Menunggu Ikhlas atau Mulai Belajar?

Oleh: Hanif Maulana*
(Sumber: Unplash.com)

Salah satu kegelisahan terbesar yang sering dialami oleh seorang hamba khususnya thalibul ilmi adalah persoalan niat. Guru-guru sering mengingatkan agar memperbaiki niat, jangan belajar untuk mendapatkan kekuasaan, jabatan, pujian, harta, dan niat buruk lainnya.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Amalan itu tergantung niat, dan seseorang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.”

Imam Al-Khatib Al-Baghdadi (463 H) di dalam kitabnya Tarikh Baghdad meriwayatkan perkataan Imam Abu Hanifah (150 H):
من طلب العلم للمعاد … فاز بفضل من الرشاد

ويا لخسران من أتاه … لنيل فضل من العباد
“Barangsiapa menuntut ilmu demi akhirat, maka ia beruntung dengan limpahan petunjuk yang diridai. Dan alangkah meruginya orang yang mendatangi ilmu, hanya demi meraih pujian dari sesama makhluk.”

Imam Burhanuddin Az-Zarnuji (600 H) ikut menegaskan di dalam kitabnya Ta'limul Muta'allim,
"Hendaknya seorang thalibul ilmi memikirkan tujuan daripada belajar, karena ia mengerahkan banyak tenaga dan waktu demi ilmu. Maka, jangan sampai itu semua diniatkan agar mendapatkan dunia yang hina juga fana."

Lalu bagaimana jika niatnya belum lurus?
Apakah seseorang harus menunggu niatnya lurus sebelum belajar?
Dan bagaimana sikap seorang guru bila mendapati murid yang belum bagus niat belajarnya?

Imam Badruddin Ibnu Jama'ah (733 H) di dalam kitabnya Tadzkiratus Sami' menjelaskan bahwa seorang guru tidak boleh enggan mengajari murid yang belum sempurna niatnya. Karena niat bisa diperbaiki dalam perjalanan menuntut ilmu.
Sebagaimana perkataan Ulama Salaf:
"طلبنا العلم لغير الله فأبى أن يكون إلا لله"
“Dahulu kami mencari ilmu bukan karena Allah, tapi ilmu itu sendiri menolak kecuali untuk Allah.”

Maksudnya adalah perjalanan ilmu yang salah niat di awal itu akan membawa pemiliknya menuju keikhlasan. Setelah meneliti lebih lanjut, banyak ulama yang menisbatkan perkataan di atas kepada Imam Sufyan Ast-Tsauri (161 H).
Jika niat belajar yang ikhlas itu disyaratkan dan diwajibkan untuk pemula, maka akan berefek pada hilangnya ilmu itu sendiri. Jadi, apa solusinya? Gurulah yang mendidik murid untuk memperbaiki niat sedikit demi sedikit.
Imam Al-Maqrizi (845 H) menceritakan tentang kisah Imam Al-Ghazali (505 H) di kitabnya Al-Muqaffa Al-Kabir:
"Abul Abbas berkata, suatu hari kami berada dalam majelis Imam Abu Hamid Al-Ghazali, dan disebutlah perkataan: “Kami dahulu belajar ilmu bukan karena Allah, lalu ilmu itu menolak kecuali untuk Allah.”

Maka Imam Al-Ghazali sangat takjub dan berkata:
“Aku akan ceritakan sesuatu yang menakjubkan, yang menjadi bukti kebenaran perkataan ini.
Demi Allah, ayahku wafat dan meninggalkan sedikit harta untukku dan saudaraku, yang akan segera habis. Kami pun berada dalam keadaan sulit, sampai makanan pun tak bisa kami dapatkan. Lalu kami pergi ke salah satu madrasah, menampakkan diri seolah-olah ingin belajar fikih, padahal tujuan kami hanyalah untuk mendapatkan makanan. Awalnya kami belajar ilmu bukan karena Allah. Namun, ilmu itu menolak, dan tidak mau kecuali menjadi untuk Allah."


