Menjemput Harapan Basah
Oleh: Naa
![]() |
| (Sumber: Pinterest) |
Andai aku bukan sekadar pedagang durian, mungkin saat ini kami sudah berlindung di kamar hotel yang hangat. Istriku tak perlu cemas menatap dasar wadah beras yang mengering, dan anak-anakku bisa melahap apa saja yang mereka inginkan. Namun, jemariku yang mengerut karena dingin membuyarkan lamunan itu. Tanganku memaksaku kembali ke realitas: sisa durian ini harus laku malam ini, bagaimanapun caranya.
Hujan tak kunjung reda sejak minggu lalu. Air yang seharusnya turun sebagai berkah, kini menjelma petaka lumpur tebal dan gelondongan kayu yang meluluhlantakkan hampir seluruh provinsi. Jembatan-jembatan utama ambruk, jalan lintas nasional terputus, dan tiang-tiang listrik tumbang. Kantor, sekolah, dan fasilitas umum hancur total. Perekonomian lumpuh. Jalan darat tak lagi bisa dilalui. Sebagian daerah terisolasi, sebagian lain hilang tak bersisa, seolah tak pernah ada. Hujan ini seakan sedang mengembalikan hasil keserakahan manusia kepada pemiliknya.
Di tempatku berdiri, air sekeruh kopi susu sudah naik semata kaki, hampir menenggelamkan sisa durian yang kupunya. Ini gila. Orang waras mana yang akan membeli durian di tengah bencana seperti ini? Seluruh kota gelap gulita. Sinyal ponsel mati total. Yang terdengar hanyalah deru hujan dan petir yang terus menyambar-nyambar.Namun di rumah, istriku sedang menatap wadah beras yang kosong. Anak-anakku merengek meminta makan. Jikalau air naik lebih tinggi, mau tidak mau kami harus mengungsi tanpa membawa apa-apa. Sekarung durian yang hampir tenggelam ini adalah satu-satunya harapanku. Kalau tidak laku malam ini, mereka hanya akan menjadi seonggok sampah yang mengapung di tengah banjir.
Baca juga: Surga di Rumah Sabela
Tiba-tiba, seorang pria muncul dari kegelapan. Napasnya memburu, matanya merah, dan bajunya basah kuyup. Ia berhenti di depan lapakku yang hanya diterangi satu senter redup dan dinaungi selembar payung kecil yang lusuh."Numpang neduh, Pak," suaranya parau, hampir tenggelam oleh deru hujan. Aku mendongak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa harga diri. Hati nurani menyuruhku untuk iba, tetapi logika bertahan hidup menuntutku untuk menjual sisa durian ini kepadanya, apa pun yang terjadi. Namun, sebelum sempat kutawarkan, pandangannya sudah tertuju pada buah-buah berduri itu. Tatapannya sulit kuartikan—bukan tatapan lapar, melainkan sorot penuh rindu sekaligus kecemasan yang mendalam."Masih jualan, Pak?" tanyanya pelan. Aku sempat ragu. Harusnya kujual mahal karena ini barang langka di tengah bencana. Namun, melihat sorot matanya, aku tahu dia pun sedang memegang erat sisa-sisa harapannya. "Masih, Pak. Tinggal tiga ini. Ambil saja semuanya, saya kasih setengah harga. Yang penting saya bisa beli beras untuk makan keluarga saya besok," jawabku. Pria itu terdiam sejenak. Ia merogoh saku dan mengeluarkan beberapa lembar uang yang basah. Kami saling bertukar: aku menyerahkan buah yang aromanya sangat kontras dengan bau air bercampur lumpur ini, dan ia menyerahkan napas buatan bagi keluargaku besok pagi. “Anak saya di pesantren, Pak..." Suaranya tertahan. Ia meremas lembaran uang basah di genggamannya sebelum menyerahkannya kepadaku. "Di sana banjirnya sudah sepinggang. Sinyal mati, saya tidak tahu dia sudah makan atau belum. Tapi, dia suka sekali makan durian." Aku menatap pria itu dengan rasa iba yang mendalam. Ternyata kami berada di perahu yang sama, sama-sama sedang bertaruh nyawa demi keluarga. Aku menerima uang darinya dengan tangan gemetar, lalu membungkus durian-durian itu dengan karung agar aromanya tidak menyengat di tengah gempuran banjir.
"Terima kasih, Pak. Hati-hati di jalan. Air di depan sana lebih dalam dan arusnya kencang. Semoga anakmu bisa pulang ke rumah dengan selamat."
"Semoga kita semua sampai di rumah dengan selamat," balasnya seraya tersenyum tipis.
Ia kembali melangkah, menembus gelapnya kota yang lumpuh. Pria itu memeluk karung berisi durian erat-erat, seolah itulah satu-satunya barang paling berharga yang tersisa di dunia.
Editor: Zarvialiaunillah

Posting Komentar