Select Menu

Info Kegiatan

Keputrian

Al Azhar

Artikel

Sastra

Kesenian

Olahraga

Kemesiran

KMA Gallery



Grand Syaikh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad Tayyib, mengumumkan bahwa hari ini (Kamis, 28/8) Al-Azhar telah memberangkatkan rombongan kedua yang membawa bantuan kepada rakyat Palestina. Rombongan tersebut telah diberangkatkan pada jam 02.00 dini hari tadi.

Beliau menambahkan bahwa dalam waktu dekat Al-Azhar juga akan mengirimkan rombongan ketiga yang berisi tim medis dan obat-obatan. Bantuan ini merupakan bentuk kecintaan kepada rakyat Palestina yang telah banyak bersabar atas segala penderitaan dan kezaliman yang mereka alami.

Grand Syaikh  juga meminta kepada seluruh negara Arab untuk bahu membahu membantu masyarakat Gaza dari penindasan kaum zionis. Dalam hal ini Al-Azhar juga akan terus kontinu dalam mengirimkan bantuan-bantuan kepada rakyat Palestina. Terakhir Grand Syaikh sangat menekankan bahwa Gaza akan selalu berada didalam hati Al-Azhar. (KM)


Google. Doc
Oleh; Nani Hidayati

Indahnya ketika kita mampu memberi tanpa menuntut balas, give and forget. Menerima mungkin, tapi tidak mengharapnya kembali. Karena semua Ia lakukan hanya untuk mendapat keridhaan Sang Khalik. Sesekali butiran bening itu menyesali semua tingkahnya selama puluhan tahun silam. Ketika Ia berani  pergi meninggalkan keluarga tanpa kabar, walau hanya dengan sepucuk surat. 

Alasannya sederhana, namun sangat menyesakkannya saat itu, ibunya telah membuatnya malu, membuatnya hina dengan apa yang Ia punya. Tapi Kini, tepat di akhir penyesalan itu tiba. Mengeluh dan menangis sedih akan kepergian ibunya. Mengharapkan sesuatu yang mustahil akan terjadi, seperti dahulu lagi.

*****
Ayahnya telah meninggal tujuh tahun lalu ketika tsunami meluluhlantakkan Aceh. Sekarang Ia hanya tinggal dengan ibu. Yach, seorang ibu yang punya keterbatasan, karena matanya tidak bisa melihat sebelah sejak peristiwa itu. Tak jarang terdengar hinaan dan caci-maki dari sebagian anak-anak sekolah AL-TAFIA ketika bu Faridah menjajakan lontong. Tapi, semua itu Ia lalui bak angin bertiup.

Seperti biasanya, bu Faridah mengayuh sepeda bututnya sembari menjajakan lontong.
Tepat di pekarangan sekolah.
“Eh, si buta datang“ kata Retno, anak kelas 3 A.
“Iya,yuk kita kerjain“ tambah Doni.
“Yuk“ sahut Dedi yang nggak kalah jailnya ngerjain orang tua.
“Hahahaha…si buta datang, si buta datang“ mereka sahut menyahut mengatai bu Faridah.

Mereka tidak hanya menghina, tapi mereka juga melukainya. Ditahanlah jalan laju sepeda miliknya dengan rantai, tepat di tengah jalan. Ia jatuh tersungkur ke tanah, betapa malang nasib si ibu.

Dari kejauhan, Faiz melihat ibunya yang diperlakukan tidak hormat. Mata batinnya terluka, tapi ia mengabaikannya. Membiarkan ibu yang telah melahirkannya menjadi bualan teman-teman sekolah yang iseng itu. Berat Faiz meninggalkan ibunya dalam keadaan terluka, namun ia terlanjur malu untuk mengakui wanita cedera itu adalah ibunya.

******
“Assalamualaikum pak“ Faiz mengucapkan salam pada wali kelas, pak Azman.
“Waalaikumsalam, masuk Faiz “ pinta pak Azman.
“Pak, Saya minta surat pernyataan wali murid tentang peluang beasiswa yang bapak bicarakan akhir pekan lalu.”
“Surat itu harus diambil oleh orang tua Kamu“ lanjut pak Azman memberi pengertian.
“Pak, tapi…“suaranya terhenti.
“Iya, bapak mengerti Faiz. Tapi kamu masih punya orang tua. Lain ceritanya jika Kamu hanya tinggal sendiri”. Beliau menghela napas panjang.
“Okay, Saya izinkan Kamu untuk kali ini saja“, kata pak Azman sambil mencari surat yang dimaksudkan untuk Faiz.
“Iya pak,terima kasih“ sahut Faiz sembari menjabat tangan wali kelasnya.

