Kedok Altruisme: Ketika People Pleasing Menjadi Egoisme Tersembunyi

Oleh: Fatia*

(Sumber.x.com content by @yudhiver)

Selama ini, kita sering memandang People Pleaser sebagai sosok yang penuh kebaikan pribadi yang selalu mengatakan “iya” tanpa batas. Tidak jarang, kami merasa kasihan melihat mereka kelelahan karena dianggap “terlalu peduli”. Namun, jika ditelaah lebih dalam secara psikologis, muncul pertanyaan mendasar: apakah pengorbanan tersebut benar-benar lahir dari ketulusan? Ataukah justru menjadi cara halus untuk melindungi diri sendiri?

Dalam banyak kasus, kesenangan orang bukan sekadar bentuk empati yang berkelimpahan, melainkan dapat menjadi wujud dari egoisme bawah sadar (unconscious egoism). Perilaku ini sering kali tidak berangkat dari keinginan tulus untuk memberi, melainkan dari kebutuhan untuk merasa aman. Trauma masa lalu dan rasa tidak aman (insecurity) mendorong seseorang untuk terus menyenangkan orang lain, bukan demi mereka, tetapi demi meredakan kecemasan dalam dirinya sendiri.

1. Mencari Keamanan: “Iya” sebagai Perisai

Seorang yang suka menyenangkan orang cenderung mengutamakan orang lain sambil mengabaikan dirinya sendiri. Namun, ini bukan karena ia memiliki kesabaran tanpa batas, melainkan karena ia sedang mencari perlindungan dari penolakan. Pola ini sering berkaitan dengan kebutuhan akan ketakutan akan penerimaan sosial (kebutuhan persetujuan/ need for approval) serta ketakutan terhadap penolakan (takut ditolak/fear of rejection).

Baca juga: Apakah Sastra Harus Bermoral? Sebuah Penolakan

Individu dengan kecenderungan ini biasanya sangat sensitif terhadap penilaian orang lain. Mereka menghindari konflik sebisa mungkin, bahkan jika harus mengorbankan perasaannya sendiri. Tidak jarang, mereka memaklumi perilaku buruk orang lain demi mempertahankan citra sebagai “orang baik”. Pada titik ini, fokus utama bukan lagi memberi, melainkan menciptakan versi diri yang dapat diterima oleh semua orang. Di situlah letak egoisme halus tersebut—sebuah upaya menjaga kenyamanan batin dengan mengorbankan kejujuran diri.

2. Riya' dan Manipulasi Citra Diri

Dalam perspektif Islam, fenomena ini dapat beririsan dengan konsep riya'. Seseorang tampak berbuat baik, tetapi dorongan utamanya adalah agar dipandang dan diakui sebagai manusia. Orang yang senang dalam kondisi tertentu dapat terjebak dalam pola ini—membangun citra kebaikan di luar, sementara batinnya rapuh dan penuh tekanan.

Meski begitu, penting untuk tidak terburu-buru menghakimi. Pola ini lebih tepat dipahami sebagai mekanisme koping maladaptif strategi bertahan hidup yang mungkin dahulu membantu seseorang menghadapi lingkungan yang keras, namun kini justru menggerus jati dirinya. Dalam prosesnya, seseorang bisa terus menerus membohongi dirinya sendiri demi menjaga penerimaan sosial.

Dalam tradisi Islam, terdapat pengingat bahwa mencari rida manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah benar-benar tercapai. Ketika seseorang menjadikan penilaian manusia sebagai tolok ukur utama, ia berisiko menggantungkan nilai dirinya pada sesuatu yang rapuh dan berubah-ubah.

3. Perbedaan dengan Itsar (Mendahulukan orang lain)

Islam memang memuji sifat itsar, sebagaimana Allah Taala memuji kaum Anshar dalam firman-Nya:

“...dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) di atas diri mereka sendiri, padahal mereka dalam kesulitan.” (QS. Al-Hasyr : 9)

Namun, meskipun demikian, menyenangkan hati orang-orang memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

  • Itsar dilakukan karena merasa cukup, percaya kepada Allah, dan mengharap rida-Nya. Pelakunya tidak membutuhkan balasan atau terima kasih, karena “upahnya” sudah diyakini berada di sisi Tuhan. Ia memberi dari posisi kekuatan dan kelapangan hati.
  • Sementara itu, peopleplease dilakukan dalam posisi kekurangan dan ketakutan. Ia berangkat dari fondasi yang rapuh dan kebutuhan akan validasi manusia. Jika tidak ada apresiasi atau ucapan terima kasih, ia bisa merasa kecewa atau marah, karena merasa “pengorbanannya” tidak dihargai.

Perbedaan ini juga dijelaskan dalam kaidah fikih:

“Mendahulukan orang lain dalam urusan ibadah hukumnya makruh, sedangkan dalam urusan duniawi hukumnya dicintai (sunnah/terpuji).”

Kaidah ini menunjukkan bahwa Islam tidak memandang pengorbanan secara mutlak, tetapi selalu mempertimbangkan konteks, proporsi, dan keseimbangan antara hak diri dan hak orang lain.

Dengan demikian, hal itu tertanam pada keikhlasan dan kekuatan batin yang melahirkan ketenangan, sedangkan kesenangan orang lebih sering dicabut pada ketakutan dan kebutuhan akan pengakuan yang justru melelahkan jiwa. 

4. Larangan Menzalimi Diri Sendiri

Menolong sesama adalah akhlak yang terpuji, namun kita harus ingat skala prioritas. Dalam Islam, menjaga diri sendiri juga merupakan amanah dari Allah. Allah berfirman:

“...dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah : 195)

Peopleplease yang sudah berlebihan dapat menjadi bentuk pengabaian terhadap amanah tersebut. Kita sibuk “memperbaiki” perasaan orang lain, sementara “rumah” amanah kita sendiri sedang terbakar.

Tubuh, mental, dan waktu kita bukanlah sesuatu yang dapat dihamburkan demi mengejar “skor” penerimaan di hadapan manusia. Karena pada akhirnya, yang kita abaikan bukan hanya batas diri sendiri, tetapi juga tanggung jawab terhadap diri yang seharusnya dijaga.

5. Penutup: Kembali pada Kejujuran

Kita tidak dapat memenuhi semua ekspektasi manusia. Suka dan benci adalah hak setiap orang yang berada di luar kendali kita. Yang perlu diubah adalah cara kita menghargai diri sendiri.

Kita tidak perlu sibuk mengemis penerimaan. Cukup hargai dan balas ketulusan dari mereka yang menerima kita apa adanya, tanpa transaksi emosional.

Jalan keluarnya bukanlah menarik diri dari kehidupan sosial, melainkan berani menetapkan batasan (self-boundaries). Berhentilah membohongi diri dengan kebaikan semu. Mulailah mencintai diri sendiri dengan berkata “iya” saat mampu dan berani berkata “tidak” saat tidak mampu.

Sebab pada akhirnya, kebaikan sejati tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari hati yang jujur, bukan dari jiwa yang ketakutan.


Editor: Azmi Putra

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top