Tahkik 231 Hadis, Perjuangan Mahasiswa Aceh Raih Magister Mumtaz di Universitas Al-Azhar
0
Komentar
Suasana ruang sidang di auditorium adz-Zahabi Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Darrasah, Kairo, tampak begitu khidmat pada Rabu, 1 Juli 2026. Sejumlah profesor, doktor, mahasiswa, serta tamu undangan memenuhi ruangan yang menjadi saksi puncak perjalanan magister seorang mahasiswa Indonesia asal Aceh. Di hadapan Prof. Dr. Mahmud Sayyid Salamah Bukhtiyah selaku Ketua Sidang sekaligus Musyrif Ashli (pembimbing utama), Prof. Dr. Ahmad Zaid Mabrouk selaku Munaqisy Khariji (penguji eksternal), serta Prof. Dr. Mostafa Hasan Husein Abu al Khair selaku Munaqisy Dakhili (penguji internal) dari Fakultas Ushuluddin, Muhammad Azkia Rahmatillah mempresentasikan hasil penelitian tesisnya dalam sidang munaqasyah Program Magister Hadis dan Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar.
Bagi Azkia, hari itu merupakan puncak dari perjalanan panjang yang telah ditempuh selama bertahun-tahun. Rabu pagi, 1 Juli 2026, menjadi hari yang telah lama dinantikan. Setelah melewati proses penelitian selama hampir dua tahun, Muhammad Azkia Rahmatillah akhirnya memasuki ruang munaqasyah di auditorium Imam adz-Zahabi, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Darrasah, Kairo. Di hadapan dewan penguji, ia mempresentasikan hasil penelitiannya mengenai tahkik kitab at-Taysir fi Ahadis al-Basyir an-Nazir karya Imam at-Turkumani yang mencakup penelitian terhadap sekitar 231 hadis.
Sidang dipimpin oleh Prof. Dr. Mahmud Sayyid Salamah Bukhtiyah selaku Ketua Sidang sekaligus Musyrif Ashli. Turut hadir, Prof. Dr. Ahmad Zaid Mabrouk sebagai Munaqisy Khariji, serta Prof. Dr. Mostafa Hasan Husein Abu al Khair selaku Munaqisy Dakhili dari Fakultas Ushuluddin. Kehadiran para profesor dan doktor tersebut menghadirkan suasana ilmiah yang penuh wibawa, sebagaimana tradisi akademik yang telah lama dijaga oleh Universitas Al-Azhar.
Selama kurang lebih tiga jam, dewan penguji menguji setiap aspek penelitian, mulai dari metodologi tahkik, analisis sanad dan matan hadis, penggunaan referensi klasik, hingga argumentasi ilmiah yang digunakan dalam menyusun pembahasan. Berbagai pertanyaan diajukan secara kritis, tapi tetap berlangsung dalam suasana akademik yang santun dan penuh penghormatan. Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika Prof. Dr. Ahmad Zaid Mabrouk menyampaikan apresiasinya terhadap kualitas penelitian tersebut. Menurutnya, tesis yang disusun Azkia merupakan salah satu karya ilmiah terbaik yang pernah dibaca, terutama dari aspek ketelitian dalam melakukan tahkik hadis, sistematika pembahasan, serta konsistensi penggunaan metodologi ilmiah. Beliau menilai keberhasilan tersebut bukan hanya menunjukkan kesungguhan peneliti, tetapi juga mencerminkan proses bimbingan yang berjalan dengan sangat baik di bawah arahan para musyrif. Meski demikian, beliau tetap memberikan sejumlah catatan ilmiah sebagai bentuk penyempurnaan agar kualitas karya tersebut semakin baik ketika dipublikasikan.
Apresiasi serupa juga disampaikan oleh penguji internal. Menurutnya, penelitian tersebut memiliki nilai akademik yang tinggi dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian hadis, khususnya dalam bidang tahkik manuskrip dan studi fikih hadis. Berbagai masukan yang diberikan lebih banyak berkaitan dengan penyempurnaan metodologi, penggunaan istilah ilmiah, serta beberapa aspek kebahasaan, tanpa mengurangi substansi penelitian yang telah disusun. Dalam kesempatan tersebut, para penguji juga memberikan penghargaan kepada Prof. Dr. Mahmud Sayyid Salamah Bukhtiyah dan Dr. Ahmad Ramadan Muhammad Qasim atas dedikasi mereka selama mendampingi proses penelitian. Bimbingan yang dilakukan secara intensif dinilai berhasil membentuk kemampuan akademik mahasiswa sehingga mampu menghasilkan karya ilmiah yang memenuhi standar penelitian Universitas Al-Azhar.
