Select Menu

Info Kegiatan

Keputrian

Al Azhar

Artikel

Sastra

Kesenian

Olahraga

Kemesiran

KMA Gallery

kmamesir.org, 26/11/2014. Dalam rangka tasyakuran TEMUS Aceh yang diselenggarakan di Meuligoe KMA pada Selasa kemarin. Badan Takaful Aceh (BTA) Mesir mendapat sumbangan dana yang di sumbangkan oleh Jama'ah haji asal Aceh.
Sumbangan ini diserahkan langsung oleh ketua TEMUS Mahasiswa Aceh Tgk. Mukhlis Ilyas, Lc. kepada pengurus BTA yang diwakili oleh Tgk. Ziyaush Shabri, Lc. Yang nantinya akan dianggarkan kepada Mahasiswa Aceh yang berhak menerima.
Badan Takaful Aceh yang dipimpin oleh Tgk. Suci Mulia Syukri ini mempunyai misi untuk membantu para Mahasiswa Aceh di Mesir yang tidak mampu dan tidak mendapat dana bantuan dari instansi manapun.
Dalam melaksanakan tugas mulia ini, BTA menerima bantuan dana dari para donatur baik dalam maupun luar negeri, berupa sedekah, infaq dan zakat.
Hingga kini, BTA telah membantu lebih dari 20 Mahasiswa Aceh mulai dari awal terbentuk pada tahun 2013 lalu. "Pengurus BTA Mesir mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada para Jama'ah Haji Aceh yang telah menyumbangkan sedikit bantuan kepada para Mahasiwa Aceh di Mesir. Semoga amal jariyah ini bisa bermanfa'at bagi mereka dan diberikan balasan oleh Allah SWT. Amiin", ucap Tgk. Shabri.[ZS]
google picture

Musim dingin semakin mendekati puncaknya. Ujian semester 1 yang biasanya berlangsung saat puncak musim dingin, membuat mahasiswa al Azhar Mesir semakin sibuk mempersiapkan diri.

Awalnya dikabarkan bahwa ujian akan dimulai akhir Desember ini. Namun ada perubahan jadwal ujian semester ini. Dilansir dari halaman al Markaz al I’lami bi Jami’ati al Azhar (26/11), dinyatakan bahwa ujian akhir semester 1 ditunda. Ujian yang seharusnya dimulai tanggal 27 Desember 2014 akan diundur sampai 4 Januari 2014. Tetapi tidak disebutkan alasan penundaan ujian kali ini.


Dengan penundaan ini, semoga persiapan ujian Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) semaki matang dan mantap.(YTh)


Kmamesir.org. 26/11/2014. Pengurus Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir periode 2014-2015 resmi mengumumkan penutupan kegiatan term I. Penetapan ini diumumkan oleh Ketua KMA Tgk. Muhibussabri Hamid saat menyampaikan kata sambutan pada hari Selasa kemarin, pada selasa, 25 November 2014 di Meuligoe KMA, Hayy Asyir.

"Penutupan kegiatan kita percepat agar warga KMA bisa segera mengatur jadwal bimbel mukarar dan juga banyak kawan-kawan yang baru dan mereka yang masih tingkat 1. Mereka butuh waktu maksimal untuk mempersiapkan ujian" kata Tgk. Muhib memberikan keterangan.

Tasyakuran Temus

Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan perwakilan Tenaga Musiman (Temus) Haji KMA Tgk. H. Mukhlis Ilyas, Lc. Beliau menyampaikan keadaan Temus tahun ini yang sedikit mengecewakan, mengingat dipotongnya gaji mereka yang dari Mesir sekitar 12 juta rupiah, dikarenakan kedatangan mereka yang sedikit terlambat akibat proses yang berlarut-larut di Kedutaan Arab Saudi.

Kuota Temus Haji untuk KMA tahun ini berjumlah 5 orang diantarannya Tgk. Mukhlis Ilyas, Lc. Tgk. Furqan Arrasyid, Lc. Tgk. Karimullah, Lc, Tgk. Aulia Ul Haq, Lc dan Tgk. Hasmunir, Lc.

