Select Menu

Info Kegiatan

Keputrian

Al Azhar

Artikel

Sastra

Kesenian

Olahraga

Kemesiran

KMA Gallery


Selamat kepada tim basket Aceh -Iskandar Muda- yang telah mendapatkan juara kedua pada turnamen Slam Dunk PPMI. Man-teman, tau ga kenapa nama tim olahraga Aceh itu Iskandar Muda, bukannya Zaini Abdullah, Irwandi Yusuf atau Abdullah Puteh? Oh iya Paduka Malik Mahmud juga? Haha. Aku rasa, ini karena kekaguman masyarakat Aceh yang tidak pudarnya kepada Iskandar Muda, bukan kepada nama-nama setelahnya. Coba nama tim olahraga Aceh itu Zaini Abdullah atau Abu minimi, kan lucu, hahaha. Ah, lewat!

Oke, rupanya mereka senang digombalin dengan dituliskan profil pemain yang mendapat juara 2 kemarin, coba kalah pasti ga mau, kwkw. Oke, yuk kita gombalin!

1. Wandi Abishalom Bobo

Si abang yang satu ini merupakan seorang komando tim, dia bisa mendrible, passing atau shoot dengan bagus, selain itu dia juga bisa melakukannya dengan sebuah senyuman ala Ari kriting =D


2. Amru Boufakar Apituley

Si penyanyi tembang lagu “sakitnya tuh disini” ini merupakan seorang pemain yang beroperasi disebelah kiri, dia lebih suka disebut sebagai wing back daripada left guard. Anyway, kemarin stelannya macam pemain futsal aja, haha.


3. MuChsin Wakandong al-Attas

Si penggemar berat dengan Muchsin al-Attas ini berhasil meliuk-liuk seperti irama dang dut di dalam pertahanan lawan. Hadirnya di dalam tim membuat tim ini merasa kegemukan, hahaha.


4. Diah Noah Ciyee

Serius, kalian merasa ga sih kalau beliau ini mirip David “Noah”? atau perasaan aku aja kali ya!? Bukan karena orangnya mirip selebritis, tapi Davidnya yang mirip orang Indrapuri, kwkw. Anything, dia sosok senior di dalam tim yang mampu membuat moral pemain menjadi lebih baik.


5. Ajir de Eng Pakele

Sosok bocah balita ini juga penting bagi tim, kenapa saya katakan demikian? Maksud saya, kenapa saya katakan bocah balita? Karena men! Di olahraga, ga kenal yang namanya umur, apalagi di basket yang tinggi adalah yang besar, hahaha. Apapun itu, dia sosok forward yang membahayakan lawan, ini serius!


6. Oki Esomar Doludy

Cerita punya cerita, dia pengagum berat dengan daerah Ambon, makanya namanya kayak orang sana gitu. Dia ini salah satu goal getter tim, dan semoga segera berdomisili di Ambon, kwkw.


7. KasyPur-nomo Dewantara

Dia salah satu yang paling heroik pada turnamen ini, kuat dalam bertahan dan bagus dalam menyerang. Dengan hadirnya Pur dan Ari di dalam skuat membuat Iskandar Muda punya masa depan dalam olahraga di bidang ini.


8. Ari Pandjaitan

Selain cool dalam penampilan, Ari juga Stabil dalam memainkan peran pada posisinya dan dapat menyeimbangi agresifnya serangan lawan. Bersama Pur dan tim, Ari berhasil mengantar Iskandar Muda mendapatkan juara 2.


9. Azen Kotawala Labobar

Pemain yang sangat matematis, dia gesit dalam mengoper bola ke sumbu X dan sumbu Y, jika operan bolanya sebanyak 20 kali dalam pertandingan, maka berapa banyakkah operan masing-masing Azen ke sumbu X dan sumbu Y? itu ga penting di dalam pertandingan, Zen! hahaha


10. ucok Alvin simartupang
Siapa sich yang gak kenal dengan sapaan ompin ini..??
Pemain yang amat dibutuhkan oleh tim iskandar muda ini emang g bisa lepas dari aksi narsis nya,apalagi Sejak kepulangan nya dari tanah rencong
Sosok onepack (sixpack yang terlindungi) ini berhasil membuat tim lawan kewalahan dengan aksi zikzaknya, walau kadang sulit untuk berlari…. J Karna ada sesuatu yang masih mengganjal.. hahaaha



Selamat kepada tim basket Aceh, iskandar Muda!!!