Sepulang sekolah, Faiz membuka lembaran yang berisi kesediaan wali murid, lalu menandatangani semua persetujuan itu.
“Anak ibu sudah makan?“ tanya bu Faridah dari ruang tengah.
“Iya bu, Saya sudah kenyang“ sahutnya mengharap ibu tidak membawakan makanan untuknya saat itu.
“Eum, ya sudah. Nanti kalau mau makan ada mie goreng kesukaan Kamu  lho,dimakan ya“ goda ibu. 
“Iya bu, sebentar lagi Faiz makan “ia menjawab sekenanya, lalu kembali fokus pada lembar beasiswa itu.

Keesokan harinya Faiz mengembalikan surat itu kepada pak Azman
“Pak,ini suratnya“ kata Faiz.
“Iya“, sambil menerima surat dari tangan Faiz.
“Faiz“, panggil pak Azman.
“Iya pak“ sahut Faiz dan menoleh kearahnya.
“Faiz, tolong  perhatikan ibumu, jaga Dia baik-baik. Jangan biarkan Ia terluka, karena ridha Allah ada pada keridhaan orang tua,dan kebencian Allah ada pada kebencian mereka”  begitulah notice pak Azman seakan tahu apa yang Ia perbuat selama ini.
“Baik pak “ jawab Faiz lalu berpamitan.

*********

Tepat di sepertiga malam wanita tua itu bangun dari tidurnya, memohon kehadirat Sang ilahi rabbi. Mengeluh dan mengadu semua keluh dan kesah yang Ia alami. Serta mencurahkan semua syukur atas dirinya dan Faiz.

“Ya Allah puji dan syukurku kepada-Mu, selawat dan salamku untuk Rasulullah yang tak pernah lelah dalam menyampaikan risalah-Mu. Tuhan Yang Maha Esa, ampunilah dosa-dosa yang pernah Aku lakukan dan yang dilakukan anakku, baik yang kami sengaja maupun tidak. Sesungguhnya ampunan-Mu sangat luas.

Ya Allah, syukurku atas nikmat sehat, Islam dan iman yang Engkau berikan. Ya Rabbi, Engkau yang mengetahui semua isi hati kami. Jadikanlah Faiz anak yang berguna bagi nusa dan bangsa. Lindungi langkahnya, bahagiakanlah Ia didunia dan diakhirat, amin ya rabbal alamin…”

Setelah tahajud wanita tua itu menuju kamar Faiz, lama Ia mematung mengamati wajah buah hatinya yang sedang pulas. Hatinya amat bahagia memiliki Faiz. Walaupun ketika ia menjajakan makanan di sekolah, Faiz tidak pernah muncul, apalagi makan bersama. Sungguh ikhlas perempuan ini mengais rezeki demi anaknya. Terkadang rindu membuncah, ingin melihat wajah dan polah aktif Faiz di sekolah.

Dikecupnya kening Faiz, “semoga Allah memberkahi dan melindungi langkahmu wahai anakku “ doa bu Faridah.

Itulah cinta tulus dan suci dari seorang ibu untuk anaknya. Cinta yang tidak pernah mengharap balas budi baiknya. Cinta yang membuat sang ibu merawatnya, mendoakannya hingga akhir hayat.


Google. doc
Oleh : Husni Nazir, Lc.

Hijrah Rasulullah Saw. ke Madinah Al Munawwarah merupakan titik permulaan daulah Islamiah. Saat itulah sejarah daulah Islamiah pertama diukir, yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Saw. Rasulullah membangunnya di atas tiga pondasi pokok, pembangunan mesjid, menyatukan kaum muslimin secara umum, Muhajirin dan Anshar secara khusus, serta penulisan undang-undang negara Islam untuk pertama kalinya.

Ketiga asas tersebut tersusun tertip seperti yang penulis sebutkan, dimulai dengan pembangunan mesjid, mempersatukan umat dan kemudian pembuatan undang- undang negara.

Jika kita bertanya manakah asas yang paling penting diantara ketiga asas tersebut?
Mesjidlah jawabannya. Inilah yang menjadi alasan kenapa Rasulullah buru- buru membangun mesjid begitu sampai ke Madinah.

Sebuah persaudaraan yang Rasulullah ikat akan percuma dan dalam waktu yang singkat ia akan kembali renggang seperti semula kala, Jika saja bukan karena mesjid.

Sedangkan Undang-undang, ia hanyalah sebuah ketentuan yang berbentuk tulisan, namun prakteknya hanya saja dapat direalisasikan dengan peran mesjid.

Kehidupan di luar mesjid sangat berpotensi menciptakan jurang perbedaan antar sesama umat. Betapapun kita rajin membawa semboyan ukhuwah islamiah, persaamaan derajat, bahwa manusia adalah sama, takwalah yang menjadi pembeda, dan lain- lain. Jika saja umat Islam tidak berjumpa sehari lima waktu di mesjid, semboyan- semboyan tersebut hanya terdengar oleh telinga, tanpa pernah bisa kita lihat dalam kehidupan nyata umat.

Tuntutan sosial menjadikan kita mempunyai status yang berbeda-beda satu sama lainnya. Sebagian ada yang berkesempatan menjadi pemimpin, sebagian lainnya bawahan, sebagiannya adalah ketua sedangkan lainnya adalah pengurus, sebagian mereka tajir, sedangkan sebagian lainnya menyandang status miskin. Kekayaan dan kedudukan terlalu mendominasi.