"Insya Allah semua ada hikmahnya, asalkan kita menerimanya dengan penuh ridha" kata Tgk. Mukhlis yang juga selaku penasehat ketua KMA

Setelah menceritakan pengalam pahit manis selama melayani jamaah haji Indonesia tahun ini, dilanjutkan dengan Shalat Maghrib berjamaah, kemudian shalat ghaib untuk istri Tgk. Hanif Dahlan dan ditutup dengan khataman Al-Qur'an serta doa bersama untuk menghadapi imtihan term I. Terakhir santap menu spesial kari kambing Aceh. (NR)
Kitab Al-Imta'





Oleh: Tgk. Husni Nazir, Lc.

Judul kitab                   : Al Imta’ bi Syarh Matn Abi Syuja’
Penulis                         : Syeikh Hisyam Kamil
Penerbit                       : Dar Al Manar
Tanggal terbit               : 2011
Cetakan                       : Pertama
Halaman                      : 463
Kategori                      : Fikih
Teks                             : Bahasa Arab             

Al Imta’ bi Syarh Matn Abi Syuja’

Secara bahasa al-imta’ bermakna sesuatu yang nikmat, dan bermanfaat. Ini sesuai dengan harapan pengarangnya Syeikh Hisyam Kamil, yang meniatkan kitab ini bisa bermanfaat dan dinikmati oleh para pemula yang ingin menekuni fikih dalam mazhab Imam Syafii rahimahullah.

Dari judul dapat kita ketahui bahwa kitab ini merupakan syarah bagi kitab Matn Abi Syuja’, yang mempunyai nama asli Matn Al-Ghayah wa Al-Taqrib.

Kitab Matn Abi Syuja’ karangan Al-Qadhi Abu Syuja’Ahmad bin Al-Husain bin Ahmad Al-Ashfahaniy (wafat tahun 593 H), merupakan diantara kitab terbaik dalam fikih Syafii. Meski berukuran mini, namun di dalamnya tercakup seluruh bab fikih. Selain itu ia juga mempunyai tertib pembahasan yang sangat indah.

Oleh karena itu, kita mendapati para ulama sepanjang zaman tak mau jauh dari kitab ini. Sebagian mereka ada yang berusaha menjadikan kitab ini lebih lengkap dengan meletakkan syarah, seperti kitab Kifayat Al-Akhyar karangan Imam Taqiyuddin Al-Dimasyqiy (wafat tahun 829 H), Fath Al-Qarib karangan Imam Syamsuddin Muhammad bin Qasin Al-Ghazzi (wafat tahun 918 H), Al-Iqna’ karangan Imam Muhammad Al-Syarbaini Al-Khathib (wafat tahun 977 H). Ada juga yang melengkapinya dengan dalil pada setiap hukum yang disebutkan oleh Abu Syuja’, seperti Kitab Al-Tahzib fi Adillat Ghayah Al-Taqrib karangan Dr. Mushtafa Dib Al-Bugha.

Kitab Imta’ yang sedang kita bahas ini merupakan salah satu diantara syarah Matn Abi Syuja’ tersebut. Namun kita bisa melihat perbedaan mencolok antara kitab Syeikh Hisyam Kamil ini dengan syarah lainnya, yaitu dari segi tahun penulisannya.

Tiga syarah di atas semuanya dikarang sebelum abad ke 11 Hijriah. Tentunya padanan bahasa yang digunakan sesuai dengan kondisi bahasa Arab pada zaman tersebut, masih kental dan susah untuk dipahami dengan kadar bahasa Arab pas-pasan.

Sedangakan Imta’ adalah kitab karangan ulama Al Azhar yang hidup dizaman sekarang. Bahasa yang digunakanpun sudah dipermudah sedemikian rupa sehingga nikmat terasa bagi para pelajar. Syekh Hisyam juga menambahkan banyak taqsim, tanbih, dan masalah-masalah yang sangat urgen untuk diketahui.