Setelah seluruh sesi tanya jawab berakhir, dewan penguji meninggalkan ruangan untuk bermusyawarah. Setelah beberapa saat mereka kembali memasuki ruang sidang. Prof. Dr. Mahmud Sayyid Salamah Bukhtiyah selaku Ketua Sidang membacakan keputusan yang telah ditunggu-tunggu. Muhammad Azkia Rahmatillah dinyatakan lulus sebagai Magister (M.A.) Program Studi Hadis dan Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar dengan predikat Mumtaz (sempurna). Sebuah capaian yang menjadi buah dari perjalanan akademik hampir enam tahun lamanya. Namun, keberhasilan tersebut tidak lahir dalam semalam. Di balik senyum yang menghiasi akhir sidang, terdapat ribuan jam membaca kitab, meneliti manuskrip, menyusun ratusan halaman tesis, menghadapi revisi tanpa henti, hingga melewati proses administrasi yang panjang dan melelahkan. Perjalanan itu dimulai setelah Azkia menyelesaikan pendidikan strata satu di Universitas Al-Azhar pada tahun 2020. Seperti mahasiswa asing lainnya yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister, ia terlebih dahulu harus menempuh program Tamhidi (diploma) Dirasat Ulya sebagai tahap persiapan akademik.
Secara umum, program tersebut dapat diselesaikan dalam waktu dua tahun. Namun, berbagai kendala akademik dan administrasi membuat masa studinya berlangsung sekitar tiga tahun. Waktu tersebut justru menjadi fase penting untuk memperkuat kemampuan membaca literatur klasik, memahami metodologi penelitian hadis, sekaligus membiasakan diri dengan tradisi ilmiah yang menjadi ciri khas Universitas Al-Azhar. Setelah memperoleh nilai kelulusan pada September 2023, ia segera mempersiapkan seluruh persyaratan untuk memasuki jenjang magister. Berkas-berkas dikumpulkan, mulai dari ijazah Tamhidi, pemindahan dokumen akademik, hingga penyusunan proposal penelitian yang akan diajukan kepada Majlis Qism.
Baca Juga: Polemik “Perang Logika” di Era Digital
Dalam proses tersebut, ia mendapatkan arahan langsung dari Prof. Dr. Ied Abu Kuraim, salah seorang guru besar bidang Hadis Universitas Al-Azhar. Melalui berbagai masukan akademik, proposal penelitian yang disusun terus disempurnakan hingga akhirnya memperoleh persetujuan dari Majlis Qism pada awal Oktober 2023. Banyak orang mengira bahwa tantangan terbesar mahasiswa pascasarjana adalah menyusun tesis. Kenyataannya, sebelum penelitian dimulai, mahasiswa terlebih dahulu harus melewati rangkaian administrasi yang cukup panjang. Salah satu tahapan penting adalah memperoleh surat bara’ah, yaitu dokumen yang menyatakan bahwa judul penelitian belum pernah digunakan oleh mahasiswa lain di seluruh cabang Universitas Al-Azhar maupun sejumlah perguruan tinggi di Mesir. Proses ini bukan sekadar formalitas. Judul penelitian harus diperiksa pada 23 kampus yang tersebar di berbagai wilayah Mesir. Untuk mempercepat proses, mahasiswa Indonesia membagi tugas sehingga masing-masing mendatangi dua hingga tiga kampus. Sementara untuk kampus-kampus di wilayah selatan Mesir seperti Aswan dan Sohag, dokumen dikirim melalui pos kepada rekan-rekan yang tinggal di daerah tersebut untuk membantu proses pengecekan. Seluruh tahapan ini memakan waktu sekitar dua minggu sebelum seluruh surat bara’ah berhasil dikumpulkan kemudian diserahkan ke majlis kuliah untuk menunggu kesepakatan dari para duktur.
Tahapan berikutnya adalah menyerahkan semua berkas ke majlis jamiah dan memperoleh muwafaqah amniyah, yaitu persetujuan dari pihak keamanan Mesir terhadap tema penelitian yang diajukan. Selama menunggu keputusan yang memerlukan waktu sekitar enam bulan, Azkia memilih untuk tidak membuang waktu. Ia mulai membaca berbagai referensi dan menyusun tahapan awal penelitian agar ketika izin resmi keluar, proses akademik dapat langsung berjalan.
