Menghidupkan Tradisi Sanad: Majelis Qiraah Tsabat al-Amir al-Kabir Bersama Syekh Mustafa Abu Zaid
Oleh: Rezy Rizkyan Syah*
Madrasah Hadis KMA kembali melaksanakan acara pada Senin, 24 Agustus 2026 setelah lama ditutup dengan khataman muzakarah kitab al-Baitsul al-Hasis penjelasan Syekh Ahmad Muhammad Syakir terhadap karya fenomenal Imam ibnu Katsir, Ikhtisar Ulum al-Hadis.
Majelis qiraah yang diselenggarakan oleh Madrasah Hadis KMA bekerja sama dengan Departemen Pendidikan KMA periode 2026/2027 mengundang salah seorang ulama yang cukup terkenal di kalangan Mahasiswa Indonesia di Mesir, Dr. Mustafa Abu Zaid Mahmud Rasywan atau yang lebih dikenal dengan panggilan Syekh Mustafa Abu Zaid. Adalah sosok ulama al-Azhar yang sangat terkenal dengan konsentrasi hadis dan ilmu hadis dan dikenal sebagai ulama produktif dalam dunia per-tahqiq-an kitab. Atas jasa besarnya dalam hal demikian, banyak dijumpai sejumlah kitab hasil kerja beliau tergantung di setiap rak-rak mahasiswa Indonesia tanpa terkecuali.
Kegiatan kolaborasi ini mengadakan pembacaan kitab Tsabat al-Amir al-Kabir. Syekh Mustafa Abu Zaid membuka majelis dengan nasihat yang sangat penting:
“Penting bagi kalian yang akan menjadi bapak nantinya agar mengajarkan anak- anak kalian di masa kecil mereka, supaya keberkahan dan kebermanfaatan itu turut kembali kepada kalian sebelum mereka nantinya kalian masukkan ke madrasah”.
Nasihat tersebut terucap setelah nama "Rasywan" ia dengar saat dibaca oleh moderator. Rasywan adalah Ayah Syekh Mustafa Abu Zaid yang sangat berjasa dalam mendidik anak-anaknya dan menjadi sosok yang sangat berpengaruh dalam keilmuan mereka. Beliau menceritakan bahwa ayahnya yang berjasa telah membesarkan 8 orang anak dan membina mereka sejak kecil, diawali dengan al-Quran hingga khatam beserta sejumlah riwayatnya dan perangkat keilmuan dasar semuanya diajarkan.
Madrasah Hadis kali ini memilih kitab Tsabat al-Amir al-Kabir sebagai pengingat bagi penuntut ilmu bahwa isnad sangatlah penting. Sebagaimana Syekh Mustafa Abu Zaid ingatkan di saat pembukaan majelis bahwa isnad adalah salah satu keistimewaan umat islam yang tidak ada di umat yang lain. Perhatian ulama islam dalam sanad dulu sangatlah besar. Hal itu tergambar dalam ucapan yang sangat terkenal milik intelektual besar hadis, Ibnu Mubarak:
"الإسناد من الدين لولا الإسناد لقال من شاء ما شاء"
“Isnad bagian dari agama. Jika tidak ada isnad ini pasti siapa pun akan berkata sesuka hatinya”
Lalu, apa itu kitab Tsabat al-Amir al-Kabir? Siapa yang menulis kitab Tsabat itu?. Dalam postingan Instagram beberapa waktu sebelum hari acara tiba, Madrasah Hadis dan Departemen Publikasi KMA sudah berbagi sedikit pengenalan singkat tentang kitab dan penulisnya.
Tsabat dalam literasi ulama Hadis dapat dipahami sebagai sebuah kitab yang menghimpun catatan sanad dan perjalanan keilmuan seorang ulama. Di dalamnya tercantum nama-nama para guru dari seorang ulama, kitab-kitab yang dipelajari kepada mereka, serta jalur periwayatan yang dimiliki oleh ulama tersebut.
Adapun kitab ini sendiri menjadi salah satu sumber yang berharga untuk meneliti jaringan sanad keilmuan ulama Al-Azhar, bahkan menjadi poros periwayatan bagi para ulama Mesir dan sebagian besar ulama Hijaz serta Maghrib. Kitab ini juga mengkaji kesinambungan transmisi ilmu dari generasi ke generasi, serta mengenal para ulama dan guru daripada Amir Kabir dan juga kitab-kitab yang dipelajari dan diriwayatkan oleh beliau daripada gurunya.
Penulis kitab adalah Amir Kabir yang Bernama lengkap Muhammad bin Muhammad bin Ahmad as-Sanabawi al-Maliki al-Azhari. Sosok ulama besar Mazhab Maliki ini lahir di Mesir tahun 1154 H dan wafat pada 1232 H. Amir Kabir adalah sosok ulama yang dikenal sangat jenius. Kita akan banyak menemukan pujian para guru Amir atas keilmuannya yang sangat dalam dan luas di berbagai bidang keilmuan.
Syekh Mustafa Abu zaid juga memberikan insight berharga kepada hadirin, hendaknya bagi penuntut ilmu menyebutkan apa-apa yang telah ia pelajari oleh gurur-guru. Sebagaimana yang dilakukan oleh Amir kabir di setiap menjelaskan ijazah dari guru-gurunya. Setelah menyebutkan nama lengkap sang guru beserta lakab dan gelar pujian, Amir kemudian menyebutkan kitab apa yang telah dipelajari di hadapan sang guru dan ditutup dengan ijazah dari sang guru.
Majelis qiraah ditutup oleh Syeikh Mustafa Abu zaid sebagai pembaca doa. Di akhir beliau kembali mengingatkan bahwa sanad di zaman sekarang telah disalahartikan oleh banyak penuntut ilmu. Mereka yang hanya belajar semata-mata mencari sanad tanpa paham apa yang dipelajari, padahal sanad di zaman sekarang, di zaman semua hadis telah terkodifikasikan semua, adalah sebuah nilai keberkahan bagi pemiliknya karena namanya bisa bergandengan dengan sosok mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW.
*Penulis merupakan alumni Universitas Al-Azhar Kairo
Editor: Thariq Faiz


Posting Komentar