wikipedia.org

Oleh : Khalid Muddatstsir*
Mesjid Sultan Hasan merupakan salah satu bangunan termegah di Kota Kairo, Mesir. Bangunan awet ini juga merupakan salah satu objek wisata yang ramai dikunjungi wisatawan-wisatawan asing. Mesjid bersejarah ini dibangun atas perintah Sultan Hasan bin Nasir Muhammad bin Qalawun, penguasa dinasti Mamluk waktu itu. Sang Sultan ingin mendirikan sebuah mesjid yang juga berfungsi sebagai madrasah agama yang ditujukan kepada pengikut Ahlussunnah wal jamaah.
Didalam mesjid ini terdapat  4 ruangan besar yang dikhususkan untuk pelajar 4 mazhab fikih yang menjadi pijakan Ahlussunnah wal jamaah; Syafiiyah, Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah. Setiap mazhab mengambil satu ruangan tersebut untuk dijadikan madrasah. Dibangun tahun 757 H/1356 M, mesjid yang mempunyai arsitektur menawan tersebut masih tampak sangat gagah dan kokoh meskipun usianya yang sudah ratusan tahun.
Diceritakan oleh guru kami, Prof. Dr. Ali Jum'ah, anggota dewan ulama senior Al Azhar yang juga mantan mufti Mesir, bahwa dulu Sultan Hasan menunjuk seorang ulama ahli qiraat untuk berdiam setiap hari didalam Madrasah Syafi'iyah. Ulama tersebut berada di sana mulai setelah subuh sampai tengah hari untuk mendengarkan bacaan atau hafalan para pelajar di sana. Sang Sultan juga memberikan 50 dirham (senilai 1000 pound Mesir sekarang) kepada setiap anak yatim yang telah menyempurnakan hafalan Al Qurannya. Jadi, tidaklah heran jika mesjid ini merupakan pusat pengajaran 4 mazhab fikih di masanya.
Kamis (20/11) pagi, ratusan pelajar Al Azhar dari berbagai belahan dunia memenuhi mesjid sepuh tersebut. Nampak pelajar dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Rusia, Afrika, Turki, semuanya berkumpul di bawah naungan ilmu. Ada semangat membara yang tampak dari wajah dan gelagat mereka. Bagaimana tidak, mereka ingin menjadi saksi sejarah pembukaan kembali  Madrasah Syafi'iyah yang sudah berabad-abad vakum dari dunia turats (kitab klasik). Cuaca musim dingin yang mulai menyapa Kairo seolah-olah hanya sarapan pagi yang semakin menambah energi mereka.
Syekh Hisyam Kamil di Pembukaan Madrasah Syafi'iyah Majid Sulthan Hasan

Syaikh Hisyam Kamil Al Azhari, sosok yang sudah sangat familiar di kalangan pelajar Al Azhar, adalah orang yang sangat ditunggu-tunggu hari itu. Ya, Beliau akan menjadi tokoh sentral dalam penghidupan kembali tradisi belajar mengajar ilmu agama di Madrasah Syafi'iyah tersebut. Beliau akan memulai pembacaan kitab Tafsir Jalalain, karya dua ulama besar, Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Al Suyuthi.
Ketika sosok yang dinanti tersebut tiba, ratusan hadirin berdiri untuk menyambut dan menghormati kedatangan gurunya. Hal ini adalah pemandangan biasa disaksikan di kalangan Azhariyyin (pelajar Al Azhar). Karena ada slogan yang selalu dipegang oleh santri Al Azhar "Al Adabu Qabla al Ilmi", yang maksudnya lebih kurang, sebelum berilmu, beradablah terlebih dahulu.
Syaikh Hisyam Kamil memulai mukadimahnya dengan mengirimkan bacaan Al Fatihah kepada guru-guru beliau dan kepada arwah para ulama terdahulu yang pernah mengajar di Madrasah Syafiiyyah. Beliau juga mengutarakan alasan beliau memilih membaca kitab Tafsir Jalalain. "Tafsir ini sangat cocok untuk pemula. Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Al Suyuthi keduanya dulu bermukim di Kairo dan keduanya adalah ulama besar Al Azhar. Mereka berdua mengikuti mazhab Imam Syafii. Oleh karenanya dalam menghidupkan kembali madrasah ini, kita akan membaca kitab tafsir mereka". Tegas Syaikh Hisyam  hari itu.
Beliau  menceritakan biografi singkat dua ulama pengarang tafsir agung tersebut dan proses penulisannya. "Imam al Mahalli memulai tafsirnya dari surat Al Kahfi sampai surat Al Naas. Ketika beliau menafsirkan surat Al Fatihah, beliau dipanggil oleh Allah swt. Setelah beberapa tahun, masyarakat waktu itu meminta imam Al Suyuthi untuk menyempurnakan tafsir tersebut agar tidak hilang, mulailah Al Suyuthi menyempurnakan tafsir gurunya tersebut." Kisah Syaikh Hisyam.
Tafsir Jalalain walaupun dikarang oleh dua ulama beda generasi, tapi metodologi dan kualitasnya sama, seolah-olah penulisnya hanya satu. Ini merupakan keistimewaan tersendiri bagi tafsir ini.
Diceritakan juga oleh Syaikh Hisyam bahwa saudara imam Al Mahalli, Kamaluddin, suatu ketika pernah bermimpi bertemu dengan Imam Al Mahalli dan  juga Imam Al Suyuthi. Kemudian beliau bertanya kepada Al Mahalli, "Manakah yang lebih bagus dari tafsir (Jalalain) itu, yang anda mulai atau yang beliau (Al Suyuthi) sempurnakan?" Imam Al Mahalli hanya tersenyum senang. Lalu imam Al Suyuthi menjawab, "Yang saya sempurnakan lebih baik". Keesokan harinya saudara Al Mahalli segera menemui Imam Al Suyuthi dan menceritakan perihal mimpinya. Al Suyuthi menjawab dengan sangat tawaduk, "Karangan Imam Mahalli, guruku, lebih baik daripada punyaku. Aku hanya mengutip ilmu yang Al Mahalli berikan."
Sekilas tentang Syaikh Hisyam Kamil Al Azhari, beliau adalah salah seorang ulama Al Azhar yang bermazhab syafii dan berakidah Asyari. Setiap harinya beliau habiskan untuk mengajar ilmu syariah di berbagai majelis ilmu. Di usia beliau yang masih relatif muda (42 tahun), Syaikh Hisyam merupakan ulama yang produktif nan dermawan. Ditengah kesibukan beliau mengajar beliau masih sempat menulis kitab. Terhitung sampai sekarang 17 kitab dari berbagai disiplin ilmu telah beliau keluarkan, mulai dari Fikih Syafii, Aqidah Ahlussunah, Sirah Rasul, Mawaris dan sebagainya. Salah satu hal yang terbilang luar biasa dari Syaikh yang satu ini adalah beliau selalu membagikan kitab karangan beliau secara cuma-cuma. Bahkan tidak jarang terdengar beliau melarang dan memarahi mereka yang membeli buku karangan beliau. Hal yang jarang ditemukan di daerah kita.

