Select Menu

Info Kegiatan

Keputrian

Al Azhar

Artikel

Sastra

Kesenian

Olahraga

Kemesiran

KMA Gallery


Kmamesir.org 28/10/2014. Menyadari keadaan dunia yang kian dikuasai oleh media informasi, Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir kembali mengadakan pelatihan jurnalistik sebagai follow up dari serangkaian kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru (ORMABA), selasa (28/10). Acara yang dikhususkan untuk duta-duta baru Aceh ini terlaksana atas kerjasama kru buletin El asyi dan Pengurus KMA periode 2014-2015 serta bertempat di Meuligoe KMA.

Tepat jam 13:15 CLT Tgk. Ilham Sujefri, sang MC, membuka acara dengan lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan oleh Tgk. Mustapa Ahmad. Acara dilanjutkan dengan kata-kata sambutan ketua panitia yang diwakili oleh Tgk. Fitra Ramadhani, Lc. Materi-materi yang disuguhkan pada pelatihan kali ini terdiri dari fiksi non fiksi, jurnalistik Islami dan perkenalan buletin El Asyi serta website KMA. Tak kalah pentingnya, menu kombinasi ikan mujair balado dan kuah lemak ala Tgk. Bustami dan kawan-kawan pun jadi santapan malam.

Diawali dengan perkenalan fiksi dan nonfiksi, Ust. Indra Gunawan, Lc sebagai pemateri berhasil membangkitakn gemuruh semangat menulis para mahasiswa baru (Maba). “Menulis itu tidak butuh bakat, akan tetapi yang paling dibutuhkan adalah semangat dari diri kita untuk menulis. Bakat itu tidak bisa diwariskan, sama halnya dengan ketaqwaan yang tak bisa diwariskan oleh seorang ayah kepada anaknya”, ujar penulis novel The Downfall of The Dynasty ini. Acara juga semakin semarak dengan kesimpulan-kesimpulan yang menggelitik dari moderator handal KMA, Tgk. Husni Nazir, Lc., yang juga menjabat sebagai editor El Asyi.

Setelah perkenalan tulisan fiksi dan non fiksi, acara dilanjutkan dengan materi jurnalistik islami yang dimoderatori oleh Tgk. Thayyiburrifqi bersama pemateri handal KMA sekaligus penulis yang sudah menghasilkan karya-karya terbaiknya, Tgk. Abdul Hamid Muhammad Jamil, Lc. Pemateri mengajak seluruh pendengar untuk cerdas dalam bermuamalah dengan media dan selalu berpegang pada prinsip-prinsip islami.

Semangat menulis telah berkobar, cerdas menghadapi media pun telah tertanam dalam benak peserta pelatihan, saatnya duo media KMA ambil bagian. Materi terakhir ini diisi dengan perkenalan buletin El asyi dan website KMA sebagai sarana dakwah dan penyaluran ide-ide kreatif warga KMA dalam bentuk tulisan. Materi ini disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Buletin El-Asyi periode 2014-2015, Tgk. Khalid Muddatstsir, serta Tgk. Zulfahmi Jamaluddin, Lc. selaku Pemred Website KMA Mesir periode 2012-2014.


Acara ditutup dengan penganugerahan Peserta Terbaik yang berhasil diraih oleh Tgk. Agung Yunandar dan Tgk. Mumtazatul Armi dan pembagian sertifikat kepada seluruh peserta. [WJ].

Oleh: Fitra Ramadhani

Dalam upaya melancarkan terwujudnya tujuan misionarisme dan hegemoni barat atas bangsa-bangsa timur, ada langkah-langkah yang harus ditempuh barat. Diantara langkah yang dimaksud adalah mereka terlebih dahulu harus mengetahui seluk beluk timur baik dari segi geografis, budaya dan kepercayaan yang dianut masyarakat timur. Oleh karenanya mereka mengutus orang-orang untuk mempelajari bangsa-bangsa timur dari segala lini kehidupan mereka, khususnya Islam. Studi ketimuran inilah yang kemudian dikenal sebagai orientalisme. Orang-orang barat yang bergelut dengan penelitian ini disebut sebagai orientalis.
Jadi definisi orientalisme secara istilah adalah studi-studi yang digencarkan barat terhadap bangsa-bangsa timur dari segi rakyatnya, sejarah, bahasa, keadaan sosial, negara, tanah dan kebuadayaan serta segala sesuatu yang berkenaan dengan timur. (DR. Abdul Qadir Sayyid Abdurrauf.)
Adapun tujuan utama mereka adalah mempelajari Islam dan para pemeluknya guna memperlancar tercapainya tujuan-tujuan misionarisme. Di sisi lain orientalisme juga digunakan sebagai alat untuk membantu penjajahan barat terhadap negara-negara muslim serta sebagai persiapan untuk memerangi dan menghancurkan Islam.