Akan tetapi lihatlah apa yang dilakukan mesjid. Ketika azan berkumandang, semua serentak meninggalkan pekerjaan menuju ke mesjid. Tidak ada yang membedakan antara direktur dengan bawahan, pemimpin redaksi, staf pelaksana, cleaning service , semua serentak melepas jabatan duniawi, sama-sama ber-tawajjuh kepada Allah.

Sulit bagi kita untuk mengenali dan membedakan mana yang kaya dan miskin, mana si pemilik perusahaan dan si pemilik kios, mana yang alim, mana yang muta’allim. Semuanya bertindih bahu, merapat kaki, meluruskan barisan, seraya bertakbir Allahu akbar.
Semua sepakat mengikrarkan tiada tuhan selain Allah. Semua mengakui bahwa masing-masing kita hanya hamba-Nya yang lemah, tiada apa-apanya. Tak ada yang membuat kita lebih dari yang lain, selain daripada apa yang Allah titipkan kepada kita.

Dan akhirnya kitapun mampu melihat orang lain dengan nilai hakikat kita sebagai hamba, bahwa kita adalah sama-sama hamba, sama- sama mulia dimata Allah, sama-sama bersambung nasab dengan Rasulullah.

Coba bayangkan jika saja hal ini selalu terjadi setiap hari lima waktu, masihkan tirai pemisah diantara kita yang tersisa?

Dari sini terlihat betapa besarnya pengaruh mesjid untuk mempersatukan umat. Seberapa kuat perhatian umat Islam untuk memakmurkan mesjid, sekuat itulah persatuan umat akan terjalin. Dan sebaliknya, seberapa kurang nya perhatian kita akan mesjid, semakin lemah pula persaudaraan yang terpatri diantara kita. Serta bagimana pula jika ada yang berusaha menghancurkan mesjid, kemudian mengatakan kami ingin mendirikan Khilafah Islamiah. Mungkin salah memahami Islam.

Sangat simple memang. Tetapi bukan masalah simplenya, pertanyaanya sudahkah kita melakukannya?

Tidak, ini bukan pertanyaan yang perlu dilafalkan dengan lisan, tapi renungan kita dengan hati, coba tanya pada diri, seberapa seringnya kita menghampiri mesjid dalam sehari semalam. Sudah cukup seringkah, atau justru kita lebih terobsesi mengabdate status menggebu tentang khilafah islamiah sedangkan azan berkumandang, dengan dalil “ Demi umat.”

Pepatah arab mengatakan, “ Faaqidusysyaik la Yu’thi”. Artinya: Orang yang tidak memiliki tidak akan pernah bisa memberi.

Sayang, risalah yang ingin disampaikan oleh Rasulullah melalui mesjid ini, benar-benar telah menjadi harta Qarun hari ini. Kita tidak berbicara tentang daerah yang jauh dari siraman agama, tapi justru di markas- markas dan instansi pembentukan generasi agamapun, ternyata risalah ini juga terabaikan.

Dan akhirnya, mari sejenak kita membayangkan senyuman Rasulullah di akhir hayatnya. Dari balik jendela rumahnya Rasulullah tersenyum melihat sahabat shalat berjamaah yang  diimamin oleh Abu Bakar. Cita-citanya untuk mempersatukan umat telah berhasil. Allahumma shalli wasallim wa baarik ‘ala Saidini Muhammad wa ‘Ala Alihi wa Shahbihi ajma’in.

Semoga hari ini kita masih bisa membuat Rasulullah terus tersenyum, karena melihat kita yang saling menyayangi dan bersatu, bagaikan satu keluarga yang besar. Anta akhi wa ana akhuk, engkau saudaraku, dan aku adalah saudaramu.

Semoga!
gumhuriaonline. Doc
Kmamesir.org. 24/08/2014. Al-Azhar mengumumkan bahwa kuliyah mulai aktif mulai tanggal 27 September 2014 mendatang. Hal ini juga berlaku untuk seluruh universitas di Mesir. Pengumuman ini diumumkan oleh Supreme Council of Universities (SCU) setelah menggelar rapat dengan Menteri Pendidikan Tinggi Mesir, Sabtu 23 Agustus 2014.
SCU merupakan badan perwakilan seluruh Universitas yang ada di Mesir, mereka menyelesaikan isu yang menyangkut pekembangan seluruh universitas di Mesir.

Untuk waktu libur ujian musim dingin dijadwalkan tanggal 24 Jan-5 Feb 2015. Untuk term II akan dimulia 7 Februari 2015 hingga 25 Juni 2015. Disamping itu dalam pertemuan tersebut juga dibahas proyek pengembangan Rumah Sakit milik Universitas. Tercatat terdapat 88 Rumah Sakit dengan 17.000 Dosen yang ikut andil di sana. (g.o)