Kisah Imam Al-Ghazali tersebut juga diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi (748 H) dalam kitab Siyar A'lam Nubala' yang diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dengan sanadnya. Dan diceritakan juga oleh Abu Al-Abbas Aḥmad Al-Khaṭib. Imam Al-Ghazali sendiri di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin juga menjelaskan maksud dari perkataan tersebut.
Oleh karena itu, sebagian ulama yang mendalam ilmunya berkata,
makna dari ucapan mereka, “Kami dahulu belajar ilmu bukan karena Allah, lalu ilmu itu menolak kecuali untuk Allah. Kenyataan bahwa ilmu itu menolak dan enggan terbuka kepada kami. Maka, hakikatnya tidak tersingkap, dan yang kami dapatkan hanyalah lafaz dan pembicaraannya."

Jika engkau berkata: “Aku melihat sekelompok Ulama dan Ahli Fikih yang unggul dalam cabang dan pokok ilmu, bahkan termasuk tokoh-tokoh besar, tapi akhlak mereka buruk dan tidak bersih darinya.”
Maka, dijawab: “Jika engkau memahami tingkatan-tingkatan ilmu dan mengenal ilmu akhirat, akan jelas bagimu bahwa apa yang mereka sibukkan itu sedikit manfaatnya dari sisi ilmu itu sendiri. Manfaatnya hanya muncul jika dijadikan amal untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala.”

Di halaman lain, beliau melanjutkan:
"Tidak sepantasnya seseorang tertipu oleh ucapan Sufyan, “kami dahulu belajar ilmu bukan karena Allah, lalu ilmu itu menolak kecuali untuk Allah.”
Sebab banyak Ahli Fikih yang memang belajar bukan karena Allah, lalu sebagian dari mereka kembali kepada-Nya.

Namun, perhatikanlah akhir hidup kebanyakan dari mereka, dan ambillah pelajaran bahwa mereka wafat dalam keadaan binasa karena mengejar dunia, atau dalam keadaan rakus terhadapnya, atau berpaling darinya dan bersikap zuhud terhadapnya. Dan sungguh, kabar tidaklah sama dengan penglihatan langsung.

Ketahuilah bahwa ilmu yang dimaksud oleh Sufyan adalah ilmu Hadis, tafsir Al-Qur’an, dan pengetahuan tentang kisah para nabi dan sahabat. Karena di dalamnya terdapat unsur menakutkan dan peringatan, yang menjadi sebab munculnya rasa takut kepada Allah. Jika tidak memberi pengaruh langsung, maka akan memberi pengaruh di kemudian hari.

Adapun ilmu kalam dan fikih yang murni berkaitan dengan fatwa-fatwa transaksi, penyelesaian sengketa, perbedaan mazhab dan pendapat, maka ilmu semacam ini tidak akan mengembalikan pencarinya kepada Allah jika tujuannya adalah dunia. Bahkan ia akan terus tenggelam dalam kerakusannya hingga akhir hayatnya.

Namun, barangkali apa yang kami himpun dalam kitab Ihya Ulumuddin, jika dipelajari oleh seorang penuntut ilmu karena dorongan duniawi masih bisa diberi keringanan, karena ada harapan ia akan tersentuh dan sadar di akhir hidupnya. Sebab kitab ini dipenuhi dengan peringatan tentang Allah, dorongan menuju akhirat, dan peringatan keras terhadap dunia. Hal-hal semacam ini banyak ditemukan dalam hadis dan tafsir Al-Qur’an. Namun, tidak ditemukan dalam ilmu kalam, perdebatan, atau perbedaan mazhab.

Maka, tidak sepantasnya seseorang menipu dirinya sendiri. Karena orang yang lalai, tapi sadar akan kelalaiannya lebih beruntung daripada orang bodoh yang tertipu, atau orang yang pura-pura tidak tahu, tapi sebenarnya merugi."

Setelah memahami kisah dan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa alahkah baiknya jika niat diperbaiki sejak awal. Namun, jika niat belum sempurna, jangan berhenti belajar. Teruslah belajar sambil terus memperbaiki niat adalah jalan yang realistis. Dan guru berperan besar dalam membimbing murid agar niatnya tumbuh perlahan.

Ilmu bukan sekadar informasi. Ia cahaya, dan cahaya tidak akan menetap di hati yang terus-menerus memelihara ambisi dunia. Maka, yang harus dilakukan bukan menunggu niat sempurna, tetapi bergerak dan terus membersihkannya sepanjang perjalanan.

Semoga kita terus diberikan taufik untuk terus belajar dan memperbaiki niat hingga akhir hayat. Allahumma Amin.

*Penulis merupakan mahasiswa tingkat IV Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist, Universitas Al-Azhar, Kairo

Editor: Nisa Kamila

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top