Perang Salib merupakan salah satu sebab yang membuat orang-orang barat bergairah mempelajari bangsa timur, khususnya Islam. Sebagian mereka ada yang telah lebih dahulu diselimuti fanatisme barat sehingga membutakan nalar ilmiah dalam penelitian mereka, bahkan tak jarang ada yang memutarbalikkan fakta atas dasar kebencian.

Sebagian lainnya adalah mereka yang benar-benar meneliti atas dasar ilmu pengetahuan. Orang-orang seperti ini lebih objektif dalam mengadili Islam, bahkan tak jarang di antara mereka yang Allah ta’ala bukakan pintu hatinya untuk memeluk Islam. Berikut di antara para orientalis yang berhasil menjemput mutiara hidayah yang mereka temukan saat menyelami dalamnya samudra Alquran.
1.       
      1. Lord Headley (1855-1935)


Lord Headley atau Rahmatullah Faruq merupakan negarawan dan penulis terkemuka Inggris. Ia merupakan lulusan Arsitektur Universitas  Cambrigde. Setelah lulus, ia lebih banyak aktif menjalani dinas kemiliteran. Karier militernya selesai, Lord Headley mulai menulis. Buku yang paling terkenal ia terbitkan salah satunya adalah Jurnal Salisbury. Jurnal ini berisi cerita tentang kebangkitan Barat terhadap Islam.

Lord Headley telah hidup dalam fase yang panjang dalam lingkungan kristen. Selama masa-masa itu pula beliau selalu merasa bahwa  agama Islam merupakan agama yang baik, mudah dan bebas dari keyakinan-keyakinan romawi dan protestan. Kunjungannya ke negara-negara Islam dan penelitiannya terhadap Alquran telah membuat Headley yakin akan agama Islam.

DR. Abdul Halim Mahmud, seorang sufi modern dan juga Syekh Al-Azhar, dalam bukunya Urubba wal Islam menceritakan pengakuan Headley bahwa beliau telah berpikir dan berdoa selama 40 tahun untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang berputar dalam benaknya. Headley juga mengakui bahwa kunjungannya ke negara-negara Islam semakin menambah rasa hormatnya kepada agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. yang telah mengajarkan umatnya untuk menyembah Allah ta’ala sepanjang hidup, tidak hanya di hari minggu saja.

Headley juga berbicara mengenai ajaran Islam dengan rasa takjub. Beliau mengungkapkan, “Dalam Islam hanya ada satu Tuhan, yang disembah dan diikuti. Tuhan yang lebih tinggi dari segala sesuatu. Tidak ada selain-Nya sekutu. Sangat aneh rasanya manusia yang dianugerahkan akal pikiran yang luas tunduk pada kepercayaan pendeta yang menutup pintu ampunan Tuhan serta mengatakan bahwa kunci pengampunan Tuhan hanya ada pada mereka. Sedangkan dalam Islam, kunci tersebut ada pada setiap makhluk, bahkan yang paling hina tanpa perlu bantuan para pendeta. Kunci tersebut bagaikan udara yang dapat dirasakan secara gratis bagi semua makhluk Allah ta’ala. Adapun mereka yang mengajarkan sebaliknya kepada umat manusia tidak lain hanya karena ingin mengejar keuntungan.”

2. Rene Guenon (1886-1951)


Rene Guenon atau yang dikenal setelah keislamannya dengan nama Syekh Abdul Wahid Yahya merupakan pemikir, filosof dan juga seorang sufi. Namanya terkenal seantero Eropa dan Amerika. Orang-orang yang bergelut dalam dunia filsafat dan perbandingan agama tentu tidak akan melewatkan pemikiran sosok yang satu ini.

Guenon lahir 15 november 1886 di kota Blois, Perancis, dari orang tua yang beragama Katolik. Guenon adalah sosok yang pendiam, akan tetapi beliau dikenal sebagai sosok yang cerdas dan unggul diantara teman-temannya. Tahun 1904 Guenon berhasil mendapatkan gelar sarjana muda. Kemudian beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke Paris.