Acara yang berlangsung tiga jam lebih tersebut ditutup dengan pembagian kitab secara cuma-cuma kepada hadirin.  Syaikh Hisyam juga menegaskan akan memberikan sanad yang bersambung kepada pengarang kitab. Mesjid yang sudah sangat sepuh inipun menjadi saksi bernafasnya kembali Madrasah Syafiiyah yang telah melewati mati suri yang sangat lama. Dengan dibuka kembalinya madrasah tersebut, semoga tradisi belajar-mengajar ilmu agama yang bersanad sampai kepada kepada Rasulullah terus tumbuh subur di negeri kinanah ini.

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Akidah Filsafat, Universitas Al Azhar, Mesir.
kmamesir.org, 26/11/2014. Dalam rangka tasyakuran TEMUS Aceh yang diselenggarakan di Meuligoe KMA pada Selasa kemarin. Badan Takaful Aceh (BTA) Mesir mendapat sumbangan dana yang di sumbangkan oleh Jama'ah haji asal Aceh.
Sumbangan ini diserahkan langsung oleh ketua TEMUS Mahasiswa Aceh Tgk. Mukhlis Ilyas, Lc. kepada pengurus BTA yang diwakili oleh Tgk. Ziyaush Shabri, Lc. Yang nantinya akan dianggarkan kepada Mahasiswa Aceh yang berhak menerima.
Badan Takaful Aceh yang dipimpin oleh Tgk. Suci Mulia Syukri ini mempunyai misi untuk membantu para Mahasiswa Aceh di Mesir yang tidak mampu dan tidak mendapat dana bantuan dari instansi manapun.
Dalam melaksanakan tugas mulia ini, BTA menerima bantuan dana dari para donatur baik dalam maupun luar negeri, berupa sedekah, infaq dan zakat.
Hingga kini, BTA telah membantu lebih dari 20 Mahasiswa Aceh mulai dari awal terbentuk pada tahun 2013 lalu. "Pengurus BTA Mesir mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada para Jama'ah Haji Aceh yang telah menyumbangkan sedikit bantuan kepada para Mahasiwa Aceh di Mesir. Semoga amal jariyah ini bisa bermanfa'at bagi mereka dan diberikan balasan oleh Allah SWT. Amiin", ucap Tgk. Shabri.[ZS]
google picture

Musim dingin semakin mendekati puncaknya. Ujian semester 1 yang biasanya berlangsung saat puncak musim dingin, membuat mahasiswa al Azhar Mesir semakin sibuk mempersiapkan diri.

Awalnya dikabarkan bahwa ujian akan dimulai akhir Desember ini. Namun ada perubahan jadwal ujian semester ini. Dilansir dari halaman al Markaz al I’lami bi Jami’ati al Azhar (26/11), dinyatakan bahwa ujian akhir semester 1 ditunda. Ujian yang seharusnya dimulai tanggal 27 Desember 2014 akan diundur sampai 4 Januari 2014. Tetapi tidak disebutkan alasan penundaan ujian kali ini.


Dengan penundaan ini, semoga persiapan ujian Masisir (mahasiswa Indonesia di Mesir) semaki matang dan mantap.(YTh)