Rizqa Suraiya: Melangkah Meski Ragu, Berlabuh di Mawapres Syariah Islamiyyah 2026

Oleh: Syifa Munaya*
(Sumber: Dok. Pribadi)

Bagi Rizqa Suraiya, masa akhir perkuliahan bukan alasan untuk mengendurkan tempo. Di antara padatnya aktivitas, pagi hari menjadi waktu belajar paling efektif baginya. Momen tenang sebelum fajar menjadi waktu favorit Rizqa untuk mengulas materi, memperdalam hafalan, serta muraja'ah Al-Qur’an dengan fokus penuh.

Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten ini menjadi fondasi utama di balik deretan pencapaiannya. Kehadiran perkuliahan yang terjaga, keaktifan di kampus, serta kegemarannya mengikuti talaqqi hadis telah membawanya mengantongi predikat mumtaz setiap tahun dan langganan masuk jajaran awail asyarah (10 besar) di Jurusan Syariah Islamiyyah, Universitas Al-Azhar Kairo.

Di luar urusan perkuliahan dan talaqqi, Rizqa memiliki kedekatan tersendiri dengan dunia literasi. Kebiasaan menulis yang tumbuh sejak kecil berkat dorongan sang ibu yang rajin membiasakannya merangkai kata. Kebiasaan masa kecil itu terus dirawat hingga dewasa. Sampai akhirnya, Rizqa berhasil menerbitkan bukunya sendiri di tengah padatnya aktivitas perkuliahan.

Puncak perjalanan akademiknya kian lengkap saat ia dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) Syariah Islamiyyah 2026. Menariknya, langkah Rizqa menuju panggung Mawapres justru diawali dari keberanian kecil untuk melawan rasa ragunya sendiri.

“Awalnya ragu banget mau daftar, karena jujur aku penuh ragu, takut, dan kurang percaya diri,” kenang Rizqa.

Namun, setelah meminta izin kepada kedua orang tua serta mendapat dukungan penuh dari teman-teman terdekat, ia memilih untuk mencoba. Dukungan itu menjadi bahan bakar pertama. Tanpa ekspektasi berlebih dan masih menyisakan rasa ragu, Rizqa memberanikan diri mendaftar. Langkah pertamanya berjalan mulus, ia lolos screening berkas yang menilai akumulasi pencapaian akademik dan nonakademiknya.

Lolos berkas menjadi awal dari perjuangan sesungguhnya. Rizqa dan para calon mahasiswa berprestasi (camawapres) lainnya harus memasuki babak Sekolah Mawapres, wadah pelatihan intensif untuk mengasah kemampuan esai, personal branding, hingga public speaking.

Puncaknya adalah tahap Uji Publik atau yang dikenal dengan sebutan KUPAS (Kursi Panas) Mawapres. Di sesi ini, setiap peserta diuji secara ketat dalam tiga lini:

1. Uji esai dan presentasi

2. Uji linguistik (nahu, saraf, dan muhadatsah)

3. Uji fikih dasar

Apakah prosesnya mudah? Tentu tidak.

Fikih dasar yang diujikan menggunakan kitab tebal nan mendalam, Kanzu al-raghibin. Ujian berat ini menuntut ketajaman pemahaman yang luar biasa.


Namun, di tengah suasana kompetisi yang menegangkan, hal indah justru terjadi. Para camawapres tidak saling menjatuhkan; mereka justru mendukung dan mendoakan satu sama lain. Rizqa mengaku mendapatkan banyak sekali pelajaran hidup dan kebaikan dari interaksinya dengan teman-teman hebat sesama camawapres selama masa sekolah tersebut.

(Sumber. Dok. Pribadi)

Dukungan terbesar yang membuat Rizqa sanggup melewati setiap ujian berat itu kembali pada rumah dan lingkungan terdekatnya. Kedua orang tuanya adalah suporter nomor satu yang terus memberikan ruang aman dan dukungan. Doa tulus serta dorongan dari rumah selalu menjadi tempat terbaik baginya untuk kembali dan mengisi ulang energi. Teman-teman pun selalu sedia mengulurkan tangan kapan pun dibutuhkan.

Bagi Rizqa, keberhasilan dalam meraih gelar Mawapres 2026 sepenuhnya adalah karunia Allah SWT yang dititipkan melalui keyakinan orang-orang yang mencintainya.

Kini, meski secara tidak resmi ia telah menyelesaikan studi S1, Rizqa memandang gelar Mawapres ini bukan sebagai piala penutup, melainkan pintu pembuka. Sebuah tonggak awal untuk terus belajar lebih dalam, merawat kerendahan hati, dan kembali mengabdi untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi sesama.

“Harapannya, di tahun-tahun yang terasa sangat singkat selama di Mesir ini atau di mana pun kita berada, semoga kita benar-benar bisa memaksimalkan potensi yang ada di dalam diri kita. Biarkan diri kita terbang setinggi-tingginya, biarkan diri kita menjadi burung yang terbang bebas selama tahu arah pulang. Jangan mau mengurung diri di dalam sangkar kosong tanpa celah, karena sejatinya kita tumbuh bebas dan bercahaya. Meski tidak selamanya berjalan mulus dan sesuai harap, pasti ada hal baik yang bisa kita dapat. Semoga kita mau terus belajar, bertumbuh, berbagi apa pun yang kita punya, dan tidak berhenti menginspirasi,” pesan Rizqa.

Dari seorang mahasiswi yang pernah ragu untuk mendaftar, Rizqa akhirnya sampai pada satu titik yang mungkin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bukan karena rasa takut itu benar-benar hilang, tetapi karena ia memilih untuk tetap melangkah meski rasa takut masih ada.

*Penulis merupakan mahasiswi tingkat III Fakultas Syariah Islamiyah, Universitas Al-Azhar Kairo

Editor: Nisa Kamila

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top