Rene Guenon merupakan sosok yang cinta akan pengetahuan, khususnya pengetahuan sufi. Ketika Guenon mengarahkan kepalanya ke langit, meliau melihat dengan tatapan ingin membuka tirai yang menutupinya untuk mencapai kebenaran. Oleh karenanya, tak heran DR. Abdul Halim Mahmud rahimahullah melihat ada kemiripan pada Rene Geunon dan Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah. Sementara itu orang-orang Kirsten melihat Rene Geunon sejajar dengan sosok Plotinos, pendiri gerakan Neo-Platonisme.

Setelah dua tahun di Paris, Rene Guenon meninggalkan pendidikan resminya di universitas dan mulai berkenalan dengan berbagai perguruan kerohanian dengan berbagai warna yang tersebar di Kota Paris saat itu. Di sana terdapat ajaran Mason, ajaran kerohanian yang brasal India, Tibet, Cina dan segala macam gerakan kerohanian termasuk perguruan untuk menyembuhkan sihir, ahli nujum dan pemanggil roh.

Beliau jelajahi dan dalami ajaran mereka hingga mengetahui sisi negatif dan positif dari pendidikan kerohanian tersebut. Tak hanya itu, Guenon juga mendapat pengakuan dari semua gerakan itu. Namun kemudian, semakin beliau mendalami semua gerakan tersebut, semakin beliau menjauh memisahkan diri dari kubangan kesesatan mereka.

Rene Guenon masuk Islam pada tahun 1912 setelah melalui kisah dan diskusi panjang dengan Syekh Abdurrahman Alaiys, seorang Ulama Al-Azhar, Syekh Thariqat Al-Syadziliyah dan juga Faqih Madzhab Maliki dari Mesir. Sebab keislamannya sangat sederhana. Tatkala Guenon meneliti semua kitab suci dari berbagai agama, hanya Alquran yang ayat-ayatnya tidak dapat dipatahkan.

Setelah keislamannya, buku-buku Rene Guenon dilarang beredar oleh gereja karena dianggap berbahaya. Pelarangan tersebut tidak mempengaruhi kedudukan beliau. Banyak filosof-filosof yang telah mengenal betul sosok Rene Guenon masuk Islam.  

3. Etienne Dinet (1861-1929)


Beliau seorang berkewarganegaraan Perancis. Beliau tumbuh dari keluarga nasrani. Namun beliau merasa gelisah ketika berpikir dan merenungi ajaran masehi, gereja serta kemaksuman Paus.

Etienne Dinet juga ragu akan kebenaran Nabi Isa As. sebagai anak Allah ta’ala, di satu waktu beliau sebagai tuhan dan juga manusia. Kemudian juga mengenai penyaliban Nabi Isa As. sebagai pembersih dosa seluruh anak manusia semakin membuat Dinet bingung. Bagaimana mungkin semua dosa manusia ditanggung oleh satu orang?

Semua pertanyaan tersebut terus berputar dalam pikiran Etienne Dinet sehingga beliau melihat bahwa solusi dari permasalahan tersebut ada dalam kitab suci injil. Setelah penelitian panjang, Etienne Dinet berkesimpulan bahwa injil yang diwahyukan kepada Nabi Isa As. diturunkan dengan bahasa kaumnya, akan tetapi injil tersebut telah hilang tanpa jejak.

Akhir dari gejolak pemikiran Etienne Dinet ketika ia melakukan perjalanan ke Aljazair dan menetap disana bersama umat Islam.  Dinet melihat aqidah Islam tidak melarang umatnya untuk berpikir. Ketika itu pula beliau menemukan jawaban dari persoalan-persoalan yang ada di benaknya. Hingga pada akhirnya Entienne Dinet masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Nashiruddin yang bearti sang penolong agama.  Sesuai namanya, Syekh Nashiruddin mewaqafkan dirinya untuk membela agama Islam dari serangan-serangan misionaris dan orientalis.

Demikian sekelumit kisah perjalanan anak manusia yang lahir dari rahim barat namun di akhir perjalanan Allah ta’ala bukakan pintu bagi mereka untuk mencicipi manisnya iman. Mereka bukannlah manusia bodoh yang mudah digoyahkan dengan iming-iming materi saja, akan tetapi mereka adalah putra-putra terbaik barat yang keilmuannya diakui seluruh dunia.

