Surga di Rumah Sabela

Oleh: Zahratul Mawaddah*
(Sumber: Pinterest.com)

Ibu menangis sembari memeluk erat tubuh kecil Sabela. Sedang sang gadis sibuk dengan boneka kelincinya. Dokter dan perawat menatap iba, meski kejadian ini sudah sering mereka hadapi, tapi hati kecil mereka tetap meringis sedih.

Hari-hari berlalu, dan setiap malam, saat sinar bulan pelan-pelan menjejaki halaman rumah, ibu selalu bersimpuh di sajadah. Menengadah dengan isak paling pilu, kata-kata paling syahdu, lirih hamba paling merdu, yang sayangnya belum dimengerti gadis kecil itu. Yang ia tahu—dari Nenek, kalau berdoa malam hari, Tuhan akan mengabulkan semua permintaannya, dan ia akan meminta banyak boneka.

Sebelum ikut terlelap, samar-samar ibu membisikkan kata cinta, menyemangati seraya berkata bahwa gadis itu kuat. Dan Sabela akan berpura-pura menutup mata, lalu kecupan singkat hinggap di dahinya. Pelukan ibu selalu menjadi tempat favorit, selimut terhangat yang pernah ia punya. Kelak ia tahu, itu tempat teraman dari kerasnya dunia.

Sejak hari ketika ibu bertemu dokter dan menangis, banyak hal di rumah mereka berubah. Lemari di dapur yang biasanya diisi jajanan tak lagi sama. Tak ada gulali, cokelat, es krim, dan jeli. Meski merengek dan berguling di lantai, ibu menggeleng keras. Ayah juga berubah. Dulu, saat makanan warna-warni itu masih di sana, lelaki itu suka menyelipkan sebatang permen ke sakunya. Sering kali bahkan cokelat dan es krim. Meski selalu ketahuan oleh ibu, lantaran gadis itu berseru “Aku tidak makan yang manis, Bu!” Dengan gigi penuh cokelat atau sisa es krim di pipi gembulnya. Ibu akan tersenyum misterius dengan ancang-ancang akan mengejar ayah yang menggendong Sabela, untuk digelitik dan tertawa bersama.

Di meja makan, berbagai botol obat berjejer. Entah sejak kapan benda-benda itu berada di sana. Ibu jadi rajin mengingatkan sekeluarga untuk menjaga kesehatan. Dan warna-warni jajanan kini diganti dengan warna-warni buah dan sayuran. Meski beberapa minggu pertama gadis itu muntah lantaran rasa aneh dan hambar sayuran.

Sore Jumat, jadwal bapak pengantar piza kini diganti dengan mbah jamu. Dari kejauhan, gadis itu melompat “Mbah, jamu anak pintarnya 1!” Tak ada lagi bioskop mini malam Minggu. Jam sembilan malam, seluruh lampu rumah harus sudah padam. Dan setiap gerobak jajanan lewat, ibu selalu mengunci pintu depan.

*

Pelataran belakang rumah yang menghadap langsung ke sawah dan pegunungan menjadi tempat keluarga kecil itu berbagi kisah di sore hari. Ditemani teh melati dan biskuit kelapa. Sambil menyaksikan matahari berpamitan dengan elegan, dan burung-burung mengepak sayapnya dengan elok, serentak membentuk barisan. hal yang sama berulang setiap harinya. Indah sekali. Sampai Sabela kira, Tuhan juga menciptakan surga di rumahnya. Dengan Ayah yang jadi malaikat dan Ibu bidadarinya. Ah, indah sekali.


Pagi itu ayam tak berkokok seperti biasanya. Gadis itu dibangunkan oleh aroma roti bakar keju buatan ibu, lengkap dengan hiasan mata, hidung, dan mulut. Dengan langkah patah-patah ia menuju dapur, memeluk erat leher Cimi si boneka kelinci, dan telunjuk mungilnya yang mengucek mata. Lalu pelukan ayah menyambut, mengangkat tubuh kecil itu tinggi-tinggi, hingga rasanya ia bisa terbang ke langit sana.

Sesekali, saat mimpi buruk mengusik, ia akan menangis kencang. Ibu dan ayah selalu menjadi kata pertama yang ia teriakkan. Baik saat dunianya menggelap atau benderang. Ibu akan memeluk erat. Menularkan cinta, menghangatkan raga, meredakan riuh pikiran dan dada, seolah mengalirkan lagi darah yang sempat terhenti.

Dan Sabela tahu, dua sosok itu akan selalu jadi obat untuk sakitnya, rumah tempat ia pulang, mangkuk kosong tempat ia menuang tawa dan air mata. Juga menjadi hujan saat lubuknya kerontang, dan lampu paling terang saat energi gadis itu temaram. Bersama mereka, Sabela merasa aman dan yakin dunia selalu baik saja.

*

“Ya Allah, aku sudah tidak sanggup.” Sabela melangkah pelan dari celah pintu, ia melihat ibu meringis memegangi kepala. Dan Ayah sibuk membuka botol obat. Wajah lelaki itu menyimpan khawatir, dan ia tak berhenti menyemangati ibu.

“Kamu pasti sembuh!” serunya meyakinkan.

“Sabela masih butuh kamu.”

Ibu menggeleng, sedang air mata terus mengalir. Ketika wanita itu membuka hijab, sabela menutup mulutnya, menahan jinjitan kaki, matanya berkedip beberapa kali. Ia baru menyadari sudah lama ibu tak melepas hijab di rumah. Ternyata tak tersisa sehelai rambut pun di kepalanya. Dan setiap pagi ibu melukis alis agar tak ketahuan Sabela.

Sebulan berlalu, gadis itu menahan pertanyaan tentang rambut ibu. Tengah malam, suasana rumah riuh. Sabela yang masih setengah sadar digendong nenek. Seluruh anggota keluarga tiba-tiba ada di sana—dengan ekspresi panik dan gelisah, beberapa sibuk merapalkan doa, sisanya menatap gadis kecil itu iba. Ayah memegang pundak Sabela, menatap dalam maniknya, menyampaikan pesan yang tak sanggup ia lontarkan, lalu bergegas keluar rumah.

Satu jam, dua jam. Seisi rumah seolah membeku, menunggu dering telepon yang menjadi penentu masa depan Sabela. Paman dan bibi memegang erat kitab mereka, sedang mulut kakek tak berhenti komat-kamit,

kring...kring...kring

Bibi mengangkat telepon itu gelagapan, masih dengan harapan. Tiga detik kemudian benda tersebut lolos dari tangannya, dan tangis wanita itu pecah, disusul tangisan seisi rumah. Dan Sabela masih tak mengerti. Tentang apa yang terjadi saat ini. Satu per satu orang memeluknya pilu, dengan tatap sendu, berharap pelangi datang di awan kelabu.

Tak lama, sirine ambulans terdengar, membawa tubuh Ibu yang mulai kaku. Senyum ibu indah, tak pernah seindah ini, seolah memberi tahu sabela, bahwa kini wanita itu bahagia. Tak merintih kesakitan lagi. Badan Ibu wangi, seakan dipeluk bunga-bunga. Raga, tawa, kasih, bahagia, semua ikut dibawanya. Membawa cinta yang dulu Sabela punya.

Bayang ibu tak pernah luput. Meski kini, sore hari matahari tak lagi berpamitan dengan anggun, karena saat malam tiba, rasa rindu itu seakan ingin membunuh Sabela. Membungkamnya dengan sepi, sunyi, dan hal lain yang bertentangan dengan surga.

*Penulis merupakan mahasiswi tingkat III Fakultas Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar Kairo

Editor: Thariq Faiz

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top