Berat untuk Memulai? Alasan di Balik Sikap Suka Menunda
Oleh: Fathinatuzzayyan Al Kamilah*
(Sumber: Unplash.com)
Awal tahun atau awal tahun ajaran kerap menjadi momen bagi setiap orang untuk memasang target yang akan dicapai setahun ke depan, menyiapkan resolusi-resolusi agar tahun ini menjadi lebih baik dari tahun kemarin. Ingin lebih sehat atau memiliki target bacaan sekian atau lainnya. Namun, sangat disayangkan jika target-target tersebut akan berujung penyesalan di akhir tahun, dikarenakan apa yang direncanakan tak terealisasi. Mau tidak mau, hal-hal yang belum tercapai kembali masuk ke dalam daftar target tahun berikutnya. Bagaimana jika di tahun depan pun hal yang sama terulang kembali?
Tak hanya target tahunan, dalam keseharian pun, menunda tugas hingga detik-detik terakhir sering terbentuk menjadi sebuah kebiasaan. Siswa yang menunda waktu belajar hingga sehari sebelum ujian atau mahasiswa yang tak kunjung mengerjakan tugas, sudah menjadi fenomena yang umum. Bukan tak ingin mengerjakan, tapi karena berat untuk memulai. Akibatnya, tugas diselesaikan dalam kondisi lelah dan hasil yang kurang memuaskan karena dikejar oleh waktu. Ditambah lagi tugas yang ditunda lama-kelamaan akan menumpuk sehingga tidak bersemangat untuk mengerjakannya.
Sikap menunda atau lebih dikenal dengan prokrastinasi, sering kali dicap sebagai bentuk kemalasan. Padahal jika ditelusuri lebih dalam, penundaan tidak selalu lahir dari keengganan, melainkan dari rasa takut terhadap hasil yang tidak sesuai harapan, yang pada akhirnya membuat langkah awal terasa begitu berat.
Dalam kajian psikologi, prokrastinasi diartikan sebagai kecenderungan untuk menunda tugas secara sengaja meskipun individu menyadari bahwa penundaan tersebut dapat berdampak negatif (Steel, 2007). Bahkan, menurut Solomon dan Rothblum (1984), perilaku ini sering kali disertai dengan perasaan tidak nyaman, seperti cemas atau takut, yang membuat seseorang enggan untuk memulai aktivitas tersebut.
Seseorang yang menunda sebuah pekerjaan bisa jadi bukan karena tidak ingin melakukannya, melainkan karena aktivitas tersebut menghadirkan perasaan tidak nyaman. Ada muatan emosi negatif seperti kekhawatiran, keraguan, atau tekanan yang secara tidak sadar ingin dihindari. Demi menjaga kenyamanan sesaat, ia memilih menunda, meskipun sadar akan konsekuensi dan penyesalan yang mungkin datang di kemudian hari.
Contohnya, saat seseorang ingin hidup sehat dengan berolahraga. Ia ragu memulai karena membayangkan rasa capek dan rasa tak nyaman ketika berolahraga. Atau seseorang yang ingin menulis sebuah tulisan dengan ide yang telah tersusun, tetapi tak kunjung mulai karena khawatir hasil tulisannya tak memuaskan pembaca.
Baca juga: Maha Benar Ibu atas Segala Firasatnya
Ya, takut gagal adalah salah satu alasan seseorang tidak segera bergerak menyelesaikan aktivitasnya. Hasil yang tak sesuai dengan harapan lebih dikhawatirkan daripada mulai mencoba. Selain itu, keinginan untuk terlihat sempurna turut menjadi faktor terjadinya prokrastinasi dalam diri. Standar yang terlalu tinggi justru membuat langkah pertama terasa berat. Alih-alih memulai dengan apa yang ada, seseorang justru terjebak dalam pikiran rumit untuk mencapai kesempurnaan yang diimpikan. Menunda, berharap waktu yang tepat itu datang dan ia siap menghadapinya. Padahal nyatanya tak ada yang benar-benar siap, kecuali ia memaksa dirinya untuk memulai.
Tak jarang juga, pikiran yang terlalu penuh (overthinking) menjadi penghalang. Terlalu banyak mempertimbangkan, merencanakan, dan membayangkan berbagai kemungkinan, sehingga sulit untuk bergerak, bahkan untuk hal yang sederhana sekalipun. Pada akhirnya, tugas yang sebenarnya ringan, terasa berat dan menakutkan.
Dampak negatifnya, waktu terbuang tanpa disadari, tugas perlahan menumpuk, dan tekanan semakin meningkat. Muncul perasaan bersalah tiap menunda sebuah pekerjaan, diikuti dengan menurunnya kepercayaan diri. Apalagi jika siklus ini terus berulang, dari satu tugas ke tugas lainnya, bahkan dari satu tahun ke tahun berikutnya.
Lalu, bagaimana solusinya?
Untuk memulai tak perlu menunggu siap dan sempurna, langkah kecil justru akan memunculkan rasa siap itu sendiri. Hendak mempelajari satu bab, coba mulai dengan satu paragraf terlebih dahulu. Siapa tahu memunculkan rasa penasaran, sehingga berlanjut ke paragraf, halaman, bahkan bab-bab selanjutnya.
Memecah tugas besar menjadi bagian sederhana dan spesifik, juga efektif untuk menyelesaikan target-target yang kita rancang, serta membantu otak agar tidak merasa terbebani. Ketika berat menargetkan untuk menulis sebuah buku, coba sederhanakan dengan menulis satu paragraf perhari. Yang terpenting, melawan kecenderungan untuk terus berpikir tanpa bertindak. Sebab, keberanian untuk memulai adalah kunci untuk terbebas dari lingkaran penundaan.
Bisa jadi yang kita hindari selama ini bukanlah tugas itu sendiri, melainkan rasa takut dan tidak nyaman yang mengiringinya. Dan satu-satunya cara untuk menghadapinya adalah dengan, mulai saja dulu!
Editor: Nisa Kamila

Posting Komentar