Sangat ironis rasanya ketika melihat sebagian muslim yang baru bersentuhan dengan pemikiran barat, tergoda dengan jargon kemajuan dan kebebasan yang mereka usung serta dengan lantang mendeklarasikan diri sebagai musuh Islam. Padahal orang-orang barat sendiri mulai mengakui kebenaran Islam. Lord Headley pernah menyampaikan bahwa beliau yakin ada ribuan orang Eropa yang sebenarnya hati mereka Islam, akan tetapi karena takut dimusuhi dan diasinggkan serta beban yang harus ditanggung akibat sebuah perubahan membuat mereka lebih memilih menyembunyikan keislaman mereka.

Semoga kita menjadi hamba-Nya yang bersyukur karena telah lahir dan besar sebagai seorang muslim dengan meningkatkan pengetahuan kita akan kebesaran agama Islam serta mengamalkan segala ajaran yang ada didalamnya.

Referensi:
1. DR. Abdul Qadir Sayyid Abdurrauf, Dirasat fii Al-Tabsyir wal Istisyraq.
2. DR. Abdul Halim Mahmud, Urubba wal Islam, Dar Al-Ma’arif, Kairo, cet IV, 1993.
3. DR. Abdul Halim Mahmud, Qadhiayatu Al-Tasauf Al-Madrasah Al-Syadziliyah, Dar Al-Ma’arif, Kairo, cet. III, 1999.



Nb: Tulisan ini telah terbit di el Asyi edisi 119





Oleh: Muhibussabri Hamid*

Dalam sebuah temu ramah setelah penjemputan mahasiswa baru (maba) ketika sesi perkenalan seorang maba mengatakan “saya ingin masuk KMA, biar garang aja”. Sontak kalimat tersebut membuat KMA riuh dengan tawa dan tepuk tangan. Dalam kesempatan yang lain, kita juga dihadapkan dengan situasi “menghajar broker nakal” yang hampir saja menculik mereka.

Bahasa lembutnya adalah kita masih menghargai idealism keacehan kita, sehingga dalam berbagai kesempatan kita juga harus berhadapan dengan rangkaian keadaan manifestasi pergolakan terhadap nilai keacehan kita. Dalam kata lain, kita memang harus all out menjadi Aceh atau tidak sama sekali.

Kedatangan maba tahun ini lebih signifikan jika dibandingkan dengan dua tahun belakangan ini. Ditambah dengan kehadiran mahasiswa S2 dan akan menyusul beberapa yang S3 tentu akan membuat kita semakin bahagia. Dengan kehadiran mereka ditegah-tengah kita tentu akan membuat warna-warni baru bagi KMA, mengharumkan wajah Aceh dan menjadi pilar-pilar supaya tegaknya ideologi keluarga yang selama ini terus kita pupuk.

Disadari atau tidak moment kedatangan mahasiswa baru juga menandakan adanya keberadaan sebuah kekeluargaan dan kabar baik bagi keberlangsungan mereka di ranah masisir. Ketika sebuah kekeluargaan regenerasinya tersedak, mereka akan dihantui rasa takut akan kehilangan entitas sebagai salah satu karakter ideologi kedaerahan. Pun kita Provinsi Aceh memilik kemajemukan ideologi kesukuan.

Ideologi dan harga persatuan kita

Kita dihadapkan dengan fakta unik, tahun ini maba daerah perbatasan juga mendominasi. Dalam arti lain, Islam dan ghirah masyarakat Aceh yang dekat dengan perbatasan semakin menggembirakan. Geliat masyarakat untuk menjaga keislaman mereka patut diacungi jempol. Ditambah dengan perwakilan maba untuk kuliyah di Universitas Al-Azhar, tentu ini akan menjadi sebuah jaminan masa depan syariat di perbatasan kepingan tanah rencong. Tentu hal ini sangat membahagiakan.

Pesona ideologi masyarakat Aceh di Mesir tidak dipandang sebelah mata. Nilai budaya yang kita punya dan tawarkan tidak pernah beradu dengan syariat. Sehingga wacana Aceh sebagai bumi syariat terasa lebih kental. Pun promosi alat kebudaayan Aceh dalam berbagai kesempatan mendominasi.

Secara matematis kita bukanlah apa-apa dibandingkan dengan keberadaan masyarakat Indonesia lain, namun kesolidan dan kekentalan nilai yang kita bawalah yang menjadikan masisir respek dan mau meilhat kita sebagai sebuah entitas yang bernilai.