Tema penelitian yang dipilih bukanlah penelitian biasa. Azkia memperoleh amanah untuk melakukan tahkik, takhrij, dan analisis terhadap sekitar 231 hadis yang terdapat dalam kitab at-Taysir fi Ahadis al-Basyir an-Nazir karya Imam at-Turkumani, sebuah kitab hadis klasik yang hingga kini belum pernah dicetak secara luas. Selama Januari 2024, seluruh hadis tersebut diteliti satu per satu melalui proses tahqiq awal. Tahap ini menjadi fondasi penting sebelum memasuki analisis sanad, matan, istinbat hukum, serta pembahasan ilmiah yang lebih mendalam bersama para pembimbing. Setelah seluruh matan hadis selesai ditahqiq secara umum, hasilnya diserahkan kepada kedua musyrif. Sejak saat itulah proses bimbingan ilmiah dimulai. Arahan demi arahan diberikan agar penelitian tidak hanya memenuhi syarat akademik, tetapi juga mengikuti manhaj penelitian yang berlaku di Universitas Al-Azhar.
Belum lama memasuki tahap penelitian, sebuah amanah besar kembali datang. Azkia dinyatakan lolos sebagai Petugas Haji Indonesia Tahun 2024. Kesempatan tersebut membuat ritme penelitiannya berubah. Persiapan keberangkatan, pelatihan, hingga tugas melayani jamaah haji di Arab Saudi menyita sebagian besar waktunya. Meski demikian, ia tidak membiarkan penelitian berhenti. Di sela-sela kesibukan untuk mempersiapkan diri sebagai petugas haji, ia tetap menyelesaikan sekitar 20 hadis sebelum akhirnya berangkat ke Arab Saudi pada awal Mei 2024. Setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai, ia kembali ke Mesir pada pertengahan Juli dan langsung melanjutkan penelitian tanpa mengambil waktu istirahat yang panjang. Baginya, target menyelesaikan tesis pada tahun 2026 harus tetap diwujudkan.
Suasana munaqasyah
(Sumber: Dok.Pribadi)
Setelah kembali ke Kairo, ia menyusun target yang lebih terukur. Setiap bulan ditetapkan jumlah hadis yang harus diselesaikan. Setiap hari diisi dengan membaca referensi, menulis, menelaah kitab-kitab hadis, serta menyempurnakan hasil penelitian. Di sela aktivitas tersebut, ia juga tetap menghadiri berbagai majelis ilmu di lingkungan Al-Azhar dan Sahah Aceh sebagai bagian dari tradisi keilmuan yang tidak pernah ditinggalkannya. Namun, fase inilah yang justru menjadi ujian terberat dalam perjalanan akademiknya. Hadis pertama yang ia setorkan kepada musyrif pendamping menjadi pelajaran yang tidak terlupakan. Hampir seluruh bagian penelitian mendapat koreksi. Metode penulisan, teknik analisis sanad, penyusunan pembahasan, hingga detail penggunaan referensi harus diperbaiki berulang kali. Dalam satu hari, ia bahkan dapat melakukan beberapa kali revisi sebelum dianggap memenuhi standar ilmiah yang diterapkan di Universitas Al-Azhar. Akibatnya, selama hampir satu bulan penuh, baru satu hadis yang berhasil diselesaikan melalui proses bimbingan.
Melihat proses yang begitu panjang, sempat muncul kekhawatiran dalam dirinya. Jika satu hadis saja membutuhkan waktu hampir satu bulan, bagaimana mungkin seluruh penelitian yang berjumlah sekitar 231 hadis dapat diselesaikan tepat waktu? Namun, bukannya berhenti, ia memilih terus menulis. Sambil menunggu hasil koreksi terhadap hadis pertama, ia tetap melanjutkan penelitian hadis-hadis berikutnya secara mandiri. Prinsip yang ia pegang sederhana, pekerjaan tidak boleh berhenti hanya karena masih menunggu revisi. Ketika satu hadis sedang diperiksa, hadis-hadis lain harus tetap berjalan sehingga target penyelesaian tidak bergeser terlalu jauh. Perlahan tetapi pasti, pola penelitian mulai dipahami.
