... Aku engga yakin untuk berangkat," ucapku memecah keheningan.
Ayah menonggak kepala melihat ke arahku, "Nak... Jangan khawatir, insya Allah beberapa hari lagi keadaan akan membaik. Ayah sama Mamak baik-baik saja." Balasnya sambil tersenyum.
Tapi aku tahu, itu hanya kalimat penenang, padahal kenyataan justru sebaliknya.
"Tapi, Ayah..." Aku hendak menyela, tapi ayah kembali memotong, "Nak...!! Justru kalau Kamu tidak berangkat hari ini, Ayah sama Mamak akan sangat khawatir, ini demi masa depanmu, juga masa depan kami."
Aku terdiam. Tidak sampai lima menit, makanan kami ludes karena sebenarnya porsi itu hanya cukup untuk dua orang. Ayah menyuruhku segera bersiap. Kuambil jaket bertuliskan 'Al-Azhar University', memakainya sambil berkaca pada cermin yang kotor. Lalu kami bertiga pun berangkat, menuju jalan nasional dengan berjalan kaki sekitar tiga kilometer lebih dan menerobos banjir.
Sesampainya di sana, Ayah sudah menyewa sebuah truk Fuso untuk kami bertiga. Aku naik ke dek belakang, sedangkan mereka berdua di depan. Truk berjalan perlahan membelah air bah yang masih tergenang. Aku berdiri menyenderkan dada ke dek. Sepanjang perjalanan kulihat rumah yang porak poranda, dinding yang dulu berwarna-warni kini berubah warna coklat dibungkus lumpur. Orang-orang duduk di luar sambil termenung, hampir seluruh badan mereka berwarna coklat terkena lumpur, seolah baru bangkit dari kubur.
Kayu-kayu sebesar tiang listrik raksasa berceceran dimana-mana, mobil-mobil tertindih satu sama lain tak karuan. Aku belum pernah melihat pemandangan yang sangat mengerikan seperti ini seumur hidup, tapi ayah pernah bercerita bahwa dulu sudah pernah terjadi kejadian seperti ini tahun 2004, justru kali ini lebih dahsyat. Walaupun korban tidak terlalu banyak seperti kala itu, tapi orang dimana-mana kelaparan layaknya 'zombie'. Bantuan yang datang hanya sedikit, bahkan tidak tersalurkan di beberapa daerah, seolah masyarakat dibunuh perlahan dengan kelaparan.
| (Sumber: Unsplash.com) |
Setelah sampai seberang, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot sampai ke Banda Aceh. Hampir semua kabupaten yang kami lewati pemandangannya sama, antrian dapur umum yang merebak, helikopter lalu lalang di udara, orang-orang berlari berebut bantuan logistik dengan telanjang kaki dan sebagian lelaki telanjang dada, serta tangisan anak kecil yang kehilangan keluarga. Sungguh seperti di film-film perang Hollywood Amerika, bahkan di beberapa tempat sudah tercium bau bangkai busuk yang tak tahu dari mana asalnya.
Aku dan kedua orangtuaku menginap di tempat saudara kami di Banda Aceh. Keesokan harinya, kami berangkat menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Sudah terlihat dari kejauhan beberapa anak yang memakai jaket sepertiku bersama keluarganya.
Kami menunggu arahan, satu jam kemudian kami disuruh bersiap oleh panitia.
Mamak berdiri memelukku, "Nak...! Belajar sungguh-sungguh di sana, jangan khawatirkan kami di sini, ya! Selagi Allah bersama kita, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Mamak yang air matanya mulai menetes di bahuku.
Aku mengangguk pelan. Sekuat mungkin kutahan air mata supaya tidak jatuh di hadapan mereka.
Kulihat ayah berdiri sengaja menatap langit, aku mendekat dan berdiri di hadapannya. Ayah memelukku lalu berkata "Ingat pesan mamakmu, Nak. Pesan Ayah cuma satu, jangan lupa doakan kami di setiap waktu salatmu." Ucap Ayah dengan suara mulai serak.
Aku memeluk mereka berdua "Mak...! Ayah...! Baik-baik di sini, ya. Jangan lupa doakan aku selalu, kalian adalah surgaku..." Air mataku akhirnya meleleh.
Kemudian aku bersama anak-anak seusiaku berjalan memasuki pintu masuk bandara sambil membawa barang, aku menoleh ke belakang melihat kedua pahlawanku berdiri di belakang orangtua yang lain, mereka beramai-ramai melambaikan tangan kepada kami.
Aku tahu hampir semuanya bernasib sama sepertiku. Aku berjalan dengan hati yang bercampur aduk, tapi tekadku seolah berbisik "Jangan sedih! Suatu saat badai akan berlalu, dan jangan sia-siakan harapan mereka!" Aku menyapu air mata, kemudian perlahan melangkah kembali dengan setengah hati yang hancur.
***
Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Sampai detik ini, keadaan di sana masih memburuk dan belum stabil. Selama bencana berlangsung, banyak mahasiswa di sini yang kesulitan mengetahui kabar keluarga mereka di sana. Banyak korban yang kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian. Banjir sudah surut, tapi penyakit dan kelaparan mulai merebak. Sungguh kelaparan itu lebih menyakitkan daripada terkena tembakan peluru. sebagaimana perkataan dari Ali bin Abi Thalib R.a.:
"لا وجع أوجع من جوع"
"Tidak ada penyakit yang lebih sakit daripada kelaparan"
Selayaknya insan Tuhan yang diberi akal dan hati, mari kita saling bahu-membahu membantu saudara-saudara kita sebangsa dan setanah air yang terkena musibah.
Pray for Aceh, Sumut, Sumbar dan seluruh saudara kita yang terkena musibah di seluruh penjuru dunia.
*Penulis merupakan mahasiswa tk. 4 Jurusan Syariah Islamiyyah, Universitas Al-Azhar, Kairo.
Editor: Siti Humaira
Posting Komentar