Ada yang menarik ketika melihat dan membahas geliat kesukuan sesama Aceh. Walaupun agak risih dan tidak nyaman, tapi hal ini harus diingatkan. Sejatinya kita harus berusaha untuk mengacehkan KMA. Berangkat dari judul, membantai ideologi Aceh keacehan bukan berarti kita harus berganti kekeluargaan, mengikuti dan menjadikan budaya barat sebagai konsumsi sehari-hari. Atau Beralih membunuh nilai keacehan kemudian menggantingan dengan nilai yang bertentangan dengan perintah Allah Swt.

Melainkan usaha untuk menanggalkan pakaian suku, almamater dan daerah. Gantilah dengan pakaian kesatuan kita, dengan pakaian merek Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir sebagai baju kebesaran kita bersama. Sebagai payung utama wadah bersatunya warga Aceh.

Aceh bukanlah mereka yang bisa berbicara bahasa aceh dengan fasih, bukan juga mereka yang mengklaim diri sebagai suku asli. Pun bukan suku-suku perbatasan dan pedalaman. Melainkan kesatuan seluruh kultur, budaya, adat, suku dan manusia yang mewarnai, kesatuan dari semua hal tersebut adalah kita. kita adalah orang Aceh, yang selalu menjunjung tinggi persatuan dan mengharumkan nama Aceh.

Keberadaan tulisan ini bukanlah sebagai bentuk talqin penafian keberadaan KMA sebagai bagian dari masyarakat masisir, keberadaan Provinsi Aceh sebagai bagian dari Republik Indonesia. Namun lebih sebagai himbauan kepada kita, saya dan anda untuk menjaga kesolidan dan nilai-nilai keacehan demi terjaganya nilai ukhuwah sesama warga KMA di Mesir.

Kita juga sebagai bagian dari masisir, bagian dari wafidin ghair arab kita juga punya hak bergabung dan mewarnai circle kultur mahasiswa. Namun ingat, ingatkan mereka bahwa Aceh punya cita rasa yang tinggi dengan budaya yang selalu sejalan dengan syariat Allah Swt. Semoga!

*Ketua KMA Periode 2014-2015

Setelah dua tahun lamanya, Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir tidak mengadakan acara “Ormaba Dan Peusijuk Aneuk BarĂ´”. Tepat pada hari Jumat, 24 Oktober 2014, pengurus KMA kembali mengadakan acara penting ini di Meligoe Aceh tercinta.

Acara yang dimulai pukul 02:00 tepat ini dimoderatori oleh Tgk Munawir Sajali, dan dibuka dengan lantunan kalam Ilahi yang dilantunkan oleh Tgk Muhar Rafsanjani. Acara ini juga turut menghadirkan pemateri-pemateri handal KMA yang sedang menempuh studinya di Kairo, Mesir.

Pemateri pertama yaitu Tgk Luthfi Mansyurni, yang membahas tentang Ke-KMA-an. Beliau mengajak warga KMA untuk selalu menjaga nilai-nilai Islam yang telah diajarkan oleh Al-Azhar, dan juga mengingatkan tentang begitu pentingnya sebuah kekeluargaan di Mesir ini, kerena disinilah tempat berkumpul, menyelesaikan masalah dan lain sebagainya.

Materi kedua dilanjutkan oleh Tgk As’adi Muhammad ‘Ali, S. Pdi. Beliau membahas tentang materi Kemesiran. Pada kesempatan tersebut, Tgk As’adi memperkenalkan banyak hal tentang keaadaan Mesir kepada Mahasiswa baru, termasuk bagaimana cara bermuamalah dengan orang Mesir, baik di angkutan umum, pasar, perkuliahan maupun di tempat yang lain.


Setelah menunaikan shalat magrib berjamaah, acara dilanjutkan dengan materi ketiga, yang diisi Tgk Suryanto, M.A., membahas tentang lingkungan seputar kampus. Beliau mengatakan bahwa Al-Azhar memiliki banyak keistimewaan, salah satunya mahasiswa-mahasiswa di sini dapat belajar langsung dari para dosen- dosen Al-Azhar yang bertitel Doktor dan Profesor. Berbeda jauh dengan apa yang terjadi di negeri kita. Di akhir pembicaraan, beliau mengingatkan kepada warga KMA agar selalu mengatur waktu sebaik-baik mungkin agar cita-cita yang ditanamkan ketika sebelum berangkat ke negeri kinanah ini tercapai.


Setelah menunaikan shalat 'isya berjamaah, lalu dilanjutkan dengan peusijuk aneuk baroe  dan foto bersama sebagai penutup acara.[RA]