Setelah beberapa bulan menjalani bimbingan secara intensif, musyrif melihat adanya perkembangan yang signifikan. Tulisan yang sebelumnya penuh koreksi mulai menunjukkan kualitas yang lebih baik. Metode penelitian yang digunakan telah sesuai dengan manhaj yang diharapkan. Sejak saat itu, pola bimbingan pun berubah. Jika sebelumnya konsultasi dilakukan hampir setiap pekan, kini pembimbing memberikan ruang yang lebih luas agar mahasiswa mampu bekerja secara mandiri. Komunikasi tidak hanya dilakukan melalui pertemuan langsung, tetapi juga melalui pesan singkat dan telepon ketika terdapat persoalan yang membutuhkan arahan.
Selain fokus menyusun tesis, Azkia tetap menjaga tradisi keilmuan yang menjadi ciri khas Al-Azhar. Ia rutin menghadiri berbagai majelis hadis di lingkungan Masjid Al-Azhar, mengikuti kajian para masyayikh, serta aktif membantu kegiatan keilmuan di Sahah Aceh. Baginya, pembentukan seorang peneliti tidak hanya terjadi di ruang perpustakaan, tetapi juga melalui interaksi langsung dengan para ulama dan tradisi ilmu yang hidup di tengah masyarakat akademik. Usaha yang dilakukan secara konsisten akhirnya membuahkan hasil. Pada Desember 2025, seluruh penelitian terhadap 231 hadis berhasil diselesaikan. Selanjutnya, Januari 2026 digunakan untuk menyunting naskah, memperbaiki tata letak, menyusun daftar pustaka, dan mempersiapkan seluruh persyaratan menuju sidang tesis.
Awal Februari 2026 menjadi momen penting berikutnya. Kedua pembimbing, Prof. Dr. Mahmud Sayyid Salamah Bukhtiyah dan Dr. Ahmad Ramadhan Muhammad Qasim, memberikan takrir salahiyah, yaitu surat yang menyatakan bahwa tesis tersebut telah layak diajukan ke tahap munaqasyah. Setelah memperoleh persetujuan tersebut, naskah mulai diserahkan kepada para penguji sesuai prosedur yang berlaku di Fakultas Ushuluddin. Meski seluruh persyaratan telah selesai, jadwal munaqasyah tidak langsung ditetapkan. Padatnya agenda akademik para profesor, pelaksanaan ujian mahasiswa strata satu, serta antrian tesis lain membuat sidang harus mengalami beberapa kali penyesuaian jadwal. Hingga akhirnya, seluruh pihak menyepakati bahwa munaqasyah dilaksanakan pada Rabu, 1 Juli 2026, di auditorium Imam adz-Zahabi, Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Darrasah, Kairo. Keberhasilan tersebut sekaligus menutup perjalanan akademik yang telah dimulai sejak tahun 2020 ketika Azkia menyelesaikan pendidikan strata satu dan melanjutkan ke jenjang Tamhidi. Jika dihitung sejak memasuki program persiapan hingga meraih gelar magister, perjalanan tersebut berlangsung sekitar lima setengah tahun. Waktu yang tidak singkat, diisi dengan proses belajar yang panjang, penelitian yang melelahkan, serta berbagai tantangan yang harus dihadapi dengan kesabaran dan ketekunan.
Bagi Azkia, tesis bukan sekadar syarat untuk memperoleh gelar akademik, tapi lebih dari itu. Penelitian merupakan proses pembentukan karakter seorang penuntut ilmu. Ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca kitab-kitab klasik, menelusuri sanad hadis, memperbaiki setiap halaman tesis, menghadiri majelis para ulama, hingga menerima koreksi tanpa henti dari para guru telah menjadi bagian dari perjalanan yang membentuk dirinya sebagai seorang akademisi. Keberhasilan meraih predikat Mumtaz (sempurna) bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab baru. Ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, menjadi bagian dari pengembangan kajian hadis, serta menginspirasi generasi muda Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di berbagai belahan dunia. Di balik setiap halaman tesis yang kini tersimpan di perpustakaan Universitas Al-Azhar, terdapat kisah tentang ketekunan, kesabaran, dan pengorbanan. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan secara istiqamah pada akhirnya akan mengantarkan seseorang menuju tujuan yang selama ini diperjuangkan.
*Penulis merupakan mahasiswa tingkat 4, Jurusan Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar
Editor: Nisa Kamila
Posting Komentar