Lanjutkan Estafet Ustazah Faridah, KMA Kembali Mengundang MC Internasional Muh. Nadhir Ainun untuk Seminar Public Speaking

Oleh: Mihalhayail*
(Sumber: Dok. Panitia)

“Public Speaking bukanlah sekadar sebuah skill, melainkan sudah menjadi kebutuhan primer bagi semua orang.” Begitulah Muh. Nadhir Ainun memulai pemaparan materinya.

Departemen Penelitian dan Pengembangan lagi-lagi menghadirkan seminar public speaking setelah selesai mengadakan seminar metodologi penulisan makalah bulan lalu. Tahun lalu KMA juga mengadakan seminar serupa dengan format yang sama; teori dan praktik, bersama Faridah Ainun–Juara ke-3 AKSI Indosiar.

Kali ini, materi dipaparkan oleh tokoh yang sudah melanglang buana di dunia keterampilan berbicara di depan umum. Hal ini dapat dibuktikan dengan CV dan segudang prestasi yang pernah beliau raih selama 7 tahun berkutat dalam bidang tersebut. Muh. Nadhir Ainun pernah menjadi MC Seminar Nasional ASFA Foundation, MC Grand Opening World Museum Scout Jambore 2025, MC Sujud Syukur 100 Tahun Gontor, hingga menjadi pelatih dan pembicara di banyak platform terkenal.

Ketua KMA, Amrul Faizal, dalam sambutannya menegaskan bahwa public speaking adalah skill yang sangat berguna di berbagai lini kehidupan, oleh karena itu program ini harus dilanjutkan hingga tahun-tahun berikutnya. 

Setelah serangkaian acara formal dilaksanakan, sesi penyampaian materi pun dimulai. Format acara berubah menjadi penyampaian materi oleh Muh. Nadhir Ainun yang didampingi oleh moderator Qalbin Salim.

Pemateri memulai pemaparannya dengan melemparkan kritikan kepada sejumlah pembicara di luar sana yang menjadikan materi-materi public speaking sebagai ladang komersial. Ini mengakibatkan materi yang tersebar di sosial media sudah bercampur aduk alias tidak jernih, sehingga hal-hal yang diterima netizen tentang seni berbicara bukannya menerima ilmu dengan matang, melainkan digiring untuk mengikuti kelas berbayar seharga belasan juta rupiah.

Hal ini tidak seharusnya terjadi. Pemateri akhirnya menghadirkan definisi mewah yang jarang dipaparkan di ruang publik, bahwasanya Public Speaking adalah tentang; seni meminjamkan isi pikiran dan jiwa Anda kepada orang lain agar mereka dapat melihat dunia melalui sudut pandang yang baru. Dengan definisi yang elegan ini, para peserta akan sadar bahwa keterampilan tersebut tidak hanya diperlukan oleh para orator dan pengkhotbah, melainkan juga dibutuhkan oleh para penjual, akademisi, hingga individu terkecil dalam rumah tangga.

Masuk ke dalam 3 pilar utama yang dibutuhkan dalam public speaking, disebut dengan 3V: visual, vocal, dan verbal. Adonan ini akan melahirkan seorang orator yang handal dan mampu memasak materi yang memukau sehingga bisa dihidangkan dengan penuh aroma sedap.

Pilar pertama adalah visual. Ia adalah hal yang paling penting di antara 3 pilar karena tubuh berbicara lebih lantang daripada suara. Visual tidak hanya berarti harus terlihat ganteng dan cantik, tetapi visual meliputi wibawa panggung, gestur tubuh, kontak mata, dan lain sebagainya.

Pilar kedua adalah vocal. Untuk menjadi seorang pembicara, vokal merupakan hal yang sangat penting juga. Ini meliputi bagaimana intonasi seseorang ketika berbicara, kapan harus mempercepat atau melambatkan ucapan, hingga kefasihan berbicara. Dua kemampuan inilah yang menjadikan seseorang layak dikatakan sebagai pembicara.


Namun, untuk menjadi speaker yang hebat, 2 hal di atas belum tentu cukup; seseorang juga harus menguasai kemampuan verbal yang mumpuni. Ini mencakup perbendaharaan kosakata yang banyak, pemilihan diksi yang tepat, hingga mengatur struktur dan alur cerita yang mulus. Dengan menguasai 3 hal ini, seseorang akan mampu menjadi pembicara yang akan didengar oleh berbagai kalangan audiens sekaligus. Tiga hal ini dicetuskan pertama kali oleh Albert Mehrabian, lalu kemudian populer di antara para pembicara terkenal.

(Sumber: Dok. Panitia)

Pemateri kemudian berangkat menjelaskan bagaimana cara menyampaikan gagasan yang efektif. Ini juga dirangkum dalam 3 hal. Pertama, “Lancar bukan berarti non-stop. Gunakan power of silence!” Kedua, “Selalu berbicara lantang ketika hal itu lebih penting. Gunakan body language!” Ketiga, “Suara adalah warna penentu emosi pendengar. Gunakan power of intonation!”

Tidak cukup hanya dengan teori, di sela-sela seminar pemateri menambahkan sesi praktik. Muh. Nadhir Ainun juga memberikan latihan-latihan yang cocok untuk meningkatkan public speaking, di antaranya:

● Latihan menggunakan jeda saat berbicara.

● Gerakkan tubuh Anda mengikuti ritme pesan yang akan disampaikan.

● Bacalah satu kalimat dengan beragam emosi dan intonasi.

Di akhir, pemateri menekankan bahwa apa yang keluar dari diri kita adalah apa yang kita serap. Public speaking adalah perihal inside to outside. Apa yang dikonsumsi oleh seseorang, itulah yang akan dikeluarkan kepada lawan bicaranya. Kepribadian seseorang itu menentukan bagaimana ia akan menggunakan keterampilan ini kedepannya. Karena, “Panggung adalah tempat paling jujur di dunia.”

Teknik bisa dilatih, tetapi kualitas harus dibiasakan. Tingkatkan kualitas diri, jikalau Anda menanam rumput, jagung belum tentu tumbuh. Namun, jika Anda menanam jagung, rumput akan ikut menjalar mengikuti.

*Penulis merupakan mahasiswa tingkat III fakultas Lughah Arabiyah Universitas al-Azhar Kairo

Editor: Thariq Faiz

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top