Al-Imta’ sangat cocok diajarkan di pondok-pondok pesantren modern Aceh sebagai mata pelajaran fikih, dari pada berpegang pada buku panduan Departemen Agama. Bahkan lebih cocok dibandingkan dengan kitab semisal Kifayat Al Akhyar dan lainnya, dikarenakan bahasa para murid yang masih lemah.

Kitab ini cukup sebagai modal dasar untuk mengetahui hukum-hukum fikih, sebelum melanjutkan ke kitab-kitab selanjutnya. Disamping itu, kitab ini bisa dikejar melalui kurikulum aliyah dalam waktu tiga tahun.

Dalam pendahuluan kitabnya beliau mengatakan, “Diantara karunia Allah yang paling besar kepadaku adalah ketika Allah menjadikanku salah seorang yang sempat meneguk ilmu di Al-Azhar Al-Syarif. Sehingga aku bisa merasakan ilmu dan berkah dari Syekh Al-Azhar. Ketika kami masih dibangku ibtidaiyyah dan tsanawiyah kami telah diajarkan kitab Matn Abi Syuja’ dengan cara mengahafal setelah kami memahaminya terlebih dahulu.

Aku berkeinginan untuk mensyarah kitab ini (Matn Abi Syuja’), yang mudah dipahami dan singkat. Sebagai batu pijakan untuk syarah-syarah lainnya, dan menjadi buku pegangan bagi para pemula dalam menuntut ilmu.”

Sekilas tentang Syeikh Hisyam Kamil
Foto: Suara Al-Azhar

Syeikh Hisyam merupakan ulama Azhar yang mampu menggabungkan dua metode belajar sekaligus, pendidikan formal dan sistem talaqqi yang merupakan metode para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu.

Pendidikan formal strata satu beliau tempuh di Universitas Al Azhar Fakultas Syariah Wal Qanun tahun 1995. Selanjutnya beliau melanjutkan program megister di Fakultas Fikih Islam, Institut John Hever, Inggris dan  lulus pada tahun 2008. Gelar doktor juga beliau peroleh dari jurusan dan universitas yang sama, tahun 2012.

Diruang talaqqi beliau adalah murid kesayangan Syekh Ali Jum’ah, mantan mufti mesir, Syekh Mushthafa Isma’il Al Adawiy imam mesjid Al Azhar, Syekh Al Hushaini Yusuf, Syekh Murad An Naqsyabandiy dan para syekh Al Azhar lainnya.

Sebelum mengarang kitab ini, Syeikh Hisyam telah mensyarah kitab ini di hadapan para thullab sebanyak lima kali di Mesjid Al-Dhahir Baibars, dan sekali di mesjid Imam Husein, Kairo.

Pengakuan para syekh Al Azhar

Penulis pernah melihat dan mendengar sendiri pengakuan dari salah satu Ulama Azhar tentang kesalehan Syekh Hisyam. Suatu hari ketika kami akan memulai pengajian rutin dengan Syekh Jamal Faruq (Ulama besar bidang tauhid dan aqidah) di mesjid Al Azhar, tiba-tiba Syeikh Hisyam masuk dengan membawa berkas fotokopy, yang kemudian kami tau adalah  syarah kitab Kharidah Al Bahiyah karangnya yang akan diserahkannya kepada penerbit.

Beliau datang menghampiri Syeikh gamal dengan mengajukan kitabnya. “Ini Maulana (panggilan untuk para Syekh) kitab yang akan saya cetak, saya minta doa dari maulana agar kitab ini bermanfaat dan berkah.”

Setelah mendapat doa dan restu lantas Syekh Hisyam keluar meninggalkan pengajian. Syeikh Jamal mengatakan, “Dia orang saleh, setiap kali engkau melihat wajahnya pasti akan merasa senang.”